Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 126 (Melepaskan)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


2 tahun kemudian...


Kehidupan terus berlalu begitu pun dengan Rania dan juga Ferdians. Keluarga kecil mereka tampak bahagia walaupun kesedihan masih mereka rasakan saat ini yaitu sampai sekarang Heera belum sadarkan diri.


Faiz dan Frisa yang sudah bisa berjalan dan berbicara membuat keduanya gemas, apalagi anak dari Ben dan juga Ana juga ikut meramaikan rumah mereka ketika orang tua mereka datang bersama dengan anak yang masih berusia 1.5 tahun itu.


"Papa!" rengek Frisa yang baru saja bangun dari tidurnya dan akhirnya menganggu papanya dengan mencubit kecil hidup Ferdians yang membuat akhirnya Ferdians terbangun dan tersenyum melihat putrinya sudah memeluk dirinya.


"Kenapa, Sayang? Mama sama kakak mana?" tanya Ferdians mencium pipi anaknya dengan gemas.


"Jangan cium! Papa bau iler!" rengek Frisa yang membuat Ferdians tergelak.


Tangan kecil Frisa menyingkirkan wajah ayahnya agar tidak mencium dirinya yang membuat Ferdians semakin ingin menggoda anaknya dengan terus ingin mencium pipi Frisa.


"Papa bau!" rengek Frisa yang semakin membuat Ferdians terus gencar menggoda anaknya.


"Papa wangi loh, Sayang! Ya ampun anak gadis Papa sekarang sudah pintar tidak mau di cium," ujar Ferdians dengan gemas.


"Papa, Kakak sudah wangi!" teriak Faiz dengan berlari ke arah Ferdians dan juga Frisa dengan menggunakan handuk di belakangnya ada Rania yang tersenyum.


"Woh jagoan, Papa. Awas jatuh, Sayang!" peringat Ferdians kepada anak pertamanya itu.


"Mama, adek juga mau mandi!" ujar Frisa meminta Rania untuk menggendongnya.


Rania dengan sigap menggendong Frisa. "Papa tolong pakaikan baju Faiz ya. Mama mau mandikan princess satu itu dan setelah itu kita ke rumah sakit jenguk nenek," ujar Rania dengan tersenyum.


"Siap Mama Cantik!" ujar Ferdians dengan terkekeh.


Beginilah keseharian Ferdians dan juga Rania yang selalu bekerja sama untuk mengurus kedua anak mereka walaupun ada baby sister untuk Faiz dan Frisa. Ketika mereka tidak di kantor maka urusan anak kembar mereka semuanya mereka yang urus.


****


Setelah Faiz dan Frisa siap. Kini tinggal Ferdians dan Rania yang mandi bersama untuk menghemat waktu, setelah selesai mereka berganti pakaian. Sebelum memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Ferdians dan Rania butuh berbicara berdua.


"Duduk sebentar ya! Mas mau bicara penting," ujar Ferdians yang membuat Rania mengangguk setuju.


"Ada apa, Mas? Jangan terlalu lama ya. Pasti ibu sudah menunggu," ujar Rania dengan tersenyum.


Ferdians menghela napasnya dengan perlahan. Ia memegang kedua pundak Rania dengan lembut. "Sayang, Mas tahu ini berat. Tetapi ini sudah dua tahun lamanya ibu belum sadar. Mas sudah memikirkan ini sejak lama, ikhlaskan ibu ya, Sayang. Ibu juga tersiksa kita mempertahankan ibu dengan alat itu, Sayang!" ujar Ferdians dengan pelan.


Rania tampak diam dengan mata yang berkaca-kaca. Haruskah ia melepaskan ibu yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri?


Ferdians menyeka air mata Rania dengan ibu jarinya. "Mas tahu ini berat, Sayang. Tapi kasihan, Ibu!" ucap Ferdians dengan pelan.


Rania memejamkan matanya. "Kalau itu yang terbaik aku rela, Mas. Aku sadar jika apa yang kita lakukan selama ini menyiksa ibu," gumam Rania dengan lirih.


"Ayo kita ke rumah sakit, Mas!" ujar Rania dengan lirih.


"Iya, Sayang!"


Hati Rania benar-benar hancur saat ini tetapi apa yang mereka lakukan demi kebaikan Heera agar tidak tersiksa karena ia menahannya untuk hidup di dunia ini lebih lama lagi. Tapi Rania tahu ada yang lebih terluka dan hancur daripada dirinya yaitu sang suami karena ibu adalah keluarga yang sangat berharga di hidup Ferdians walaupun ada ayah kandung tetapi Ferdians sama sekali tidak ingin bertemu dengan Eric sampai sekarang.


Keduanya dengan berat pergi ke rumah sakit karena hari ini adalah hari terakhir mereka akan bertemu dengan sang ibu.


****


Faiz dan Frisa di gendong oleh kedua suster mereka di luar sedangkan Ferdians dan Rania sudah ada di dalam bersama dengan dokter dan para suster di dalam ruangan Heera.


"Apa anda sudah yakin untuk melepaskan alat bantu kehidupan ibu Heera, Tuan?" tanya dokter dengan memastikan.


Ferdians tampak diam lalu setelah itu ia mengangguk dengan perlahan. "Saya ikhlas, Dok! Ini demi kebaikan ibu!" ujar Ferdians dengan lirih.


"Baik, Tuan. Ini adalah keputusan yang benar, Tuan. Karena bagaimanapun ibu Heera pasti tersiksa dengan keadaan ini," ujar dokter.


"Sus, tolong bantu lepaskan alat yang menempel di tubuh ibu Heera," perintah dokter kepada suster.


"Baik, Dok!" sahut suster dengan pelan.


Rania memeluk suaminya dengan menatap tubuh Heera yang sudah sangat kurus dan terlihat sangat pucat sekali. Air mata Rania sudah kembali mengalir saat satu persatu alat medis yang berada di tubuh Heera di lepas hingga semua alat itu sudah terlepas dan itu berarti Heera sudah dinyatakan meninggal dunia.


"Jangan di tutup dulu!" cegah Ferdians yang membuat suster menghentikan gerakannya untuk menutup wajah Heera dengan kain putih.


Ferdians mendekat ke arah ibunya dan mencium kening ibunya dengan sangat lembut. "Terima kasih sudah menjadi ibu terhebat untuk Ferdians, Bu. Selamat jalan, Bu. Ferdians sudah ikhlas untuk melepaskan ibu," bisik Ferdians dengan lirih dan menahan air matanya agar tidak terjatuh di wajah ibunya.


Kini bergantian Rania yang mencium mertuanya. "Terima kasih sudah memberikan kasih sayang ibu untuk Rania. Rania seperti mempunyai ibu lagi. Namun, sekarang ibu sudah pergi tapi Rania ikhlas jika semua ini demi kebaikan ibu. Selamat jalan bu sampai bertemu di surga kembali," bisik Rania dengan bibir gemetar.


Setelah itu suster menutup wajah Heera dengan kain putih yang membuat tangis Ferdians dan Rania kembali terdengar. Kali ini mereka benar-benar sudah kehilangan Heera, dua tahun merawat Heera dan tidak ada perkembangan sama sekali membuat keduanya akhirnya ikhlas melepaskan kepergian Heera untuk selama-lamanya.


****


Jenazah Heera sudah di bawa pulang menggunakan mobil ambulans. Di rumah Rania sudah ada Ben, Ana, dan juga Doni juga seluruh kerabat dan tetangga Rania ikut meramaikan rumah Rania, semua ikut berduka atas meninggalnya Heera yang selama dua tahun tidak sadarkan diri.


Mata Rania sudah membengkak, ia langsung memeluk Ana dengan erat yang membuat Ana sigap dan iba. "Sabar ini yang terbaik untuk ibu Heera," gumam Ana dengan pelan.


"Ibu sudah pergi, Ma! Ibu sudah tidak sakit lagi," gumam Rania dengan lirih.


"Iya, Rania. Ikhlaskan ibu ya!" ujar Ana dengan mengelus punggung Rania.


Ben memeluk anaknya dengan erat. Ben tahu Rania pasti terluka atas kepergian Heera, tetapi ini juga yang terbaik untuk Heera.


"Papa tahu ini berat untuk kamu. Tapi ini semua demi kebaikan ibumu!" gumam Ben dengan lirih.


"Iya, Pa!"


Hujan mulai turun dengan rintik-rintik seakan ikut merasakan kesehatan yang di alami oleh Rania dan juga Ferdians. Kini, Heera telah pergi selama-lamanya meninggalkan anak dan kedua cucu yang sangat menggemaskan. Tak ada yang bisa menggambarkan kesedihan yang di rasakan oleh Rania dan juga Ferdians mungkin jika Eric juga mendengar berita meninggalnya Heera, hati Eric akan ikut hancur juga.