Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 78 (Pertemuan Tak Sengaja)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Ferdians sedang berada di kantor dengan keadan yang sangat sibuk karena sebentar lagi adalah ulang tahun perusahaan Danuarta Grup. Ferdians menyiapkan pesta yang sangat mewah sesuai dengan perintah dari papa dan kakek mertuanya.


"Acara ini harus berjalan dengan lancar. Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun," ujar Ferdians pada karyawannya saat mereka sedang meeting untuk merancang pesta ulang tahun Danuarta Grup yang ke 20 tahun lamanya.


"Baik, Pak. Semua sudah berjalan 75 % kami yakin acara ini akan berjalan dengan lancar seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan saham Danuarta Grup juga terus meningkat setelah anda memimpin perusahaan ini," ujar sekretaris Ferdians dengan tegas yang membuat karyawan bertepuk tangan dengan kagum dengan pemimpin baru mereka, baru pertama kali memimpin saja Ferdians sudah berhasil membuat perusahaan ini baju dengan pesat dengan kebaikan saham yang sangat luar biasa.


"Kami sangat bangga dengan kerja keras anda Pak Ferdians!" ujar karyawan Ferdians dengan tatapan bangga.


"Terima kasih. Ini semua berkat bantuan kalian semuanya. Kembali ke topik awal, kalian harus bekerja di bagian masing-masing yang sudah saya berikan. Semua harus berjalan dengan sesuai rencana kita sebelumnya," ujar Ferdians dengan tegas.


"Baik, Pak. Kami akan melakukan pekerjaan kami sesuai yang kami bisa," ujar sekretaris Ferdians mewakili semua karyawan Ferdians.


Sedangkan Rio hanya diam tak bersuara, ia sama sekali tidak mood dengan pembahasan ini. Ia masih sangat memikirkan pernikahannya dengan Anjani yang akan seperti apa kedepannya tetapi Rio tidak ingin pernikahan mereka bertahan lama, setelah anak itu lahir maka Rio akan mengusir Anjani dari apartemen miliknya.


"Rio ada yang ingin kamu tambahkan?" tanya Ferdians menatap Rio yang terlihat melamun.


"Pak Rio!" panggil sekretaris Ferdians.


"Tidak ada. Semua yang pak Ferdians katakan sudah mewakili saya," ujar Rio yang membuat Ferdians menggelengkan kepalanya.


Ferdians tak habis pikir dengan iparnya ini. Kenapa di saat dirinya bergabung di perusahaan Danuarta seakan semua pekerjaan di limpahkan kepada dirinya, Rio bahkan tak mau tahu seakan tak peduli yang membuat Ferdians kesal tetapi dirinya tak ingin membuat keributan, ia ingin melihat seberapa Rio ingin mempermainkan dirinya. Ferdians pastikan Rio tak lagi bisa seperti ini nantinya.


"Meeting selesai dan kalian boleh keluar!" ujar Ferdians yang di angguki oleh yang lainnya.


Para petinggi perusahaan sudah mulai keluar meninggalkan Ferdians dan juga Rio di dalam satu ruangan yang sama.


"Kamu ingin bersantai dan melimpahkan semua pekerjaan kepada saya," ujar Ferdians dengan tenang.


Rio menyeringai. "Jika iya kenapa?" tanya Rio yang membuat Ferdians terkekeh dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Saya peringatkan agar tidak main-main dengan saya Rio. Bisa saja saya memecat kamu hari ini, hanya saja saya masih menghargai kamu sebagai ipar saya. Kamu masih tidak terima jika sebentar lagi saya dan Rania akan memiliki dua orang anak sekaligus ya? Sayangnya di sini saya pemenangnya. Ooo iya saya lupa sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ayah. Bukankah itu sesuatu yang ssngat membahagiakan?" ujar Ferdians dengan tenang tetapi berhasil membuat Rio mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Ferdians.


Rio menyeringai. "Saya tahu bagaimana Rania. Setelah kami berpisah dia tidak memiliki kekasih lagi. Bukankah pernikahan kalian wajib dicurigai?" tanya Rio menantang Ferdians seakan lelaki itu tak mau kalah dalam perkataan.


"Ooo iya? Saya adalah lelaki yang jika sudah mencintai seseorang maka ingin langsung memiliki seseorang itu dengan ikatan pernikahan. Bukan malah menidurinya lalu tidak menginginkan anak yang di dalam kandungannya," ujar Ferdians dengan mengejek Rio secara halus.


"Apa maksudmu? Jangan membuat saya marah Ferdians! Mentang-mentang kamu CEO di perusahaan ini jadi seenaknya dengan saya. Saya pastikan kamu akan ke tendang dari perusahaan ini," ujar Rio dengan tajam.


"Lakukan saja jika kamu mampu!" ujar Ferdians dengan tenang.


"Brengsek!" umpat Rio yang membuat Ferdians terkekeh.


"Bukankah kata-kata itu sesuai dengan dirimu sendiri, Rio?" ujar Ferdians yang membuat Rio semakin tersulut emosi.


"Kurang ajar...."


Drtt...drrtt...


Ferdians menggeser tombol hijau hingga panggilan mereka sudah terhubung.


[Halo, Sayang] sapa Ferdians dengan lembut.


[Mas sudah selesai meeting? Bisa ke perusahaan tidak? Aku ingin makan basreng pedas!] rengek Rania yang membuat Ferdians terkekeh.


Untung saja tebakannya tidak meleset. Jika meleset pasti Rio akan terlihat sangat senang sekali. Sekarang wajah Rio sudah terlihat kesal dan cemburu tetapi Ferdians tak peduli, Rio harus tahu jika Rania adalah miliknya selamanya. Tak ada yang bisa memiliki Rania termasuk Rio, mantan kekasih Rania yang masih mencintai Rania sampai saat ini.


[Baru saja selesai, Sayang. Tunggu ya Mas akan ke sana membawa pesanan kamu]


[Iya jangan lama]


[Baiklah bumil]


Ferdians meletakkan ponselnya kembali di saku celananya. "Bagaimana kamu pernah melihat Rania merengek seperti itu?" tanya Ferdians yang membuat Rio kesal.


Tanpa kata Rio berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ferdians begitu saja dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.


Ferdians terlihat terkekeh melihat kepergian Rio. "Walaupun pernikahan kami awalnya karena saya adalah suami bayarannya tetapi saya tidak akan melepaskan Rania apalagi untuk pria seperti kamu," gumam Ferdians di dalam hati.


***


Ferdians sudah selesai membelikan basreng yang Rania inginkan dan ia ingin segera menemui Rania di kantor. Beberapa jam tidak bertemu dengan Rania sudah membuat Ferdians sangat kangen kepada istrinya.


Bruk...


"Maaf Tuan saya tidak sengaja!" ujar Ferdians merasa bersalah karena telah menabrak seseorang.


"Iya tidak apa-apa," ujar seseorang tersebut dengan tegas.


Ferdians menatap seseorang yang sudah ia tabrak. Tubuhnya mematung karena ia pernah melihat lelaki ini. Ya dia adalah Eric Abraham yang sedang ia cari tahu latar belakangnya.


Sedangkan Eric menatap penuh kerinduan kepada anaknya. Akhirnya ia bisa melihat Ferdians dari jarak yang sangat dekat sekali, dan benar saja ternyata Ferdians memang mewarisi semua bentuk tubuhnya.


"T-tuan E-eric?" ujar Ferdians dengan terbata.


"Kamu mengenal saya?" tanya Eric tak percaya.


"Saya melihat anda dari sebuah majalah. Ternyata benar wajah kita mirip. Senang bisa bertemu dengan anda," ujar Ferdians menjabat tangan Eric yang ternyata ayah kandungnya sendiri.


"Ya saya juga senang bisa bertemu denganmu Fer..." Eric tersadar, ia langsung menghentikan ucapannya karena tak ingin keceplosan, ia ingin membongkar semuanya nanti dan tidak sekarang. Eric ingin penderitaan Danuarta lebih dari yang ia rasakan selama ini.


"Apa Tuan? Saya mendengar anda seperti memanggil nama saya," ujar Ferdians dengan penasaran.


"Ahhh bukan apa-apa. Saya tidak mengenal kamu sebelumnya," ujqy Eric dengan berbohong.


Ferdians mengangguk membenarkan. "Saya buru-buru karena istri saya sudah menunggu. Saya permisi," ujat Ferdians yang di angguki oleh Eric.


Eric menatap kepergian Ferdians dengan tatapan yang sangat dalam. "Kamu tidak boleh terlalu dekat dan mencintai Rania, Ferdians. Papa tidak ingin kamu berhubungan dengan anak dari Ben Danuarta. Papa ingin kalian pisah," gumam Eric dengan tajam.


Ia benar-benar tidak mengizinkan keluarganya berhubungan lagi dengan keluarga Danuarta. Eric sudah sangat-sangat dendam dengan keluarga tersebut hanya karena sebuah kesalahpahaman yang tak terselesaikan sampai sekarang.