
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Heera masuk ke kamarnya dengan ketakutan. Ia semakin takut untuk jujur dengan Rania karena pasti Rania dan Ben akan membenci Ferdians dan dirinya.
"Ya Tuhan... Bagaimana ini? Jika Rania dan tuan Ben tahu jika aku adalah mantan istri pertama dari Eric lalu Ferdians adalah anak kandung dari Eric bagaimana nasib pernikahan anakku, Ya Tuhan? Aku tidak mau Rania dan Ferdians bercerai karena masa laluku," ujar Heera dengan bersedih.
Heera meneteskan air matanya. "Maafkan Ibu ya Ferdians. Karena Ibu pernikahan kalian terancam hancur. Ibu tidak tahu kalau ayahmu sejahat itu hingga membunuh mertuamu," gumam Heera dengan lirih.
"Mas Eric kenapa kamu sejahat itu kepada aku dan kedua anak kita? Dulu kamu tega menduakan aku, lalu mengambil Ferry karena anak dari istri keduamu meninggal, lalu sekarang akibat perbuatan kamu pernikahan anak kita terancam hancur. Kamu benar-benar jahat, Mas!" ujar Heera dengan lirih.
Heera menangis dengan memeluk foto kedua anaknya ketika masih bayi. "Ferry, ibu merindukan kamu, Nak. Apakah kamu tahu jika Ibu adalah ibu kandung kamu? Sekarang pasti kamu sudah bahagia hidup dengan ayahmu dan ibu Gista karena mereka mempunyai segalanya tidak seperti ibu. Ibu ingin bertemu dengan kamu, Nak. Ibu ingin memeluk kamu untuk terakhir kalinya," gumam Heera dengan bersedih.
"Ya Tuhan kenapa nasib hidupku seperti ini? Jangan buat anakku menderita karena kesalahan yang tidak ia perbuat, Tuhan!" gumam Heera dengan lirih.
Heera tidak tahu apakah sekarang ia harus jujur dengan Ferdians jika selama ini ia adalah anak kandung dari Eric. Tetapi Heera tidak sanggup melihat pernikahan Ferdians dan Rania hancur karena kejujurannya. Ben dan Doni pasti akan marah besar karena kejujurannya sekarang, karena Ben sudah mengatakan tidak ingin berhubungan dengan keluarga Eric lagi, itu artinya jika ia jujur maka Ben pasti akan memisahkan Ferdians dengan Rania. Hal itu membuat Heera semakin takut untuk jujur dengan anaknya.
****
Roby menatap mobil Ferdians yang baru keluar dari rumah Rania. Ia menyeringai dengan puas karena kali ini Ferdians dan Rania pergi tanpa di temani Sastra atau Liam, itu semakin memudahkan dirinya untuk menjalankan rencananya.
Roby mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
[Ikuti mobil Ferdians dan jalankan rencana sesuai yang saya perintahkan!] ujar Roby dengan tenang melihat mobil Ferdians yang semakin hilang dari pandangannya.
[Baik, Bos. Kami akan melakukan sesuatu yang di perintahkan oleh Bos!] sahut seseorang di balik telepon.
Roby menyeringai ia mematikan sambungan teleponnya. "Bagaimana, Sayang? Apakah kita harus melihat kematian Rania dan Ferdians berbarengan?" tanya Roby dengan menyeringai sinis.
Clara tersenyum menatap Roby. "Kamu memang yang terbaik, Sayang!" ujar Clara dengan terkekeh.
"Aku sangat ingin melihat kematian Rania dan Ferdians, Sayang. Dan sepertinya rencana kita kali ini akan berhasil, aku tidak ingin gagal lagi karena kita harus menguasai harta Danuarta secepatnya."
" Haha kamu lihat saja bagaimana rencana suamimu ini berjalan," ujar Roby dengan begitu bangganya karena ia sangat yakin rencananya akan berhasil.
Roby dan Clara tertawa bersama mereka tidak tahu jika rencana yang mereka lakukan akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
***
Rania sejak tadi menatap suaminya yang sedang mengemudi. Entah mengapa perasaannya menjadi gelisah setelah ia keluar dari rumah miliknya.
"Mobil kita diikuti oleh seseorang," ujar Rania yang melihat ke arah spion.
Ferdians melihat ke arah yang di tunjuk Rania. Benar saja ada mobil yang mengikuti mereka sejak tadi. Ferdians menambah kecepatan mobilnya.
"Kita ke mana, Sayang?" tanya Ferdians yang masih fokus ke arah jalan agar mobil itu tidak kembali mengikuti mereka.
Ferdians khawatir dengan Rania dan kedua anaknya karena keselamatan ketiganya adalah hal yang utama.
"Kita ke Vila, Mas! Di sana aku akan mengatakan sesuatu," ujar Rania dengan tersenyum.
Senyum Rania menular kepada Ferdians tasa khawatir yang ia rasakan tadi sedikit terobati karena senyuman Rania yang mampu menenangkan dirinya.
"Mas jadi tidak sabar ingin sampai ke Vila yang kamu maksud, Sayang. Apa sih yang akan kamu bicarakan hmmm? Sampai kamu membawa Mas ke Vila?" tanya Ferdians dengan penasaran.
"Mas akan tahu sendiri nanti," ujar Rania dengan misterius yang membuat Ferdians semakin penasaran.
Rania melihat ke arah spion lagi. Mobil yang mengikuti mereka sudah tidak ada di belakang tetapi Rania masih tetap penasaran dan tetap waspada jika memang mobil tersebut ingin berniat jahat kepadt dirinya.
"Mas juga tidak tahu, Sayang. Tapi kita harus tetap waspada ya, siapa tahu mereka berniat jahat kepada kita," sahut Ferdians yang di angguki oleh Rania karena memang benar apa yang di katakan suaminya saat ini.
Rania terus memberikan arahan agar suaminya mengetahui di mana letak Vila yang akan mereka kunjungi hari ini. Di sana tempat ternyaman untuk Rania berbicara akan perasaannya terhadap Ferdians.
Hingga keduanya sampai di sebuah Vila yang sangat asri milik mendiang Dewi yang memang menjadi tempat favorit keluarga untuk berkumpul. Dan setelah meninggalnya Dewi, Rania belum pernah ke Vila ini lagi. Ini pertama kalinya Rania mengajak Ferdians ke Vila ini.
"Tunggu sebentar kamu jangan keluar dari mobil sebelum Mas yang membukakan pintu," ujar Ferdians dengan tegas yang membuat Rania mengangguk tersenyum.
Ferdians keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. "Silahkan keluar bumil cantik," puji Ferdians yang membuat Rania tersenyum malu bahkan wajahnya memanas karena pujian suaminya.
"Terima kasih, Mas!" ucap Rania dengan tersenyum.
"Sama-sama, Sayang!" ujar Ferdians dengan terkekeh.
Penjaga Vila menghampiri keduanya. "Alhamdulillah akhirnya Nona Rania datang juga ke Vila ini bersama suaminya. Sudah lama Nona tidak datang ke Vila ini," ujar penjaga Vila itu dengan tersenyum ramah.
"Iya, Pak. Tapi saya tidak lama di sini mungkin malam kami sudah pulang. Siapkan kamar saya untuk kami beristirahat ya!" ujar Rania yang di angguki penjaga Vila tersebut.
"Baik, Nona!"
"Terima kasih, Pak!" ujar Ferdians dengan ramah.
"Sama-sama, Tuan! Mari masuk saya akan menyiapkan kamar untuk Tuan dan Nona beristirahat sejenak," ujar penjaga tersebut dengan sopan.
****
Rania memeluk Ferdians dari belakang setelah mereka beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh.
Ferdians mengusap tangan istrinya dengan lembut. "Apa yang akan kamu katakan, Sayang?" tanya Ferdians dengan pelan.
Rania bergumam. Ia melah menyembunyikan wajahnya di punggung Ferdians. Dan Ferdians dengan sabar menunggu istrinya untuk berbicara.
"Tentang pernikahan kita!" ujar Rania yang membuat Ferdians langsung terdiam.
"Kenapa? Kamu tetap mau kita berpi..."
"Tidak!" ucap Rania dengan memotong ucapan Ferdians dengan cepat.
"Maksud kamu?" tanya Ferdians membalikkan tubuhnya hingga menatap wajah cantik Rania.
"Aku sudah mengambil keputusan jika perjanjian pernikahan awal kita batal. A-aku ingin pernikahan kita tetap berlanjut sampai kita tua bahkan kita mati," ujar Rania menatap wajah Ferdians dengan dalam.
"Kamu serius?" tanya Ferdians dengan bahagia bahkan Ferdians sangat terlihat bahagia sekali sekarang karena akhirnya Rania luluh juga kepada dirinya.
Rania mengangguk. "Aku tidak ingin kita berpisah, Mas! A-aku tidak ingin anak-anak kita jauh dengan kita. A-aku tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan," ujar Rania dengan lirih.
"Selain itu apakah ada alasan lain?" tanya Ferdians yang kurang puas dengan penjelasan Rania walaupun sekarang ia sudah sangat bahagia sekali karena pada akhirnya Rania tidak ingin berpisah dari dirinya.
Rania tampak gugup setelah Ferdians bertanya seperti itu kepada dirinya. "Karena..."
"Karena apa, Sayang?" tanya Ferdians tak sabaran.
"K-karena aku mencintai kamu, Mas!" ujar Rania dengan memejamkan mata tak berani menatap Ferdians.
Tubuh Ferdians mematung hingga ia sadar jika sekarang ia sedang tidak bermimpi. Ferdians menangkup wajah Rania dan mencium wajah Rania dengan gemas yang membuat Rania terkekeh.
"Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut kamu, Sayang! Mas juga mencintai kamu! Aaahh... Mas bahagia sekali hari ini!" ujar Ferdians memeluk Rania.
Sedangkan Rania hanya bisa tertawa dengan apa yang Ferdians lakukan sekarang. Sebahagia itukah suaminya sekarang? Dan hati Rania menjadi sangat lega karena ia sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Ferdians tentang perasaannya. Keduanya saling berpelukan dengan erat bahkan tak henti-hentinya Ferdians menciumi sang istri.