
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Rajendra menatap dirinya di cermin dengan sangat dingin, lalu ia menyeringai dengan sinis. Tangannya terkepal dengan sangat erat, bahkan urat lehernya terlihat jelas. Ya, Rajendra benar-benar terlihat marah, jika takdirnya menikah dengan Cassandra adalah yang terbaik agar keluarganya baik-baik saja maka Rajendra kan melakukannya, ia berusaha melupakan Olivia yang masih bersemayam di hatinya, hanya dirinya dan sang mama yang mengetahui soal perasaannya ini. Rajendra tidak ingin Faiz atau yang lainnya mengetahui jika dirinya memendam rasa kepada Olivia.
Rajendra keluar dari kamarnya, semua keluarga ternyata sudah berkumpul di ruang keluarga, Rajendra menuju lantai satu. Ia melihat Faiz yang sedang bermesraan di sana. Dan tentu saja hati Rajendra berdenyut sakit, namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja.
Hari ini adalah hari di mana Rajendra dan keluarganya akan resmi melamar Cassandra. Tampak Olivia sangat senang karena adiknya akan menikah juga, semalam Olivia dan Faiz sudah menginap di rumah kedua orang tua Olivia. Dan pagi ini mereka pulang untuk ikut mengantarkan Rajendra ke rumah kedua orang tua Olivia, terlihat aneh memang tapi bukankah ini takdir yang harus mereka jalani walaupun Olivia dan Cassandra memiliki tujuan di dalam pernikahan mereka.
Olivia yang terlalu percaya dengan Cassandra hingga tujuan ia menikah dengan Faiz untuk mempererat hubungan keluarganya dengan keluarga Faiz. Dan Cassandra yang terlalu licik dengan niatnya untuk membuat keluarga Danuarta menderita. Olivia tidak tahu jika apa yang ia lakukan ini juga akan menjadi boomerang untuk rumah tangganya di kemudian hari, tapi sikap polosnya dan sikap terlalu baiknya ke Cassandra hanya di manfaatkan oleh gadis itu.
"Ayo berangkat!" ujar Rajendra dengan tersenyum tipis.
Semua orang melihat ke arah Rajendra dengan tersenyum karena rencana mereka sudah berada di titik ini. Tetapi tidak dengan Ana, karena wanita itu mengetahui siapa gadis yang Rajendra sukai tetapi kini sudah menjadi keponakan ipar Rajendra sendiri. Ana berusaha menenangkan dirinya, ia tak ingin sakit lagi seperti minggu kemarin, akibat ia terlalu berpikir dalam akibatnya tekanan darahnya menjadi tinggi.
"Ayo. Semua sudah siap, hantaran untuk lamaran kamu sudah ada di mobil," ujar Ben dengan tersenyum.
Semua orang melangkah keluar, ada beberapa mobil yang mengiringi mobil Rajendra yang ada di depan, semua yang ikut hanya keluarga inti saja, toh lamaran ini juga tidak istimewa bagi Rajendra sama sekali.
****
Keluarga besar Rajendra sudah sampai di rumah Rio dan Anjani. Rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman sekali, Rio yang menjalani usaha kuliner seperti membuka cafe sudah sangat berkembang pesat bahkan sudah memiliki berbagai cabang di beberapa lokasi di berbagai daerah, tetapi mereka hanya ingin tinggal di rumah ini saja dan tak ingin membeli rumah yang lebih luas.
Saat mobil keluarga berbaris untuk parkir, ada Roby yang sedang melihat ke arah mereka dengan menyeringai, sebentar lagi Cassandra akan menikah dengan Rajendra dan tentu saja ia sangat bahagia akan hal itu, karena dirinya lebih gampang untuk menghancurkan keluarga Danuarta.
Rajendra yang merasa ada yang memperhatikan dirinya langsung menoleh dengan cepat. Ia menyeringai saat melihat siluit seseorang yang juga pernah ia lihat berdiri di dekat pagar rumah kakaknya. Orang yang sama karena Rajendra sangat hapal dengan fostur tubuh orang tersebut.
Tak hanya Rajendra ternyata Faiz dan Gavin juga mengetahuinya. Rajendra mendekati Faiz dsn Gavin. "Bagaimana kalau aku sedikit bermain dengan calon mretuaku?" tanya Rajendra kepada Faiz dan Gavin.
"Tentu saja sangat boleh, Om! Sepertinya dia juga ingin berkenalan dengan calon menantunya," ujar Faiz dengan terkekeh.
"Tapi nanti sajalah biarkan dia menjadi penguntit," ujar Rajendra dengan santainya. "Namun, setelah itu aku tidak akan membiarkan dia hidup bebas lagi," ujar Rajendra dengan menyeringai.
"Jangan terlalu kejam dengan mertua, Om!" ujar Faiz dengan terkekeh.
"Mertua seperti itu harus di musnahkan!" jawab Rajendra dengan santainya.
"Tuan, lelaki itu juga pernah hampir menabrak nona Frisa di mall. Waktu itu saya belum mengetahui siapa karena dia memakai topi, masker, dan kacamata hitam. Dan sekarang saya sudah tahu, saya merasa dia akan melukai nona Frisa karena beberapa kali saya melihat dia saat nona Frisa ada bersama dengan saya," jelas Gavin yang membuat Faiz mengumpat.
"Brengsek! Seujung kuku pun dia tidak akan bisa menyentuh Frisa," gumam Faiz dengan tajam.
Dan tentu saja Gavin juga tidak akan membiarkan itu terjadi, lebih baik nyawanya melayanng daripada Frisa terluka.
"Biasalah Kak bisnis," jawab Frisa dengan tersenyum tetapi ia juga penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
****
Rio dan Anjani sudah menyambut kedatangan besan dan calon besannya, memang terasa aneh. Keluarga yang pernah menjadi papa tiri serta kakak tirinya kini menjadi besannya tapi Rio tak bisa berbuat apa-apa karena ia sadar kebahagiaan anaknya lebih utama. Ada rasa canggung yang ia rasakan kembali namun Rio harus bersikap biasa saja.
Cassandra berjalan menuruni tangga dengan perlahan, semua orang tertuju padanya. Rajendra akui Cassandra hari ini sangat cantik namun kecantikan wajahnya berbanding terbalik dengan kecantikan hati Cassandra yang membuat Rajendra bukannya suka malah semakin membenci Cassandra.
"Cantik banget kamu, Dek!" puji Olivia yang membuat semua orang tersadar, pikiran kesal mereka berganti tersenyum menatap ke arah Olivia, seandainya Olivia tahu Cassandra tidak sebaik itu mungkin Olivia tak akan pernah memuji Cassandra sekarang.
"Terima kasih, Kak!" ujar Cassandra dengan tersenyum.
Cassandra berjalan menghampiri semua orang dan menyalami mereka satu persatu agar ia mendapatkan kesan yang baik, tetapi bukannya berkesan semuanya merasa muak di dalam hati.
Acara lamaran Rajendra dan Cassandra sudah di mulai, semua berjalan sangat baik. Bahkan Cassandra merasa dirinya di atas awan sekarang karena ia sudah menjadi calon istri seorang Rajendra dan bentar lagi mereka akan menikah.
Dengan kelicikannya Cassandra malah terlihat seperti gadis yang sangat bodoh, karena di antara kelicikan Cassandra, Rajendra lah yang lebih licik. Bahkan Rajendra jauh lebih licik dari pada Ben dan juga Rania. Mungkin Rajendra lebih mewarisi sikap almarhum kakeknya yaitu Doni sewaktu muda.
***
Setelah acara lamaran sudah selesai dan keluarga Danuarta sudah pulang ke rumahnya. Cassandra meminta izin keluar untuk menemui mamanya di rumah sakit, Cassandra mengatakan jika dirinya harus memberitahu kabar bahagia ini kepada Clara walaupun mamanya tak mengerti dan merespon ucapannya. Rio dan Anjani yang terlalu percaya pun memperbolehkan Cassandra bertemu dengan mamanya.
Tapi ternyata Cassandra sedang menemui Roby, ia ingin sekali bertemu dengan papa kandungnya tersebut karena selama ini mereka jarang sekali bertemu. Ada terbesit rasa rindu untuk papanya, namun Cassandra berusaha menepis perasaan itu.
Di sinilah sekarang Cassandra, di sebuah cafe di mana ia akan bertemu dengan ayah kandungnya sendiri.
Cassandra dan Roby saling duduk berhadapan, entah mengapa Cassandra merasa tak ada ikatan batin antar ia dan papanya, mungkin itu karena dari dalam kandungan sejak ia sebesar ini Cassandra tidak pernah bersama dengan Roby.
"Apa yang ingin kamu katakan, Sayang?" tanya Roby kepada anaknya yang terlihat diam menatap ke arahnya.
"Aku akan menikah dengan Rajendra. Aku akan membalaskan dendam seperti apa yang Papa dan mama mau," ujar Cassandra dengan pelan.
Roby terkekeh senang dan bertepuk tangan kecil. "Ini baru anak Papa. Setelah kamu menjadi istri Rajendra, peras harta suami kamu, Sayang. Satu persatu kamu harus melenyapkan mereka. Di mulai dari Ben mungkin karena dia sudah sangat tua, tidak baik dia hidup terlalu lama di dunia ini," ujar Roby yang membuat Cassandra tersentak.
Ada terbesit rasa enggan melakukannya. Namun, Cassandra kembali ingat jika Ben adalah orang yang pertama membuat keluarganya hancur, tangan Cassandra terkepal, rasa benci itu semakin ia pupuk dengan subur. Dendam yang semakin besar itu malah semakin membuat Roby semakin senang menghasut anaknya.
"Ben adalah orang yang pertama yang membuat keluarga kita terpecah belah seperti ini, Sayang. Ingat Kamu harus menyingkirkan Ben secepatnya," ujar Roby dengan dingin.
Cassandra mengangguk dengan tegas. "Aku akan melakukannya, Pa!" ujar Cassandra dengan tegas.
"Bagus! Tapi maaf Papa tidak bisa menjadi wali nikah kamu, tapi Papa selalu mendukung kamu. Papa harus pergi!" ujar Roby berdiri dan berlalu begitu saja.
Kata yang ingin Cassandra ucapkan seakan menggantung di udara saat melihat papanya pergi begitu saja. Padahal Cassandra hanya ingin Roby memeluknya sekali saja, helaan napas Cassandra terdengar cukup berat. Gadis itu akhirnya melamun sebelum memutuskan keluar dari cafe ini.