Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 113 (Fakta Yang Terungkap)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Kepala Heera berdenyut sakit tetapi ia masih bisa menahan ketika penyakit yang di deritanya selama ini kembali menyerang dirinya. Bahkan sampai detik ini saat Eric terus memohon untuk dirinya berbicara tetapi Heera masih diam terpaku menatap nisan anaknya yang terlihat di hadapannya. Jika ini mimpi tolong bangunkan Heera dari mimpi buruknya saat ini tetapi jika ini kenyataan Heera sudah mati jiwa hingga ia seperti patung yang tidak bisa berbicara.


"Heera, Mas mohon bicaralah walaupun kata yang keluar dari mulut kamu hanya makian untuk Mas," ujar Eric dengan memohon.


Tanpa di sadari keduanya, Ferdians dan Gista ada di sana. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancurnya hati Ferdians maupun Gista saat ini.


Air mata Gista langsung menetes di kedua pipinya ketika ia tahu kenyataan yang selama ini di tutupi oleh suaminya selama 34 tahun lamanya. Ternyata anak yang selama ini ia asuh dan susui bukanlah anak kandungnya melainkan anak kandung dari wanita yang berada di samping Eric. Kenyataan yang kembali menghantam hatinya adalah wanita yang di samping suaminya adalah istri pertama suaminya. Jadi, selama ini ia sudah merusak rumah tangga orang?


Tubuh Gista hampir terhuyung tetapi ia mencoba kuat. Matanya terus menyaksikan suaminya sedang memohon maaf dan memohon agar Heera mau berbicara dengan Eric. Walaupun hatinya sakit, entah mengapa Gista tidak bisa melangkah pergi. Seperti ada magnet yang membuat dirinya tetap harus berdiri di sini menyaksikan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya sakit karena di hantam sebuah kenyataan yang telah di sembunyikan suaminya begitu rapat bahkan sampai Gista saja tidak tahu sampai sekarang. Gista hanya bisa tersenyum miris menyaksikan pemandangan di depannya.


Sedangkan Ferdians sudah mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pantas saja Eric memintanya untuk bersama dengan pria itu ternyata ia hanya dijadikan pengganti kembarannya. Ferdians sudah paham penyebab ayah kandungnya yang tak pernah menemui dirinya dan kini datang memintanya untuk kembali.


Dengan langkah yang begitu tegas Ferdians menghampiri ayah dan ibunya.


Bukkk....


Tanpa basa-basi Ferdians memukul ayahnya sendiri bahkan Gista sampai terpekik kaget melihat Ferdians memukul Eric dengan sangat keras hingga Eric tersungkur.


"Brengsek! Jadi ini alasan anda meminta saya dan ibu saya kembali. Ternyata karena kembaran saya sudah tiada sejak lama. Anda pikir saya tertarik dengan kekayaan yang anda punya? Tidak sama sekali tuan Eric!" ujar Ferdians dengan tajam.


"Bu, ayo kita pergi dari sini!" ujar Ferdians dengan tegas.


Heera masih dalam posisinya mematung menatap nisan anaknya hingga darah segar mengalir begitu banyak dari hidungnya mengotori makam anaknya.


"Ferdians, tolong maafkan Ayah! Bukan maksud Ayah seperti itu," ujar Eric dengan memohon kepada anaknya sendiri.


"Jadi maksud anda apa? Maksud anda tidak ingin menemui saya karena istri anda begitu? Tidak sepantasnya saya masih percaya dengan anda setelah anda meninggalkan saya dan ibu saya begitu saja demi wanita lain yang kata anda tidak anda cintai. Cinta seperti apa yang anda berikan kepada ibu saya hingga anda hanya menorehkan luka di hatinya. Kali ini saya tidak akan tertipu lagi dengan kebaikan anda, saya akan membawa ibu pergi dan jangan harap anda bisa menemuinya lagi," ujar Ferdians dengan penuh amarah.


"Ferry!" gumam Heera yang membuat Ferdians dan Eric langsung menatap ke arah Heera.


Betapa terkejutnya Ferdians dan Eric ketika melihat darah Heera menetes begitu banyak di makam Ferry.


"Ibu!"


"Heera!"


Eric berusaha menggendong Heera tetapi tubuhnya kembali di singkirkan oleh Ferdians. "Jangan pernah sentuh ibu saya! Hubungan anda dan ibu sudah berakhir begitupun hubungan saya dengan anda," ujar Ferdians dengan tajam.


Gista yang menyaksikan dan mendengarkan semua yang diucapkan suaminya hanya bisa membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


"J-jadi mas Eric selama ini tersiksa menikah dengan aku?" gumam Gista menggelengkan kepalanya dengan kuat berusaha tidak percaya dengan apa yang ia dengar tetapi kenyataannya memang sudah ia saksikan di hadapannya sendiri dan Eric yang mengatakannya. Jadi, selama ini Eric hanya pura-pura mencintai dirinya?


"Awas! Jangan pernah menemui ibu maupun saya lagi!" ujar Ferdians dengan tajam.


Ferdians menggendong ibunya dengan cepat. Hati Ferdians mencolos saat darah masih mengalir saja dari hidung ibunya bahkan wajah ibunya sangat pucat sekali.


"Kita ke rumah sakit ya, Bu!" ujar Ferdians dengan sendu.


"Ferdians jangan pisahkan Ayah dengan ibumu lagi! Ayah mohon Ferdians!" ujar Eric dengan memohon.


Tanpa di duga Ferdians yang masih di kuasai amarah menendang perut ayahnya sendiri hingga Eric kembali tersungkur. Gista yang sudah tidak kuat langsung menghampiri suaminya, bagaimanapun Gista tidak tega melihat Eric diperlakukan seperti ini oleh Ferdians.


"Mas!" panggil Gista membantu suaminya berdiri.


"Gista!" gumam Eric dengan lirih.


Eric tidak menyangka jika Gista juga berada di sini. Ia tidak tahu apakah Gista mendengar semua perkataannya atau tidak, tetapi mungkin ini saatnya ia tidak menutupi semuanya dari Gista lagi.


"Gista tolong bantu aku kejar Ferdians dan Heera. Mereka tidak boleh pergi Gista! Aku sangat membutuhkan mereka hiks," ujar Eric dengan menangis. Tak peduli dengan reaksi Gista saat ini yang terpenting ia tidak kehilangan Ferdians dan Heera lagi.


"Sudah, Mas!" ujar Gista menahan Eric yang membuat Eric emosi.


"JIKA TIDAK KARENA ORANG TUAKU DAN ORANG TUAMU YANG MENJODOHKAN KITA, AKU TIDAK AKAN KEHILANGAN MEREKA. KENAPA MEREKA SANGAT JAHAT MENEKAN AKU HINGGA AKU MENJADI MANUSIA YANG SANGAT KEJAM KEPADA ISTRI DAN ANAK-ANAKU SENDIRI. JIKA MEREKA TIDAK MENGANCAM AKAN MEMBUNUH HEERA DAN FERDIANS, AKU TIDAK AKAN MENGAMBIL FERRY DARI HEERA HANYA UNTUK MEMBUAT KAMU BAHAGIA. KAMU TAHU AKU SANGAT TERSIKSA DENGAN SEMUANYA, AKU TERUS BERUSAHA BERADA DI SAMPING KAMU WALAUPUN AKU SANGAT MERINDUKAN MEREKA. TAPI SEKARANG HEERA DAN FERDIANS MEMBENCIKU," teriak Eric di depan wajah Gista hingga Gista memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir.


"Kamu tidak tahu tersiksanya menjadi aku, Gista! Heera dan Ferdians tidak boleh pergi lagi hiks...hiks..." tumpah sudah beban yang ia pikul selama ini di hadapan Gista.


"M-maaf, aku tidak tahu jika selama ini aku merusak kebahagiaan kamu dan dia," gumam Gista dengan lirih.


"Hahaha...hiks...hikss... Aku sudah mengorbankan seluruh hidupku ke kamu. Jadi, tolong kali ini bantu aku untuk membuat Heera dan Ferdians kembali kepadaku, Gista!" ujar Eric seperti orang gila yang memohon pada Gista.


Gista hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis yang hendak keluar. Melihat suaminya memohon seperti ini membuat Gista menjadi orang jahat yang telah merusak kebahagiaan suaminya sendiri.


"Bangun, Mas! A-aku akan bantu bicara dengan mantan istri dan anak kamu," ujar Gista dengan lirih.


"Tolong bantu aku, Gista!"


"Iya, Mas!"