Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 95 (Rahasia Yang Terbongkar)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Plak...


Plak...


Dua tamparan yang sangat keras terdengar di suatu ruangan. Kemarahan yang sangat mendalam terlihat di sorot mata Ben saat ini. Bahkan Ben tidak mau istrinya melihat kemarahannya kali ini karena itu bisa membahayakan kandungan suster Ana, hingga Ben menyuruh sang papa untuk menjaga istrinya di rumah sakit menunggu Rania.


"Mas!" ucap Agni tidak percaya ketika ia mendapatkan tamparan yang sangat keras dari suaminya.


Agni memegang pipinya yang terkena tamparan oleh suaminya sendiri bahkan Clara juga ikut terkena tamparan yang sangat keras itu hingga Clara langsung menangis karena merasa perih pada pipinya dan benar saja darah mengalir dari sudut bibir Clara saat ini.


"Ini balasan untuk kalian berdua yang sudah melukai anak saya," ujar Ben dengan tegas.


"Kami tidak melukai Rania, Mas! Ini semua fitnah!" ujar Agni menyangkal semua perbuatannya agar Ben percaya kepada dirinya tetapi semua pikirannya salah karena Ben sudah tahu siapa sebenarnya Agni dan Clara, dua wanita ular yang sudah menyebabkan istrinya meninggal dunia.


Ben terkekeh lalu tertawa semakin keras yang membuat Clara langsung ketakutan memeluk mamanya. Baru pertama kali ia melihat papanya menyeramkan seperti ini bahkan sampai membuat Clara gemetar ketakutan.


"Fitnah? Hahaha... Masih bisa membela diri kamu, Agni? Kamu ternyata tidak tahu siapa saya yang sebenarnya kalian terlalu memerankan peran dua wanita yang baik hati tapi ternyata hati kalian begitu sangat busuk," ujar Ben dengan tajam.


"Mas ini semua fitnah aku dan Clara tidak seperti yang kamu tuduhkan, Mas. Pasti ini gara-gara bodyguard Rania kan, Mas? Kamu lebih mempercayai mereka dari pada istri kamu sendiri," ujar Agni dengan sendu bahkan ia berhasil memerankan wanita yang paling di sakiti di sini, bahkan dengan sangat mudahnya ia menangis di hadapan Ben.


Ben sama sekali tidak simpati. "Sastra putar semua rekaman bukti kejahatan mereka," ujar Ben dengan tenang.


"Baik, Tuan!" ujar Sastra dengan tegas.


"Kalian tahu Sastra, Liam, dan yang lainnya adalah anak buah saya yang saya tugaskan untuk menjaga Rania. Bahkan Rania saja tidak tahu itu," ujar Ben dengan dingin.


"A-apa?" Agni dan Clara begitu sangat terkejut mengetahui fakta jika Sastra dan yang lainnya adalah anak buah dari Ben yang selama ini menjaga Rania.


Sial! Agni dan Clara merasa di bohongi oleh Ben salama ini.


Wajah keduanya semakin pucat ketika rekaman itu mulai di putar oleh Sastra. Ucapan demi ucapan keduanya mulai terdengar begitu nyaring di ruangan ini.


"Haha setelah kita berhasil menyingkirkan Dewi dan mama menjadi istri dari Ben, kita juga berhasil menyingkirkan Rania dan juga Ferdians yang menjadi penghalang untuk kita menguasai harta Danuarta, Sayang!"


Suara Agni terdengar begitu jelas di rekaman itu hingga Agni begitu tampak pucat, ia tidak bisa mengelak lagi sekarang bahkan bibirnya sangat keluh untuk berucap.


"Bagaimana? Kalian masih mau mengelak lagi? Kamu tahu Agni? Saya menikahi kamu karena ingin mengusut kematian istri saya. Dan benar adanya jika kamu terlibat dalam kecelakaan yang di alami Dewi. Kamu dan Eric benar-benar musuh di dalam selimut," ujar Ben dengan tajam.


"M-mas maafkan aku! A-aku tahu aku salah," ujar Agni dengan sendu.


"Maafkan Clara juga, Pa. Clara salah," ujar Clara dengan lirih.


Agni dan Clara bersujud di kaki Ben agar lelaki itu mau memaafkan kesalahan mereka, keduanya harus bisa meyakinkan Ben agar Ben mau memaafkan mereka.


"Ternyata mas Ben belum tahu jika Eric tidak bersalah. Aku sengaja memanipulasi semua bukti agar mengarsh kepada Eric supaya persahabatan mereka juga hancur. Ternyata mas Ben tidak sepintar yang aku kira dan untuk soal kejahatan aku yang terbongkar, aku akan berusaha mendapatkan maaf dari mas Ben," gumam Agni di dalam hati.


"Jika tidak mendapatkan maaf dari mas Ben, aku masih bisa melihat kehancuran dua sahabat yang saling membenci karena kesalahpahaman," gumam Agni dengan menyeringai.


Sepertinya Agni tidak mempunyai hati nurani lagi, ia terlalu iri dengan kehidupan Dewi hingga menghalalkan segala cara untuk merusak keluarga sahabatnya tersebut.


"Saya tidak akan memaafkan kamu Agni! Mulai sekarang saya talak kamu dan mulai detik ini kamu bukan lagi istri saya," ujar Ben dengan tajam.


Agni membelalakkan matanya tidak percaya jika dirinya akan diceraikan oleh Ben. "Mas jangan ceraikan aku hiks...hiks... Aku akan lakukan apapun agar mendapatkan maaf dari kamu Mas asal kamu tidak menceraikan saya," ujar Agni dengan memohon.


"Pa, jangan ceraikan mama! Clara juga akan melakukan apa saja agar mendapatkan maaf dari Papa," ujar Clara dengan lirih.


"Bawa keduanya ke kantor polisi pastikan mereka mendekam di penjara dengan sangat lama! Saya tidak mau melihat wajah mereka lagi," ujar Ben tanpa menghiraukan permohonan Clara dan juga Agni, sudah cukup ia berbaik hati selama ini hingga ia mengorbankan kebahagia anak kandungnya sendiri.


"Mas aku tidak mau di penjara!"


"Pa jangan penjarakan kami hiks..."


"Kalau Papa memenjarakan kami seharusnya mas Roby juga di penjara karena dia juga ikut andil dalam rencana ini," ujar Clara dengan berteriak.


Ben melihat ke arah Sastra dan juga Liam. "Di mana Roby?" tanya Ben dengan tajam.


"Sepertinya Roby sudah lari sebelum kami datang Tuan karena saat kami datang hanya ada Agni dan Clara di rumah," jawab Sastra dengan tegas.


"Bawa kedua wanita busuk ini ke kantor polisi sekarang," ujar Ben dengan dingin.


"Mas jangan masukan kami ke penjara. Aku ini istri kamu dan Clara adalah anak kamu, Mas!" ujar Agni dengan histeris.


"Kamu bukan istri saya lagi dan Clara hanya anak tiri. Ketika kamu dan saya bercerai maka Clara bukan anak saya lagi, Agni!" ujar Ben dengan dingin.


"Bawa mereka cepat! Saya tidak mau melihat wajah mereka lagi! Pastikan keduanya mendapatkan hukuman yang sangat berat," ujar Ben.


"Baik, Tuan!" jawab Sastra dan yang lainnya dengan tegas.


"MASSS!"


"PAPA TOLONG!"


Agni dan Clara meraung meminta di lepaskan tetapi Ben sama sekali tidak bergeming kali ini ia tidak akan melepaskan Agni dan Clara hidup bebas dan memakai uangnya kembali semua sudah terbongkar dan Ben tidak akan memaafkan orang-orang yang sudah terlibat dalam kecelakaan istri dan anaknya.


Ben menyeringai menatap Agni dan Clara. Keduanya harus merasakan bagaimana hidup di penjara, setelah itu Ben kembali melangkah dan pergi ke rumah sakit lagi untuk melihat keadaan anaknya.


****


Ben membuka ruangan Rania dengan perlahan. Ia hanya melihat istri dan papanya di sana sedangkan Rania tidak ada, pasti anaknya itu sedang berada di ruangan Ferdians, ia ingin menyuruh Rania kembali tetapi Ben tidak mau istrinya merasakan sakit perut lagi.


"Mas kenapa lama sekali ketemu Agni-nya?" tanya Suster Ana dengan cemberut.


"Mas harus membuat Agni dan Clara mendekam di penjara dulu, Sayang. Sekarang semuanya sudah beres," ujar Ben dengan tersenyum.


"Hanya Agni dan Clara? Bagaimana dengan Roby?" tanya Doni.


Ben menghela napasnya dengan kasar. "Kemungkinan Roby kabur, Pa. Tapi saya tidak akan membuat dia hidup tenang. Sastra dan yang lainnya masih mencari keberadaan Roby," jawab Ben dengan tegas.


"Mas harus ketemu Rania dulu. Dia tidak boleh berlama-lama di ruangan Ferdians," ujar Ben dengan datar.


Dengan cepat suster Ana menahan lengan suaminya.


"Sayang kenapa?" tanya Ben berusaha sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil.


"Pengin es krim!" ujar Suster Ana dengan merengek yang membuat Ben terkekeh.


"Kamu ngidam?" tanya Ben dengan antusias.


"Iya, Mas. Ayo beli es krim rasa coklat," ujar Suster dengan dengan manja.


Ben dan Doni tersenyum melihat tingkah suster Ana saat ini. "Tapi Mas harus panggil Rania dulu ya baru kita beli es krim," ujar Ben dengan lembut.


"Rania kan berada di ruangan suaminya, Mas. Dia akan baik-baik saja di sana. Aku mau sekarang, Mas!" ujar Suster Ana agar Ben tidak ke ruangan Rania dan mengacaukan batin Rania karena ia tidak tega dengan Rania dan Heera.


"Ana!" Ben berucap dengan tegas yang membuat suster Ana terdiam dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf! A-aku bisa pergi sendiri," ujar Suster Ana benar-benar sedih.


Suster Ana menghapus air matanya dengan kasar, bisa-bisanya ia menangis karena merasa suara tegas Ben tadi seperti membentak dirinya.


Ben menahan tangan Ana dan memeluk istrinya. Ia menjadi tidak tega melihat Ana seperti ini.


"Turuti saja kemauan istri kamu biar Papa yang membujuk Rania!" ujar Doni yang membuat suster Ana langsung terkejut.


"Tapi kalau Rania tidak mau jangan di paksa ya, Pa. Aku suster sedikit banyaknya aku tahu bagaimana kondisi orang-orang yang sedang terguncang karena musibah," ujar Suster Ana dengan sendu.


"Kita lihat saja nanti," ujar Doni yang membuat suster Ana tidak tenang.


"Mas!" rengek suster Ana yang membuat Ben menghela napasnya dengan pelan.


"Papa pulang saja tidak apa-apa, Pa. Saya rasa benar kata Ana," ujar Ben yang membuat suster Ana tersenyum.


"Tapi setelah Ferdians sadar Rania tidak boleh lagi bertemu dengan Ferdians!" ujar Ben dengan tegas yang membuat suster Ana terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ayo kita beli es krim yang kamu mau. Anak Papa pangin es krim ya?" ujar Ben dengan lembut yang membuat suster Ana tersenyum.


"Iya, Papa!" jawab Suster Ana dengan menirukan suara anak kecil yang membuat Ben terkekeh, ia merasa menjadi lelaki yang baru saja menjadi papa sekarang padahal anaknya sudah dewasa.


"Rania, hanya dengan cara ini Mama bisa membantu kamu. Setelah ini Mama tidak tahu harus membantu kamu seperti apa lagi. Papa dan kakekmu benar-benar keras kepala," gumam Suster Ana di dalam hati.