
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Uhuk...uhuk...
Kondisi Eric terus menurun, batuk yang di deritanya belum sembuh sampai sekarang, ia di hantui rasa bersalah dan penyesalan yang sangat mendalam bahkan dalam seminggu ini berat badannya sudah turun 5 kilogram. Eric berharap Gista berhasil membujuk Ferdians untuk datang ke rumahnya.
Ceklek...
Eric menatap pintu kamar yang terbuka, ia yakin pasti itu Gista yang datang setelah menemui Heera dan Ferdians. Eric sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua orang yang sangat ia sayangi selama ini tetapi ia sudah menorehkan luka yang begitu dalam di hati keduanya.
"Bagaimana? Apakah Heera dan Ferdians mau ikut ke rumah ini?" tanya Eric dengan tersenyum tipis.
Gista melihat senyum kebahagiaan di wajah pucat suaminya, entah harus bersikap seperti apa yang jelas hati Gista masih terasa sangat sakit. Dadanya begitu sangat sesak melihat senyuman itu, senyuman yang sangat mengharapkan kehadiran Heera dan Ferdians, rasanya secepat itu Eric melupakan keberadaan dirinya di rumah ini.
"Mbak Heera sedang sakit, Mas. Dia tidak bisa ke rumah ini karena sekarang mbak Heera belum sadarkan diri dari komanya. Dan Ferdians, dia tidak mau menemui kamu walaupun aku bersujud di kakinya karena dia masih sangat marah dengan apa yang kamu lakukan terhadap dia dan ibunya," jawab Gista berusaha tenang untuk mengatakan semuanya kepada Eric.
"A-apa? Heera koma? A-aku harus menemui dia sekarang. Pasti keadaannya Heera drop karena mengetahui Ferry sudah meninggal," ujar Eric dengan panik.
Eric turun dari kasurnya dengan terburu-buru hingga tubuhnya yang lemah hampir jatuh jika Gista tidak sigap memegang lengannya.
"Pelan-pelan, Mas. Tunggu kamu membaik dulu baru kita temui mbak Heera bersama," ujar Gista dengan tegar walaupun sebenarnya hatinya begitu terluka.
"Tidak bisa, Gista! Kamu jangan menghalangi saya untuk bertemu dengan Heera! Gara-gara saya, dia begitu menderita sampai sekarang. Bahkan di saat dia terkena leukimia saya tidak ada di sampingnya," ujar Eric dengan tegas.
Eric mendorong tubuh Gista hingga terjatuh di lantai, rasa penyesalannya kepada Heera membuat Eric seakan melupakan Gista sebagai istrinya.
Sedangkan Gista hanya bisa tersenyum kecut di barengi dengan air mata yang menjatuhi kedua pipinya. Gista yang tersadar langsung menyeka air matanya dengan kasar, ia harus tetap waras untuk melanjutkan hidupnya yang tiba-tiba saja terjun ke jurang yang sangat curam di mana sang suami sudah mengabaikan keberadaannya di sini.
"Bagaimana aku harus bersikap sekarang? Semua terasa sangat menyakitkan!" gumam Gista dengan tersenyum pedih.
Dengan menguatkan hati Gista akhirnya menyusul suaminya. Bagaimanapun ia merasa khawatir dengan keadaan Eric yang belum pulih sepenuhnya bahkan tidak membaik sama sekali.
"Mas tunggu aku ikut!" ujar Gista berteriak.
"Ke rumah sakit sekarang!" ujar Eric kepada supirnya dan tak lama Gista juga ikut masuk ke dalam mobil tetapi Eric sama sekali tak melihat keberadaannya yang ada di pikirannya hanya Heera, Heera, dan Heera.
"Baik, Tuan!" jawab supir yang bekerja dengan di rumahnya dengan sopan.
Mobil melaju meninggalkan rumah mewah milik Eric. Eric sama sekali tidak tenang sedangkan Gista lebih memilih menatap ke arah luar daripada harus melihat suaminya khawatir dengan perempuan yang ada di masa lalu suaminya. Tetapi walaupun begitu ada rasa bersalah yang menghantui Gista karena Eric menikahi dirinya, ia sudah menghancurkan kebahagiaan Heera dan Ferdians, andai saja ia tidak menikah dengan Eric pasti kejadian ini tidak pernah terjadi.
****
Eric dan Gista sudah berjalan masuk ke rumah sakit. Ia sudah bertanya ke bagian administrasi di mana Heera di rawat, setelah mendapatkan ruangan Heera, Eric dan Gista bergegas ke sana.
Eric menatap Heera dari balik jendela besar, air matanya langsung jatuh begitu saja melihat keadaan Heera yang benar-benar sangat buruk.
"Saya mau masuk!" ujar Eric dengan tegas.
Gista sama sekali tak menjawab, wanita itu hanya diam menatap Heera dengan perasaan bersalahnya hingga ia melihat Eric sudah masuk di dalam sana bahkan ia melihat Eric memeluk Heera dengan menangis. Gista merasa menjadi penghalang kebahagiaan dua pasangan tersebut. Dan sebaiknya ia menunggu di luar sampai Eric selesai menjenguk Heera. Gista berharap Ferdians dan Rania tidak datang ke sini dulu karena pasti akan menimbulkan keributan yang sangat besar di antara Eric maupun Ferdians nantinya.
"Maafkan Mas, Heera! Mas begitu jahat hingga kamu menderita seperti ini. Mas adalah lelaki yang sangat jahat yang sudah menghancurkan hidup kamu demi membahagiakan perempuan lain karena desakan orang tuaku dan orang tua Gista," ujar Eric dengan memegang tangan Heera dengan lembut seakan takut tangan rapuh itu terluka karena ia memegangnya.
"Heera seandainya kesakitan kamu bisa Mas tukar. Mas akan menukarkan diri Mas agar kamu kembali sehat seperti dulu," ujar Eric dengan terisak.
"Bangun, Heera! Mas rela kamu hajar saat kamu bangun asal kamu kembali sehat seperti dulu, jangan tidur terlalu lama Heera! Seandainya waktu bisa di ulang maka Mas akan menentang mereka. Kita pasti bahagia bersama dengan kedua anak kita," ujar Eric menatap Heera dengan sendu. Namun sayang, waktu tidak bisa diulang lagi, semua yang ia lakukan pada Heera dan Ferdians begitu besar efeknya hingga sampai sekarang keduanya membenci dirinya.
Menangis dengan memegang tangan Heera, Eric dikejutkan dengan tubuh Heera yang tiba-tiba saja kejang.
"Heera!"
"Heera kamu kenapa? Jangan buat Mas khawatir Heera!" ujar Eric dengan panik.
Dengan sigap Eric memencet tombol darurat yang berada di dekat brankar Heera hingga tak lama dokter dam suster datang.
"Anda keluar dulu, Pak! Kami akan segera memeriksa ibu Heera," ujar dokter yang langsung di tentang oleh Eric.
"Saya mau menemani Heera, Dok! Biarkan saya di sini! Saya harus memastikan keadaan Heera baik-baik saja, Dok!" ujar Eric dengan tegas sekaligus sangat khawatir dengan keadaan Heera yang tiba-tiba saja kejang entah kenapa.
"Saya mohon anda keluar, Pak. Semua ini untuk memudahkan saya dan tim untuk menangani pasien!" ujar dokter dengan tegas.
Mau tak mau akhirnya Eric keluar dari ruangan Heera. Gista yang melihat kedatangan dokter dan suster ikut panik takut terjadi sesuatu dengan Heera.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Gista dengan cemas.
"Tidak tahu, Gista! Tubuh Heera tiba-tiba saja kejang," ujar Eric dengan lirih.
"KENAPA KALIAN ADA DI SINI?" tanya Ferdians dengan penuh amarah.
Eric menatap anaknya dengan penuh penyesalan. "Ayah ingin bertemu dengan ibumu, Ferdians. Ayah begitu merindukannya dan Ayah sangat menyesal dengan semuanya," ujar Eric dengan sendu.
Ferdians dengan kemarahan yang sangat luar biasa menatap ke arah kaca, ia harus memastikan ibunya baik-baik saja karena perasaannya sejak tadi tidak tenang. Hingga pemandangan di dalam sana membuat darahnya benar-benar mendidih.
"APA YANG ANDA LAKUKAN TERHADAP IBU SAYA? BAJINGAN! SUDAH SAYA KATAKAN ANDA JANGAN PERNAH MENEMUI IBU SAYA LAGI KARENA ITU HANYA MEMBUAT IBU SAYA MENDERITA DAN BENAR SAJA KEHADIRAN ANDA KE SINI MEMBUAT KEADAAN IBU SAYA PASTI DROP KEMBALI," teriak Ferdians penuh amarah.
Ferdians menarik kerah baju Eric dengan kuat hingga Rania dan Gista berteriak karena Ferdians langsung menghajar Eric hingga lelaki itu tejatuh dan terbatuk mengeluarkan darah segar.
"Jangan pernah temui saya dan ibu saya lagi jika tidak mau nyawa anda lenyap di tangan saya! Pergi sekarang dari sini! Kehadiran anda hanya membawa sial dalam hidup saya dan ibu saya!" ujar Ferdians dengan kemarahan yang sangat mendalam bahkan Rania saja belum bisa menenangkan suaminya yang dikuasai kemarahan begitu besar.
"Mas ayo kita pergi dari sini! Aku tidak mau kemarahan Ferdians membuat keadaan kamu bertambah parah," ujar Gista dengan memohon.
"PERGI!"
"BAWA SUAMIMU ITU PERGI JAUH DARI HIDUP KAMI!"
Eric ingin mendekat ke arah Ferdians tetapi tubuhnya di tahan oleh Gista yang sudah menangis.
"Uhuk...uhuk... Maafkan Ayah, Nak!" gumam Eric dengan lirih dan terus terbatuk-batuk.
Ferdians sama sekali tidak bergeming kemarahannya yang tadinya sudah reda kembali mencuat ke permukaan bahkan lebih parah dari sebelumnya. Ferdians tidak akan seperti ini jika Eric tidak menganggu kehidupannya. Lelaki itu hanya membawa penderitaan untuk keluarnya dan Ferdians tidak mau bertemu dengan Eric lagi.