
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Faiz membawa Olivia masuk ke dalam mobilnya, tanpa kata Faiz membawa Olivia entah kemana bahkan Olivia tak bertanya kemana ia akan di bawa oleh Faiz, ia hanya duduk diam menunggu mobil Faiz berhenti. Sesekali Olivia melihat ke arah Faiz yang sedang fokus menyetir.
"Tuan, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Olivia dengan penasaran.
"Tidak usah banyak bicara. Kamu cukup diam dan kamu akan tahu kita akan pergi kemana," jawab Faiz yang membuat Olivia terdiam.
Olivia menatap ke arah luar. Ia menikmati angin malam yang berhembus di wajahnya, kemarahan yang tadinya bergejolak di hatinya kini telah hilang sudah. Dan Olivia menjadi merasa bersalah kepada kedua orang tuanya, seharusnya ia tidak semarah itu dengan ayah dan bundanya.
Faiz melihat ke arah Olivia yang terlihat menikmati angin malam hingga Faiz menghentikan mobilnya di sebuah cafe yang terlihat sangat indah ketika malam hari dengan lampu-lampu malam yang menghiasi cafe.
"Turun!" perintah Faiz yang membuat Olivia terkejut tetapi ia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil Faiz.
Olivia memperhatikan Faiz yang berjalan dengan membawa laptop. Tak banyak bicara Olivia mengikuti langkah Faiz untuk masuk ke dalam cafe.
Faiz duduk di kursi di rooftop, ia melihat ke arah Olivia yang masih berdiri di depannya. "Duduk!" ucap Faiz dengan tegas.
Olivia menganggukkan kepalanya, ia duduk di hadapan Faiz. Olivia masih saja diam, ia memperhatikan Faiz yang sedang memanggil waitress untuk mendekat ke qrah mereka.
"Mau pesan apa, Tuan?" tanya waitress tersebut dengan ramah.
"Kopi satu, lemon tea satu. stik daging dua," jawab Faiz tanpa meminta persetujuan Olivia.
"Baik, Tuan. Di tunggu ya!" jawab waitress tersenyum dengan ramah yang hanya di angguki oleh Faiz.
Olivia tersenyum saat Faiz sangat mengerti makanan kesukaannya entah karena mungkin mereka sering pergi bersama saat meeting makanya Faiz sampai hapal makanan yang sering ia pesan atau mungkin karena Faiz peduli kepada dirinya?.
"Ini! Malam ini kamu bisa mengerjakan semua pekerjaan di laptop saya. Saya tidak mau pekerjaan kamu terhambat karena kamu lebih memilih keluar dari rumah malam-malam seperti ini," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia merasa malu dengan ucapan Faiz. "Maaf, Tuan. Saya hanya sedang kesal saja, saya janji malam ini juga semua pekerjaan saya akan selesai," ujar Olivia dengan tegas.
Olivia mulai fokus pada laptop milik Faiz sedangkan Faiz hanya memperhatikan Olivia. "Wajahnya begitu sangat cantik saat sedang fokus bekerja seperti ini. Ahh.. Faiz apa yang kamu pikirkan? Olivia adalah anak dari Rio, kamu tidak boleh seperti ini," umpat Faiz di dalam hati.
Hingga makanan mereka datang barulah Faiz menyuruh Olivia untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Bawa saja laptop saya ke rumah kamu paginya baru kamu kembalikan," ujar Faiz dengan tegas.
"S-serius, Tuan?" tanya Olivia tak percaya.
"Emang wajah saya terlihat tidak serius? Kamu mau kita sampai larut malam di cafe ini? Atau kamu mau berlama-lama bersama saya?" tanya Faiz dengan sarkas yang membuat Olivia menelan ludahnya dengan kasar dan tersenyum canggung ke arah Faiz.
"Hehe... Iya, Tuan. Maksud saya, saya hanya tidak enak memakai laptop, Tuan. Siapa yang tidak mau berlama-lama dengan pria tampan seperti, Tuan?!" ucap Olivia dengan wajah yang memerah.
"Kamu mau menggoda saya, Olivia?" tanya Faiz dengan datar.
Olivia menggerakkan tangannya dengan cepat. "Bukan begitu, Tuan! Aduh saya salah bicara," ucap Olivia dengan sangat malu.
"Fokus saja pada makanan dan pekerjaan kamu. 30 menit lagi saya akan mengantarkan kamu pulang," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia tersenyum sangat manis yang membuat Faiz terpanah. "Baik, Tuan. Maaf sudah merepotkan, Tuan!" ujar Olivia dengan tegas.
****
Anjani dan Rio terlihat sangat lega ketika melihat mobil Olivia memasuki perkarangan rumah mereka tetapi perasaan lega itu kembali tergantikan dengan perasaan khawatir kala yang keluar dari mobil Olivia bukanlah Olivia melainkan Cakra, anak dari Liam yang keluar dari mobil.
"Dimana Olivia? Apa terjadi sesuatu dengan Olivia?" tanya Anjani dengan panik bahkan matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Saya tidak tahu, Bu. Saya di tugaskan tuan Faiz untuk mengantarkan mobil Olivia pulang ke rumah ini," jawab Cakra dengan tegas.
"Yang benar saja kamu, Cakra? Dimana anak saya? Kalian jangan macam-macam!" ucap Rio dengan dingin.
"Macam-macam untuk apa, Pak? Saya hanya menjalankan tugas yang diperintahkan tuan Faiz. Selebihnya saya tidak tahu apa-apa," ucap Cakra dengan tenang.
Sedangkan Cassandra yang mendengar keributan dari luar mencoba melihat dari jendela kamarnya. Ia melihat jika ayah dan bundanya sedang berdebat dengan seseorang lelaki yang Cassandra ketahui adalah anak buah dari Faiz maupun Frisa, lebih tepatnya bodyguard Frisa.
"Kemana kak Olivia? Apa dia masih marah dengan aku? Tapi kan aku sudah mengembalikan laptop miliknya karena ayah sudah berjanji membelikan laptop yang lebih mahal daripada punya kak Olivia," ujar Cassandra dengan pelan.
"Kenapa aku harus memikirkan kak Olivia mungkin dia sedang bersenang-senang dengan tuan Faiz. Itu sangat bagus untuk rencanaku selanjutnya bukan?" monolog Cassandra dengan tersenyum senang.
"Mereka harus semakin dekat dan setelah itu mereka akan menikah dengan begitu sku lebih mudah menghancurkan keluarga Danuarta," ujar Cassandra dengan tersenyum.
Cassandra masih melihat perdebatan antara ayah dan ibunya dengan Cakra. Tak lama datang mobil mewah milik Faiz, Cassandra yakin kakaknya ada di dalam sana dan setelah melihat Olivia keluar dari mobil mewah milik Faiz ia tersenyum senang, kakaknya dan Faiz semakin dekat dan itu rencananya untuk menghancurkan keluarga Danuarta juga semakin dekat.
Cassandra menutup gorden jendala kamarnya, ia lebih memilih tidur daripada mendengar perdebatan yang tak penting menurutnya.
Anjani langsung memeluk anaknya dengan erat. Matanya berkaca-kaca melihat Olivia. "Kamu dari mana saja, Nak?" tanya Anjani dengan lirih.
"Mencari udara segar, Bun!" balas Olivia merasa bersalah dengan bunda dan ayahnya.
"Ayah, Bunda, maafkan Olivia. Seharusnya Olivia tidak marah tadi," ucap Olivia dengan penuh sesal.
"Seharusnya Ayah dan Bunda yang minta maaf, Sayang. Laptop kamu sudah dikembalikan dengan adik kamu, kamu jangan marah lagi ya!" ujar Anjani dengan lirih.
Olivia tersenyum dengan senang. "Benar di kembalikan?" tanya Olivia dengan berbinar.
"Iya, Sayang. Laptopnya sudah ada di kamar kamu lagi," jawab Rio dengan tegas.
"Tuan Faiz terima kadih telah meminjamkan laptop anda kepada saya. Saya kembalikan lagi kepada anda karena laptop saya sudah kembali," ujar Olivia dengan begitu senang.
"Bawa saja dulu! Kamu perlu memindahkan beberapa file di laptop ini," ucap Faiz dengan tegas.
"Benar juga. Kalau begitu sekali lagi terima kasih, Tuan. Saya langsung masuk saja," ucap Olivia dengan tersenyum senang dan berlari masuk ke kamarnya.
Faiz menatap kepergian Olivia dengan dalam setelah itu ia menatap Rio dengan Anjani bergantian. "Jangan sampai apa yang kalian lakukan membuat anak kalian sendiri terluka demi menjaga hati seorang anak angkat," ujar Faiz dengan tajam lalu pergi begitu saja memasuki mobilnya bahkan mendengar ucapan Faiz membuat Rio dan Anjani mematung.