
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...
...Happy reading...
****
Ben mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang ia berada di kursi tunggu di depan ruangan sang istri, berulang kali Ben menghela napasnya dengan kasar.
"Kenapa jadi seperti ini?" monolog Ben dengan sendu.
Ben sudah menyuruh suster untuk membawakan makanan lagi untuk istrinya dan sekarang suster sudah ada di dalam sedangkan dirinya berada di luar dengan perasaan yang begitu sangat menyesal.
Ferdians yang baru saja menemui dokter melihat papa mertuanya duduk di kursi tunggu. Dengan bimbang Ferdians ingin menemui papa mertuanya, kakinya ingin melangkah mendekat ke arah Ben dan ingin menanyakan kenapa Ben ada di sini.
Dengan menimbang lumayan lama akhirnya Ferdians melangkah mendekati Ben yang terlihat frustasi.
"Pa!" panggil Ferdians dengan pelan.
Ben yang sedang memejamkan mata karena kepalanya terasa pusing akhirnya membuka matanya mendengar suara Ferdians. Ben menatap Ferdians dengan datar, tetapi setelah itu Ben membuang mukanya enggan menatap Ferdians.
Ferdians terkekeh di dalam hati, melihat wajah mertuanya yang begitu lucu membuka Ferdians tidak takut dengan Ben melainkan ia merasa kasihan karena mungkin sesuatu telah terjadi dengan mertuanya hingga Ferdians memberanikan diri duduk di samping Ben.
"Kenapa Papa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Ferdians dengan ramah.
Pikiran Ben berkecamuk, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mama Ana atau kakek yang sakit, Pa?" Ferdians berusaha mengajak mertuanya berbicara walaupun saat ini Ben sama sekali belum mau berbicara dengan dirinya.
"Kamu jangan buat saya pusing, Ferdians!" ujar Ben dengan ketus.
Ferdians tersenyum tipis. "Mungkin dengan Papa cerita ke saya rasa pusing yang Papa rasakan saat ini berkurang," ujar Ferdians dengan tegas.
Ben menghela napasnya dengan perlahan. Apakah bercerita dengan Ferdians bisa membuat perasaannya nembaik? Saat ini Ben sedang sangat gelisah karena Ana sama sekali tidak ingin bertemu dengan dirinya.
"Ana dirawat di sini dan dia tidak mau bertemu dengan saya sama sekali," cerita Ben dengan sendu.
"Ana marah kepada saya karena saya tidak bisa mengontrol ucapan saya hingga menyakiti perasaannya yang sedang sensitif. Saya menyesal dan saya sangat merasa bersalah dengan dia, bahkan saya sudah meminta maaf tetapi Ana sama sekali tidak mau memaafkan saya bahkan Ana mengusir saya," ujar Ben dengan lirih.
"Emang perkataan apa yang membuat mama Ana marah dan mengusir Papa?" tanya Ferdians dengan penasaran.
"Saya mengatakan jika Ana sama sekali tidak mengetahui apapun tentang masalalu saya dengan Rania bahkan saya mengatakan dia hanya menumpang di rumah saya. Saya tidak sadar sudah mengatakan itu! Saya takut Ana tidak mau pulang ke rumah lagi karena menganggap itu rumah saya bukan rumahnya juga karena perkataan saya. Saya harus bagaimana sekarang?" ujar Ben dengan frustasi.
Ferdians sangat syok mendengar penjelasan Ben. Benar saja Ana marah karena ucapan Ben benar-benar sangat pedas apalagi Ana saat ini sedang hamil dan pastinya Ana sangat sensitif perasaannya.
"Perkataan Papa jelas menyakiti hati Mama tapi saya yakin mama tidak bisa marah terlalu lama dengan Papa. Teruslah meminta maaf kepada mama, Pa. Saya yakin mama mau memaafkan Papa secepatnya," ujar Ferdians dengan bijak.
"Jika dia tidak mau memaafkan saya bagaimana? Bagaimana kalau Ana tidak mau lagi bertemu dengan saya? Bagaimana Ferdians?" cerca Ben dengan penuh pertanyaan kepada Ferdians.
"Saya harus kembali ke ruangan ibu dulu, Pa. Rania pasti sudah menunggu saya," ujar Ferdians berpamitan.
Ben hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia begitu sangat frustasi sekarang, banyak kemungkinan yang ia pikirkan hingga Ben terlihat gelisah, mau melakukan sesuatu saja rasanya sudah tidak enak. Yang ada di pikirannya hanya Ana, Ana, dan Ana.
***
Sedangkan Ana, ia sangat terlihat malas untuk makan tetapi suster yang ada di sampingnya ini terlihat sangat cerewet memaksanya untuk makan. Pasti ini karena perintah dari suaminya, yang membuat Ana terlihat kesal sekali. Jika tidak mengingat ia sedang hamil mungkin Ana sudah melempar piring yang ada di hadapannya.
Akhirnya Ana makan sesuap yang membuat suster tersebut tersenyum karena ia berhasil menjalankan perintah dari Ben agar membuat Ana mau makan.
"Ibu hamil perlu asupan gizi yang cukup, Bu. Makan yang banyak ya Bu karena kami sangat mengutamakan kesehatan Ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan Ibu," ujar suster tersebut dengan ramah.
"Anda pasti di suruh lelaki tua dengan mulut pedas itu untuk memaksa saya untuk makan, kan? Katakan padanya saya tidak mau melihat wajahnya yang seperti buaya. Melihat wajahnya saja saya sangat mual! Jangan sesekali dia masuk ke ruangan saya jika dia masih mau bertemu dengan saya," ujar Ana sangat datar.
Suster menahan tawanya tetapi dia hanya mengangguk saja agar Ana juga tidak kesal kepadanya.
"Saya sudah kenyang! Tiba-tiba wajah pria tua itu terbayang di benak saya yang membuat saya mual! Menyebalkan sekali!" ujar Ana dengan membanting sendok.
"Kalau begitu anda minum vitamin dulu ya, Bu!" ujar suster tersebut dengan tersenyum.
"Oke!" jawab Ana dengan singkat.
Setelah memastikan Ana meminum vitaminnya akhirnya suster berpamitan keluar dan bertemu dengan Ben yang sudah menunggu sejak tadi.
"Bagaimana? Istri saya mau makan, kan?" tanya Ben dengan cemas.
"Mau Pak walaupun hanya beberapa suapan. Dan juga ibu Ana sudah meminum vitaminnya," ujar suster dengan sopan.
"Lalu apa ada yang istri saya katakan?" tanya Ben.
Suster tersebut tanpak ragu yang membuat Ben terlihat kesal.
"Katakan saja jangan buat saya penasaran!" ujar Ben dengan cepat.
"Anu, Pak. Ibu Ana mengatakan dia tidak mau bertemu dengan pria tua dengan mulut pedas yang wajahnya mirip seperti buaya karena perutnya langsung mual," ujar suster tersebut terlihat takut melihat ekspresi Ben.
Sedangkan Ben terlihat diam, ia masih mencerna apa yang dikatakan suster kepada dirinya. pria tua dengan mulut pedas dan wajah seperti buaya? Ana mengatakan itu kepada suster? Dan perkataan itu pasti tertuju untuk dirinya, kan? pikir Ben dengan syok dan frustasi.
Jika Ana sedang tidak marah mungkin Ben sudah membuat istrinya tidak berdaya saat ini. Berani sekali Ana mengatakan dirinya mirip dengan buaya.
"S-saya permisi, Pak!" ujar suster dengan cepat karena tak mau menjadi pelampiasan amukan Ben karena istrinya sendiri yang tak mau bertemu dengan dirinya.
"Anaa!" geram Ben tetapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menunggu istrinya mau bertemu dengan dirinya karena dalam keadaan seperti ini jika Ben terus memaksa maka Ana akan semakin membenci dirinya.