Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 46 (Pengumuman Kehamilan)


...📌Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


***


Rania dan juga Ferdians memasuki perusahaan Danuarta dengan langkah tegasnya, Rania memeluk lengan Ferdians dengan sangat erat. Rania menyetujui keinginan papa dan kakeknya untuk mengumumkan kehamilannya ke publik tetapi dengan pengawasan yang begitu sangat ketat tentunya, di belakang Rania maupun Ferdians sudah ada Sastra, Liam dan juga yang lainnya. Mereka tak ingin terjadi sesuatu dengan kedua bos kecil mereka karena di luar sana banyak orang-orang jahat yang bisa saja mencelakai nona mereka dan akan membahayakan Rania dan juga janin kembarnya.


Anak dari Ben Danuarta, yang kerap di sapa Rania Danuarta hamil anak pertamanya.


Rania Danuarta dan suaminya Ferdians Danuarta sangat bahagia karena sebentar lagi ada penerus Danuarta Grup dan RA Grup yang akan lahir.


Keluarga besar Danuarta sangat menantikan kehamilan Rania Danuarta.


Itulah headline news yang berada di majalah, berita maupun koran. Kabar kehamilan Rania Danuarta sudah tersebar luas dengan sangat cepat sekali.


Rania dengan di dampingi Ferdians duduk di hadapan pers dengan wajah tegas keduanya.


"Mohon bersabar untuk rekan pers," ujar Sastra dengan tegas. Ia begitu menjaga Rania dan Ferdians saat ini agar para wartawan tidak berdesakan dan memberikan pertanyaan yang tidak nyaman kepada Rania dan juga Ferdians.


Setelah di rasa Rania sudah nyaman barulah Sastra memberikan izin kepada awak media untuk memberikan pertanyaan untuk Rania dan juga Ferdians.


"Nona Rania apakah benar kabar yang beredar jika anda sedang hamil anak kembar?" tanya wartawan satu.


"Benar! Saya dan mas Ferdians langsung mengeceknya di rumah sakit dengan dokter yang terbaik dan di rahim saya terdapat dua anak kembar yang masih sangat kecil," jawab Rania dengan tegas.


"Tuan Ferdians apakah anda bahagia dengan kehamilan nona Rania? Bagaimana anda memenuhi keinginan ngidamnya?" tanya wartawan dua.


"Tentu saja saya bahagia. Mana mungkin sebagai seorang suami tidak bahagia mendengar kabar istrinya hamil! Untuk mengidamnya Rania saya harus bisa memenuhinya walaupun terkadang membuat saya dan lainnya kelimpungan," jawab Ferdians dengan tegas.


"Tuan Ben, Tuan Doni. Apakah anda bahagia mendengar kabar jika cucu pertama dan cicit pertama anda sudah hadir? Apa yang akan anda berikan kepada kedua cucu kembar anda?"


Ben menatap papanya dengan pandangan tegasnya. "Kami sangat bahagia dan jika cucu pertama dan cicit pertama dari keluarga Danuarta adalah lelaki maka kekayaan Danuarta akan jatuh ke tangannya sebagai pewaris utama Danuarta Grup!" ujar Ben dengan tegas.


"Jika cucu pertama dari keluarga Danuarta adalah perempuan bagaimana Tuan? Apakah dia akan tetap menjadi pewaris utama?" tanya wartawan dengan penasaran.


Tangan Rania terasa sangat dingin, tetapi dengan sigap Ferdians menenangkan istrinya dengan menggenggam tangan Rania erat. Ferdians sangat tahu jika hati Rania sudah tak karuan mendengar pertanyaan wartawan untuk papa dan kakeknya.


"Seperti yang sudah-sudah maka pewaris Danuarta Grup adalah seorang lelaki. Dan jika anak Rania adalah perempuan maka dia tidak aka menjadi pewaris hanya akan mendapatkan sebagian harta dari keluarga Danuarta. Rania juga sudah tahu itu sejak awal makanya yang sekarang menduduki kursi CEO bukanlah Rania melainkan Ferdians, suaminya Rania, untuk sementara!" ujar Doni dengan tegas dan tak ada sorot rasa bersalah di dalam dirinya karena sejak dulu saat ia kecil juga Danuarta sudah seperti itu.


Acara berlangsung dengan banyak pertanyaan tetapi Rania, Ferdians dan yang lainnya mampu menjawab pertanyaan dari wartawan yang di saksikan berjuta-juta orang yang sedang menonton siaran langsung tersebut di televisi mereka masing-masing.


****


Clara menatap televisi di kamar Roby dengan perasaan jengkel karena siaran televisi kebanyakan menayangkan tentang Rania.


"Lihatlah, Sayang! Sekarang publik sudah tahu jika Rania sedang mengandung bayi kembar. Kita harus segera menyingkirkan Rania dan juga bayinya dengan cepat sebelum kedua anak itu lahir ke dunia," ujar Clara dengan penuh kebencian.


"Jika anak Rania lelaki maka kita akan tersingkirkan oleh kedua anak Rania," ujar Clara menatap Roby.


Clara mematikan televisi Roby dan melemparkan remot ke sembarangan arah ia terlalu emosi sekarang. Ia terlalu takut jika anak yang akan di lahirkan oleh Rania adalah anak lelaki.


"Tidak usah takut, Sayang. Sebentar lagi kita akan menikah dengan begitu aku lebih gampang untuk melakukan rencana kita. Kita buat Rania juga kehilangan suaminya, buat Rania stres dan akhirnya kehilangan kedua anaknya!" ujar Roby dengan menyeringai.


Roby membalas ciuman Clara dengan penuh N*afsu. Tubuh keduanya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun membuat Roby dengan mudah memasukkan miliknya ke milik Clara.


"Ahhh..."


Suara des*han Clara membuat Roby bertambah semangat memasuki Clara, mereka selalu bermain saat bertemu dan menghabiskan waktu untuk berc*nta.


Clara sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran Rania, saat sedang berc*nta Clara membayangkan Rania benar-benar hancur di tangannya dan ia yang akan mengusai harta Danuarta.


"Tunggu saja waktunya, Rania! Kamu akan menangis darah setelah ini. Setelah kehilangan mama kamu, kamu juga akan kehilangan suami dan anak-anak kamu," ujar Clara di dalam hati.


"Ahhhh... Lebih cepat honey!" ujar Clara dengan suara yang mendayu yang membuat Roby mempercepat gerakannya


"Aku mau keluar!" ujar Clara dengan lirih.


"Bersama honey!" ujar Roby dengan tersenyum.


"Argghhh..." Keduanya berteriak bersama dengan Roby yang menjatuhkan dirinya di tubuh Clara.


"Kamu memang pintar memuaskan aku, Honey!" ujar Roby dengan terkekeh.


"Tentu saja, Sayang. Aku harus bisa membuatmu senang bukan?" ujar Clara dengan napas menderu.


"Ahhh...." Clara kembali mengeluarkan suaranya kala Roby mulai menggerakkan miliknya kembali.


Melayani Roby tidak akan ada habis-habisnya tetapi walaupun begitu Clara menyukainya karena Roby adalah calon suaminya.


*****


Rania dan Ferdians sudah berada di rumah kembali. Ferdians melihat kemurungan istrinya menjadi tidak tega, ia memeluk Rania dengan erat.


"Kenapa? Kamu masih memikirkan ucapan papa dan kakek?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Kamu jangan sampai stres, Sayang! Karena itu bisa berakibat fatal untuk kandungan kamu nantinya," ujar Ferdians dengan lembut.


"Bagaimana nantinya kalau kedua anak ini perempuan? Bagaimana Fer..." Rania menutup mulutnya karena merasa mual akibat salah menyebutkan nama Ferdians tanpa panggilan 'mas'.


"Kita yakin saja jika nanti salah satu anak kita ada yang berjenis kelamin laki-laki, Sayang!" ujar Ferdians dengan lembut.


Rania terdiam, ia tidak tahu harus yakin atau tidak. Tetapi perkataan papa dan kakeknya membuat Rania tidak tenang.


Cup...


Ferdians mengecup bibir Rania dengan sekilas. Ia menindih tubuh Rania dengan pelan, mengelus rambut Rania dengan lembut.


"Jangan di pikirkan lagi ya! Kamu mau apa?" tanya Ferdians dengan tersenyum.


Rania mengangguk kepalanya. Ia menatap Ferdians dengan sangat dalam, entah apa yang Rania pikirkan saat ini tetapi wanita itu dengan berani mengalungkan tangannya di leher Ferdians.


"Aku ingin berc*nta!" ujar Rania dengan lirih yang berhasil membuat Ferdians goyah karena tak biasanya Rania meminta seperti ini.


Apakah Ferdians harus melakukannya? Ferdians jadi bimbang padahal lelaki itu juga menginginkannya.