
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Sastra sudah mendapatkan alamat rumah Citra dari hasil kerja kerasnya untuk mencari informasi tentang Citra, ia harus segera menemui mantan istrinya tersebut. Semakin hari hidupnya semakin berat jika tak ada Citra di hidupnya. Sastra emang terlihat baik-baik saja di luar tetapi di dalam ia sangat kacau, pikirannya begitu berat apalagi ketika melihat kedekatan Citra dan Alex. Tidak! Sastra tidak mau Citra semakin dekat dengan Alex, ia harus berusaha memperbaiki semuanya yang telah hancur oleh dirinya sendiri.
Mobil Sastra berhenti di perkarangan rumah Citra. Sastra mematikan mesin mobilnya, ia menatap rumah minimalis milik Citra yang sangat cantik sekali, rumah impian mantan istrinya sejak dulu.
Sastra keluar dari mobilnya. Dengan langkah tegas Sastra mulai melangkahkan kakinya ke rumah Citra, ia menatap sekeliling rumah Citra dengan penuh takjub, banyak bunga bougenville di rumah Citra dan semua sedang berbunga.
Tok...tokkk...
Sastra mengetuk pintu rumah Citra, ia yakin wanita itu sudah berada di rumah makanya Sastra langsung ke rumah Citra setelah ia mendapatkan informasi di mana rumah Citra.
Sastra terlihat tak sabar ingin menemui Citra berulang kali Sastra mengetuk pintu rumah Citra. Hingga akhirnya pintu itu di bukakan oleh Citra.
"Sia...pa...." Citra mematung saat menatap Sastra di hadapannya.
Mengapa Sastra datang ke rumahnya? Citra menatap tajam ke arah Sastra.
"Ngapain anda datang ke rumah saya?" tanya Citra dengan tajam.
Sastra menghela napasnya dengan pelan tanpa kata ia langsung memeluk Citra dengan erat tak membiarkan Citra protes kepada dirinya.
Citra membelalakkan matanya dengan kaget saat Sastra memeluknya dengan sangat erat bahkan lelaki itu tak bersuara apapun. Citra dapat merasakan pelukan Sastra semakin kuat sekali yang membuat Citra merasa sesak.
"L-lepas! S-saya tidak bisa napas!" ujar Citra dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sastra yang sangat tiba-tiba.
"Saya tidak akan melepaskan kamu lagi, Citra! Sudah cukup saya menyesal karena melepaskan kamu akibat kesalahan saya sendiri," ujar Sastra yang akhirnya bersuara.
Sastra memejamkan matanya, ia menghirup wangi tubuh Citra dengan dalam. Sungguh Sastra sangat merindukan wangi tubuh ini dan akhirnya Sastra bisa merasakannya lagi.
"I miss you, Citra!" gumam Sastra yang membuat Citra terdiam.
Sastra merindukannya setelah apa yang lelaki itu lakukan kepadanya selama ini? Kenapa mantan suaminya harus datang lagi di kehidupannya yang sudah ia coba tata kembali. Citra tak mau kembali terpuruk lagi karena perlakuan Sastra yang membuat hidupnya tertekan.
"Please.... Aku mohon jangan suruh aku untuk melepaskan pelukan ini!" ujar Sastra dengan lirih.
"Apa-apaan kamu?" tanya Citra dengan sinis.
"Kamu datang seakan tidak terjadi sesuatu dengan kita? Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan terhadap saya hingga kamu membuat saya kehilangan anak saya," ujar Citra dengan sinis.
Hati Sastra berdenyut dengan sangat sakit, ucapan Citra benar adanya. Semua yang terjadi, semua yang ia lakukan sudah melukai hati Citra selama ini.
"Maaf!" gumam Sastra yang membuat Citra terkekeh sinis.
"Apa dengan kata maaf yang terucap di mulut kamu akan mengembalikan semuanya? Akan membuat anak saya kembali hadir di perut saya? Tidak, kan? Sekarang kamu pergi dari rumah saya! Saya tidak mau kamu datang ke rumah saya lagi! Hubungan kita saat ini hanya sebatas rekan kerja saja dan saya tidak ingin berhubungan dengan anda selain rekan kerja," ujar Citra dengan tajam.
Tubuh Sastra terhuyung saat Citra mendorongnya dengan keras. Sastra tak lagi memaksa, lelaki itu tahu kesalahannya selama ini sangat besar sehingga Citra tak bisa memaafkan dirinya.
Brak...
Citra menutup pintu rumahnya dengan kencang, ia tak ingin bertemu dan berbicara dengan Sastra untuk membahas masa lalu mereka yang sangat menyakitkan. Semua ingatan itu membuat Citra terserang rasa panik yang sangat berlebihan atau sering disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), semuanya yang dilakukan Sastra di masa lalu meninggalkan luka yang sangat dalam di hatinya hingga ia terkena gangguan mental seperti itu.
Tubuh Citra gemetar dengan sangat hebat, bahkan tubuhnya sangat lemas hingga ia terduduk di lantai dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ingatan di masalalu di mata ia kesepian dan keguguran membuat Citra semakin takut dan sangat cemas hingga Citra menangis.
Sastra begitu terkejut saat melihat keadaan Citra yang sangat memprihatinkan. Sastra langsung terduduk di lantai dan memeluk Citra dengan erat.
"Takut!"
"Takut!"
Gumam Citra dengan lirih yang membuat hati Sastra sesak.
"Citra!" panggil Sastra dengan pelan.
Ada apa dengan Citra? Kenapa wanita ini terlihat begitu cemas dan sangat ketakutan. Ya Tuhan... Apakah ini semua karena dirinya?
Citra perlahan menatap Sastra, tatapannya begitu sangat sayu hingga Sastra merasa iba. Dengan perlahan Sastra menghapus air mata Citra dengan perlahan.
"Jangan takut!" ujar Sastra dengan lembut.
Tubuh Citra semakin gemetar, kilasan masa lalunya ketika melihat Sastra semakin membuat Citra panik.
"Pergi kamu! PERGI!" teriak Citra dengan keras.
"Ya Tuhan... Citra kamu kenapa?" tanya Sastra dengan panik saat melihat keadaan Citra yang sekarang.
Dengan sigap Sastra membopong Citra ke atas sofa. Sastra benar-benar tidak tahu apa yang harus Sastra lakukan sekarang, hingga Sastra melihat tas kerja Citra berada di sofa tak jauh dari mereka. Entah apa yang Sastra pikirkan yang jelas ia sedang mencari obat untuk membuat Citra tenang seperti tadi.
Sastra membuka tas Citra dan mencari sesuatu, gejala seperti ini seakan Sastra kenali. Hingga Sastra menemukan sesuatu yang sesuai dengan dugaannya. Citra mengalami gangguan mental kecemasan yang sangat luar biasa dan itu pasti karena dirinya penyebab Citra seperti ini.
Dengan cepat Sastra mengambil obat tersebut dan memberikannya pada Citra. "Di minum, Citra!" ujar Sastra dengan lembut.
Citra mengambil dengan tangan gemetar, ia sangat panik dan cemas dan Citra sangat butuh obatnya. Dengan cepat Citra menelan pil tersebut hingga perlahan Citra mulai kembali normal.
"Sejak kapan?" tanya Sastra dengan pelan.
Citra tak menjawab, ia lebih memilih diam untuk saat ini karena Sastra sudah mengetahui penyakitnya. Kenapa harus Sastra yang menolongnya? Orang yang sudah memberikan luka itu kepada dirinya, rasanya Citra hampir gila jika setiap hari ia harus seperti ini.
"Cit, tolong jujur sejak kapan kamu seperti ini?" tanya Sastra dengan lirih.
"Kamu tidak perlu tahu!" jawab Citra dengan datar.
Sastra menghela napasnya dengan pelan. "Apa sejak kita berpisah kamu jadi seperti ini? Tolong jujur, Cit! Ini semua pasti karena aku, kan?" gumam Sastra dengan lirih.
"Kalau tahu kamu penyebab semua penderitaan saya selama ini kenapa masih bertanya lagi? Kamu sudah melihat kan bagaimana saya jika sudah bertemu dengan kamu? Karena kamu mengingatkan saya pada kejadian yang benar-benar sangat membuat saya trauma," ujar Citra dengan datar.
Mata Citra berkaca-kaca tanpa mau melihat ke arah Sastra yang masih menatapnya dengan sangat sendu.
Sastra memberanikan diri memegang tangan Citra. "Maaf aku sampai meninggalkan luka yang begitu dalam di hidup kamu hingga membuat kamu trauma seperti ini, Cit. Tapi sungguh aku tidak ingin berpisah dari kamu saat itu. Aku pikir dengan kita berpisah bisa memberikan kamu waktu, tetapi aku salah berpisah dari kamu membuat hidupku berantakan," ujar Sastra dengan lirih.
"Bulshit!" gumam Citra dengan lirih.
"Cit..."
Citra menutup telinganya tak mau mendengar penjelasan apapun dari Sastra, wanita itu lebih memilih merebahkan dirinya dengan menutup matanya yang membuat Sastra menghela napasnya dengan perlahan.
"Sampai kapan kamu tidak mau memaafkan aku, Cit?" gumam Sastra di dalam hati.