
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Dukung terus cerita ini!...
...Happy reading...
***
Rania terus menggerutu menunggu kepulangan Ferdians dan Sastra. Awalnya Rania tidak tahu keberadaan Ferdians tetapi setelah bertanya kepada pelayan di rumah Ferdians berada di mana amarah Rania semakin besar kala mendengar jawaban dari pelayanannya yang mengatakan jika Ferdians berada di kantornya bersama dengan Sastra.
Dengan membaca majalah Rania santai duduk di sofa ruang tamu menunggu kepulangan Ferdians dengan perasaan yang sangat dongkol.
Bahkan Rania harus memakai foundation yang sangat banyak demi menutupi bekas yang di tinggalkan Ferdians di lehernya. Rania menghela napasnya dengan kasar, ia sangat kesal sekarang dengan Ferdians. Ingin sekali ia menampar dan memukul Ferdians sekarang. Bagaimana bisa ia bangun kesiangan dan meninggalkan meeting penting, selama hidupnya Rania tidak pernah kesiangan dan meninggalkan meeting.
"Menyebalkan!" umpat Rania dengan meletakkan majalahnya dengan kesal di meja.
Sejak tadi Rania menelepon Ferdians maupun Sastra tetapi panggilannya sama sekali tak ada yang diangkat oleh mereka, sepertinya keduanya sudah bekerja sama untuk tidak mengangkat teleponnya.
"Sastra, kamu sudah berani melawan saya ternyata! Kamu lebih memilih Ferdians?" ujar Rania dengan tatapan tajamnya.
Sungguh saat ini Rania ingin sekali mengamuk pada keduanya lihat saja apa yang akan Rania lakukan pada kedua pria tersebut hingga membuat Rania harus menjadi orang bodoh di rumahnya sendiri menunggu kepulangan dua lelaki yang membuat darahnya mendidih pagi hari ini.
"Menyebalkan sekali! Kenapa jam seperti berjalan sangat lambat hari ini?" gerutu Rania melihat jam tangan miliknya dengan kesal.
"Nona mau makan dengan apa hari ini?" tanya pelayan rumahnya dengan sopan.
"Nanti saja! Saya baru makan tadi," jawab Rania dengan datar.
"Buatkan saya kue kering dan jus mangga saja," ujar Rania.
"Baik, Nona. Saya akan buatkan," ujar pelayan dengan sopan.
"Permisi, Nona!"
"Hmmmm...."
Setelah pelayan pergi Rania kembali menatap pintu utama rumahnya, ia menyeringai saat terdengar suara mobil mendekat di halaman rumahnya, ini sudah pukul jam 4 sore dan mereka sudah pulang. Sepertinya kedua lelaki itu paham akan mendapatkan amukan dari Rania.
"Bagus!" ujar Rania dengan tajam saat Ferdians dan Sastra masuk ke dalam rumahnya.
"Sejak kapan kamu tidak mematuhi peraturan saya Sastra?" tanya Rani dengan tajam yang membuat Sastra dan Ferdians menelan ludahnya dengan kasar.
"Saya sudah menelepon Nona pagi tadi tapi karena Nona masih tertidur jadi saya menyuruh tuan Ferdians untuk menggantikan Nona di dalam meeting penting," ujar Sastra dengan tegas.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk membela diri?" tanya Rania dengan dingin.
"Nona maafkan Sastra, dia sebenarnya tidak salah hanya saja saya tidak tega membangunkan Nona yang masih tertidur dengan nyenyak akibat kelelahan melayani say..."
"DIAM KAMU FERDIANS! SAYA TIDAK SEDANG BERBICARA DENGAN KAMU!" ujar Rania dengan dingin dan suara yang meninggi karena Rania tidak ingin Sastra mendengar ucapan terakhir Ferdians yang tentu saja sangat membuat dirinya malu di hadapan Sastra nantinya.
"Maafkan saya, Nona!" jawab Ferdians dengan pelan.
"Saya juga minta maaf Nona karena saya sudah lancang menyuruh tuan Ferdians untuk menggantikan Nona dalam meeting penting pagi ini. Maka dari itu saya siap di hukum Nona!" ujar Sastra dengan tegas.
Wajah Rania semakin merah padam yang membuat Ferdians dan Sastra semakin menelan ludahnya dengan kasar.
"LIAM!" teriak Rania dengan menggelegar.
"Iya, Nona. Saya di sini!" ujar Liam, lelaki yang juga bekerja dengan Rania.
Liam berlari dengan cepat saat nada suara Rania sudah tidak seperti biasa, sepertinya terjadi sesuatu yang tidak beres dengan nona mereka.
"Ada apa, Nona?" tanya Liam dengan sopan.
"Siapkan dua tong besar dan isi dengan air dan es balok biarkan dua lelaki itu berendam di sana!" ujar Rania dengan diam.
Liam menatap Sastra dan Ferdians dengan pandangan iba. Apalagi Ferdians adalah suami nonanya.
"T-tidak, Nona. Saya akan siapkan sekarang juga. Permisi, Nona!" ujar Liam dengan terbata.
Ferdians hanya bisa pasrah saat istrinya sendiri menghukum dirinya, emang ini kesalahannya tapi haruskah ia di rendam di tong yang berisi air dingin selama berjam-jam? Bisa beku tubuhnya kalau begitu.
"Kalian ikut Liam ke halaman belakang! Lepas baju dan celana kalian selama berendam di tong, sisakan celana pendek saja! Jangan ada yang keluar dari tong jika saya belum menyuruh kalian keluar!" ujar Rania dengan dingin.
"Ngapain kalian malah bengong di sini? CEPAT KE HALAMAN BELAKANG!" teriak Rania yang membuat Ferdians terkejut tetapi tidak dengan Sastra karena sedikit banyaknya ia sudah terbiasa dengan amukan Rania.
"Baik, Nona!" ujar keduanya dengan tegas.
"Lihat saja nanti malam kamu yang akan bertekuk lutut lagi, Rania! Tidak apa-apa aku di hukum yang terpenting nanti malam kamu tidak bisa protes," ujar Ferdians di dalam hati.
Ferdians dan Sastra berlari ke halaman belakang. Ternyata singa betina masih sangat menyeramkan sekali ketika marah.
Ferdians dan Sastra langsung melepas baju dan celana mereka saat Liam ternyata sudah selesai menyiapkan tong berserta air dan balok es di dalamnya.
"Cepat kalian masuk!" ujar Rania yang sudah berada di belakang kedua pria gagah nan tampan tersebut dan salah satunya adalah suaminya sendiri.
Ferdians dan Sastra mengangguk, akhirnya keduanya masuk ke dalam tong tersebut, awalnya keduanya sangat terkejut karena air ini cukup dingin sekali tetapi mereka tetap kuat karena tak mau Rania semakin marah, bahkan air tersebut sampai sebatas leher mereka.
Rania duduk dengan santai mengawasi mereka dengan memakan kue kering dan jus mangga yang ia inginkan sebelumnya.
"Dingin sekali!" bisik Ferdians yang mulai menggigil.
"Diamlah!" ujar Sastra dengan datar.
"Kita bisa beku lama-lama di dalam tong ini. Cuaca juga semakin mendung sepertinya hujan mau turun," keluh Ferdians dengan pelan.
"Sepertinya asyik sekali mengobrol berdua? Mau hukumannya saya tambah?" tanya Rania dengan datar.
"Tidak, Nona!" ujar keduanya dengan kompak.
****
Ini sudah pukul 9 malam itu artinya kurang lebih 5 jam Ferdians dan Sastra berendam di air es. Bahkan kedua wajah mereka sudah pucat dengan bibir yang menggigil hebat, apalagi hujan turun begitu lebat yang membuat rasa dingin itu bertambah dua kali lipat.
Rania baru saja turun dari kamarnya dengan tubuh yang sudah segar karena wanita itu baru selesai mandi, tetapi cara jalannya terlihat masih sangat aneh namun tak ada yang berani menertawakan Rania jika tidak mau nasib mereka seperti Ferdians dan juga Sastra.
Rania melihat keduanya dengan wajah datar. "Masih mau membuat kesalahan lagi?" tanya Rania dengan tajam.
"T-tidak N-nona!" jawab keduanya dengan menggigil hebat.
Rania menyeringai. "Oke...Kalian boleh keluar dari tong itu!" ujar Rania dengan datar yang membuat keduanya sangat lega.
"Liam bantu mereka!" ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!"
Liam dan bodyguard Rania yang lainnya membantu Ferdians dan juga Sastra keluar dari tong karena mereka sudah menggigil hebat bahkan mereka sangat susah untuk keluar dari tong, tubuh keduanya seakan membeku apalagi jika berbicara mulut mereka seakan mengeluarkan asap karena sangking dinginnya.
"Liam bawa Sastra ke kamar tamu! Biar Ferdians saya yang bawa!" ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona."
Setelah mengeringkan tubuh Ferdians yang di bantu oleh Liam. Rania membawa Ferdians ke kamarnya dengan wajah yang teramat datar. Sedangkan Ferdians menatap Rania dengan terkekeh walaupun wajahnya sangat pucat.
"Istriku jika sedang marah sangat menyeramkan. Aku tidak tega membangunkan kamu, Sayang. Meeting tadi juga berjalan dengan lancar dan semua investor ingin bekerja sama dengan perusahaanmu!"
"Diamlah!"
"Rania, maafkan aku. Ini dingin sekali, aku rasa seperti mau mati karena tubuhku mengigil hebat. Aku butuh kehangatan. Bisakah kamu memberikannya?"