Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 106 (Kontraksi)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Rania masih melakukan pangggilan video dengan suaminya walaupun kantuk sudah mulai menyerang dirinya tetapi tak membuat Rania memejamkan mata. Selain rindu dengan suaminya, Rania sudah merasakan kontraksi pada perutnya walaupun rasa sakitnya belum seberapa.


"Sayang ini sudah malam tidur ya!" bujuk Ferdians dengan lembut.


Ferdians sangat senang malam ini bisa melakukan panggilan video dengan istrinya karena Eric sedang di rumahnya dan ia bersama ibunya dengan leluasa menelepon istrinya.


"Belum ngantuk!" jawab Rania memandang Ferdians dengan dalam.


"Kasihan twins, Sayang. Tidur ya!" bujuk Ferdians dengan lembut tetapi Rania tetap menggelengkan kepalanya yang membuat Ferdians menghela napasnya, ia tahu bagaimana Rania jika sudah keras kepala seperti ini.


"Awww..." teriak Rania saat kontraksi itu datang dengan kuat yang membuat Ferdians dan Heera langsung terkejut dan melihat cemas ke arah Rania dari balik ponsel yang baru saja ia terima dari Sastra.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Heera dengan cemas.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ferdians dengan cemas.


"P-perutku, Mas, Bu. S-sakit!" jawab Rania dengan meringis kesakitan.


"Kamu mau melahirkan, Nak! Ya Tuhan... Panggil papa dan mama kamu sekarang ya," ujar Heera dengan cemas.


"Aku mau melahirkan kalau Mas Ferdians yang menemani aku, Bu. Hiks...hiks..." ujar Rania dengan menangis yang membuat Ferdians dan Heera semakin cemas.


"Fer, ayo jemput istri kamu sekarang! Rania butuh kamu!" ujar Heera dengan gelisah.


"Iya, Bu!" ujar Ferdians dengan cepat.


Ferdians melepaskan infus yang ada di tangannya, ia langsung mengajak ibunya pergi. Ferdians ingat jika Sastra masih berada di rumah sakit ini, ia harus meminjam mobil Sastra agar bisa lebih cepat sampai ke rumah mertuanya.


Ferdians mengajak ibunya ke ruangan Citra sebelum mereka benar-benar menyusul Rania.


"Sastra saya pinjam mobil kamu. Rania mau melahirkan saya harus menjemputnya dan membawa Rania ke rumah sakit," ujar Ferdians dengan tiba-tiba yang membuat Sastra dan Citra terkejut.


Citra langsung memeluk Sastra dengan takut, ia belum bisa berinteraksi dengan orang lain.


"Ini, Tuan!" ujar Sastra memberikan kunci mobil ke arah Ferdians dengan membalas pelukan Citra karena ia tahu Citra masih sangat takut dengan orang lain.


"Terima kasih saya pinjam dulu," ujar Ferdians dengan cepat.


Ferdians langsung mengajak ibunya pergi untuk menjemput Rania. Kedua hati mereka sangat cemas takut terjadi sesuatu dengan Rania dan kedua anak di dalam kandungan Rania.


"Ya Tuhan... Tolong selamatkan istri dan anak-anakku!" gumam Ferdians di dalam hati.


"Hati-hati, Nak. Kamu baru saja sembuh," ujar Heera yang di angguki oleh Ferdians.


Ferdians tidak takut, ia hanya takut Rania dan kedua anaknya kenapa-napa.


***


Sedangkan Rania memegang perutnya dengan keringat yang mulai bermunculan di dahinya.


Rania mendengar ribut-ribut dari luar, ia hapal dengan suara itu. Ya, itu suara papa dan mamanya yang berdebat karena membahas ia dan Ferdians.


"Pokoknya aku tidak mau memberikan jatah ke Mas kalau Mas masih keras kepala seperti ini!" ujar Ana yang masih di dengar oleh Rania.


"Ini semua demi kebaikan Rania, Ana. Tolong mengertilah! Mama Rania di bunuh oleh Eric, ayah dari Ferdians. Mas tidak bisa membiarkan mereka terus bersama," ujar Ben dengan tegas.


"Ya-ya terserah. Malam ini aku mau tidur sama Rania saja," ujar Ana dengan kesal.


Rania mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia melihat mamanya datang dengan wajah tak bersahabat mungkin karena perdebatan mamanya dengan sang papa.


"Rania, Mama mau tidur di si... Loh kamu kenapa, Sayang?" tanya Ana dengan panik saat melihat Rania meringis kesakitan dengan keringat membanjiri dahinya.


"MAS BEN SINI! RANIA KESAKITAN!" teriak Ana yang membuat Ben langsung masuk ka kamar anaknya.


"Rania kenapa?" tanya Ben dengan panik.


"Sepertinya Rania mau melahirkan, Mas!" ujar Ana dengan cemas.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Ben dengan tegas.


"Tidak mau!" ujar Rania dengan cepat.


"Aku tidak mau melahirkan kalau mas Ferdians tidak menemaniku!" ujar Rania dengan tegas.


Rania tetap pada pendiriannya. Ia harus melahirkan di temani oleh suaminya. Ia tidak mau melahirkan tanpa Ferdians yang menemaninya karena keegoisan papa dan ayah mertuanya.


"Kamu bisa melahirkan tanpa Ferdians, Rania. Ada Papa dan mama yang akan menemani kamu," ujar Ben dengan menahan amarahnya.


Doni datang ke kamar Rania setelah mendengar ribut-ribut dari dalam kamar cucunya.


"Ada apa ini?" tanya Doni dengan menatap wajah anak, menantu, dan cucunya secara bergantian.


"Rania mau melahirkan, Pa! Kita harus bawa dia ke rumah sakit!" jawab Ben dengan panik.


"Tunggu apa lagi? Ayo pergi sekarang!" ujar Doni dengan tegas.


"Tidak mau! Saya mau melahirkan jika mas Ferdians yang menemani saya!" ujar Rania dengan tegas.


"Rania ingat kedua anak kamu! Jika kamu tidak melahirkan dengan cepat kamu dan kedua anak kamu dalam bahaya, Sayang!" ujar Ben berusaha membujuk Rania walaupun Ben memendam kekesalannya kepada Ferdians saat ini.


"Biarkan saja saya dan kedua anak saya mati menyusul mama!" ujar Rania dengan datar.


"Rania kamu jangan keras kepala! Papa sayang sama kamu!" ujar Ben dengan tegas.


"Sayang? Jika Papa sayang kepada saya tidak mungkin Papa memisahkan saya dengan mas Ferdians! Lebih baik saya mati daripada mempunyai Papa yang egois seperti Papa!" ujar Rania dengan tajam


"Arghhh..." Rania memegang perutnya yang sangat terasa sakit.


"Jangan ada yang mendekat! Kalian semua mau melihat saya mati, kan?" ujar Rania dengan sinis.


Rania menepis tangan papanya saat hendak memegangnya. Ia tidak peduli rasa sakit yang terus datang bertubi-tubi di perutnya, yang ia inginkan hanya Ferdians menemaninya saat ini.


"RANIA JANGAN KERAS KEPALA!" ujar Ben dengan berteriak, kesabarannya sudah habis saat ini.


Tetapi bukannya menurut perintah Ben. Rania malah menatap tajam ke arah papanya. "Apa peduli Papa jika Rania mati? Tidak ada! Papa hanya mementingkan diri Papa sendiri! Lebih baik Rania bertemu dengan Mama!" ujar Rania dengan sinis.


Hal tersebut membuat Ben khawatir karena anaknya benar-benar tidak mau di bawa ke rumah sakit. Ben menyayangi Rania dan tak ingin kehilangan Rania, melihat Rania kesakitan di depan matanya membuat Ben tidak tega. Tetapi ia belum bisa menerima Ferdians jika Ferdians adalah anak dari seorang yang telah membunuh istrinya.


Jangan tanyakan lagi bagaimana khawatirnya Ana. Ia tahu Rania akan tetap pada pendiriannya, sekeras apapun Ana membujuk Rania pasti Rania tetap tidak mau diajak ke rumah sakit.


Keributan terdengar di bawah, Rania tahu pasti suaminya datang. Rania sedikit lega karena akhirnya Ferdians datang menemuinya walaupun harus berhadapan penjaga di bawah.


"Tuan Ferdians anda tidak boleh masuk ke dalam!" ujar Liam yang membuat Ferdians tidak peduli sama sekali.


Ferdians terus menaiki tangga untuk menuju kamar istrinya di mana berada.


"Sayang!" panggil Ferdians dengan cepat.


"Siapa yang mengizinkan kamu untuk datang ke rumah ini?" tanya Ben dengan tajam.


"Rania kesakitan, Pa! Sebagai suami saya tidak mungkin membiarkan istri saya melahirkan tanpa saya," ujar Ferdians dengan tegas.


"Mas sakit!" ujar Rania yang membuat Ferdians ingin mendekati Rania tetapi tubuhnya di tahan oleh Ben dan Doni begitu saja.


"Pa, Kek! Kali ini saya mohon kalian jangan egois! Rania butuh saya! Mama Ana juga sedang hamil. Apa Papa tega melihat mama Ana melahirkan sendiri tanpa sosok suami? Begitu pun dengan Rania! Dia sangat membutuhkan saya sebagai penguat dan menghilangkan ketakutannya saat akan melahirkan kedua anak kami," ujar Ferdians dengan tegas.


"Arghhh.... "


"Rania!" semua orang di dalam kamar Rania dengan refleks memanggil nama Rania.


Ferdians menghampiri Rania. "Kita ke rumah sakit ya!" ujar Ferdians yang di angguki oleh Rania dengan meringis kesakitan.


Kali ini Ben dan Doni tidak bisa berkutik. Mereka membiarkan Ferdians menemani Rania melahirkan tetapi setelah Rania melahirkan, keduanya harus tetap berpisah.


Akhirnya Ferdians membawa Rania ke rumah sakit di bantu oleh Ana karena Rania sama sekali tidak mau di pegang oleh papanya. Sepanjang perjalanan Rania terus meringis kesakitan. Heera membantu mengurangi rasa sakit pada menantunya dengan mengelus punggung Rania.


"Sakit, Bu!" ujar Rania dengan menangis.


"Sabar ya, Nak. Kita akan ke rumah sakit," ujar Heera dengan cemas.


Rania mengangguk, ia memejamkan mata guna menahan rasa sakitnya sesekali ia menghembuskan napasnya keluar. Ferdians terlihat panik, tetapi ia tetap harus fokus ke jalanan.


"Sebentar lagi kita sampai, Sayang!" ujar Ferdians dengan fokus ke arah jalan.


Di belakang mobil Sastra sudah ada Ben dan Doni yang mengikuti mereka. Ferdians tak peduli yang terpenting istri dan kedua anaknya baik-baik saja.