Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 52 (Rasa Yang Tertinggal)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Suasana sunyi membuat Sastra dan Citra merasa canggung karena keduanya sudah lama tidak bertemu, awalnya Sastra yang biasa saja saat berduaan dengan Citra kini tidak tahu harus memulai seperti apa pembicaraan mereka.


Apalagi Citra yang hanya bisa diam dengan menggenggam ponsel miliknya, ia tak tahu harus berkata apa dengan Sastra karena kedatangannya ke sini adalah keinginan dirinya bukan karena Alex.


Sastra yang tidak tahan dengan kondisi yang seperti ini menghela napasnya dengan berat. "Bagaimana kehidupan kamu setelah kita berpisah?" tanya Sastra dengan pelan.


Citra melihat ke arah Sastra. "Baik walaupun awalnya saya hancur," ujar Citra dengan datar.


"Maaf! Saya tahu saya salah karena terus menerus mengabaikan kamu saat itu padahal kehamilan itu sudah sangat kita tunggu," ujar Sastra dengan sendu.


"Itu sudah berlalu jangan bahas hal menyakitkan itu lagi. Bagaimana keadaan kamu? Kenapa ada orang yang mau meracuni nona Rania?" tanya Citra mengalihkan pembicaraan.


"Saya sudah membaik karena racun itu tidak terlalu membahayakan untuk tubuh saya sebenarnya racun itu sudah di campur obat panggugur kandungan agar nona Rania kehilangan kedua janinnya," jawab Sastra.


Citra terkekeh. "Anda sangat sigap menjaga nona Rania bahkan tidak ingin dia keguguran tetapi dengan istri anda sendiri anda yang membuat dia kehilangan janinnya padahal dia sudah memohon agar anda segera pulang waktu itu. Tapi ya sudah lah karena dengan kejadian itu saya mengerti saya memang tidak dibutuhkan di hidup anda," ujar Citra dengan terkekeh sinis dengan sakit hati yang sangat terasa di hatinya.


"Cit..." tenggorokan Sastra tercekat saat Citra berkata yang menyakitkan untuk hatinya juga.


Drrtt..drttt...


Citra melihat ke ponselnya dan ternyata Alex yang menelepon dirinya.


[Halo, Pak] sapa Citra mengabaikan Sastra yang menatap dirinya dengan sendu.


[Kamu di mana? Jangan sampai saya marah ya Citra! Katanya kamu sakit tapi kenapa rumah kamu kosong?] tanya Alex dengan datar.


[Saya masih berada di rumah sakit, Pak. Sebentar lagi saya pulang jika anda berada di rumah saya. Atau saya langsung ke kantor]


[Ke kantor saja karena saya sudah pergi dari rumah kamu. Bagaimana keadaan kamu?] tanya Alex dengan khawatir.


[Baik, Pak] jawab Citra yang tak menjawab pertanyaan Alex yang bertanya tentang keadaannya karena sejujurnya ia baik-baik saja kedatangannya ke rumah sakit hanya untuk melihat keadaan Sastra.


Setelah teleponnya di matikan Citra menatap Sastra dengan datar. "Sepertinya saya harus kembali ke kantor. Permisi" ujar Citra dengan tegas.


Citra berdiri dari duduknya tetapi dengan sigap Sastra menahan tangannya. " Maafkan saya! Saya ingin manebus semua kesalahan saya," ujar Sastra dengan sendu.


"Saya sudah maafkan sejak lama tetapi semua itu masih terekam jelas di ingatan saya, rasa kecewa itu masih sangat besar di hati saya," ujar Citra dengan tegas.


"Citra, saya ingin kita kembali seperti dulu!" ujar Sastra yang membuat Citra terkekeh sinis.


"Saya tidak mau! Saya tidak ingin mengulangi sesuatu yang sama," ujar Citra dengan sinis.


Sesak rasanya saat mengingat masa lalu mereka. "Saya permisi!" ujar Citra dengan melepaskan tangannya yang di cekal Sastra, setelah terlepas Citra berjalan dengan tegas keluar dari ruangan Sastra.


Sastra menghela napasnya dengan perlahan, rasa bersalahnya kepada Citra semakin menggunung karena Sastra kembali mengingatkan dirinya akan kesalahan dirinya yang begitu sangat besar kepada mantan istrinya tersebut.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Cit? Aku sungguh menyesal! Saat ini aku merasa kita seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain padahal dulu kita pernah sedekat itu," gumam Sastra dengan sendu.


"Aku tahu kamu sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan dulu. Aku tahu kamu terluka saat kamu melihat aku meminum racun demi melindungi nona Rania," gumam Sastra dengan begitu sesak.


"Seorang Sastra menjadi galau sejak bertemu dengan mantan istrinya," ujar Rania yang masuk ke ruangan Sastra bersama dengan Liam karena Ferdians sudah berangkat ke kantor setelah mengantarkannya ke rumah sakit ini.


Sastra tersentak saat mendengar suara Rania yang mengejek dirinya. Sastra tersenyum tipis saat melihat nona-nya mendekati dirinya.


"Apa Nona bertemu dengan Citra di luar?" tanya Sastra mengalihkan pembicaraan.


"Menangis? Dia baik-baik saja saat berkunjung ke sini," ujar Sastra yang membuat Rania terkekeh.


"Kamu pikir dia sekuat itu?" tanya Rania yang membuat Sastra terdiam.


"Lagi dan lagi aku membuat kamu menangis, Cit! Maafkan aku!" gumam Sastra di dalam hati.


"Apa saja kandungan racun di dalam minuman itu, Sastra?" tanya Rania yang tahu jika hasil laboratorium tentang minuman yang meracuni Sastra hari ini keluar.


"Ada racun dan obat penggugur kandungan yang di campur ke dalat minuman itu, Nona. Dan saya yakin pelayan yang memberikan minuman itu sudah di suruh seseorang untuk mencelakai anda, Nona. Kita harus mendapatkan pelayan itu!" ujar Sastra dengan tegas.


"Pelayan itu sudah menghilang bak di telan setelah malam itu. Saya yakin pelayan tersebut sudah di bawa seseorang atau dia memang sengaja menghilang agar kita tidak bisa menemukannya," ujar Rania dengan dingin.


"Perketat saja penjagaan untuk nona Rania! Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi," ujar Sastra kepada Liam.


"Saya mengerti, Tuan! Saya sudah memperketat penjagaan untuk nona Rania," ujar Liam dengan tegas.


Sastra mengangguk. "Tuan Ferdians tidak menemani Nona?" tanya Sastra yang tak melihat keberadaan Ferdians.


"Sudah berangkat ke kantor setelah mengantarkan saya ke sini!" jawab Ferdians dengan tegas.


"Sepertinya masih ada rasa yang tertinggal di antara kamu dan Citra," ujar Rania yang membuat Sastra menghala napasnya karena Rania selalu mengingat pembicaraannya sejak awal.


"Bagaimana mungkin saya melupakan Citra begitu cepat, Nona. Jujur sampai sekarang saya juga masih mencintai Citra. Saya memintanya untuk memulai semua dari awal tapi rasa kecewanya yang begitu besar terhadap saya membuat Citra tidak ingin mengulang kisah yang sama yang katanya akan berakhir menyakitkan juga untuk dirinya. Dan saya tidak bisa memaksa dirinya karena saya tahu kesalahan saya," ujar Sastra yang membuat Rania terkekeh.


"Kejarlah selagi saya memberikan ruang karena saya pikir Alex tidak baik untuknya apalagi dia seakan masih sangat dendam dengan dirimu. Satu lagi om dari Alex sangat mirip dengan Ferdians, pembunuh itu sangat mirip dengan suami saya. Apa sebenarnya mereka memiliki hubungan? atau om Eric pernah menikah dengan ibu? Karena saya masih memikirkan itu sejak kemarin. Jika Ferdians adalah anak dari om Eric dan istrinya saya rasa tidak mungkin karena anaknya sudah meninggal sejak lama," ujar Rania yang membuat Sastra dan Liam terdiam.


"Saya akan menyelidiki semuanya, Nona! Anda tenang saja!" ujar Sastra dengan tegas.


"Saya tunggu kabar darimu!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!"


****


Jam makan siang sengaja Ferdians tidak memberitahukan istrinya jika dirinya pulang ke rumah. Sejak Alex memberitahukan foto seseorang yang sangat mirip dengan dirinya Ferdians masih kepikiran sampai sekarang. Ia harus menanyakan ini kepada samg ibu.


Bahkan tadi Ferdians mencari foto Eric di google dan benar saja banyak foto Eric yang terpampamg di sana. Di mulai kejayaannya hingga ia di penjara karena di anggap sebagai pembunuh mama mertuanya.


"Bu!" panggil Ferdians dengan perlahan yang membuat Heera tersenyum.


"Iya, Nak. Kenapa sudah pulang? Rania mana?" tanya Heera dengan lembut.


"Aku hanya pulang sebentar, Bu. Aku ingin bertanya sesuatu dengan Ibu dan Rania berada di kantor setelah mengunjungi Sastra," ujar Ferdians dengan tegas.


" Apa itu, Nak?" tanya Heera dengan penasaran.


"Tapi Ibu harus jawab jujur ya!" ujar Ferdians yang membuat Heera mengeryitkan kedua alisnya.


"Apa, Nak?"


Ferdians mengambil ponselnya dan membuka galeri miliknya karena Ferdians sudah menyimpan foto Eric di ponselnya.


"Ibu lihat orang ini, wajahnya sangat mirip denganku. Apakah Ibu mengenalnya? Aku merasa ini bukan sebuah kebetulan saja," ujar Ferdians dengan serius.


Tubuh Heera menegang dengan sempurna melihat foto yang di tunjukkan oleh anaknya.


"I-ibu tidak mengenal siapa orang ini!"