Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 44 (Pertemuan)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya!...


...Happy reading...


"**


Ferdians memijat Rania pagi-pagi sekali karena setiap pagi istrinya selalu mual. Malamnya ketika ia memberikan servis, Ferdians menjadi pusing dan ingin memasuki Rania tetapi entah belajar dari mana Rania juga melakukan servis kepada dirinya. Dan Ferdians tambah mencintai Rania saat ini karena ia merasa puas dengan servis istrinya.


" Masih mual?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Sedikit!" jawab Rania dengan pelan, ia memejamkan matanya saat Ferdians memijat kepalanya.


"Tidak usah ke kantor ya!" ujar Ferdians dengan lembut.


Hari ini istirahat saja di rumah, Sayang! Kamu sama ibu di rumah saja," ujar Ferdians dengan lembut.


"Tidak. Saya harus bekerja," gumam Rania dengan pelan.


Ferdians menghela napasnya dengan pelan. Ia mengusap perut istrinya dengan lembut. "Nak, Mama mau kerja kalian jangan buat Mama sakit ya!" ucap Ferdians di depan perut Rania.


Cup...


Cup...


Ferdians menatap Rania dengan dalam. "Papa mau mengundang semua wartawan untuk mengumumkan kehamilan kamu ke publik, Sayang. Bagaimana? Kamu bisa? Kalau kamu tidak bisa biar aku katakan dengan papa karena kesehatan kamu dan anak kita jauh lebih penting," ujar Ferdians menatap Rania dengan dalam.


Rania tampak terdiam, ia menatap Ferdians dengan lekat. Ferdians benar-benar suami bertangungjawab dan itu membuat Rania tidak bisa jauh dari Ferdians, hati dan pikirannya sama sekali tidak sejalan yang membuat Rania kesal dengan dirinya sendiri.


"Atur saja waktunya. Tapi sekarang saya masih lemas," ujar Rania dengan jujur.


"Tidak usah ke kantor ya. Wajah kamu lebih pucat daripada Sebelum-sebelumnya," ujar Ferdians dengan khawatir.


"Saya tidak apa-apa! Saya bisa bekerja!" ujar Rania yang membuat Ferdians menghela napasnya dengan berat. Istrinya terlalu keras kepala sekali padahal setiap pagi Rania selalu muntah dan berakhir dalam keadaan lemas seperti ini.


"Ya sudah ayo berangkat. Tapi kamu yakin mau bekerja?" tanya Ferdians sekali lagi.


"Iya, Mass!" ujar Rania dengan kesal yang membuat Ferdians terkekeh dengan pelan.


****


Anjani mengetuk pintu ruangan Rania dengan sedikit keras.


"Masuk!" ujar Rania dengan tegas dari dalam.


Anjani membuka pintu ruangan Rania, ia menatap Rania dan Sastra dengan senyuman tipisnya.


"Ada apa?" tanya Rania dengan serius.


"Sekretaris Alexander Grup baru saja menghubungi saya. Mereka ingin bertemu dengan Ibu untuk membahas kerja sama antar perusahaan, Bu!" ujar Anjani yang membuat Rania tampak berpikir.


Tubuhnya sedang tidak terlalu fit tetapi kerjasama ini akan menguntungkan perusahaannya karena perusahaan Alexander Grup sama besarnya dengan perusahaan Danuarta Grup.


"Alexander Grup?" tanya Sastra.


"Iya, Tuan!" jawab Anjani dengan tegas.


"Kenapa?" tanya Rania dengan bingung setelah melihat wajah Sastra yang langsung berubah mendengar kata Alexander Grup.


"Saya seperti sangat familiar dengan nama itu, Nona. Seperti teman saya waktu SMA," ujar Sastra yang membuat Rania mengangguk mengerti.


Rania menatap Anjani dengan tegas. "Katakan pada sekretaris Alexander Grup jika saya bisa bertemu dengannya tapi di perusahaan ini saja karena tubuh saya kurang fit untuk berpergian keluar," ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona. Mereka bisa datang ke sini setelah jam makan siang," ujar Anjani dengan tegas.


"Baiklah!"


"Kalau begitu saya permisi, Nona!" ujar Anjani dengan sopan.


"Hmmm..."


Anjani keluar dari ruangan Rania dengan langkah tegasnya. Satelah itu kesunyian menyapa ruangan Rania karena Sastra terlihat diam sedang memikirkan sesuatu, entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang setelah mendengar nama Alexander.


"Siapkan semua berkas yang kita butuhkan untuk membuat Alexander Grup mau bekerjasama dengan perusahaan ini dan setelah itu perusahaan ini akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar jika berhasil bekerja sama dengan Alexander grup," ujar Rania dengan tegas memerintahkan Sastra yang asyik terdiam seakan sedang berpikir dengan keras.


****


CEO dari Alexander Grup sudah datang bersama dengan sekretarisnya. Langkah tegas keduanya membuat para karyawan menatap mereka dengan pandangan takjub. Ketampanan dan kecantikan keduanya mampu menghipnotis para karyawan Rania.


"Selamat datang Tuan dan Nona. Ibu Rania sudah menunggu di ruangannya mari saya antar," ujar Anjani dengan ramah yang sudah menunggu kedatangan keduanya sejak tadi.


"Terima kasih Nona Anjani. Senang bisa bertemu dengan sekretaris nona Rania yang sangat ramah," ujar Alex dengan tersenyum.


"Sudah kewajiban pekerjaan saya, Tuan. Mari! Ruangan Nona Rania ada di lantai paling atas," ujar Anjani dengan ramah.


Alex menatap sekretarisnya yang terlihat diam setelah mereka sampai di perusahaan ini. RA Grup adalah perusahaan Rania yang membuat Alex salut karena didirikan oleh seorang perempuan.


Alex tak banyak bicara, ia membiarkan sekretarisnya diam di sampingnya karena dirinya pun masih penasaran siapa CEO perusahaan ini.


Setelah ketiganya sampai Anjani langsung mengetuk pintu terlebih dahulu setelah mendapatkan izin dari Rania Anjani langsung menyuruh Alex dan sekretarisnya masuk.


"Selamat datang di RA Grup Tuan Alexander dan...." ucapan Rania terhenti saat menatap sekretaris Alex.


"Citra Andriani," gumam Rania yang membuat Sastra langsung menatap ke arah wanita yang berada di samping Alex.


Napas Sastra langsung terhenti saat ia menatap wajah cantik Citra. Jantungnya menggila karena tak lama Citra tersenyum ke arah Rania.


"Senang bertemu dengan anda Nona!" ujar Citra dengan tersenyum.


Sedangkan Alex menatap Sastra dengan tajam. "Senang bertemu denganmu lagi, Sastra. Sudah lama ternyata kita tidak bertemu," ujar Alex dengan datar yang membuat Sastra mengepalkan kedua tangannya. Mengapa bisa Citra menjadi sekretaris Alex, lelaki itu tidak baik. Dan Sastra takut Citra di apa-apakan oleh Alex.


"Ya senang bisa bertemu denganmu, Alex!" ujar Sastra dengan tajam.


Mata Sastra dan Citra saling bertemu tetapi itu tidak berlangsung lama karena Citra langsung memutuskan kontak mata di antara mereka. Ada rasa sesak di hati Sastra saat Citra tak mau menatapnya lebih lama, rasanya Sastra ingin memeluk Citra dengan erat tetapi itu tidak mungkin terjadi karena Citra bukan siapa-siapanya lagi.


"Karena kita sudah saling mengenal satu sama lain bagaimana jika kita langsung membicarakan kerjasama antara perusahaan kita," ujar Rania dengan tegas yang di angguki oleh Alex.


"Tentu saja, Nona!" ujar Alex dengan tersenyum.


Sastra selalu mencuri-curi pandang kepada Citra, sepertinya wanita itu tidak nyaman dengan kehadirannya. Sudah lama mereka tidak bertemu apakah tidak ada kerinduan di hati Citra untuknya?


Akhirnya tak ingin berkelut dengan perasannya Sastra mencoba fokus dengan pembahasan mereka. Di dalam hati Sastra, ia masih tidak tenang dengan Citra yang bekerja dengan Alex karena ia tahu bagaimana Alex selama ini. Sastra dan Alex menjadi musuh sejak SMA dulu dan sepertinya dendam itu masih ada si hati Alex.


***


"Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan perusahaan saya. Kita akan mendapatkan keuntungan jauh lebih besar setelah ini," ujar Alex menjabat tangan Rania dengan erat yang membuat Rania langsung melepaskan tangannya.


"Iya saya pun begitu!" ujar Rania dengan datar karena ia tidak merasa nyaman dengan tatapan Alex.


Alex dan Sastra juga saling berjabat tangan dengan erat tatapan keduanya begitu sangat tajam. Sepertinya sinyal peperangan antara keduanya akan di mulai kembali setelah sekian lama sudah tidak bertemu.


Citra juga ikut menjabat tangan Rania, Anjani dan terakhir menjabat tangan Sastra tetapi itu tidak berlangsung lama karena Citra langsung melepaskan tangannya. Tak ada yang mengetahui bagaimana perasaan Citra saat ini tetapi melihat Citra banyak diam membuat Sastra merasa bersalah, ingatan masa lalunya dengan Citra mengusik hatinya. Setelah sekian lama akhirnya ia dipertemukan kembali dengan mantan istrinya.


"Kalau begitu kami permisi dulu. Sampai bertemu kembali di lain waktu," ujar Alex.


"Permisi!" ujar Citra dengan singkat.


Alex dan Citra melangkah pergi hingga mereka sudah tidak terlihat barulah Rania menatap Sastra.


"Bagaimana rasanya bertemu dengan mantan istri sekaligus temanmu, Sastra? Saya lihat di antara kamu dan Alex sama-sama memiliki dendam pribadi," ujar Rania dengan tegas.


"Alex dan saya tidak pernah akur sejak dulu, Nona. Jadi, sudah wajar jika kami seperti ini asal dia tidak membuat perusahaan nona dalam bahaya," ujar Sastra dengan tegas.


Rania menyeringai. "Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, Sastra!" ujar Rania dengan tegas.


"Dan saya juga akan selalu melindungi perusahaan ini dan juga Nona. Dunia bisnis tidak ada yang benar-benar teman, Nona. Dan untuk perasaan saya setelah bertemu dengan Citra yaitu tidak tenang karena Citra bersama dengan musuh saya," ujar Sastra dengan tegas.


"Jadi, sekretaris cantik pak Alex tadi mantan istri tuan Sastra?" tanya Anjani tidak percaya.


"Jangan ikut campur masalah pribadi orang lain, Anjani! Kembali ke kursimu dan kerja dengan benar!" ujar Rania dengan tajam.


"M-maaf, Nona! P-permisi!" ujar Anjani dengan takut.


Anjani langsung berjalan dengan cepat ke kursinya. Ia memukul mulutnya sendiri yang sudah dengan lancang bertanya seperti tadi.


"Bodoh kamu Anjani! Tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu," ujar Anjani dengan kesal kepada dirinya sendiri.