
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa tersenyum menatap tangannya yang di genggam oleh Gavin dengan erat. Akhirnya Gavin tak lagi menghindarinya walaupun Gavin masih terlihat dingin kepada dirinya. Tetapi semua itu tak jadi masalah ketika Gavin sudah sedikit hangat kembali kepadanya.
"Kita mau kemana? Ini bukan menuju rumah papa dan mama!" ujar Frisa dengan heran walaupun ini masih satu kompleks dengan rumah kedua orang tuanya.
"Melihat rumah baru kita," jawab Gavin yang membuat Frisa langsung menatap Gavin dengan mengerjapkan matanya.
"Rumah baru kita?" tanya Frisa dengan tidak percaya.
Gavin mengangguk tanpa melihat ke arah Frisa. "Hanya 10 menit dari rumah papa," jawab Gavin yang membuat Frisa terdiam.
Terlalu syok hingga membuat Frisa terdiam dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di hati dan pikirannya karena Frisa sama sekali tidak ada memikirkan tentang rumah.
"Gavin mencintai kamu, Dek!"
Kalimat yang di ucapkan kakaknya itu kembali tergiang di pikirannya. Dan kali ini Frisa tidak marah tetapi ia malah tersenyum tipis memikirkan kalimat yang di ucapkan kakaknya saat itu. Apa benar Gavin mencintai dirinya hingga Gavin begitu sangat mempersiapkan tentang pernikahan mereka?
Gavin menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah yang sangat mewah sekali. Gavin keluar dari mobil dan membuka gerbang rumah yang masih belum ia percayai adalah milik Gavin. Karena selama bekerja Gavin belum pernah menunjukkan hasil kerjanya selama ini.
Sesudah membuka gerbang Gavin kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil itu kembali masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas sekali, bisa saja halaman ini menjadi taman bermain karena sangking luasnya.
"Ini benaran rumah yang kamu beli?" tanya Frisa setelah keluar dari mobil.
Gavin menganggukkan kepalanya, ia kembali menggandeng tangan Frisa menuju pintu utama. Gavin mengambil kunci dan membuka pintu itu, Frisa menatap ruangan yang sangat luas sekali. Rumah yang mungkin sama besarnya dengan rumah kakeknya dan rumah kedua orang tuanya. Namun, rumah ini terkesan lebih luas di matanya.
"Semua ruangan ini belum terisi barang apapun, Nona. Termasuk kasur di dalam kamar karena saya ingin anda yang mengisinya sesuai dengan kemauan anda," ujar Gavin yang membuat Frisa menatap Gavin.
"Kenapa harus saya?" tanya Frisa dengan bingung.
"Karena rumah ini nanti juga akan menjadi milik anda. Beli saja yang sesuai keinginan anda, Nona. Nanti saya yang bayar semuanya," sahut Gavin dengan tegas
Frisa kembali berjalan dengan perlahan melihat rumah ini. Desainnya benar-benar sesuai impiannya dan tak ada yang terlewat satu pun.
"Gavin!"
"Hmmm..."
"Ini kan rumah impian saya selama ini. Kamu mewujudkannya? Tapi kenapa?" tanya Frisa yang masih tak percaya.
"Tidak ada alasan, Nona. Saya hanya ingin kita nyaman di sini sampai Nona meminta kita berpisah nantinya," ujar Gavin dengan tegas.
"Berpisah?" tanya Frisa dengan tercekat.
"Iya, karena kita tidak mempunyai tujuan apapun dalam pernikahan ini selain saya menuruti kemauan Nona, kan? Jadi, bukankah pada akhirnya perpisahanlah yang menghampiri kita?" tanya Gavin dengan tersenyum kecut.
Frisa tercekat mendengar ucapan Gavin. Bahkan dalam pikirannya tak pernah berpikir tentang perpisahan, dan Gavin menyadarkan dirinya jika memang ia terlalu jahat sekarang.
Keduanya sudah sampai di dapur. "Gavin!" panggil Frisa dengan lirih.
"Hmmm..."
"Apakah kamu tidak ada ingin menikah sekali seumur hidup? Apakah saya terlalu memaksa kehendak saya selama ini? Apakah memang saya sejahat itu hingga kamu berpikir tentang perpisahan kita? Lalu untuk apa rumah semewah ini? Seharusnya kamu tidak memberikan ini untuk kita tempati setelah menikah," Frisa mencerca banyak pertanyaan untuk Gavin.
Gavin terlihat sangat santai menanggapi banyak pertanyaan dari Frisa. Tak menjawab pun seharusnya Frisa sudah tahu jawabannya.
"Sebenarnya banyak tujuan dan impian saya setelah menikah dengan, Nona. Namun, ucapan Nona waktu itu sudah menyadarkan saya, jika saya tidak boleh ngelunjak bukan? Jadi, impian itu harus saya hilangkan dari hidup saya. Tetapi Nona tenang saja saya akan tetap menjadi suami yang bertanggungjawab nantinya," ujar Gavin dengan tersenyum.
Frisa tak tahu harus bagaimana lagi, di sini sepertinya dirinya memang yang salah bahkan sampai-sampai sikap Gavin juga berubah karena ucapannya.
"Gavin bisa kah kita tetap bersama walaupun pernikahan ini saya yang memintanya?" tanya Frisa dengan penuh harap.
"Apa alasan anda ingin kita tetap bersama, Nona?" tanya Gavin dengan datar. "Anda ingin saya tetap bekerja dengan Nona se-umur hidup dengan dalih saya menjadi suami Nona begitu? Apakah anda tidak ingin mempunyai keluarga yang bahagia seperti yang lainnya? Kenapa? Biisa anda jelaskan, Nona?" cerca Gavin dengan banyak pertanyaan, mulutnya sudah gatal ingin bertanya seperti itu, mendesak Frisa untuk jujur hingga Gavin lega dan puas.
"K-karena saya..."
"Karena saya apa, Nona?" tanya Gavin tak sabaran.
"Saya tidak tahu! Saya hanya ingin terus berada di dekat kamu! Saya tidak suka ada orang lain yang mendekati kamu! Saya merasa kamu hanya milik saya sampai kapanpun! Saya tidak suka kamu mengacuhkan saya!" ucap Frisa dengan memejamkan matanya dan begitu cepat ia mengucapkan kata demi kata yang ada di hatinya.
Gavin tersenyum melihat Frisa yang menutup mata saat berbicara. Kini, Gavin telah menemukan jawaban atas semua sikap Frisa yang aneh terhadap dirinya.
"Anda menyukai saya, Nona?" tanya Gavin dengan geli.
"B-bukan begitu!" elak Frisa dengan jantung yang berdetak dengan kuat.
Cup....
"Anda tidak bisa mengelak lagi, Nona!" ujar Gavin dengan mengecup kening Frisa yang membuat gadis itu mematung.
Lalu Frisa tersenyum kembali karena ia sudah sangat merindukan kehangatan ciuman ini. Apakah benar ia menyukai Gavin? Frisa menatap mata Gavin dengan dalam menyelami perasaan dirinya sendiri. Jantung yang berdetak dengan kencang saat Gavin berada di dekatnya, rasa bahagia saat Gavin menggenggam tangannya, rasa takut saat Gavin terluka karena melindunginya, rasa tak ingin kehilangan Gavin hingga ia meminta Gavin menjadi suami bayarannya. Rasanya jika itu bukan rasa suka dan cinta mana mungkin ia bersikap berlebihan seperti itu bukan.
"Sepertinya memang aku menyukai Gavin!" gumam Frisa dengan pelan.
"Apa, Nona?" tanya Gavin berpura-pura tidak dengar padahal ia mendengar ucapan Frisa barusan.
"Bukan apa-apa. Dimana letak kamar utamanya saya mau melihatnya," ujar Frisa dengan pipi yang memerah seperti tomat.
"Ada di lantai atas, Nona!" jawab Gavin dengan menahan tawanya.
Gavin berjalan duluan meninggalkan Frisa yang membuat Frisa menatap tangannya yang tidak di genggam oleh Gavin. Dengan cepat Frisa berlari dan menggenggam tangan Gavin.
"Yak kenapa jalan sendiri? Kamu tega meninggalkan saya begitu saja?" ujar Frisa dengan bersungut sebal.
Gavin tidak bisa menahan senyumannya. "Genggamlah sepuas anda, Nona! Tangan ini milik Nona!" ucap Gavin dengan lembut yang membuat hati Frisa kembali berdesir dengan hebat.
Padahal hanya ucapan biasa tetapi kenapa reaksi hatinya seperti ini? Tuhan tolong Frisa, sepertinya Frisa mulai gila dari sekarang.