
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Frisa memakirkan mobilnya dengan asal, semua penjaga melihat Frisa yang terlihat datar dan dingin. Mereka bergidik ngeri melihatnya karena jika mereka bertanya pastilah jawaban Frisa akan menusuk hati mereka dengan sangat tajam. Tetapi semua heran dan khawatir ketika ternyata Frisa mengendarai mobilnya sendiri karena selama ini Frisa tak pernah membawa mobil sendiri walaupun gadis itu bisa mengendarai mobil.
Tak lama mobil Gavin dan juga Faiz datang berbarengan yang membuat Cakra maupun yang lainnya heran.
"Ada apa sih? Sepertinya akan ada perang dingin," gumam Cakra dan berani bersuara lebih keras.
"Entahlah. Kita hanya bisa melihat dan mendengar jika kita berbicara gue yakin kita hanya tinggal nama," ujar Melvin yang membuat Cakra dan Agam bergidik ngeri.
"Sayang!" panggil Gavin dengan panik saat Frisa terus berjalan menuju kamarnya hingga suara pintu tertutup terdengar sangat keras.
Brakkkk....
Ferdians dan Rania yang masih berada di dalam kamar juga terkejut dengan suara dentuman pintu yang sangat keras.
"Pakai baju kamu, Sayang. Sepertinya itu suara dari kamar Frisa," ujar Ferdians dengan panik.
Gairah yang tadi sangat besar telah hilang padahal Ferdians sudah sangat menginginkan istrinya lagi. Saat hamil seperti ini tubuh Rania semakin seksi di matanya, umurnya yang tak lagi muda tetapi wajahnya masih terlihat sangat muda yang membuat Ferdians takut ada lelaki yang akan menggoda istrinya.
"Bersih-bersih sebentar, Mas! Ayo cepat!" ujar Rania menarik suaminya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
Sedangkan Gavin, Faiz, dan Olivia terlihat sangat panik karena ini baru kali ini Frisa ngambek kembali setelah bertahun-tahun lamanya tidak ngambek.
"Sebenarnya apa yang terjadi Gavin? Pintu kamar Frisa sudah terkunci jika begini, dia pasti tidak mau bertemu dengan siapa pun," tanya Faiz dengan gelisah.
"Mungkin benar saya yang terlalu ngelunjak, Tuan. Saya menginginkan pernikahan yang sempurna dan saya sedikit mengancam nona Frisa hingga dia seperti ini," gumam Gavin yang tak ingin Frisa mendengar ucapannya.
Faiz menghela napasnya dengan berat. "Kita bicara ini di bawah saja. Tapi tunggu dulu saya akan mencoba membujuk Frisa untuk keluar," ujar Faiz dengan tegas yang di angguki oleh Gavin.
Tokkk...tokkk...
"Dek buka pintunya ya. Kakak mau bicara sebentar," ujar Faiz dengan sabar namun tak ada sautan dari Frisa.
"Dek jangan buat Kakak dan yang lainnya khawatir dong. Buka pintunya ya, Dek. Frisa Sayang, kamu marah ya sama Kakak?" ujar Faiz yang membujuk Frisa tapi tetap saja Frisa sama sekali tidak mau berbicara yang membuat Faiz menghela napasnya dengan berat.
"Biar aku coba bujuk Frisa ya, Mas!" ujar Olivia yang di angguki oleh Faiz.
"Cobalah, Sayang. Siapa tahu Frisa mau berbicara dengan kamu," ucap Faiz dengan pasrah.
Olivia mendekat ke arah pintu kamar Frisa dan mengetuknya dengan perlahan.
Tokk....tokkk...
"Dek, ini Kakak. Kakak boleh masuk tidak?" tanya Olivia dengan lembut.
"Dek kamu marah ya sama kak Faiz dan Kakak karena tidak bisa pulang bersama," ujar Olivia dengan sendu.
Frisa yang mendengarnya menjadi tak enak hati saat suara Olivia begitu sangat lirih. Namun, sekarang Olivia tak ingin berbicara dengan siapapun termasuk kedua orang tuanya.
Olivia tampak menatap Faiz dengan sendu. "Tidak mau juga, Mas!" gumam Olivia dengan lirih.
Gavin juga tampak frustasi, ia ingin mengetuk pintu Frisa tetapi gelengan kepala Faiz membuat Gavin mengurungkan niatnya.
"Ada apa ini?" tanya Ferdians menatap bingung anak dan menantunya.
"Sebaiknya kita bicara di bawah, Pa. Frisa ngambek dan tidak mau membuka pintu sama sekali," ujar Faiz yang membuat Ferdians dan Rania saling menatap.
"Ya sudah ayo ke bawah!" ujar Rania dengan penasaran apa yang terjadi kepada anaknya.
Rania dan yang lainnya turun ke bawah. "Hati-hati, Sayang. Kamu lagi hamil loh!" omel Ferdians yang tampak sangat posesif sekali.
"Iya, Mas! Ini sudah pelan-pelan," ucap Rania mendengus kesal ke arah suaminya yang sangat posesif walaupun begitu Rania merasa bahagia dengan segala perhatian Ferdians kepada dirinya.
Olivia merasa iri, ia ingin juga hamil tetapi sampai sekarang ia belum juga hamil. Tetapi ia tersenyum melihat keromantisan mertuanya, orang sebaik keluarga Danuarta kenapa bisa keluarganya mengkhianati keluarga Danuarta dan ingin mengusai hartanya? Padahal jika hidup bersama dengan mereka semua tampak sangat tentram dan membahagiakan. Entahlah Olivia tidak ingin berpikir terlalu keras yang membuat kepalanya pusing nantinya. Dan sekarang Olivia sedang berusaha membuat keluarga Danuarta dan keluarganya berdamai.
"Jadi, apa yang membuat Frisa ngambek? Kalian tahu kan jika Frisa sudah benar-benar ngambek itu seperti apa?" tanya Ferdians menatap Faiz dan Gavin bergantian.
Keduanya mengangguk secara bersamaan. "Ini salah saya, Pa. Saya ingin pernikahan yang sempurna seperti pernikahan orang lain. Saya ingin Frisa melayani saya bahkan saya mengancam dia sedikit. Awalnya saya bercanda tapi ternyata Frisa benar-benar ngambek," gumam Gavin dengan lirih.
"Setelah itu Frisa meminta pulang bersama kami, Pa. Tapi Mas Faiz menolaknya hingga aku melihat wajah kecewanya terus dia mau pulang sendiri. Bahkan dia sudah tidak mau pulang bersama kami lagi, Pa. Frisa membawa mobil dengan sangat kencang. Pa, maafkan aku. Mungkin Frisa marah karena sejak menikah mas Faiz sudah jarang bersama Frisa," gumam Olivia dengan lirih.
Ferdians dan Rania menghela napasnya dengan berat. "Ini bukan salah kamu, Olivia. Dan bukan salah siapa-siapa," ucap Rania menenangkan menantunya.
"Gavin, Papa tahu kamu benar-benar mencintai Frisa. Tapi tidak seperti itu menghadapi Frisa. Cobalah bersikap dingin seperti biasanya dan mencoba ikut dalam permainan Frisa setelah kalian menikah barulah kamu mencari cara untuk membuat Frisa mencintai kamu. Papa dulu juga seperti itu, dulunya mama juga sama seperti Frisa tapi setelah menikah dan mama hamil mama... aawwww... sakit, Sayang!" Ferdians tak lagi melanjutkan ucapannya saat mendapatkan cubitan penuh cinta dari istrinya bahkan tatapan Rania begitu sangat tajam yang membuat Faiz, Gavin, dan Olivia meringis.
"Kamu lanjutkan lagi omongan kamu, habis kamu, Mas!" ujar Rania dengan geram.
Ferdians meringis mengusap perutnya yang mendapatkan cubitan cinta begitu sangat pedas. "Bukan begitu, Sayang. Gavin harus tahu taktik menaklukkan anak kita itu seperti apa," ujar Ferdians dengan ngeri takut mendapatkan cubitan lagi dari istrinya.
"Tidak harus menceritakan masa lalu kita, Mas! Ngeles saja kamu, Mas!" ujar Rania dengan geram.
"Ampun, Sayang. Mas tidak akan cerita lagi nih. Kamu tuh tambah cantik banget loh, Sayang. Jangan marah-marah kasihan anak kita," ujar Ferdians dengan sedikit merengek agar istrinya tidak kembali marah.
Rania menarik napasnya dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia menatap Gavin dengan sangat serius. "Mama tahu kamu ingin pernikahan yang sempurna tapi semua itu tidak mudah, Gavin. Cobalah luluhkan hati Frisa dulu, barulah kamu menata masa depan kalian dengan sempurna. Dan satu lagi, Frisa itu tidak bisa jauh-jauh dari kamu Mama yakin dia sudah menyukai kamu tapi dia belum sadar. Bersikaplah seperti biasanya, ikuti permainan Frisa dan jangan terlihat kamu itu menyukai dia jika begitu Frisa pasti terlihat tidak suka karena kalian belum menikah. Bisa saja Frisa membatalkan pernikahan kalian," ujar Rania menasehati.
"Tidak, Ma. Saya tidak mau pernikahan kami batal. Saya akan bersikap seperti biasanya yang tidak membuat Frisa risih kepada saya. Saya akan mengikuti permainan Frisa mulai saat ini," ujar Gavin dengan tegas.
"Bagus kalau begitu. Kamu juga harus tegas nantinya biar Frisa tidak semakin keras kepala tapi itu kamu lakukan saat kalian sudah menikah karena untuk sekarang pasti Frisa tidak mendengarkan ucapan kamu," ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Saya mengerti," ujar Gavin dengan tegas.
"Ma, Frisa ngambek juga sama aku! Bantu aku lah, Ma!" rengek Faiz yang membuat Rania menggelengkan kepalanya.
"Bujuk saja sendiri. Mama mau makan lapar!" ujar Rania memegang perutnya yang membuat Faiz cemberut.
"Mama!!" rengek Faiz yang membuat Olivia terkekeh ternyata Faiz bisa manja juga.
"Ya ampun sudah punya istri loh kamu Faiz!" ujar Rania dengan menggelengkan kepalanya. "Nanti Mama akan bicara sama Frisa. Kalian kalau mau kerja berangkat saja tidak apa-apa," ujar Rania dengan tegas.
"Libur saja deh, Ma. Tidak enak kerja kalau Frisa lagi ngambek seperti ini," ujar Faiz dengan lesu.
"Terserah kamu, Faiz!" ujar Ferdians dengan menggelengkan kepalanya.
****
Sedangkan di rumah Rajendra, Cassandra tampak beringsut ketakutan saat Rajendra masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu dengan keras, tatapan tajam Rajendra membuat tubuh Cassandra bergetar ketakutan.
"Brengsek! Sini kamu!" ujar Rajendra dengan umpatan yang begitu sangat terdengar mengerikan.
"M-mas..." belum sempat Cassandra melanjutkan ucapannya Rajendra sudah menarik kaki Cassandra hingga gadis itu terbaring di lantai dengan sempurna.
"Mas ampun hiks..hiks..." ucap Cassandra dengan memohon kala Rajendra menarik kakinya dengan kuat menuju kamar mandi.
Rajendra menyeringai menatap Cassandra dengan begitu sangat bengis. Ia tidak suka ada orang yang menganggu keluarganya, tak peduli seseorang itu perempuan atau tidak sekali berbuat kejahatan maka tak ada ampun bagi Rajendra.
"Ampun kamu bilang? Setelah kamu merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarga saya, kamu baru meminta ampun sekarang? Cih.. Simpan saja kata ampunmu itu, Cassandra. Karena saya tidak sudi mendengarnya. Mana sikap angkuhmu itu bahkan kamu berencana mengusai harta keluarga saja setelah kamu berhasil menyingkirkan saya dan keluarga saya. Tapi sebelum itu terjadi aku akan menyingkirkan kamu terlebih dahulu," ujar Rajendra dengan begitu dingin.
Rajendra menghidupkan shower ia ingin bathtub berisi dengan air penuh. "Kamu dengar baik-baik, Cassandra. Tidak ada ampun bagimu. Kamu tahu gara-gara papamu hampir saja Frisa di lecehkan. AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN TANGAN KOTOR PAPA KAMU ATAU KAMU SEKALI PUN MENYAKITI KELUARGAKU!" teriak Rajendra dengan begitu keras hingga memekakkan telinga Cassandra.
Cassandra benar-benar sangat takut, selama tinggal di sini Cassandra benar-benar menjadi tahanan Rajendra, ia ingin bebas dan mencari perlindungan pada ayah dan bundanya tapi itu tidak bisa ia lakukan karena setiap kali ia ingin kabur Rajendra sudah ada di rumah ini.
Rajendra menarik rambut Cassandra dengan kuat dan menekan kepala Cassandra hingga masuk ke dalam bathtub yang berisi air. Cassandra benar-benar kelagapan, ia tidak bisa bernapas.
"Ampun, Mas!" ujar Cassandra yang berusaha untuk mengeluarkan kepalanya dari dalam air tetapi Rajendra menekannya begitu kuat. Berulang kali Rajendra mencelupkan kepala Cassandra hingga Cassandra benar-benar sangat lemas.
"Saya ingin mewujudkan impian papa kamu. Yaitu dengan menghancurkan kamu seperti apa yang hampir ia lakukan kepada keponakan saya!" ujar Rajendra dengan bengis seakan hatinya di masuki oleh iblis sekarang.
Cassandra mencoba menjauh tetapi Rajendra menatapnya begitu sangat tajam. "Ampun, Mas. A-aku minta maaf! A-aku tidak akan menganggu keluarga Mas lagi. Tolong bebaskan aku hiks..." ujar Cassandra benar-benar sangat ketakutan.
"Kenapa, Sayang? Kenapa kamu begitu sangat takut kepadaku sekarang hmm? Bukannya kamu sangat gencar mendekatiku dulu? Kita belum melakukan malam pertama. Bagaimana jika kita melakukannya di sini saja," gumam Rajendra dengan pelan menyentuh pipi Cassandra.
Cassandra menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wajah Rajendra begitu sangat dingin yang membuat Cassandra benar-benar sangat takut sekarang. Apalagi ia melihat Rajendra yang membuka bajunya dengan tak sabaran.
"M-mas jangan!" gumam Cassandra dengan gemetaran.
"Ini akan terasa nikmat, Sayang!" ujar Rajendra dengan menyeringai.
"Hiks...hiks... Jangan, Mas. Aku mohon bebaskan aku!" ujar Cassandra dengan sangat memohon tetapi Rajendra sama sekali tak bergeming bahkan ekspresi wajahnya begitu sangat datar.
"Akkkhhh..." teriak Cassandra dengan kencang saat Rajendra kembali menarik dirinya untuk bangun.
Tubuh Cassandra di dorong ke tembok hingga Cassandra benar-benar tidak bisa berkutik. Rajendra melepaskan celana yang Cassandra pakai dengan kasar. Saat ini keduanya saling berhadapan.
"Aku ingin kamu merasakan apa yang papa kamu perbuat, Sayang. Jangan tangis oke!" ujar Rajendra dengan terkekeh.
Cassandra menelan ludahnya dengan kasar, ia ingin kabur dan memberontak tetapi tenaga sangat kalah dengan Rajendra yang sedang di kuasai amarah. Jantung Cassandra berdetak dengan sangat kencang melihat milik Rajendra yang berada du hadapannya.
"Mas jangan Argghhh!" teriak Cassandra dengan kesakitan saat Rajendra memasukinya dengan sangat kasar bahkan tanpa ada pemanasan terlebih dahulu.
Bahkan kaki kirinya di angkat begitu tinggi untuk memudahkan milik Rajendra masuk ke dalam miliknya.
Perih...
Sakit...
Menyesal....
Itulah yang Cassandra rasakan saat ini saat Rajendra memperkosanya dengan sangat kasar. Jika Rajendra meminta dengan baik-baik mungkin Cassandra akan memberikannya. Namun, sikap Rajendra saat ini benar-benar menyakiti hatinya. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang hatinya rasakan sekarang.
"Bunda!" gumam Cassandra dengan menangis saat Rajendra terus bergerak dengan kasar tanpa mempedulikan ia sakit atau tidak.
Hati kecil Rajendra merasa kasihan dengan Cassandra. Namun, itu semua di tutupi amarahnya karena Roby sudah kembali menganggu keluarganya. Tak ada ampun sekarang, Roby juga harus merasakan penderitaan yang sangat pedih setelah ini.