Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 240 (Bau)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...***...


Bunga membuka matanya dengan perlahan, ia meringis merasakan kepalanya berdenyut sakit. Ia melihat Rajendra yang tertidur dengan menegang tangannya, lalu ia menatap infus yang tergantung, Bunga mencoba mengingat apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia sampai bisa di infus seperti ini.


Ya, Bunga baru ingat. Ia mengalami muntah-muntah, dan setelah itu ia merasa kepalanya begitu pusing, dengan susah payah Bunga kembali ke kasurnya. Lalu setelah itu Bunga tidak ingat apa-apa lagi.


Rajendra mengerjapkan matanya, ia terbangun dan langsung menegakkan tubuhnya karena ia ketiduran, Rajendra tersenyum menatap Bunga.


"Ada yang sakit, Sayang?" tanya Rajendra dengan lembut.


"Kepalaku sedikit sakit, Mas!" gumam Bunga dengan lirih.


"Mas panggil dokter dulu ya," ujar Rajendra dengan khawatir.


Bunga menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak usah, Mas!" ujar Bunga dengan lirih.


Bunga berusaha untuk bangun yang langsung di bantu oleh Rajendra. Rajendra mengelus perut Bunga dengan lembut dan menciumnya dengan gemas yang membuat Bunga heran.


"Mas rambutnya bau banget, jangan dekat sama aku!" rengek Bunga menutup hidungnya dengan tangannya yang membuat Rajendra sangat syok.


Ana dan Ben masuk ke ruangan Bunga, keduanya sangat bingung melihat Bunga menutup hidungnya saat dekat dengan Rajendra.


"Ma rambutku bau tidak? Kata Bunga bau banget, Ma!" ujar Rajendra yang merasa tidak terima jika di katain bau oleh istrinya sendiri.


Rajendra mendekat ke arah mamanya dan menyuruh mamanya untuk mencium rambutnya.


"Enggak kok. Wangi seperti biasanya," ujar Ana dengan jujur.


"Tuh kan wangi, Sayang. Mana ada suami kamu bau," ujar Rajendra tidak terima.


"Bau banget, Mas! Aku tidak suka ihh! Jangan dekat-dekat aku kalau rambut Mas masih bau!" ujar Bunga dengan tegas, ia langsung mual saat Rajendra kembali dekat dengan dirinya.


"Hidung kamu bermasalah nih! Mas panggilkan dokter dulu," ujar Rajendra yang ingin memencet tombol darurat yang berada di dekat istrinya. Namun, di cegah oleh mamanya sendiri.


"Tidak usah, Rajendra. Itu bawak-an bayi yang ada di perut istri kamu yang tidak suka dengan bau rambut kamu," ujar Ana yang langsung membuat Rajendra sangat lesu.


"Bayi, Ma? A-aku hamil?" tanya Bunga tidak percaya.


"Iya, Sayang. Kamu hamil sekarang," ujar Ana yang membuat Bunga langsung berkaca-kaca dan mengelus perutnya dengan lembut.


Rajendra memeluk Bunga tak peduli Bunga mengeluh bau karena ia sudah sangat bahagia dengan kehamilan istrinya saat ini. Bunga langsung menutup hidungnya berusaha menahan bau yang berasal dari rambut suaminya tersebut.


"Mas bau ihh!" rengek Bunga yang hampir mual.


"Tutup hidung kamu dulu, Sayang. Mas mau bicara sama anak kita," ujar Rajendra dengan memohon.


Bunga menutup hidungnya karena kasihan dengan suaminya.


"Anak Papa kenapa kamu membuat Mama tidak suka dengan bau rambut Papa hmm? Jangan begitu lah, Nak. Kita kan partner, Sayang. Kamu tidak kasihan dengan Papa? Kalau kamu jahat sama Papa tidak Papa belikan mainan nanti loh," ujar Rajendra dengan merengek yang membuat Bunga dan Ana tertawa sedangkan Ben menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang sangat jauh dari sikap aslinya.


Rajendra menempelkan telinganya di perut Bunga seakan mendengarkan suara anaknya sekarang. "Apa kamu minta mainan yang banyak supaya mama suka dengan bau rambut Papa? Mainan apa, Sayang? Mobil-mobilan atau boneka, Sayang?" tanya Rajendra dengan terkekeh.


Rajendra geli sendiri dengan dirinya sendiri saat ini karena ia seperti orang gila yang sedang berbicara dengan perut istrinya. "Sayang ayolah jangan seperti ini!" rengek Rajendra yang membuat Ben geli.


"Kamu mau punya anak loh, Jen! Jangan buat Papa malu lah!" ujar Ben dengan sinis.


"Terserah kamulah, Jen!" ujar Ben dengan pasrah.


Rajendra terus merengek di depan istrinya yang membuat Bunga terhibur dan sudah sedikit terbiasa dengan bau suaminya kembali walaupun ia masih merasa perutnya sedikit mual.


"Sayang, jangan gitulah! Mas tidak bisa jauh dari kamu!" rengek Rajendra yang membuat Bunga geli.


"Iya, iya, Mas. Aku lagi bernegosiasi sama anak kita nih," ujar Bunga yang membuat Rajendra akhirnya bisa bernapas lega setelah merengek terus menerus di hadapan istrinya.


Rajendra menciumi perut Bunga berulang kali. "Awas kamu ya Nak kalau tidak mau dekat dengan Papa!" ujar Rajendra sedikit mengancam.


"Anak kamu mana mengerti, Mas!" ujar Bunga dengan terkekeh.


Rajendra memeluk perut Bunga dengan begitu manja. Kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat anaknya yang begitu sangat manja dengan Bunga. Mereka ikut bahagia dengan pernikahan Rajendra dengan Bunga yang merubah hidup anaknya saat ini.


****


Rajendra memantau Cassandra, David, dan Seno melalui ponselnya. Ia menyeringai melihat ketiganya tidak berdaya sekarang, Bunga yang kepo mencoba mengintip ponsel suaminya, matanya membelalak tak percaya melihat kakaknya di borgol seperti itu.


"M-mas, k-kak Cassandra kamu apa-in?" tanya Bunga dengan terbata.


Rajendra mematikan ponselnya dan meletakkan ponselnya di brankar samping istrinya.


"Apapun yang Mas lakukan itu semua demi kebaikan semuanya, Sayang. Cassandra pantas mendapatkan itu semuanya. Kamu jangan memikirkan tentang Cassandra, yang harus kamu pikirkan sekarang adalah kehamilan kamu, anak kita agar dia tumbuh dengan baik di rahim kamu," ujar Rajendra dengan tegas.


"Tapi kasihan, Mas! Dia juga sedang hamil, kan? Anak yang di kandungan kak Cassandra apa anak Mas?" tanya Bunga dengan menundukkan kepalanya takut mendengar jawaban Rajendra.


"Coba kalau lagi bicara itu tatapan wajah Mas jangan menunduk seperti itu!" ujar Rajendra dengan tegas.


Bunga yang mendengar ucapan suaminya langsung melihat ke arah Rajendra dengan perlahan, matanya begitu sendu yang membuat Rajendra tidak tega. Pasti bagaimanapun Bunga akan tetap merasa cemburu dengan Cassandra walaupun Rajendra tidak mencintai Cassandra.


"Anak yang di kandung Cassandra bukan anak Mas, Sayang. Itu anak David, anak penjaga yang berada di rumah itu. Mereka sudah melakukannya sangat sering saat Mas tidak pulang ke rumah. Mana mungkin Cassandra hamil anak Mas karena Mas menyentuhnya sudah sangat lama sekali dan itupun Mas langsung memberikan Cassandra obat pencegah kehamilan saat itu," ujar Rajendra dengan tegas dan tak ada keraguan sama sekali.


"Tapi Mas sudah melakukannya dengan kak Cassandra," gumam Bunga yang entah mengapa merasakan sakit pada hatinya membayangkan jika suaminya sedang melakukan itu dengan perempuan lain walaupun Cassandra adalah istri dari Rajendra juga, mungkin bawaan kehamilan yang membuat dirinya seperti ini.


Rajendra menghela napasnya dengan berat. "Maaf jika apa yang Mas lakukan waktu itu mengganggu pikiran kamu saat ini, Sayang. Tapi sungguh apa yang Mas lakukan itu semata-mata hanya untuk membuat Cassandra jera, Mas sama sekali tidak memakai perasaan saat melakukannya dengan Cassandra, sungguh Mas hanya ingin menyiksa dirinya karena Roby... Emm maksud Mas papa Roby menyuruh orang untuk melecehkan Frisa," ujar Rajendra dengan lirih.


"Kenapa Mas tidak membalaskannya padaku juga?" tanya Bunga dengan lirih.


"Kamu beda, Sayang. Jangan sama kan kamu dengan Cassandra!" ujar Rajendra tak terima.


Bunga memeluk Rajendra dengan erat dan mencium suaminya dengan gemas.


"Sudah tidak mau lagi rambut Mas, kan?" tanya Rajendra dengan terkekeh.


"Sedikit!" jawab Bunga dengan tertawa kecil.


Bunga menatap mata suaminya dengan dalam. "Apa Mas akan juga menangkap mama dan papa?" tanya Bunga dengan pelan.


Rajendra mengelus pipi Bunga dengan lembut. "Mas harus melakukannya, Sayang. Kamu tidak marah, kan?" tanya Rajendra dengan lirih karena bagaimanapun juga Bunga berhak tahu semuanya.


"Iya, Mas. Aku tidak mau mama dan papa berbuat kejahatan terus mungkin setelah itu mereka sadar apa yang mereka lakukan sama sekali tidak baik," ujar Bunga dengan tersenyum walaupun berat tetapi Bunga tetap melakukannya.


Cup....


Rajendra mencium kening istrinya. "Terima kasih atas pengertiannya, Sayang!" ujar Rajendra dengan lembut.


Rajendra memeluk istrinya dengan lembut, ia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Bunga. Rajendra merasa bersalah dengan Bunga tetapi semuanya harus ia lakukan demi melindungi keluarganya.