Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 205 (Ancaman)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Cassandra mengerjapkan matanya dengan perlahan, kepalanya begitu sangat pusing sekali dengan tubuh yang begitu dingin. Cassandra mencoba membuka matanya dengan mata yang berkunang-kunang.


Deg....


Cassandra menatap sekelilingnya yang ternyata ia masih berada di dalam kamar mandi dan tergeletak di lantai tanpa Rajendra menolongnya. Mengingat kejadian di mana ia di perkosa dengan begitu keji oleh Rajendra membuat Cassandra kembali terisak, ia berusaha untuk bangun namun miliknya begitu sangat perih dan tulang-tulangnya juga terasa sangat kaku, badannya begitu terasa sangat remuk.


"Hiks...hiks...." isakan kembali lolos di bibir Cassandra.


Cassandra menyeret tubuhnya dengan perlahan, ia mencoba menghidupkan air shower hingga air itu kembali mengguyur tubuhnya yang masih polos tanpa pakaian sama sekali. Isakan terus terdengar begitu menyayat hati. Begitu jijik kah Rajendra kepadanya? Begitu benci kah Rajendra terhadap dirinya? Cassandra menyesal telah bermain-main dengan Rajendra, Cassandra akui ia mulai menyukai Rajendra karena sewaktu mereka pacaran perlakuan Rajendra kepadanya menyentuh hatinya yang paling dalam. Namun, karena misi dan ambisinya untuk menghancurkan Rajendra dan keluarganya karena telah membuat keluarganya hancur membuat Cassandra benar-benar gelap mata.


Memohon pun tiada guna karena Rajendra tidak akan pernah memaafkan dirinya. Cassandra menggosok tubuhnya dengan kuat hingga kulitnya pun memerah.


"Arghhhh..." teriak Cassandra dengan keras.


Cassandra terus menangis hingga bibirnya begitu sangat pucat. Cassandra sama sekali tak mempedulikan tubuhnya yang sudah menggigil dengan hebat.


Brak....


Cassandra terlonjak kaget saat pintu kamar mandi terbuka dengan sangat kasar. Cassandra beringsut takut dengan hanya melihat kaki Rajendra di dekat pintu.


"Hai, Sayang. Bagaimana perasaanmu setelah bangun? Lemah banget sih begitu saja pingsan," ujar Rajendra dengan dingin dan mulai menghampiri Cassandra ya meringkuk ketakutan.


"M-mas mau apa?" tanya Cassandra dengan badan gemetar ketakutan.


"Mau apa ya? Hm mau kamu mati bagaimana?" tanya Rajendra dengan terkekeh yang membuat Cassandra semakin ketakutan.


"Hahahaha..." tawa Rajendra begitu menggelegar saat melihat Cassandra ketakutan karena dirinya.


Rajendra menarik dagu Cassandra dengan kuat dan mencengkramnya hingga Cassandra benar-benar meringis kesakitan.


Mata Cassandra bergerak dengan gelisah saat Rajendra mengambil botol di dalam kantong bajunya. Rajendra mengeluarkan beberapa pil di dalam botol tersebut dan memasukkan ke dalam mulut Cassandra dengan paksa.


"Minum obat ini! Aku tidak sudi memiliki anak dari wanita sepertimu!" ujar Rajendra dengan tajam.


Cassandra membungkam mulutnya tak mau meminum obat pemberian Rajendra.


"BUKA!" teriak Rajendra dengan keras yang membuat Cassandra memejamkan matanya hingga isak tangis kembali terdengar yang membuat Rajendra mudah memasukkan pil pencegah kehamilan, tidak hanya satu Rajendra memasukkan obat itu sekali tiga.


"TELAN! ATAU KAMU MAU SAYA SIKSA KEMBALI? BUKAN HANYA KAMU TAPI MAMA KAMU YANG GILA ITU LEBIH TEPATNYA BERPURA-PURA GILA HANYA UNTUK MEMBALASKAN DENDAM YANG TAK BERDASAR," bentak Rajendra dengan keras.


Cassandra menelan pilnya dengan susah payah karena Rajendra tak memberikan air kepada dirinya sama sekali. Rajendra terus mengawasi Cassandra, tubuh mereka sudah kembali basah kuyup tetapi Rajendra sama sekali tak tertarik dengan tubuh Cassandra, apa yang ia lakukan tadi hanya untuk membuat Cassandra tersiksa lebih dalam.


Hati Cassandra begitu sakit saat Rajendra tak mau memiliki anak dari dirinya. Jika ia hamil apakah Rajendra akan berubah baik kepada dirinya? Tetapi Cassandra takut Rajendra semakin membenci dirinya. Namun, anak itu bisa saja menjadi perantara mereka bukan? Sejenak Cassandra berpikir seperti itu. Namun, ketakutannya sekarang lebih besar dari pada rencananya untuk hamil.


Setelah memastikan Cassandra menelan pil tersebut Rajendra meninggalkan Cassandra begitu saja tanpa ada rasa sedikit kasihan pun kepada istrinya tersebut.


"Hiks...hiks... Begitu jijiknya aku di mata kamu sekarang, Mas? Bukannya keluarga kamu yang sudah menghancurkan keluargaku tapi kenapa kamu yang membenciku? Seharusnya aku yang membenci kamu, membuat kamu tersiksa. Arrghhh..."


*****


Keesokan harinya Rajendra sudah berada di kantornya. Ia menunggu kedatangan seseorang ke dalam ruangannya hingga suara ketukan pintu membuat Rajendra menyeringai.


Tok...tok...


"Masuk!" perintah Rajendra dengan tegas.


Tak lama tampak Bunga yang menundukkan kepalanya dengan takut, apalagi Rajendra sudah memanggil dirinya ke ruangan pria itu. Dengan langkah yang begitu berat Bunga mendekat ke arah Rajendra.


"Tuan memanggil saya?" tanya Bunga dengan pelan.


"Ya! Duduk!" ujar Rajendra dengan tegas.


Bunga dengan ragu duduk di kursi dan berhadapan dengan Rajendra yang begitu sangat tampan pagi ini. Bunga merutuki dirinya sendiri yang memuji Rajendra di dalam hati, seharusnya ia tidak boleh seperti itu karena bagaimanapun Rajendra sudah menikah dan dirinya tak pantas menyukai Rajendra.


"Kamu tahu apa yang membuat kamu saya panggil ke ruangan saya?" tanya Rajendra dengan datar.


Namun, gelengan dengan wajah polos dari Bunga membuat Rajendra terkekeh di dalam hati tetapi wajahnya begitu terlihat dingin yang membuat Bunga takut.


"S-saya berbuat salah, Tuan?" tanya Bunga dengan terbata.


"Menurutmu? Bagaimana jika saya membunuh papa kamu sekarang juga?" tanya Rajendra dengan tajam.


"J-jangan, Tuan. Saya tahu papa banyak memiliki kesalahan dengan keluarga, Tuan. Tapi saya mohon jangan bunuh papa saya," ujar Bunga dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa saya harus menuruti kemauan kamu? Saya bisa saja membunuh papa kamu sekarang karena dia telah menyuruh orang untuk melecehkan keponakan saya. Kamu tahu Frisa Danuarta Abraham, bukan?" ujar Rajendra dengan bertanya.


"K-karena saya hanya mempunyai kedua orang tua saya, Tuan. Saya tidak mempunyai siapa-siapa selain kedua orang tua saya, Tuan. Saya tahu, Tuan. Dia adalah keponakan, Tuan. Dan CEO perusahaan Abraham," sahut Bunga dengan lirih.


Tak ada yang tahu jika sekarang detak jantung Bunga menggila karena rasa takutnya jika ancaman Rajendra benar-benar akan di lakukan. Jika itu terjadi maka dia sendiri di dunia ini.


Brak...


Bunga terkejut saat Rajendra menggebrak meja dengan kuat, ia sudah sering di bentak oleh kedua orang tuanya dan entah mengapa bentakan dari Rajendra benar-benar membuat hatinya berdenyut sakit dan air matanya mengalir begitu saja di pipinya.


Rajendra mencolos. Namun, wajahnya menatap Bunga dengan tajam. "Papa kamu sudah melukai keluarga saya. Saya tidak akan memberikan ampunan kepada dia. Tapi kamu tenang saja saya tidak akan membunuh dia sekarang karena itu terlalu cepat bagi saya, saya ingin mentalnya jatuh dan ia bunuh diri tanpa saya mengotori tangan saya. Saya kejam? Tentu! Karena saya melindungi keluarga saya dari orang-orang tak berguna seperti Roby. Jika kamu tak ingin papamu mati sekarang turuti kemauan saya dan jangan pernah kamu menolaknya atau keluarga kamu dan kamu tidak pernah hidup tenang," ujar Rajendra mengancam Bunga.


"T-tuan..." Bunga bergetar ketakutan saat melihat wajah Rajendra yang begitu sangat menakutkan sekarang.


Bunga terkejut saat Rajendra berdiri dan wajah mereka sangat dekat. "Mulai saat ini kamu akan menjadi sekretaris saya! Dengar Bunga, di manapun kamu berada saya akan terus mengawasi setiap gerak-gerik kamu. Jika kamu mencoba berkhianat kepada saya, kamu akan tahu akibatnya!" ujar Rajendra dengan tajam.


"T-tapi saya tidak mempunyai pengalaman bekerja menjadi sekretaris, Tuan. S-saya hanya lulusan SMA," ucap Bunga terbata.


"Kamu punya otak, kan? Belajar!" ujar Rajendra dengan tajam yang menghunus hati Bunga.


"I-iya, Tuan!" jawab Bunga tak mau membantah ucapan Rajendra kembali.


"Sepulang kantor berikan paket kepada papamu! Katakan saja paket itu di titipkan pada kamu untuk kamu berikan kepada Roby," ujar Rajendra dengan datar.


"P-paket apa, Tuan?" tanya Bunga dengan takut-takut. Karena ia takut isi paket tersebut akan sama seperti paket-paket sebelumnya.


"Kamu tidak perlu tahu sekarang! Lihat saja di rumah nanti! Sekarang keluar dari ruangan saya! Dan ingat kamu sekretaris saya sekarang! Nanti ada orang kepercayaan saya yang akan membimbing kamu dalam bekerja! Ingat saya tidak mau ada kesalahan sedikitpun!" ujar Rajendra dengan tajam.


"Keluar sekarang!" ujar Rajendra dengan tegas.


Bunga mengangguk dengan cepat. "P-permisi, Tuan!" ucap Bunga dengan memberi hormat kepada Rajendra setelah itu ia berjalan cepat keluar dari ruangan Rajendra yang membuat dadanya begitu sesak, dan ia tidak bisa bernapas dengan lega. Semakin hari hidupnya tertekan bekerja di sini tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Rajendra tanpa Rajendra ketehui jika ia sedang menebus semua kesalahan kedua orang tuanya terhadap keluarga Rajendra selama ini dengan menuruti semua kemauan Rajendra.


"Bunga, apapun yang terjadi kamu harus tetap berada di sini untuk menebus kesalahan papa kamu di masa lalu," gumam Bunga menyemangati dirinya sendiri.


*****


Gavin sudah sampai di rumah Ferdians dan Rania, ia ingin menjemput Frisa untuk berangkat ke kantor seperti biasanya.


"Ma, Frisa mana?" tanya Gavin dengan pelan.


Rania menghela napasnya dengan berat. Sepertinya Frisa benar-benar ngambek karena pagi-pagi sekali Frisa sudah berangkat dengan Cakra.


"Maafkan Mama, Gavin. Mama belum berhasil membujuk Frisa. Dan Frisa sudah berangkat ke kantor bersama dengan Cakra tadi. Frisa tak seceria biasanya, anak itu begitu dingin pagi ini bahkan tak sekali pun Frisa menjawab pertanyaan kami. Bahkan dia tidak sarapan sama sekali," ucap Rania menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Ma. Saya akan mengikuti permainan Frisa. Mama tenang saja saya akan menaklukkan Frisa," ujar Gavin dengan tersenyum tipis.


"Iya, Gavin. Mama percaya. Tolong berikan ini untuk Frisa biar dia sarapan dulu, takutnya dia jatuh sakit," ujar Rania yang khawatir memikirkan Frisa.


"Iya, Ma. Saya berangkat dulu ya, Ma!"


"Iya, Gavin."


Setelah mengucapkan salam Gavin melangkah pergi dari rumah Rania dan memasuki mobil untuk menuju ke kantor Frisa. Baiklah jika dengan cara lembut ia tak bisa memiliki Frisa maka dengan cara cuek dan dingin ia akan membuat Frisa mencintainya, keturunan Rania memang sangat berbeda. Semalam juga papanya sudah memberikan wejangan agar tak memaksa Frisa karena Sastra yakin sifat Frisa sama seperti Rania.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit akhirnya Gavin sampai juga di perusahaan. Cakra yang melihat Gavin langsung mendekat ke arah sahabatnya.


"Syukurlah lo datang. Gue langsung pulang dulu ya, biar lo baikan sama nona Frisa. Tahu gak lo? Wajah nona Frisa sama sekali tak bersahabat bahkan karyawan banyak yang kena amukan nona Frisa tadi," ucap Cakra dengan serius.


"Gue tahu!" jawab Gavin dengan datar yang membuat Cakra kesal.


"Untung lo sahabat gue kalau bukan udah gue tonjok wajah lo itu!" ujar Cakra dengan kesal.


"Tetap awasi kantor ini telepon Agam dan Melvin untuk mengawasi tempat ini," ujar Gavin dengan tegas lalu berlalu begitu saja meninggalkan Cakra yang terbengong.


"Kembali ke setelan awal itu anak," gumam Cakra dengan pasrah.


****


Tokk..tok...


"Masuk!" perintah Frisa dengan dingin.


Gavin masuk dengan langkah tegas dan membawa kotak bekal untuk Frisa, wajahnya tak lagi berekspresi seperti biasanya saat bertemu dengan Frisa.


"Nyonya Rania menyuruh saya untuk membawa makanan untuk, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.


"Letakkan di situ dan silahkan keluar dari ruangan saya!" ujar Frisa dengan dingin tanpa melihat ke arah Gavin.


"Baik!" jawab Gavin dengan singkat.


Gavin meletakkan kotak bekal itu di meja. "Nona!" panggil Gavin dengan sopan.


Terbiasa di panggil sayang oleh Gavin entah mengapa Frisa merasa panggilan nona membuat hatinya begitu hampa.


"Ya!" jawab Frisa dengan singkat.


"Maafkan atas kelancangan saya selama ini. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi, mulai sekarang saya akan mengikuti permainan, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.


"Permisi!" ujar Gavin dengan cepat sebelum Frisa menimpali ucapannya.


Gavin keluar dari ruangan Frisa tanpa melihat ke arah Frisa sedikit pun yang membuat Frisa entah mengapa merasa kesal sendiri. Ia mengambil kotak makanan itu dengan kasar, ia merasa sangat lapar setelah tadi rasa laparnya entah hilang kemana. Frisa gelisah dengan perubahan sikap Gavin kepada dirinya.


Bahkan selama bekerja Frisa sama sekali tidak fokus karena biasanya Gavin selalu ada ke ruangannya. Tapi sampai makan siang pun pria itu tidak ada ke ruangannya yang membuat Frisa menghela napasnya dengan berat, kemarin ia terlalu marah dengan sikap Gavin dan sekarang ia bertambah marah ketika Gavin kembali seperti dulu lagi.


Saat jam pulang kantor sudah tiba, Frisa terburu-buru membereskan berkas miliknya dan keluar ruangannya, ia mencari keberadaan Gavin di meja kerjanya. Namun, Gavin sudah tidak ada di sana. Dengan menahan kekesalannya Frisa menuju lift seorang diri. Dan ternyata benar Gavin sudah ada di bawah, mata mereka beradu pandang tetapi Gavin sama sekali tidak tersenyum.


"Cakra sudah pulang ke rumah, Nona. Mau menunggu Cakra atau pulang bersama dengan saya?" tanya Gavin dengan serius.


"Pulang!" jawab Frisa dengan ketus.


Gavin mengangguk, setidaknya ia bahagia karena Frisa masih mau pulang bersama dengan dirinya. Seperti biasanya Gavin akan membukakan pintu untuk Frisa, keheningan terjadi di dalam mobil. Tak ada yang bersuara sedikit pun kali ini, Frisa melirik ke arah lengan Gavin yang masih terluka, ia melihat darah ada di perban Gavin. Gavin yang tahu Frisa melirik ke arah lukanya hanya bisa tersenyum tipis melihat Frisa yang masih mengkhawatirkan dirinya.


Gengsi yang ada di hati Frisa membuat Frisa tak ingin bertanya walaupun di dalam hatinya ia sangat mengkhawatirkan Gavin karena darah itu sudah membuat perban berwarna putih itu menjadi merah. Sedangkan Gavin menahan sakit di lengannya karena sepertinya lukanya kembali terbuka karena ia terlalu banyak bergerak tadi bahkan lengannya juga tadi tak sengaja menyenggol pinggiran meja. Setelah sampai di rumah nanti barulah Gavin akan mengganti perban, untuk saat ini sakitnya masih bisa ia tahan.