
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Melvin, Cakra, dan Agam tampak menggigil karena tubuh mereka sudah berendam di air es tinggal menyisakan kepala mereka saja. Sudah satu jam mereka berendam dan tubuh mereka sudah sangat kedinginan sampai ke tulang.
"Ini semua gara-gara lo, Melvin. Gue sama Agam enggak tahu apa-apa terus dapat hukuman seperti ini. Salah kami di mana coba?" ujar Cakra menyalahkan Melvin.
"Benar tuh! Melvin yang menolak nona Frisa tapi kita juga yang kena hukum," ujar Agam dengan menggigil.
"Kalian juga salah! Nona Frisa melihat kalian tertawa makanya kalian kena hukuman bareng gue," ujar Melvin dengan datar.
"Gue sama Cakra bukan menertawakan nona Frisa tapi lo!" ujar Agam dengan tegas.
"Sama saja...."
"Kenapa kalian ribut-ribut mau ditambah hukumannya?" tanya Frisa dengan dingin yang membuat ketiganya langsung terdiam tak berani bersuara.
Ketiganya tak lagi saling menyalahkan satu sama lain karena kehadiran Frisa yang membuat ketiganya sangat takut, Frisa yang sekarang terlihat sangat menyeramkan sekali.
Derap langkah kaki terdengar. Melvin, Cakra, dan Agam yang melihat kedatangan sahabatnya mencoba memasang wajah memelas mereka. Gavin cukup terkejut dengan apa yang terjadi dengan ketiga sahabatnya, Gavin benar-benar tidur dengan nyenyak hingga ia tidak mendengar apa yang terjadi di luar dan setelah bangun tubuhnya kembali vit dan kepalanya tidak pusing lagi.
"Kenapa Melvin, Cakra, dan Agam di hukum, Nona? Apa kesalahan mereka?" tanya Gavin dengan bingung.
"Tidak usah banyak tanya atau kamu mau ikut di hukum seperti mereka?" ujar Frisa dengan datar.
Gavin langsung terdiam. Ia menebak di dalam hati pasti ketiganya di hukum karena Melvin menolak Frisa. Jika tebakan itu benar, Gavin tidak tahu harus senang atau biasa saja.
Gavin duduk di kursi memandangi sahabatnya yang menatap tajam ke arah dirinya. Namun, Gavin tidak merasa takut, ia terlihat biasa saja seakan tak ada rasa kasihan untuk ketiga sahabatnya.
"Awasi mereka saya mau masuk!" ucap Frisa dengan tegas.
Setelah Frisa masuk ke dalam rumah Melvin, Cakra, dan Agam langsung menghela napasnya dengan lega.
"Kenapa kalian bertiga bisa di hukum?" tanya Gavin dengan santainya.
"Karena Melvin nolak nona Frisa. Coba lo pikir di mana letak kesalahan kami berdua? Melvin yang menolak nona Frisa kenapa kami yang terkena hukuman juga? Tubuh gue bisa jadi es juga lama-lama di tong ini," ujar Cakra dengan mengeluh.
"Coba kalian ngeluh terus protes di depan nona Frisa! Gue gak bisa berbuat apa-apa selain mengawasi kalian bertiga," ucap Gavin dengan santainya.
"Sial*n! Kalau gue berani sudah dari tadi gue ngeluh dan protes dengan nona Frisa! Bantu kamilah keluar dari tempat ini," ujar Agam dengan memelas.
"Gue tidak bisa berbuat apa-apa! Ini sudah keputusan mutlak dari nona Frisa. Sebentar lagi juga hukuman kalian akan selesai," ujar Gavin yang membuat ketiga sahabatnya berdecak kesal.
"Sahabat macam apa lo? Tega banget lihat sahabatnya di hukum seperti ini," ujar Melvin dengan ketus.
"Nikmati saja hukuman kalian. Jarang sekali kalian merasakan tinggal di Kutub utara, kan? Gue masuk dulu," ujar Gavin dengan santainya.
"Gavin brengs*k!" teriak ketiganya dengan kesal tetapi Gavin hanya bisa tersenyum tipis.
****
Sedangkan Frisa sudah di interogasi dengan kedua orang tua dan kakaknya yang membuat Frisa sangat kesal.
"Memang apa kesalahan ketiganya sampai kamu menghukum mereka, Sayang?" tanya Rania dengan pelan.
Rania seakan sedang melihat dirinya sendiri ketika melihat Frisa. Dan ternyata itu sangat memusingkan, Rania baru sadar dengan kelakuannya dulu.
"Melvin menolak nona Frisa, Nyonya. Sehingga mereka terkena hukuman," jawab Gavin dengan santainya.
"APA?!" teriak ketiganya dengan terkejut yang membuat Frisa memerankan matanya dan merutuki ucapan Gavin.
"B-bagaimana bisa kamu menembak Melvin duluan, Sayang? Astaghfirullah... Frisa, kenapa dengan kamu?" tanya Rania memijat pelipisnya sendiri.
"GAVIN!" geram Frisa menatap tajam ke arah Gavin.
"Kenapa kamu katakan dengan orang tua dan kakak saya, hah? Kamu membuat saya malu!" ujar Frisa dengan berdecak kesal.
"Kenapa kamu marah dengan Gavin? Gavin tidak ada salah apa-apa? Cakra dan Agam juga, mereka tidak ada salah kenapa mereka kamu hukum juga?" tanya Ferdians dengan tak habis pikir kepada anaknya.
"Mereka berdua sudah menertawakan aku tadi karena Melvin menolakku! Aku kesal dengan ketiganya biarkan saja mereka mendapat hukuman itu," sahut Frisa dengan datar.
Faiz tidak tahu saja tingkah Frisa dan Rania tidak jauh beda. Jika Faiz tahu mamanya seperti itu juga entah bagaimana reaksi Faiz saat ini.
"Sudah-sudah tidak usah ribut lagi!" ujar Rania yang malas berdebat karena ia juga sadar dirinya seperti itu dulu.
Ferdians mendekat ke arah istrinya. "Sayang, Mas tidak menyangka Frisa menuruni sikap kamu," bisik Ferdians yang membuat Rania mendelik kesal jika tidak sedang bersama dengan kedua anaknya dan Gavin, Rania sudah memukul suaminya itu dengan keras, bisa-bisanya Ferdians berbicara itu.
Frisa menarik Gavin dengan kesal menjauh dari kedua orang tuanya dan kakaknya. "Kamu mau saya hukum juga?" tanya Frisa dengan tajam.
"Sekarang push up 50 kali!" ujar Frisa dengan ketus.
Tak banyak protes Gavin langsung tengkurap dan melakukan push up. Senyum licik menghiasi wajahnya saat ini, ia ingin mengerjai Frisa saja dan ia ingin melihat reaksi Frisa.
"Arghhh..." Tubuh Gavin ambruk yang membuat Frisa terkejut.
Gadis itu langsung terduduk menatap Gavin dengan khawatir. "Gavin, kamu kenapa?" tanya Frisa dengan cemas.
"Gavin!" ujar Frisa dengan panik bahkan gadis itu hampir menangis, dan dengan cepatnya rasa sakit hatinya kepada Melvin berubah menjadi rasa khawatir mendengar teriakan Gavin yang seperti kesakitan.
"Gavin bangun! S-saya janji tidak akan menghukum kamu lagi. Gavin!" ujar Frisa dengan panik menyentuh lengan Gavin dan menggoyang lengan Gavin dengan perlahan.
"Saya tidak apa-apa, Nona!" ujar Gavin dengan pelan lama-lama ia tidak tega melihat Frisa seperti ini.
"Kalau tidak apa-apa kenapa kamu teriak?" tanya Frisa dengan kesal.
"Saya kesemutan," ujar Gavin dengan berbohong karena ia hanya ingin melihat reaksi Frisa jika dirinya kenapa-napa. Dan Gavin cukup senang melihat reaksi Frisa yang mengkhawatirkan dirinya.
"Ish menyebalkan! Cepat push up lagi!" ujar Frisa dengan kesal.
Gavin meringis dan membuat Frisa tidak tega. "Ya sudah hukuman itu gagal," ujar Frisa dengan kesal.
Gavin tersenyum tipis, pria itu duduk di lantai. "Besok ikut saya, Nona. Saya akan memberitahu bagaimana Melvin di luar," ujar Gavin yang membuat Frisa menatap Gavin dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Frisa dengan bingung.
"Besok ikut saya saja, Nona. Anda akan melihat Melvin dan mengapa Melvin menolak anda," ujar Gavin dengan tegas.
"Oke..." ucap Frisa dengan singkat.
Gavin mengusap rambut Frisa dengan lembut. "Jangan sakit hati karena Melvin menolak anda, Nona!" ujar Gavin dengan serius.
"Siapa yang sakit hati coba," elak Frisa tak terima.
"Jika tidak sakit hati mengapa anda bisa menghukumnya?" tanya Gavin dengan terkekeh.
"Gavinn!! Mau saya hukum lagi?" ujar Frisa dengan tajam.
"Tidak, Nona!" jawab Gavin dengan tegas.
****
Gavin melihat ketiga sahabatnya di dalam kamar mereka masing-masing. Ya di rumah ini ada khusus kamar untuk para penjaga tetapi Gavin tidak tidur di kamar ini karena Ferdians dan juga Rania melarangnya.
Melvin, Cakra, dan Agam sudah masuk ke dalam selimut. Tubuh mereka sangat dingin dan menggigil hebat.
"Kalau begini terus hukumannya bisa-bisa gue mati," ujar Melvin dengan menggigil.
Gavin menggelengkan kepalanya. "Gak usah lebay! Ini minum obat deman supaya kalian enggak demam, itu juga ada teh hangat jangan lupa di minum," ucap Gavin dengan santai.
"Gimana besok kalau gue demam? Gue gak bisa ketemu sama cewek gue dong?" tanya Melvin dengan sendu.
"Heh ini semua gara-gara lo! Dan lo bisa-bisanya masih mementingkan cewek lo yang banyak itu? Sint*ng lo!" ucap Agam dengan kesal.
Dengan tangan gemetar Agam mengambil teh tersebut, hangatnya teh membuat tubuhnya sedikit mendingan. Dan cukup sekali saja ia di hukum seperti ini, Agam sudah trauma dan tak mau lagi.
"Berhenti menyalahkan gue! Kalian juga salah!" dengus Melvin tak terima.
"Berisik banget sih kalian. Gue mau tidur!" ujar Cakra dengan kesal.
Cakra menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia merasa kepalanya sudah pusing dan untung saja sudah meminum obat demam yang diberikan Gavin. Ternyata Frisa sangat menyeramkan ketika sedang marah, Cakra tak pernah melihat Frisa semarah ini. Ia tidak mau memancing amarah Frisa kembali, cukup sekali saja dan ini semua karena Melvin.
Ketiganya seakan terus saling menyalahkan yang membuat Gavin hanya bisa menghela napasnya dengan kesar. Kasihan juga melihat sahabatnya yang seperti ini karena hukuman dari Frisa.