Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 177 (Kepulangan Olivia)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...*****...


Olivia menatap kedua calon mertuanya dengan mata teduhnya, ia banyak mengucapkan terimakasih kasih kepada calon mertuanya tersebut.


"Ma, Pa, Terima kasih sudah mengizinkan aku tinggal di sini," ujar Olivia dengan lembut.


"Sama-sama, Sayang. Rumah ini juga akan menjadi rumah kamu nantinya. Mama dan papa akan ikut mengantarkan kamu pulang,* ujar Rania yang membuat Olivia sedikit kaget tetapi setelahnya ia tersenyum hangat karena kedua orang tua Faiz benar-benar menyayangi dirinya. Dan tidak ada alasan untuk Olivia tidak menyayangi keduanya, kan?


Mata Olivia berkaca-kaca, dan tak lama Faiz datang dari lantai dua. Pria itu mandi terlebih dahulu barulah ia siap mengantarkan Olivia pulang ke rumah kedua orang tuanya.


"Pakaian kamu tidak di bawa, Sayang?" tanya Faiz dengan lembut.


"Tidak usah, Mas. Aku pergi tidak membawa apa-apa masa pulang pakaian aku banyak banget. Pakaian itu biarkan untuk pakaian aku setelah kita menikah saja," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo sekarang kita pergi, Mas akan menjelaskan semuanya kepada ayah dan bunda kalau selama ini kamu di sini," ujar Faiz dengan tegas.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Jangan, Mas. Aku takut ayah marah sama kamu," ujar Olivia dengan takut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita jujur saja dengan kedua orang tua kamu," ujar Faiz dengan tegas, lebih baik ia jujur karena bagaimanapun itu adalah yang terbaik.


"T-tapi..."


"Kamu tenang saja nanti Faiz, papa dan mama yang akan berbicara. Semua akan aman, Sayang! Kamu tidak perlu takut," ujar Rania dengan tegas.


Akhirnya Olivia mengangguk dengan setuju, tetapi di dalam hati ia sangat takut kedua orang tuanya akan marah dengan Faiz. Olivia takut Faiz akan di hajar oleh ayahnya, tetapi melihat wajah serius Faiz yang sangat menenangkan dirinya membuat Olivia sedikit merasa aman dan lega.


Faiz menggandeng tangan Olivia dengan lembut, akhirnya Faiz, Olivia, Rania, Dan Ferdians keluar dari rumah menuju kediaman kedua orang tua Olivia.


****


Anjani melamun dengan pandangan yang amat kosong, ia duduk di halaman depan berharap Olivia pulang ke rumahnya dengan keadaan yang tak kurang suatu apapun, wajahnya terlihat pucat dan sendu seakan gairah hidupnya sudah tak ada lagi.


Rio menatap istrinya dengan sendu, ia sudah putus asa mencari anaknya. Rasa bersalahnya kian menumpuk melihat keadaan istrinya yang seperti ini, setiap hari melamun menatap gerbang rumah mereka menunggu kepulangan Olivia.


"Sayang, ayo masuk ini sudah hampir maghrib," ujar Rio dengan pelan menyentuh lengan Anjani dengan pelan tetapi membuat Anjani terkejut.


"Sebentar lagi, Mas. Olivia belum pulang," gumam Anjani dengan lirih.


"Sayang, ini sudah sangat dingin. Tidak baik di luar seperti ini sebentar lagi maghrib," ujar Rio dengan lirih.


Cassandra mengintip ayah dan bundanya dari balik jendela, selama Olivia hilang keduanya seakan tak mempedulikan Cassandra di rumah ini. Mengobrol hanya seperlunya saja dan setelah itu keduanya sibuk dengan Olivia, jika jadinya seperti ini Cassandra tidak akan mengatakan ini kepada Olivia karena pasti sampai saat ini kedua orang tuanya masih tetap membelanya. Cassandra menyesal dengan ucapannya waktu itu.


Cassandra melihat mobil mewah milik Faiz masuk ke rumah ini, ia melihat Olivia yang berada di dalam mobil Faiz membuat Cassandra panik. Cassandra langsung mengambil ponselnya dengan mengirimkan pesan untuk Olivia yang untungnya whatsapp kakaknya itu sudah aktif baru saja.


[Kak, tolong jangan katakan dengan ayah dan bunda jika aku yang memberitahu kakak soal yang waktu itu. Ayah sangat marah, bisa-bisa mengusirku dari rumah ini karena masalah waktu itu. Aku mohon ya, Kak. Aku tidak mempunyai keluarga lagi selain kalian, papa tidak peduli dengan aku sedangkan mama masih ada di rumah sakit. Aku mohon katakan jika kakak mengetahui semuanya dari buku nikah ayah dan bunda. Maafkan aku, kak]


Pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Olivia yang masih berada di dalam mobil untuk menguatkan hatinya.


"Pesan dari siapa, Sayang?" tanya Faiz saat melihat calon istrinya menatap ponselnya saja.


"Banyak pesan dari ayah dan bunda yang baru saja aku baca, Mas!" ucap Olivia dengan berbohong.


Olivia merasa kasihan dengan adiknya walaupun ia masih kesal dengan Cassandra, dirinya juga tidak tega jika sampai Cassandra di usir dari rumah.


"Ya sudah ayo kita keluar!" ujar Faiz dengan tegas.


Faiz, Olivia, Rania, dan Ferdians keluar dari mobil membuat Rio dan Anjani mematung karena keduanya melihat Olivia di antara Faiz, Rania, dan Ferdians.


"Olivia!" gumam Anjani dengan lirih.


Anjani langsung memeluk anaknya dengan sangat erat yang membuat Olivia menangis dan juga membalas pelukan ibunya. Rio ikut menyusul memeluk anaknya dengan menangis. Akhirnya Olivia pulang juga ke rumah ini dengan keadaan yang baik-baik saja.


Rio menatap Faiz, Rania dan Ferdians. "Terima kasih sudah menemukan anak saya," ujar Rio dengan tulus.


"Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian berdua," ujar Ferdians dengan tegas entah mengapa Ferdians masih sangat waspada dengan Rio, ia takut pria itu masih mencintai istrinya maka dari itu ia memeluk pinggang Rania dengan erat yang membuat Rania menghela napasnya dengan berat, suaminya ini tidak pernah berubah. Pikir Rania di dalam hati.


"Ayo masuk dulu kita bicarakan ini di dalam!" ujar Rio dengan tegas.


Anjani tak melepaskan pelukannya dengan Olivia, ia menciumi wajah anaknya dengan penuh kerinduan yang membuat Olivia semakin merasa bersalah dengan bundanya.


Rio menyuruh mereka semua untuk duduk. Sedangkan Olivia sudah di apit oleh kedua orang tuanya. Rio maupun Anjani memegang tangan Olivia dengan erat, seakan rasa rindu itu belum hilang sedikitpun dari keduanya.


"Sekali lagi saya berterima kasih kepada kalian semua yang telah menemukan anak saya," ujar Rio dengan tulus.


"Kami tidak menemukan Olivia. Sejak awal memang Olivia berada di rumah saya," ujar Ferdians dengan tegas.


"M-maksud kalian Olivia tinggal di rumah kalian selama ini? Kalian menyembunyikan Olivia dari kami?" tanya Rio dengan tajam.


"Kami tidak ada menyembunyikan Olivia! Dia butuh waktu untuk memenangkan diri! Tolong jangan salah paham seperti ini," ujar Rania dengan tajam.


"Benar, Yah. Terserah Ayah mau beranggapan jika kami menyembunyikan Olivia tetapi bukankah lebih baik Olivia berada di rumah kami daripada di luar sana dengan hati yang masih terluka seperti kemarin karena belum bisa menerima keadaan yang sebenarnya. Bisa-bisa banyak orang jahat yang akan menyakiti Olivia di luar sana jika Olivia tidak tinggal di rumah kami," ujar Faiz dengan tegas.


Rio masih belum bisa menerima ini karena Faiz dan yang lainnya sudah berbohong kepada dirinya. "Kalian tidak tahu betapa tersiksa kami kehilangan Olivia," ujar Rio dengan tajam.


"Lebih tersiksa Olivia di rumah ini dengan sikap kalian yang selalu membela Cassandra! Kalian tahu tidak jika perbuatan kalian itu sangat menyakiti hati putri kalian!" ujar Rania dengan tajam yang membuat Rio terdiam.


"Sudahlah memang susah berbicara dengan orang yang tak mempunyai perasaan!" ujar Rania dengan kesal. Rasanya ia ingin sekali memukul wajah Rio hingga terpental di lantai.


"Maaf, ini memang salah kami!" gumam Rio pada akhirnya.


"Iya ini memang salah kalian. Memangnya ini salah siapa?" ujar Rania dengan sarkas.


"Iya, Mbak. Kami sadar kami salah," gumam Anjani dengan lirih.


"Minta maaf dengan Olivia bukan kepada kami! Kalau begitu kami pulang dulu," ujar Rania yang mulai melunak.


"Sayang, Mas pulang dulu ya!" ujar Faiz tersebut kepada Olivia.


"Iya, Mas. Terima kasih untuk semuanya," ucap Olivia dengan tersenyum tipis.


Faiz, Rania, dan juga Ferdians mengangguk. Ketiganya berjalan ke luar rumah Rio di antar oleh Rio. Berulang kali Rio mengucapkan terima kasih dan permohonan maafnya kepada Ferdians dam juga Rania.


Setelah mereka benar-benar pulang Rio kembali menghampiri anak dan istrinya yang masih berpelukan.


"Sayang katakan pada ayah siapa yang memberitahu kamu soal waktu itu? Apakah Cassandra yang memberitahu kamu," tanya Rio menatap anaknya dengan serius.


Saat ingin berbicara Cassandra dan Agni datang dari kamar mereka.


"Kakak!"


"Olivia!"


Cassandra dan Agni langsung memeluk Olivia dengan erat yang membuat Rio kembali kesal karena ia belum mendengarkan jawaban anaknya.


"Katakan sekarang Olivia siapa orangnya?" tanya Rio dengan tegas yang membuat Cassandra sangat takut sedangkan Agni dan Anjani menunggu jawaban dari Olivia saat ini.


Olivia melirik ke arah Cassandra yang tampak gelisah dan takut. Olivia yang tak tega pun tidak ingin mengatakan yang sejujurnya asiknya kedua orang tuanya, jika benar nanti Cassandra di usir, adiknya itu akan tinggal di mana?


"Tidak ada yang mengatakannya, Yah. Aku melihat di buku nikah ayah dan bunda. Aku sangat syok karena pernikahan ayah dan bunda tidak jauh dengan tanggal kelahiranku," jawab Olivia dengan lirih. "Tapi selama aku tinggal di rumah mama Rania, aku sudah merenungkan semuanya, aku sudah menerima takdir kehidupanku yang nantinya tidak bisa di nikahkan oleh ayah," lanjut Olivia dengan dada yang berdenyut sakit.


Rio kembali memeluk anaknya. "Maafkan Ayah dan bunda ya, Nak! Ayah janji akan memperbaiki semuanya," gumam Rio.


Olivia membalas pelukan ayahnya. Rasa rindunya sudah terobati sekarang, kembali pulang ke rumah mungkin jalan yang terbaik karena sebentar lagi juga ia akan menikah dengan Faiz.


Sedangkan Cassandra terlihat sangat lega karena Olivia tidak mengatakan yang sebenarnya, posisi dirinya di rumah ini masih sangat aman. Ia juga tidak akan mengambil barang Olivia lagi karena bisa-bisa Rajendra tidak jadi menikahi dirinya. Lebih baik mencegah semuanya agar rencananya berjalan dengan lancar.