
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rania dan Ferdians langsung menuju ke rumah sakit setelah dokter memberitahukan bahwa keadaan ibu mereka kembali buruk. Raut wajah Rania dan Ferdians tidak bisa di tebak lagi, kekhawatiran sangat jelas terlihat di wajah mereka ketika keduanya sudah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang menangani Heera.
"Ada yang harus saya bicarakan kepada Nona dan Tuan sekarang," ujar dokter dengan tegas dan raut wajah yang tidak bisa di tebak oleh keduanya yang membuat keduanya bertambah khawatir.
"Mari ke ruangan saya!" ucap dokter yang di angguki oleh Rania dan Ferdians.
Rania dan Ferdians mengikuti langkah dokter untuk masuk ke ruangannya. Keduanya duduk setelah di persilahkan duduk, hembusan napas dokter tersebut membuat Rania dan Ferdians sangat takut.
"Ada apa, Dok? Keadaan ibu saya baik-baik saja, kan?" tanya Ferdians dengan cemas.
Dokter tersebut menyatukan kedua tangannya di meja dengan menatap Ferdians dan Rania secara bergantian.
"Mohon maaf sebelumnya jika apa yang saya sampaikan membuat kalian berdua bersedih tetapi keadaan ibu Heera benar-benar sudah sangat buruk saat ini ia hidup hanya dengan menggunakan alat bantu saja sekarang dan ketika alat bantu medis tersebut di lepas maka ibu Heera sudah tidak bisa terselamatkan dalam artian ibu Heera sudah meninggal dunia. Kanker yang menyerang ibu Heera sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Saya dan tim yang lainnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ujar dokter yang membuat Rania dan Ferdians sangat syok bahkan Rania langsung meneteskan air matanya karena tak mungkin ibu mertuamu pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
"Tidak mungkin, Dok. Ibu saya pasti akan sadar," ujar Rania masih tak percaya dengan apa yang dokter sampaikan kepadanya.
Dokter tersebut menggelengkan kepalanya. "Apa yang saya katakan benar adanya, Nona. Ibu Heera bisa bertahan karena alat medis yang terpasang di tubuhnya dan ketika alat itu di lepas ibu Heera sudah tidak bernapas lagi," ujar dokter dengan berat hati karena ia tahu bagaimana kesedihan setiap keluarga pasiennya mendapatkan kabar yang buruk.
"Saat ini keputusan ada di tangan Nona dan Tuan. Tetap membiarkan ibu Heera hidup dengan alat medis tersebut atau melepaskan semua alat medis dan mengikhlaskan kepergiannya. Ibu Heera juga tersiksa dengan keadaan ini," ujar dokter dengan pelan.
Ferdians langsung memeluk istrinya dengan erat. Yang tadinya ia bisa menahan tangisnya akhirnya pecah juga. Sebagai seorang anak Ferdians benar-benar bimbang sekarang, ia juga tidak mau kehilangan ibunya tetapi ia juga kasihan jika ibunya tersiksa karena Ferdians menahan ibunya untuk tetap hidup.
"Mas, aku tidak mau kehilangan ibu hiks..." ujar Rania dengan terisak.
"Jangan lepas alat medis ibu, Mas. Aku yakin ibu nanti bangun. Jangan ya, Mas!" mohon Rania menatap suaminya dengan berlinang air mata.
Ferdians juga tidak tega melihat istrinya seperti ini. "Sayang, ibu..."
"Tidak boleh, Mas! Jangan lepas alat medis ibu ya, Mas. Aku mohon!" ujar Rania dengan terisak.
"Iya, Sayang. Mas tidak akan menyuruh dokter melepaskan alat medis ibu! Kamu yang tenang ya," ujar Ferdians dengan menangis.
"Dok, kami akan tetap mempertahankan ibu. Jangan lepaskan alat-alat medis yang ada di tubuh ibu," ujar Ferdians dengan lirih.
Dokter tersebut tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan keluarga pasien. "Baiklah, Tuan. Saya harap ini adalah keputusan yang terbaik," ujar dokter tersebut dengan tegas.
"Terima kasih, Dok!" ujar Ferdians dengan lirih.
****
Rania berlari masuk ke ruangan ibu mertuanya dan memeluk Heera dengan erat, ia sudah pernah kehilangan mamanya. Jadi, tidak salahkan Rania mempertahankan mertuanya saat ini karena Rania belum siap untuk kehilangan Heera?!
Ferdians menyeka air matanya dengan kasar, keluarga satu-satunya yang ia punya saat ini adalah ibunya. Hati anak mana yang tidak hancur ketika di kabarkan jika ibunya hanya bertahan dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya lalu ketika alat itu di lepas ibunya dinyatakan sudah tidak bernyawa lagi.
"Bu!" gumam Ferdians dengan berbisik di telinga ibunya.
"Ferdians dan Rania belum siap kehilangan ibu. Ibu bertahan demi Ferdians, Rania, Faiz, dan Frisa ya bu. Ferdians tahu ibu juga sudah merindukan ayah dan juga Ferry, tapi kami di sini jauh lebih membutuhkan ibu. Bertahan ya, Bu," ujar Ferdians di telinga Heera.
Tak ada respon sama sekali dari Heera. Yang terdengar adalah alat medis yang untuk mendeteksi jantung ibu Heera. Ferdians menyeka air matanya dengan perlahan, ini adalah mimpi buruk untuknya tetapi ia harus kuat karena Rania terlihat lebih terluka sekarang.
"Sudah ya. Twins pasti akan merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, jangan sampai mereka rewel juga," ujar Ferdians menenangkan istrinya.
"Aku tidak mau kehilangan ibu, Mas. Sudah cukup aku kehilangan mama hiks," ujar Rania dengan terisak memeluk suaminya.
"Iya, Sayang. Sudah ya! Jangan nangis ibu juga pasti sedih melihat kamu seperti ini," ujar Ferdians berusaha untuk tegar di hadapan istrinya walaupun sebenarnya saat ini harinya hancur.
Drrtt..drrrtt...
Ponsel Rania berdering. Dengan menyeka air matanya, Rania mengangkat telepon yang masuk.
"Halo, Sus!"
[Nona, Tuan kecil Faiz dan nona kecil Frisa sejak tadi tidak berhenti menangis. Kami sudah memberikan asi tetapi tetap saja mereka tidak mau] ujar suster Riri dengan panik.
"Kami akan segera pulang. Tenangkan kedua anak saya dulu," ujar Rania dengan tegas.
[Baik, Nona]
"Kenapa, Sayang?" tanya Ferdians dengan cemas.
"Faiz dan Frisa rewel, Mas. Mereka juga tidak mau minum susu. Ayo kita pulang dulu, Mas. Tapi sebelum itu tolong minta suster untuk terus pantau ibu," ujar Rania.
"Iya, Sayang. Ya sudah ayo kita pulang," ujar Ferdians dengan tegas karena bagaimanapun kedua anaknya juga membutuhkan ia dan Rania.
****
Setelah sampai di rumah Ferdians dan Rania di sambut dengan tangisan twins F yang sangat kencang.
"Hei, Sayang. Kenapa?" ujar Rania menggendong Frisa sedangkan Ferdians menggendong Faiz.
Tangis twins F semakin kencang yang membuat Rania dan Ferdians panik. " Kita ke kamar ya," ujar Rania dengan panik tetapi ia berusaha tetap biasa saja.
"Ini susunya juga belum ada di minum, Nona!" ujar suster Putri dengan panik.
"Biarkan saja. Biar saya beri asi langsung," ujar Rania membawa anaknya ke kamar diikuti oleh Ferdians yang juga sangat khawatir dengan anaknya.
"Sayang, ini gimana? Mas takut," ucap Ferdians dengan jujur.
"Aku kasih asi dua-duanya, Mas. Siapa tahu diam. Mas bantu aku ya," ujar Rania.
"Iya, Sayang!" ujar Ferdians meletakkan Faiz di pangkuan Rania juga.
Saat ini posisi Rania sedang bersender di kepala ranjang, ia memberikan asi langsung kepada Frisa dan Faiz secara bersamaan. Jika Faiz dan Frisa tidak diam maka keduanya sangat bingung harus apa nantinya. Tapi untung saja tangis keduanya perlahan berhenti.
Ferdians menyeka air mata anaknya dengan perlahan. "Faiz sama Frisa kenapa hmm? Mama sama Papa cuma pergi sebentar loh," ujar Ferdians mengajak anaknya bercerita tetapi kedua bayi itu hanya melihat ke arah Ferdians dengan masih menyusu pada mamanya.
"Mungkin mereka merasakan kesedihan yang kita rasakan, Mas!" ujar Rania menatap anaknya dengan dalam.
"Jangan buat se-isi rumah panik lagi ya, Sayang. Faiz dan Frisa harus menjadi anak baik," ujar Rania dengan lembut.
Ferdians tersenyum walaupun di dalam hatinya ia masih terluka. "Bu, lihatlah kedua cucu ibu. Apa ibu tega meninggalkan mereka?" gumam Ferdians di dalam hati.