
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Ferdians sedang mengobrol bersama dengan Rania dan juga para keluarga istrinya. Mereka tampak dengan obrolan seru malam ini. Sedangkan Agni dan Clara tampak tersenyum licik, keduanya sudah tak sabaran ingin melihat kehancuran Rania, mereka ingin Rania mati secepatnya seperti Dewi yang mati mengenaskan karena ulah mereka juga. Keduanya masih bisa bernapas lega karena berhasil memfitnah sahabat dari Ben hingga Eric menjadi tersangka atas kejahatan yang mereka lakukan. Kelakuan dua manusia ular itu memang sangat membahayakan sekali, bahkan keduanya ingin semua keluarga Danuarta mati hingga harta Danuarta jatuh ke tangan mereka.
Tak jauh berbeda dari Agni dan Clara, Alex juga sedang memandang Citra dengan penuh damba, ia sudah lama menyukai Citra tetapi wanita itu sama sekali tak menyukainya. Untuk malam ini Alex harus memiliki Citra dengan cara licik karena dengan cara halus ia tidak mendapatkan Citra.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi milik saya Citra," gumam Alex di dalam hati.
Rania tampak nyaman saat Ferdians tak melepaskan genggaman tangannya dari istrinya. Dalam satu meja yang besar mereka semua berkumpul. Mereka tak tahu jika ada bahaya yang sedang mengintai mereka.
"Permisi!" ujar dua pelayan yang datang membawa minuman untuk semua orang yang duduk di meja.
Clara menatap wanita yang berpura-pura menjadi pelayan, dengan gerakan matanya Clara memberikan kode agar wanita itu tak salah memberikan minum yang sudah di campur dengan obat perangsang. Wanita tersebut mengangguk mengerti.
Sedangkan Alex juga menatap pelayan yang satunya lagi, ia sudah tak sabaran ingin memiliki Citra seutuhnya walaupun harus secara licik seperti ini asal Citra menjadi istrinya semuanya akan beres, ia tahu Citra bakal marah kepadanya tetapi Alex pastikan jika itu tidak berlangsung lama ketika nanti Citra mengandung anaknya.
"Terima kasih!" ujar Heera dan suster Ana mewakili yang lainnya.
Kedua pelayan tersebut mengangguk tetapi ada satu pelayan yang terlihat bingung. "Duh aku lupa minuman yang mana untuk tuan Ferdians, semoga saja tidak salah memberikannya ke yang lain. Bisa-bisa uang yang sudah ada di tangan lenyap karena aku salah memberikan minuman ke tuan Ferdians," gumam pelayan tersebut di dalam hati.
Sedangkan pelayan yang satunya memberikan kode jempol ke arah Alex karena ia sudah berhasil memberikan minuman itu ke Citra. Alex mengangguk dengan tersenyum tipis karena sebentar lagi ia akan memiliki Citra seutuhnya.
"Kamu haus, Sayang?" tanya Ferdians dengan lembut kelada Rania.
"Haus tapi aku mau air mineral saja, Mas. Aku tidak mau bolak-balik ke kamar mandi karena buang air kecil," jawab Rania dengan pelan karena memang sudah beberapa kali Rania ke kamar mandi untuk buang air kecil.
"Ya sudah ini, Sayang!" ujar Ferdians memberikan gelas berisi air meneral untuk istrinya.
Sedangkan Ferdians juga meminum minumannya dengan tenang. Mereka tak ada yang curiga seperti sebelum-sebelumnya bahkan Sastra sudah mengawasi tempat ini dan tak ada yang mencurigakan makanya lelaki itu terlihat tenang di tempatnya.
"Mas temani ke toilet," bisik Rania yang membuat Ferdians terkekeh.
"Iya, Sayang!" ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Pa, Kek, Bu, Ferdians mau temani Rania ke toilet dulu ya," ujar Ferdians berpamitan.
"Lagi?" tanya Ben dengan tak percaya.
"Ibu hamil, Pa!" jawab Ferdians dengan terkekeh yang membuat Ben dan yang lainnya maklum.
"Hati-hati jangan lama-lama," ujar Ben yang membuat Ferdians mengangguk mengerti.
Ferdians menemani istrinya, ia menjaga Rania. Ferdians tidak ingin lengah seperti waktu itu, kali ini kandungan Rania sudah membesar dan Ferdians tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Ma berapa lama obat itu beraksi? Ferdians sudah meminumnya tapi mengapa dia masih terlihat biasa saja," bisik Clara dengan pelan kepada Agni.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang. Suruh wanita itu untuk menyusul Ferdians dan Rania, setelah Rania masuk ke dalam toilet suruh wanita itu melancarkan aksinya," jawab Agni yang di angguki oleh Clara.
Clara mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk wanita yang sudah ia suruh untuk menggoda Ferdians.
[Segera ikuti Ferdians dan Rania ke arah toilet setelah Rania masuk langsung goda saja Ferdians. Saya yakin obat itu sudah bekerja sesuai dengan rencana kita]
[Baik, Nona!]
Clara tersenyum setelah mendapatkan balasan dari wanita tersebut hingga ia menunggu waktu di mana rencananya akan berjalan sesuai dengan harapannya.
"Ekhem..." Ben mengusap tengkuknya dengan gerakan perlahan, ia merasa aneh dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja terasa panas, gelenyar aneh di dalam tubuhnya membuat Ben kepanasan. Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.
"Kenapa, Ben?" tanya Doni kepada anaknya yang terlihat sangat gelisah.
"Tidak ada, Pa!" jawab Ben dengan serak.
"Ada apa dengan tubuhku sebenarnya?" gumam Ben merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Ini sudah malam sebaiknya kita kembali ke kamar masing-masing," ujar Doni.
"Hmmm sepertinya menginap lebih baik Tuan Doni," ujar Alex dengan tersenyum karena dengan begitu memudahkan dirinya untuk memiliki Clara seutuhnya.
"Ya sudah saya dan yang lainnya akan ke kamar masing-masing untuk beristirahat," ujar Doni yang di angguki oleh Alex.
Sedangkan Clara ia sudah tak tahan dengan rasa panas yang ia rasakan di dalam tubuhnya mencoba berdiri.
"Panas!" gumam Citra dengan pelan.
Sastra memperhatikan mantan istrinya dengan lekat, pasti sesuatu sudah terjadi dengan Citra hingga wajah Citra terlihat berubah dengan mata yang terlihat gelisah.
"Citra ayo kita pergi. Sebaiknya kamu juga menginap di hotel ini saja, tidak baik wanita pulang sendirian malam-malam seperti ini," ujar Alex dengan tenang.
"I-iya, Pak!" ujar Citra dengan gelisah ia tak lagi memikirkan apapun selain rasa panas di tubuhnya yang membuat Citra merasa aneh, ia tidak dapat menahan sesuatu di dalam dirinya saat ini hingga Citra berjalan cepat meninggalkan kerumunan orang-orang, ia ingin ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa panas pada tubuhnya.
Tak jauh berbeda dengan Citra. Ben juga tampak sama, lelaki itu juga tidak bisa menahan rasa panas pada tubuhnya yang membuat Ben juga ingin segera pergi ke kamarnya.
Tetapi tak ada yang curiga dengan apa yang terjadi pada Ben maupun Citra hanya Sastra yang menyadari keanehan pada mantan istrinya dan entah mengapa ia ingin sekali mengikuti Citra sekarang, Sastra takut terjadi sesuatu dengan mantan istrinya.
"Shittt.... Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Citra. Apakah ini semua rencana Alex? Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini?" umpat Sastra di dalam hati mengikuti Citra dan Alex dari belakang.
****
Ferdians masih menunggu istrinya dengan sabar di depan pintu hingga datang seorang wanita dengan pakaian seksi.
"Hai..." sapa wanita itu tetapi Ferdians sama sekali tak menanggapi wanita seksi tersebut.
Wanita itu semakin mendekati Ferdians, dengan mata nakalnya ia terus menggoda Ferdians.
"Sendirian aja ganteng?" tanya wanita itu dengan jari telunjuknya ia masukkan ke dalam mulut dan menggigitnya dengan perlahan bermaksud untuk menggoda Ferdians.
Sayangnya Ferdians sama sekali tak tergoda yang membuat wanita seksi itu bingung, seharusnya Ferdians terangsang dengan godaannya, dan tubuh Ferdians pasti mengalami panas seperti reaksi obat yang sudah pelayan berikan. Tapi kenapa Ferdians terlihat biasa saja?
Ferdians mundur untuk menjauh dari wanita penggoda tersebut. Ia merasa iijik dengan perempuan murahan seperti wanita yang berada di hadapannya.
Dan dengan beraninya wanita itu mengelus dada Ferdians.
"Tangan anda tolong menyingkir dari saya!" ujar Ferdians dengan tajam.
"Ahhh.... Ayolah tampan temani saya malam ini. Saya akan memuaskan kamu," bisik wanita itu dengan sensual menyentuh dada bidang Ferdians dengan perlahan.
Tanpa disadari oleh wanita itu Rania keluar dari toilet dan langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat dirinya panas. Dengan santai Rania mendekat ke arah Ferdians dan wanita yang berusaha menggoda istrinya.
Crak....
Rania menarik tangan wanita yang sudah berada di dada suaminya dengan keras dan memelintir ke arah belakang hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Wanita murahan!" umpat Rania dengan tajam.
Rania menilai wajah wanita itu hingga ke kaki. "Berapa nilai tubuhmu? Berani sekali kamu menggoda suami saya. Dasar wanita rendahan!" ujar Rania yang sudah mengeluarkan suara beracunnya.
"L-lepas!" ujar wanita tersebut dengan kesakitan.
Rania semakin memelintir tangan wanita yang sudah membuat emosinya naik ke ubun-ubun.
"Arghhh..."
"Wanita murahan seperti kamu tidak level bersaing dengan saya. Suami saya tidak akan mau tergoda dengan wanita seperti anda! Pergi dari tempat ini sebelum anak buah saya menghabisi nyawamu," ujar Rania dengan dingin.
Rania mendorong wanita itu hingga terjatuh. Tangan yang sudah di pelintir oleh Rania tertindih tubuhnya yang membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"ARGHHH TANGANKU!" teriak wanita itu dengan menangis karena mungkin tangannya sudah patah.
Rania hanya menatap sinis ke arah wanita yang kesakitan. Ia menarik tangan Ferdians dengan kuat yang membuat Ferdians mematung di tempatnya menjadi tersadar, ia lupa jika istrinya adalah singa betina yang sangat buas.
"Itu baru tanganmu yang patah. Berani mendekati suami saya lagi maka seluruh tulangmu akan patah," ujar Rania dengan menyeringai yang membuat wanita itu bergidik ngeri dengan meringis kesakitan bahkan wanita itu sampai menangis karena ulah Rania.