
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Setelah puas bermain di pantai dan hari juga sudah mulai petang akhirnya Rajendra dan Bunga menuju ke penginapan yang memang berada di dekat pantai bahkan semua keluarganya sudah di dalam kamar masing-masing setelah mereka sudah puas dan merasa lelah menikmati suasana pantai.
Rajendra langsung membawa istrinya ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama karena badan mereka sudah sangat lengket terkena air pantai.
"Kita mandi sendiri-sendiri saja ya, Mas!" ujar Bunga dengan gugup.
"Kenapa? Kamu gugup?" tanya Rajendra dengan menyeringai menatap Bunga yang memang terlihat gugup.
"I-itu aku mau berendam. Iya, berendam Mas!" ujar Bunga dengan gugup.
"Mas juga mau berendam! Apa masalahnya kita berendam bersama? Toh kita juga sudah menjadi suami istri tadi pagi. Jadi, tidak akan ada yang melarangnya," ujar Rajendra dengan tegas dan tersenyum penuh misterius yang membuat Bunga menelan ludahnya dengan kasar.
Jika sudah seperti ini Bunga yakin tidak akan bisa lolos dari Rajendra sekarang karena pria itu pasti akan langsung meminta jatah kepada dirinya saat ini juga setelah mereka membersihkan diri.
Rajendra mengisi air di bathtub hingga penuh. "Ayo masuk, Sayang!" ujar Rajendra dengan lembut yang justru membuat Bunga merinding mendengarnya.
Mau tak mau Bunga juga ikut melepaskan seluruh pakaiannya seperti Rajendra dan masuk dengan perlahan di dalam bathtub dengan posisi ia dan Rajendra yang saling berhadapan.
Mata Rajendra tak lepas dari tubuh Bunga yang sangat terlihat seksi sekali di matanya malam ini. Namun, Rajendra tak mungkin melakukan di kamar mandi karena ini malam pertama mereka.
"Sayang pindah sini saja!" ujar Rajendra msnturuh Bunga untuk bersandar di dada bidangnya dengan posisi Bunga yang membelakangi Rajendra nantinya.
Bunga menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak mau, Mas! Tempat itu bahaya!" ujar Bunga dengan waspada.
Rajendra langsung tertawa mendengar ucapan Bunga yang sungguh sangat polos baginya.
"Apa yang bahaya, Sayang? Paling cuma junior Mas yang bangun. Kenapa kamu terlihat takut? Tapi di kantor kamu sudah meng*mutnya seperti permen! Mas pengen merasakan itu lagi, Sayang!" ujar Rajendra dengan frontal dan itu sungguh membuat kedua pipi Bunga memerah dan kembali mengingat kejadian itu kembali. Sungguh Bunga seperti wanita dengan n*fsu yang sangat tinggi saja saat ia melakukan itu kepada Rajendra.
"Apaan sih, Mas! Jangan bahas itu lagi dong. Aku malu!" ujar Bunga dengan lirih yang membuat Rajendra terkekeh.
"Makanya sini dong! Masa sama suami sendiri berjauhan seperti ini," ujar Rajendra dengan sedikit memohon.
Dan akhirnya Bunga berpindah tempat, ia berbalik menjadi memunggungi Rajendra dengan punggung yang menempel di dada bidang Rajendra.
"Nyamannya!" gumam Bunga dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Rajendra yang membuat Rajendra tersenyum senang mendengar ucapan istrinya sendiri.
Keduanya mandi bersama dengan tubuh yang sudah memanas menahan gairah yang ingin di salurkan secepatnya.
"Ayo, Sayang. Mas sudah tidak tahan!" ujar Rajendra yang membuat Bunga tersenyum malu-malu.
Setelah membilas tubuh mereka dengan air dingin. Rajendra langsung mengeringkan tubuhnya dan tubuh Bunga dengan handuk, setelah itu Rajendra menggendong Bunga untuk menuju kasur mereka.
Rajendra merebahkan Bunga dengan perlahan, ia menatap Bunga dengan begitu sangat dalam yang membuat Bunga menelan ludahnya dengan perasaan yang begitu sangat gugup.
"Boleh, kan?" tanya Rajendra dengan serak.
Seakan mendapatkan angin segar Rajendra langsung tersenyum, ia memulai dengan mencumbu Bunga dengan mesra. Ciuman Rajendra kali ini terkesan sangat tergesa-gesa dan sangat menuntut sekali yang membuat Bunga berusaha untuk mengimbangi ciuman suaminya.
"Eughh.... " Bunga melenguh sangat ciuman Rajendra berpindah di leher Bunga dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.
"Aaahhh... Mass..." Bunga membusungkan dadanya saat Rajendra memegang dadanya dengan gemas.
Rajendra terus mencumbu Bunga hingga suara Bunga terdengar semakin berat dan akhirnya tubuhnya bergetar dengan hebat. Napas keduanya terdengar sangat berat sekali, panas dari napas Rajendra membuat Bunga semakin bergairah, matanya sayu menatap Rajendra. Bunga ingin sentuhan lebih dari pada cumbuan Rajendra.
Bunga menelan ludahnya dengan kasar saat melihat milik suaminya terlihat berdiri dengan sangat tegang di depannya. Rajendra melebarkan paha istrinya dan mulai mengarahkan miliknya ke milik istrinya dengan perlahan.
Rajendra menggeram dengan tertahan saat miliknya sangat susah sekali masuk bahkan Bunga meringis kesakitan saat miliknya seperti robek karena terus di paksa.
"Aaarghhh..." erang Rajendra dan Bunga bersamaan kala milik Rajendra sudah masuk walaupun belum sepenuhnya.
Bunga tak sengaja mencakar punggung Rajendra dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Sayang kamu nangis? Apa sesakit itu?" tanya Rajendra dengan cemas.
"Tidak, Mas. Lanjutkan saja karena aku tahu awalnya akan terasa sakit seperti ini tetapi setelah terbiasa rasanya sangat membuat ketagihan bukan?! ujar Bunga dengan tersenyum tipis yang pada akhirnya membuat Rajendra juga ikut tersenyum
" Mas gerak ya?!" ujar Rajendra meminta persetujuan.
"Iya, Mas!" gumam Bunga dengan pelan.
Rajendra mulai bergerak dengan perlahan, suara kesakitan Bunga tadi kini berganti suara des*han yang semakin membangkitkan gairah Rajendra bahkan gerakan Rajendra semakin cepat hingga suara penyatuan mereka terdengar begitu nyaring bersaut-sautan dengan suara des*han keduanya.
Deburan ombak di luar seakan menjadi saksi keduanya sudah menyatu dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya tak peduli bagaimana kasur yang sudah berantakan karena aktivitas ranjang mereka.
****
Pagi harinya...
Rajendra mulai membuka matanya dengan perlahan saat sinar matahari masuk ke cela-cela jendela kamar mereka. Rajendra tersenyum saat yang pertama kali ia lihat adalah wajah Bunga yang tertidur dengan begitu nyenyaknya di pelukan dirinya dengan tubuh mereka yang masih sama-sama polos tanpa pakaian sedikitpun.
Rajendra menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Bunga bahkan Rajendra sama sekali tidak mengingat Cassandra, bagi Rajendra dunianya saat ini adalah Bunga bukan Cassandra. Karena Cassandra hanya akan menjadi istri sementara untuknya yang kehadirannya pun tak Rajendra anggap sama sekali.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Mas akan menjadikan kamu istri Mas satu-satunya. Tidak akan ada Cassandra di tengah-tengah kebahagiaan kita, Sayang!" gumam Rajendra dengan serius.
Rajendra mencium kening Bunga dengan pelan dan beralih pada bibir Bunga yang sedikit terbuka dan membuatnya begitu sangat gemas. Rajendra kembali mengingat percintaan panasnya dengan Bunga semalam suntuk yang membuat Rajendra begitu senang bahkan sangking senangnya Rajendra sejak tadi tidak berhenti tersenyum mengingat percintaan panas mereka yang benar-benar menguras tenaga Bunga.
Bunga yang merasa terganggu dengan ciuman di bibirnya membuat Bunga memaksakan matanya untuk terbuka walaupun terasa sangat berat.
"Mas Rajendra, aku masih ngantuk!" gumam Bunga dengan lirih seakan ingin protes terhadap apa yang Rajendra lakukan saat ini. Dan ajaibnya ketika Rajendra mengusap perutnya Bunga kembali tertidur yang membuat Rajendra terkekeh pelan.
"Cepat tumbuh di rahim mama ya, Sayang!" gumam Rajendra mengelus perut istrinya dengan lembut.
Terlihat sekali perubahan sikap Rajendra terhadap Bunga dan Cassandra. Jika terhadap Bunga, Rajendra sangat ingin segera memiliki anak. Namun, berbeda halnya dengan Cassandra, ia sama sekali tidak ingin mempunyai anak dari wanita itu. Dari sini sudah terlihat jika Bunga adalah wanita yang bisa membuat Rajendra jatuh cinta setelah hatinya patah tidak bisa memiliki Olivia.
Serumit apapun nanti rumah tangganya bersama dengan Bunga. Rajendra tidak akan melepaskan Bunga, ia akan mempertahankan Bunga di hidupnya.