Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 247 (Butuh Kamu)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Waktu terus berjalan begitu cepat sudah 3 bulan ini Olivia tinggal bersama dengan Faiz tetapi selama tinggal serumah Faiz selalu acuh tak acuh padanya yang membuat Olivia semakin tertekan dengan tubuh yang semakin kurus hanya saja perutnya yang sudah tampak membesar karena ia hamil anak kembar, tetapi walaupun Faiz memperlakukannya dengan sangat abai ia tidak pernah membenci Faiz bahkan tidak mengatakan perlakuan abai Faiz kepada orang tuanya, Olivia berusaha menjaga nama baik suaminya.


Malam ini Olivia menatap pintu kamar suaminya dengan menghela napasnya dengan berat, ia sangat menginginkan Faiz memeluknya dan keinginan itu tidak bisa terbendung sekarang.


Tok...tokk...


"Mas aku boleh masuk?" tanya Olivia dengan pelan.


"Ada yang ingin aku bicarakan dan ini sangat penting, Mas. Boleh ya aku masuk sebentar?!" ujar Olivia dengan pelan sambil mengelus perutnya dengan lembut.


Sedangkan Faiz yang mendengarnya sedikit bimbang antara membukakan pintu untuk Olivia atau membiarkan Olivia begitu saja. Tetapi mendengar suara memohon Olivia membuat langkah Faiz akhirnya sampai di depan pintu dan akhirnya memutuskan untuk membukakan pintu untuk Olivia.


Deg....


Faiz mencolos saat melihat Olivia yang begitu sangat pucat tapi masih bisa tersenyum kepadanya. Pandangan Faiz beralih ke perut Olivia, ada rasa bersalah yang menghampiri dirinya karena sampai sebesar ini perut Olivia, ia belum pernah sekalipun menuruti kemauan istrinya.


"Terima kasih ya Mas sudah mau membukakan pintu untukku," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Mas, aku sangat ingin sekali tidur di peluk Mas malam ini. Sebentar saja Mas sampai aku tidur. Apa boleh? Tapi kalau Mas tidak mengizinkan tidak apa-apa, aku janji ini yang pertama dan terakhir aku meminta ini, Mas. Hanya sampai aku tidur saja," ujar Olivia dengan memohon dan menangkupkan kedua tangannya di depan sang suami.


Faiz terdiam yang membuat Olivia semakin lesu karena Faiz sama sekali tidak menjawab, pria itu hanya diam dengan pandangan yang sulit ia jabarkan sendiri.


"Masuk!" perintah Faiz yang membuat Olivia terkejut karena ia takut salah dengar.


"Masuk atau tidak sama sekali karena saya tidak akan mengulanginya lagi," ujar Faiz dengan tajam yang membuat Olivia teramat senang.


Olivia masuk ke kamar Faiz dengan senyuman yang tidak hilang di bibirnya karena Faiz akhirnya mengizinkan dirinya masuk.


"Sekarang kita tidur ya, Mas! Aku tidak ingin berlama-lama," ujar Olivia dengan mata yang berbinar.


Tanpa kata Faiz naik ke atas kasur yang semakin membuat hati Olivia sangat senang, ia juga ikut naik ke atas kasur dan merebahkan diri di samping Faiz dengan berbantalan lengan Faiz.


Olivia memandang Faiz dengan sangat dalam. "Mas, aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku setuju jika kedua anak kita di asuh oleh kamu karena aku pasti tidak akan becus mengurus mereka. Jaga kedua anak kita ya, Mas. Didik mereka hingga menjadi anak yang baik dan sayang keluarga. Aku titip mereka ya, Mas! Dan jika nanti kamu menemukan penggantiku, aku harap dia menyayangi anak kita sebagaimana aku menyayangi mereka," ujar Olivia dengan tersenyum yang membuat hati Faiz berdenyut sakit.


"Kita bahas ini ketika kamu sudah melahirkan saja! Sekarang tidur karena saya tidak ingin berlama-lama!" ujar Faiz dengan dingin.


"Iya maaf, Mas. Aku rasa ucapanku tadi sudah cukup. Aku takut nanti tidak bisa mengungkapkan ini semua ketika mereka lahir ke dunia," ujar Olivia dengan lirih.


"Boleh peluk kan, Mas?" tanya Olivia dengan hati-hati takut Faiz akan kembali marah dan mengusir dirinya dari kamar ini.


Faiz mengangguk yang membuat Olivia merentangkan tangannya memeluk suaminya dengan memejamkan mata. Faiz menatap wajah Olivia dengan sendu, tangannya sudah terangkat ke atas untuk memeluk Olivia dan akhirnya Faiz memeluk Olivia dengan erat. Dadanya begitu sesak melihat keadaan istrinya sekarang, ia mengelus perut Olivia yang sudah membesar, ada rasa penyesalan di dalam dirinya karena selama ini ia tidak melihat perkembangan kedua anaknya sendiri hingga mereka sudah sebesar ini di dalam perut Olivia. Tapi kenapa tubuh Olivia semakin kurus bahkan pipi cabinya sudah tidak terlihat?


Air mata Faiz menjatuhi pipinya, dadanya begitu sesak karena ia sudah gagal menjadi seorang suaminya yang siaga. Bahkan sampai Olivia tertidur nyenyak pun Faiz belum tidur sama sekali memandangi wajah pucat Olivia dengan sangat dalam. Jarum jam terus berputar tetapi entah mengapa Faiz sama sekali tidak mengantuk, ia hanya memandangi wajah Olivia dengan memeluk istrinya.


Olivia terbatuk-batuk yang membuat Faiz terkejut dan akhirnya bangun.


Olivia kembali memuntahkan isi perutnya yang membuat Faiz panik. "Olivia, kita ke rumah sakit sekarang ya!" ujar Faiz dengan panik.


Olivia sudah tidak menjawab, wanita itu terus memuntahkan isi perutnya hingga Olivia sudah terlihat sangat lemas sekali.


Faiz sudah tidak peduli dengan bajunya yang kotor, ia berusaha menggendong Olivia keluar dari kamarnya. Hati Faiz berdenyut sakit saat melihat Olivia masih tersenyum tipis ke arahnya.


"M-mas, aku titip kedua anak kita ya! Selamatkan mereka!" gumam Olivia dengan tersenyum lirih.


"Kamu ngomong apa? Kita ke rumah sakit sekarang ya!" ujar Faiz dengan begitu cemas saat melihat Olivia yang perlahan menutup matanya.


Faiz berjalan dengan cepat menuju mobil, ia membangunkan seluruh pelayan dan dua di antara mereka harus ikut dengan dirinya untuk menjaga Olivia selama berada di dalam mobil.


*****


Faiz begitu sangat panik, ia berteriak setelah sampai di rumah sakit hingga dokter dan perawat datang membantu dirinya untuk menangani Olivia yang sudah tidak sadarkan diri selama di perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Maaf, Tuan! Anda tunggu di sini dulu biar kami periksa pasien," ujar Suster yang membuat Faiz sangat frustasi.


Faiz terduduk di lantai saat ruangan IGD sudah tertutup, ia mengingat permohonan Olivia saat ingin tidur bersama dengan dirinya dan memeluk dirinya. Ia menjambak rambutnya sendiri, dan membodohi dirinya sendiri yang selama ini sangat abai dengan kesehatan istrinya.


"Bodoh! Bodoh kamu Faiz hiks...." teriak Faiz dengan frustasi.


Dengan menangis ia menghubungi mamanya dan mertuanya agar segera datang ke rumah sakit. Setelah itu Faiz kembali tertunduk dengan lesu berharap semuanya akan baik-baik saja.


Dua pelayan melihat Faiz dengan iba karena mereka tahu sebenci-bencinya Faiz dengan Olivia, Faiz tetap mencintai Olivia sampai saat ini.


Faiz begitu sangat gelisah menunggu dokter keluar hingga keluarganya datang bersamaan dengan mertuanya.


"Apa yang terjadi, Faiz?" tanya Anjani dengan cemas.


"Olivia muntah-muntah, Bun. Setelah itu pingsan sekarang dokter masih menangani Olivia," jawab Faiz dengan lirih yang membuat Anjani dan yang lainnya lemas.


"Ya Tuhan... Sembuhkanlah anakku," gumam Olivia dengan lirih.


Rania mendekati anaknya dan memeluk anaknya dari samping. "Olivia tidak akan kenapa-napa, Nak!" ujar Rania menguatkan anaknya.


"Ini salahku, Ma! Ini salahku hiks..." ujar Faiz memeluk mamanya dengan sangat erat yang membuat Rania dan yang lainnya tidak tega.


Rio yang ingin meminta penjelasan lebih detail pun tak tega melihat menantunya yang diliputi rasa penyesalan di dalam dirinya hingga ia hanya bisa diam menunggu dokter keluar dari ruangan IGD dengan perasaan yang tak menentu.


Hingga akhirnya dokter keluar yang membuat Faiz langsung berdiri menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Faiz dengan cemas.


Dokter menatap Faiz dengan pandangan yang sama sekali tak terbaca. "Keadaan istri anda saat ini kritis, Tuan. Berdo'a saja istri anda akan segera sadar," ujar dokter yang membuat Faiz semakin merasa bersalah dengan istrinya.


"K-kritis, Dok? Kenapa bisa?" tanya Faiz dengan terbata.


"Saat di bawa ke rumah sakit keadaannya benar-benar sangat lemah. Apalagi penyakit lambung yang derita istri Tuan kambuh, ini yang menyebabkan keadaan istri Tuan sekarang kritis dan tak sadarkan diri," ujar dokter dengan menjelaskan yang membuat Faiz semakin lemas dan jatuh terduduk dengan rasa penyesalan yang sangat dalam.


"Sayang bangun! Aku masih butuh kamu!" teriak Faiz dengan histeris.