Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 257 (Keadaan Yang Membaik)


📌 Jangan lupa juga ramaikan novel terbaru author ya!



Happy reading


****


Semua berangsur-angsur membaik, keadaan yang mulai kondusif, dan keceriaan yang mulai menghampiri semua pasangan yang sedang menanti kelahiran anak mereka. Tetapi tidak dengan Clara, Cassandra, Roby dan Sherly yang harus menunggu karma yang sudah mereka perbuat sejak dulu.


Hari ini adalah jadwal operasi Rania, semua keluarga nampak cemas dan bahagia menunggu kelahiran anak ketiga dari Rania dan juga Ferdians. Faiz dan Olivia duduk berdampingan, begitupun dengan Gavin dan juga Frisa, tak lupa Rajendra dan juga Bunga yang sedang menunggu operasi Rania di dalam bersama dengan keluarga yang lainnya.


Gavin mengelus perut Frisa dengan lembut, sebentar lagi ia juga akan melihat anaknya lahir ke dunia karena kehamilan Frisa dan Rania hanya berbeda dua bulan saja. Bahkan Gavin sudah mempersiapkan nama untuk anaknya, yang sekarang masih ia rahasiakan. Frisa tampak tersenyum melihat kelakuan suaminya, padahal sekarang ia sedang tegang menanti kelahiran adiknya.


Tiga ibu hamil yang sedang duduk tampak terlihat sangat tegang dan khawatir seakan sekarang mereka merasakan apa yang sedang Rania rasakan saat ini.


"Mama kok lama banget operasinya ya?" tanya Frisa dengan gelisah.


Faiz yang mendengar perkataan adiknya langsung melihat ke arah Frisa. Faiz tahu jika kembarannya saat ini sedang tegang dan tak sabaran ingin segera operasi selesai dengan segera.


"Sabar, Frisa! Kita tunggu saja ya, Dek!" ujar Faiz dengan tegas.


"Tapi aku gelisah, Kak!" ujar Frisa dengan tidak tenang.


"Hei, jangan seperti ini, Sayang. Sebentar lagi pasti Mama akan selesai operasinya," ujar Gavin mencoba menenangkan istrinya.


Ana dan Gista yang melihatnya hanya bisa tersenyum karena mereka tahu Frisa juga sedang tegang memikirkan persalinannya nanti yang tak lama lagi.


Frisa memeluk Gavin dari samping yang membuat Gavin menyambut pelukan istrinya dengan erat dan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang. Hingga tak lama terdengar suara tangis bayi yang sangat kencang, semua orang yang menunggu di luar tersenyum lega dan bahagia mendengar tangisan tersebut.


"Alhamdulillah adikku sudah lahir!" pekik Faiz dengan teramat senang karena sebentar lagi adiknya juga akan mempunyai teman yaitu kedua anak kembarnya juga, Faiz tak sabar menunggu momen itu tiba di mana kedua anaknya bermain bersama dengan adik dan para keponakan yang lain. Sungguh hal itu sangat menyenangkan sekali bukan.


****


Ferdians menggendong anak ketiganya yang berjenis kelamin laki-laki itu dengan senyum sumringah. Tak henti-hentinya Ferdians mengucapkan terima kasih kepada istrinya yang sudah melahirkan anak mereka dengan taruhan nyawa.


"Biar Mama yang gendong Ferdians! Kamu perhatikan dulu istri kamu," ujar Gista yang sangat ingin menggendong cucunya tersebut.


Eric dan Ben cukup berbangga diri karena di usia mereka yang sudah senja keduanya masih bisa melihat cucu mereka lahir ke dunia ini.


Ferdians memberikan anaknya kepada mamanya, lalu ia melihat ke arah Rania yang masih terlihat sangat lemas.


"Makan dulu ya, Sayang! Biar ada tenaga lagi!" ujar Ferdians dengan lembut.


Rania mengangguk dengan sangat lemas yang membuat Ferdians tidak tega, tetapi ia sangat merasa bangga dengan istrinya saat ini. Ferdians mengambilkan makanan yang sudah diberikan suster lalu menyuapi istrinya dengan telaten.


"Kamu hebat, Sayang. Mas bangga sama kamu, ujar Ferdians dengan lembut.


Rania tersenyum. " Aku juga tidak menyangka bisy melahirkan lagi, Mas! Kita punya bayi lagi yang bisa kita mainin sepuasnya setiap hari hehe," ujar Rania dengan terkekeh pelan karena jujur ia sangat gemas dengan anaknya.


Lihat saja Faiz dan Frisa juga terlihat sangat gemas dengan adik mereka yang terlihat sangat gembul sekali dengan wajah yang sangat putih dan jika menangis pasti akan berubah menjadi warna merah.


"Ganteng banget sih!" ujar Frisa yang terdengar oleh Ferdians dan juga Rania.


Rania yang masih makan hanya bisa terkekeh melihat tingkah kedua anaknya yang rebutan menggendong adik mereka yang baru lahir.


"Kalian ini sebentar lagi juga mau punya anak loh!" ujar Rania dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya saat ini.


Suara tangisan adik kecil mereka membuat keduanya panik dan langsung memberikan adik mereka kepada nenek Gista kembali.


"Tuh kan kalian ini mama baru makan sebentar adiknya sudah dibuat nangis," ujar Ferdians dengan kesal.


"Maaf, Pa. Habisnya gemes banget sih!" ujar Faiz dengan nyengir.


Gista dan Ana hanya bisa menghela napas mereka melihat tingkah kedua cucu mereka yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Kalian berdua duduklah! Nenek pusing melihat kalian berdua rebutan seperti tadi!" ujar Ana dengan pelan yang membuat Faiz dan Frisa saling menatap lalu terkekeh bersama.


"Maaf, Nek! Nenek juga duduk sama kami ya biar tidak capek!" ujar Frisa menggandeng tangan Ana untuk duduk bersamanya karena sebenarnya Frisa juga merasa lelah selalu berdiri.


Ana memperhatikan Frisa. "Gavin kaki istri kamu bengkak ini," ujar Ana yang membuat Gavin langsung berdiri tegak dan melihat kaki istrinya.


"Tuh kan, Sayang. Sakit tidak?" tanya Gavin dengan cemas.


Frisa menggelengkan kepalanya dengan pelan menatap wajah Gavin yang sangat cemas menatap dirinya. Frisa tersenyum saat Gavin memijat kakinya dengan perlahan yang membuat semua orang tersenyum menatap Gavin dan Frisa yang dulunya selalu tidak akur sekarang menjadi pasangan yang sangat harmonis dan jauh dari permasalahan.


Tak jauh dari mereka Faiz dan Olivia juga sama, keduanya sudah kembali berdamai. Dan Olivia sudah mengetahui meninggalnya sang nenek, awalnya Olivia menangisi kepergian neneknya tetapi lambat laun dia mengerti semua pasti akan meninggal termasuk dirinya nanti, kini Olivia sudah berdamai dengan keadaan. Dan sekarang ia sudah kembali bahagia bersama dengan Faiz.


Rajendra dan Bunga juga sudah bisa hidup tenang walaupun Bunga harus merelakan kedua orang tuanya di tahan oleh suaminya sendiri, ia sudah ikhlas karena semua itu atas perbuatan orang tuanya. Bunga juga sangat bahagia hidup bersama dengan Rajendra walaupun suaminya seperti psikopat tetapi Rajendra sangat memanjakan dirinya.


Setelah Rania beristirahat semua keluarga memutuskan untuk pulang terlebih dahulu meninggalkan Rania bersama suami dan anak yang baru saja dilahirkan keduanya.


*****


Bunga mengelus perutnya yang sudah membesar, mengingat jika kakak iparnya baru saja melahirkan, Bunga menjadi tidak sabar ingin melahirkan juga dan melihat bagaimana wajah anaknya setelah lahir ke dunia nanti.


Bunga tersenyum saat melihat Rajendra membawakan dirinya susu ibu hamil.


"Di minum dulu, Sayang!" ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Iya, Mas. Makasih ya!" ujar Bunga dengan menerima susu buatan suaminya.


"Sama-sama, Sayang. Tapi ini tidak gratis loh." ujar Rajendra mengedipkan matanya.


Bunga yang paham hanya bisa terkekeh melihat tingkah suaminya. "Nanti malam saja ya, Mas!" ujar Bunga dengan pelan.


"Iya, Sayang. Yang penting jenguk anak kita deh!" ujar Rajendra yang tersenyum bahagia karena malam nanti ia akan menjenguk anaknya.


Rajendra tak sabaran ingin segera malam, Rajendra merebahkan kepalanya di paha Rajendra. "Papa kangen kamu, Sayang. Kamu kangen Papa tidak? Kangen?! Oke... Nanti Papa jenguk ya!" ujar Rajendra yang membuat Bunga tak bisa menahan tawanya.


"Haha... Ada-ada saja kamu, Mas!" ujar Bunga dengan mengusap rambut suaminya dengan lembut.


Keduanya tertawa bersama dan menghabiskan waktu untuk bercengkrama, saling bercerita dengan santai yang membuat Bunga semakin nyaman dengan Rajendra.