Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 50 (Khawatir)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Sastra sudah dilarikan ke rumah sakit keadaannya sudah sangat lemas sekali bahkan Sastra kehilangan kesadarannya setelah sampai di rumah sakit.


Ben dan Doni terlihat sedang berbicara dengan dokter, pembicaraan ketiganya sangat serius sekali.


Ferdians menenangkan istrinya yang terlihat khawatir dengan keadaan Sastra karena bagaimanapun Sastra sudah sangat lama bekerja dengan Rania.


"Periksa minuman ini di laboratorium dengan segera. Saya ingin mendengar apa campuran di minuman ini hingga membuat kepercayaan saya keracunan," ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!" jawab Dokter dengan cepat.


Rania menatap papa dan kakeknya dengan tatapan datarnya. "Papa dan Kakek pulang saja ini adalah pernikahan anak dan cucu kesayangan kalian biar saya dan mas Ferdians yang menjaga Sastra," ujar Rania dengan tegas.


"Biar kami di sini dulu memastikan keadaan Sastra baik-baik saja," ujar Ben dengan tegas.


"Tidak! Kalian pulang saja saya tidak mau merusak acara pernikahan Clara karena Papa dan Kakek berada di sini," ujar Rania dengan dingin.


Ferdians menenangkan istrinya dengan mengusap lengan Rania lembut. "Pa, Kek, sebaiknya kalian kembali ke hotel. Setelah dokter keluar saya akan menghubungi Papa untuk memberitahukan keadaan Sastra," ujar Ferdians dengan pelan.


Ben dan Doni menghela napasnya dengan berat, mereka tahu jika Rania tidak ingin mereka berada di sini.


"Baiklah. Hubungi Papa dengan segera ya! Untuk siapa yang mencampurkan racun di minuman Rania akan Papa selidiki," ujar Ben dengan tegas.


"Kami pergi dulu," ujar Doni yang di angguki oleh Ferdians sedangkan Rania hanya diam saja.


Rania duduk di kursi tunggu setelah kepergian papa dan kakeknya, pikirannya sangat kacau sekarang. Sastra adalah orang kepercayaannya yang sangat setia, ia tidak ingin Sastra kenapa-napa.


"Sayang tenangkan dirimu terlebih dahulu. Sastra tidak akan kenapa-napa," ujar Ferdians dengan lembut.


"Bagaimana saya bisa tenang saat orang kepercayaan saya, orang yang sangat setia kepada saya masuk rumah sakit karena melindungi saya?" ujar Rania dengan tajam.


Dadanya bergemuruh dengan sangat hebat karena benar-benar mengkhawatirkan Sastra. Sedangkan Liam, Ricard, dan Nico hanya bisa diam saja melihat nona-nya kembali merasakan hal yang seperti ini.


"Jika saya yang berada di posisi Sastra apakah kamu akan sekhawatir ini kepada saya?" tanya Ferdians dengan tegas bahkan perkataannya sangat formal seperti dulu saat mereka baru pertama kali bertemu.


Rania menatap mata Ferdians. Ia hanya bisa diam tidak bisa menjawab pertanyaan Ferdians yang membuat Ferdians menghela napasnya dengan pelan.


"Saya sudah tahu jawabannya," ujar Ferdians dengan datar.


Ferdians tidak marah, hanya saja ia merasa Rania memang tidak akan pernah peduli kepada dirinya. Keduanya hanya diam tanpa sepatah kata pun hingga dokter keluar dari ruangan UGD setelah selesai memeriksa keadaan Sastra.


"Bagaimana keadaan Sastra?" tanya Rania dengan cepat.


"Syukurlah keadaan tuan Sastra sudah membaik, Nona. Untung saja tuan Sastra cepat dilarikan ke rumah sakit karena dengan begitu kami bisa mengeluarkan racun di dalam tubuhnya," ujar dokter yang membuat Rania langsung menghela napas dengan lega.


"Pindahkan Sastra ke ruang perawatan VIP!" perintah Rania yang langsung di angguki oleh dokter.


"Baik, Nona. Saya akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk tuan Sastra!" ujar Dokter dengan tegas.


Rania, Ferdians, Liam, Ricard, dan Nico mengikuti brankar Sastra yang sudah di dorong keluar oleh suster. Rania mencuri pandang ke arah Ferdians yang lebih banyak diam setelah bertanya kepada dirinya tadi.


"Apa dia marah?" gumam Rania di dalam hati.


****


Sastra membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Ia melihat ke arah sampingnya di mana Rania dan Ferdians berada.


Sastra mencoba untuk bangun dari tidurnya. Tetapi Rania mencegah dirinya yang membuat Sastra mengurungkan niatnya.


"Nona..."


"Diamlah jangan banyak bicara!" ujar Rania dengan tagas karena bagaimanapun Rania merasa berutang budi dengan Sastra.


Entah mengapa Rania memikirkan Ferdians sekarang apakah lelaki itu marah kepada dirinya atau tidak? Mengapa sikap Ferdians berubah dan Rania merasa tidak suka saat Ferdians seperti cuek kepada dirinya.


"Dia benar-benar marah ya?" gumam Rania di dalam hati.


"Saya tidak apa-apa, Nona. Anda jangan khawatir, sekali pun nyawa saya sebagai taruhannya saya tidak akan menyesalinya karena bagi saya nyawa Nona sangat berharga," ujar Sastra dengan tegas yang membuat Rania terharu tetapi ia tidak memperlihatkan wajah terharunya kepada Sastra maupun yang lainnya.


"Terima kasih!" gumam Rania dengan pelan yang membuat Sastra tersenyum tipis.


"Sama-sama, Nona!" ujar Sastra.


Ferdians memundurkan kursinya dan berdiri dari duduknya yang membuat Rania dan Sastra melihat ke arahnya.


"Mau kemana?" tanya Rania.


"Telepon Papa! Saya keluar sebentar," ujar Ferdians dan tak lama ia langsung keluar dari ruangan Sastra.


"Padahal telepon papa bisa langsung di sini kenapa harus keluar?" gumam Rania dengan pelan yang masih bisa di dengar oleh Sastra.


"Tuan Ferdians cemburu, Nona. Karena anda terlihat sekali mengkhawatirkan saya," ujar Sastra dengan pelan.


"Cemburu?" ulang Rania yang di angguki oleh Sastra.


"Tuan mencintai, Nona. Saya harap Nona dan tuan akan tetap bersama walaupun awalnya pernikahan kalian terjadi karena kesepakatan antara dua belah pihak dan bisa di bilang pernikahan Nona dan tuan karena sebuah keterpaksaan," ujar Sastra yat membuat Rania terdiam.


"Pikirkan lagi Nona karena kedua anak Nona juga akan membutuhkan sosok ayah. Anda dan tuan jangan seperti saya dan Citra yang bercerai karena jujur rasanya sangat menyakitkan, Nona!" ujar Sastra yang membuat Rania terdiam.


"Akan saya pikirkan!" jawab Rania yang membuat Sastra lega.


"Terima kasih telah mendengarkan ucapan saya, Nona!"


"Hmmm..."


****


Acara pernikahan Clara dan Roby sudah berakhir dengan cepat karena kejadian Sastra keracunan di pesta pernikahan mereka.


"Bagaimana? Kamu sudah menemukan di mana pelayan tersebut?" tanya Ben pada orang kepercayaannya.


"Saya tidak menemukannya, Tuan. Pelayan tersebut hilang tanpa jejak bahkan CCTV hotel rusak," jawab orang kepercayaan Ben.


"Brengsek! Ada yang ingin mempermainkan saya. Jika saya mengetahui siapa biang dari masalah ini maka mereka akan habis di tangan saya karena mereka sudah berani ingin mencelakai cucu pertama saya," ujar Ben dengan tegas.


"Usut terus kasus ini hingga kamu dan yang lainnya menemukan siapa pelakunya!" ujar Ben dengan tegas.


"Baik, Tuan!"


Clara, Roby, dan Agni terlihat saling memandang satu sama lain. Untung saja mereka dengan cepat menghilangkan semua bukti kejahatan mereka termasuk pelayan bodoh itu.


Sedangkan Rio menatap mama dan adiknya dengan curiga karena Rio sangat tahu bagaimana mamanya dan juga adiknya sangat tidak suka dengan Rania.


"Aku yakin pasti mereka yang melakukannya. Aku senang jika Rania kehilangan anaknya tapi aku tidak bisa diam saja ketika Rania terluka karena mereka," gumam Rio di dalam hati.


****


Clara merebahkan dirinya di atas kasur. Ia tampak kesal karena rencananya untuk melenyapkan kandungan Rania gagal padahal ia juga sudah mencampurkan rancun pada obat penggugur kandungan agar nyawa Rania juga melayang. Tapi rencana liciknya di gagalkan oleh Sastra yang sok menjadi pelindung Rania.


"Sastra selalu saja melindungi Rania. Aku kesal dengannya, sepertinya dia juga harus menjadi target kita, Sayang!" ujar Clara pada Roby.


"Tenang, Sayang. Aku pastikan Rania dan para bawahannya juga akan tersingkirkan. Untuk sekarang mereka tidak akan bisa menemukan pelayan itu karena orang-orangku sudah membawanya ke suatu tempat, jika dia berani membocorkan rencana kita maka tamatlah riwayatnya dan juga keluarganya," ujar Roby yang membuat Clara tersenyum bahagia.


Cup....


"Terima kasih, Sayang. Sebagai imbalannya malam ini aku akan memuaskan kamu," ujar Clara dengan tersenyum nakal.


"Ouh... Clara..."