Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 133 (Keluarga Bahagia)


...📌 Selamat malam semuanya. Ini adalah kisah akhir dari Rania dan Ferdians karena setelah ini akan dilanjutkan dengan kisah anaknya yang tak kalah seru loh. Kisah anak Rania dan Ferdians akan tetap aku up di sini ya....


...📌 Jangan lupa ramaikan part terakhir untuk kedua pasangan kita 🥰...


...Happy reading...


****


Kehidupan terus berlalu begitupun dengan keluarga kecil Rania dan Ferdians, setelah kepergian Heera baik Ferdians maupun Rania kembali menata hati mereka kembali setelah kesedihan yang mereka rasakan saat kepergian Heera.


Saat ini Ferdians membawa Rania dan kedua anaknya untuk berlibur, mereka butuh ketenangan di tempat baru seperti ini untuk membuat Rania dan kedua anak kembarnya bahagia.


Terlihat sekali jika Faiz dan Frisa sangat bahagia ketika ia ajak ke tempat ini. Ferdians memeluk Rania dari belakang dengan meletakkan dagunya di bahu Rania. Rania juga menikmati pelukan semuanya dengan mengelus tangan besar suaminya dengan lembut.


"Lihatlah Sayang kedua anak kita sangat bahagia ketika kita ajak ke taman," ujar Ferdians dengan tersenyum bahagia melihat kecerian anaknya bermain di taman.


Faiz dan Frisa berjalan ke sana kemari dengan diawasi oleh Ferdians dan juga Rania. Bahkan sangking aktifnya anak kembar mereka keduanya sampai kelelahan dan untung saja ada kedua baby sister Faiz dan Frisa yang bisa menjaga keduanya saat mereka kelelahan seperti ini.


"Iya, Mas. Aku tidak menyangka jika kedua anak kita cepat sekali berjalan, kayaknya aku baru melahirkan mereka kemarin dan sekarang mereka sudah dua tahun lebih," ujar Rania dengan mata berkaca-kaca karena terharu melihat pertumbuhan anaknya yang begitu cepat dan aktif.


Faiz dan Frisa berjalan ke arah papa dan mamanya, mereka terlihat tertawa bahagia dengan memeluk kali Rania.


"Mama mau itu!" tunjuk Frisa pada bapak-bapak jualan bakso yang terlihat sangat enak.


Rania melihat ke arah yang ditunjukkan oleh anaknya. Lalu ia melihat ke arah suaminya meminta persetujuan apakah kedua anak mereka boleh memakan bakso atau tidak.


Ferdians mengangguk. "Ayo kita beli tapi kakak sama adek tidak boleh makan bakso terlalu banyak ya," ujar Ferdians dengan tersenyum.


"Iya, Papa! Terima kasih!" jawab Faiz dan Frisa berbarengan dengan suara yang sangat imut sekali hingga Rania gemas dan mancubit pipi kedua anaknya pelan.


Ke-empatnya berjalan menuju tukang bakso yang diikuti oleh kedua baby sister Faiz dan Frisa.


Kali ini keluarga kecil itu menghabiskan waktu bersama dengan gembira bahkan Faiz dan Frisa seperti tidak merasa lelah sedikitpun. Namun, dibalik kebahagiaan yang mereka rasakan ada Eric yang melihat kebahagiaan mereka dengan sendu karena sampai saat ini ia belum mendapatkan maaf dari anaknya. Sekarang ia hidup dengan penyesalan yang teramat dalam hingga tubuh yang dulu gagah kini terlihat kurus dan lebih tua daripada sebelumnya.


"Sampai kapan kamu tidak bisa memaafkan ayah, Nak? Dan sampai kapan kamu tidak mau mempertemukan ayah dengan kedua cucu ayah? Ayah menyesal, Nak! Jangan hukum ayah lebih dari ini," ujar Eric dengan lirih.


"Mas ayo pulang!" ajak Gista dengan sendu karena ia tidak mau melihat suaminya bersedih seperti ini karena melihat kebahagiaan Ferdians yang tak bisa Eric rasakan.


"Aku ingin memeluk Faiz dan Frisa, Gista. Kapan aku bisa memeluk kedua cucuku?" gumam Eric dengan sendu.


"Sabar, Mas. Suatu saat hati Ferdians pasti hatinya akan tergerak untuk memaafkan kamu. Aku yakin saat ini Ferdians masih terluka karena mengingat mbak Heera. Kita pulang ya kamu harus istirahat, kamu harus tetap sehat untuk melihat kedua cucu kita tumbuh dewasa," ujar Gista dengan tersenyum.


Eric tersenyum, benar kata Gista jika dirinya harus tetap sehat untuk melihat kedua cucunya tumbuh dewasa. Ia yakin dengan berjalannya waktu Ferdians akan memaafkan dirinya dan mau mempertemukan dirinya dengan Faiz dan Frisa, kedua cucunya yang sangat menggemaskan sekali.


Akhirnya Eric dan Gista pulang setelah puas melihat Faiz dan Frisa bermain dengan kedua orang tuanya.


****


Cup...


Cup...


"Tidur yang nyenyak anak Papa dan Mama!" ucap Ferdians dengan mencium kening kedua anaknya secara bergantian. Begitupun dengan Rania saat ini.


"Sayang!" panggil Ferdians dengan pelan.


"Iya, Mas! Kita ke kamar sebelah yuk! Biar Faiz dan Frisa bersama dengan kedua suster. Mas ingin berduaan sama kamu," ujar Ferdians dengan mengedipkan matanya ke arah Rania.


Rania paham apa yang diinginkan suaminya, ia menggelengkan kepalanya saat Ferdians memohon tanpa suara. Rania terkekeh melihat ekspresi suaminya, akhirnya Rania mengangguk dengan pelan yang membuat Ferdians senang bukan main.


Ferdians langsung menarik Rania keluar kamar kedua anaknya. Ferdians juga menyuruh suster Riri dan Putri untuk menemani Faiz dan Frisa yang tertidur, setelah memastikan suster Riri dan Putri masuk ke dalam kamar kedua anaknya Ferdians langsung menarik Rania menuju kamar mereka.


"Sabar, Mas!" ucap Rania dengan terkekeh.


"Tidak bisa, Sayang. Sebelum Faiz dan Frisa bangun kita harus sudah selesai dua ronde," ujar Ferdians dengan mengedipkan mata.


Ferdians mengunci kamar setelah mereka masuk ke dalam kamar. Ferdians menatap Rania dengan sangat dalam hingga membuat Rania gugup saat Ferdians mengusap pipinya.


Rania memejamkan mata saat Ferdians mengecup bibirnya dengan lembut. Rania mengalungkan kedua tangannya di leher Ferdians hingga keduanya terjatuh di sofa. Ferdians benar-benar membuat Rania di mabuk kepayang malam ini. Sungguh Ferdians selalu membuat dirinya bahagia dengan segala cara yang Ferdians lakukan untuk dirinya.


Malam ini mereka berbagi kehangatan bersama setelah beberapa hari sibuk dengan pekerjaan mereka. Namun, pekerjaan tersebut tidak membuat keduanya lupa dengan kedua anak kembar yang sangat menggemaskan di dalam hidup mereka dan akan tumbuh menjadi lelaki tampan dan perempuan cantik yang akan tetap Ferdians lindungi bersama dengan para bodyguard terutama menjaga Frisa disaat anaknya dewasa nanti.


Napas Ferdians dan Rania memburu setelah keduanya selesai bercinta. Rania masuk ke dalam pelukan Ferdians.


"Mas!" gumam Rania dengan lirih.


"Hmmm..." jawab Ferdians dengan suara deheman karena ia masih mengatur napasnya yang masih terlihat memburu.


"Kemarin aku mimpi bertemu ibu, Mas!" ucap Rania dengan pelan.


"Mimpi bertemu dengan ibu?" tanya Ferdians menatap istrinya.


"Iya, Mas. Ibu memeluk aku. dan tak lama beliau berucap jika mas harus memaafkan ayah Eric karena ibu sudah bahagia di sana, setelah itu ibu langsung pergi, Mas. Apakah Mas sudah bisa memaafkan ayah?" tanya Rania dengan pelan.


Ferdians terdiam. "Mas masih kecewa dengan ayah, Sayang. Mas butuh waktu suatu saat jika Mas sudah bisa melupakan perbuatan ayah yang sangat besar itu Mas akan menemui ayah bersama dengan kamu dan twins tapi untuk sekarang Mas belum bisa jangan paksa Mas," ujar Ferdians yang di mengerti oleh Rania.


"Iya, Mas. Aku mengerti kecewa yang Mas rasakan tapi selagi ayah masih ada kita harus bisa memaafkan semua kesalahannya. Lagipula Mas yang selalu mengajarkan aku untuk bisa memaafkan papa dan sekarang aku sudah bisa memaafkan papa. Kenapa Mas tidak bisa memaafkan ayah? Aku tunggu sampai Mas siap bertemu dengan ayah!" ujar Rania dengan tersenyum.


"Terima kasih sudah mau mengerti keadaan Mas, Sayang. Suatu saat nanti kita akan menemui ayah Mas janji, Sayang. I love you Rania, semoga kita bisa bersama sampai tua dan sampai maut memisahkan kita," ujar Ferdians mencium istrinya dengan lembut.


"I love you too, Mas. Terima kasih sudah mau bersabar dengan sikapku dulu. Sekarang aku bahagia bisa menjadi istrimu. Pasti kita akan tetap bersama menyaksikan kedua anak kita menikah," jawab Rania dengan tersenyum.


Kebahagiaan Ferdians dan Rania sungguh sangat luar biasa. Cinta yang diberikan Ferdians untuk Rania mampu mengubah Rania menjadi wanita yang sangat lembut. Perjuangan Ferdians sama sekali tidak gagal, apa yang ia usahakan selama ini ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Keduanya berharap akan terus bersama hingga maut memisahkan.