
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Rania benar-benar terlihat sangat marah dengan Anjani, hari ini Rania terpaksa meeting tanpa Anjani. Jika gadis itu izin tidak bisa ke kantor hari ini Rania akan memakluminya tetapi Anjani sama sekali tidak ada kabar yang membuat Rania kali ini tidak bisa memaafkan Anjani.
"Kemana Anjani? Bahkan ini sudah mau jam pulang kantor tetapi dari tadi ponsel Anjani tidak bisa di hubungi," ujar Rania dengan tajam.
"Saya sudah menyuruh Liam ke rumah Anjani, Nona. Tetapi kata Liam rumah Anjani terlihat kosong, Liam sudah mengetuk pintu rumah Anjani tetapi tidak ada sautan dari dalam," ujar Sastra dengan tegas.
Rania terlihat menghela napasnya dengan kesar. Tak pernah-pernahnya Anjani seperti ini, Anjani tidak pernah absen untuk masuk kantor setiap hari kerja. Tetapi hari ini Anjani membuat Rania sangat kecewa.
"Besok jika Anjani datang ke kantor suruh dia menemui saya!" ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!" sahut Sastra dengan tegas.
Sastra juga merasa heran karena tak biasanya Anjani seperti ini. Anjani yang ia kenal adalah wanita yang sangat pekerja keras, dulu orang tua Anjani memiliki perusahaan tetapi sewaktu SMA perusahaan papa Anjani bangkrut, Anjani yang sudah terbiasa hidup mewah harus menjalani hidup sederhana dan sampai dimana Anjani bisa melewati semuanya hingga ia bekerja di perusahaan milik Rania yang benar-benar mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ini adalah kesalahan pertama yang Anjani lakukan hingga membuat Rania marah.
****
Ferdians sedang memperhatikan istrinya, sesampainya di rumah Rania terlihat merenung yang membuat Ferdians bingung apa yang terjadi dengan istrinya
"Kamu kenapa, Sayang? Sejak tadi Mas perhatikan kamu melamun seperti ini. Ada apa hmm?" tanya Ferdians dengan bingung pasalnya ia tidak membuat kesalahan apapun yang membuat Rania menjadi marah kepada dirinya.
Rania menghela napasnya dengan kasar. "Saya sedang marah dengan Anjani karena bisa-bisanya dia tidak masuk kantor padahal hari ini ada meeting yang sangat penting dan Anjani sudah mengingatkan saya tapi wanita itu sama sekali tidak datang ke kantor tanpa keterangan sedikit pun! Anjani benar-benar membuat saya marah dan kecewa," ujar Rania dengan kesal.
"Kok sama dengan Rio? Rio juga tidak masuk kantor tanpa ada keterangan apapun. Mas tanya dengan papa katanya Rio tidak pulang semalam. Mungkinkah mereka ada hubungan spesial, Sayang?" tanya Ferdians kepada sang istri.
"Mereka tidak mempunyai hubungan apapun, Mas! Mereka sama sekali tidak saling mengenal dekat," ujar Rania.
"Benarkah? Mungkin hanya kebetulan saja," ujar Ferdians yang di angguki oleh Rania.
Emosi yang sejak tadi ia rasakan membuat Rania merasakan lapar.
"Ayo kita pergi!" ujar Rania yang membuat Ferdians menatap istrinya.
"Kemana, Sayang? Mencari Anjani?" tanya Ferdians.
"Tidak! Karena aku yakin dia baik-baik saja. Aku ingin makan sate usus," ujar Rania yang membuat Ferdians tersenyum. Ternyata istrinya sedang mengidam.
"Baiklah ayo pergi! Tapi sebelum itu kamu harus memakai pakaian yang tertutup ya biar anak kita tidak kedinginan," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Ajak ibu boleh?" tanya Rania yang membuat Ferdians menghentikan langkahnya untuk mengambil jaket Rania.
"Boleh, Sayang. Tapi kalau pergi bersama ibu kita tidak boleh pulang terlalu malam karena kesehatan ibu yang bisa saja menurun," jawab Ferdians yang di angguki oleh Rania.
"Ya saya mengerti. Selesai makan kita langsung pulang," ujar Rania.
***
"Dari kantor, Pa!" jawab Rio dengan berbohong.
"Jangan berbohong, Rio! Papa tahu hari ini kamu tidak masuk kantor! Dan kamu bolos bekerja tanpa keterangan apapun, Rio. Katakan kamu dari mana?" tanya Ben dengan tajam.
Rio tahu ia tidak bisa berbohong dengan Ben. Dengan menghela napasnya Rio mencoba menjawab. "Saya capek, Pa! Saya tidur di apartemen dan akhirnya kesiangan, hingga saya memilih tidak masuk kantor hari ini," ujar Rio dengan tegas.
"Mau jadi apa kamu? Kenapa akhir-akhir ini kinerja kamu sangat menurun? Seharusnya kamu mencontoh kakak ipar kamu, walaupun dia tidak pernah berpengalaman bekerja di perusahaan tapi kinerjanya sangat bagus sekali," ujar Ben yang membuat Rio mengepalkan kedua tangannya dan bertambah membenci Ferdians.
Rio memejamkan matanya saat papanya terus memarahinya dan membandingkan dirinya dengan Ferdians. Ingin sekali Rio berteriak penyebab dirinya seperti ini karena Rania menikah dengan Ferdians. Rio bisa menerima jika mamanya yang menikah dengan papa Rania tetapi ia tidak bisa menerima jika Rania sudah milik orang lain. Apalagi sekarang pikiran sedang benar-benar kacau karena kesalahan satu malam yang ia lakukan bersama dengan Anjani, Rio benar-benar frustasi dan ingin sekali melampiaskan amarahnya.
"Maaf, Pa!" ujar Rio pada akhirnya yang membuat Ben menatap kesal kepada anaknya.
"Papa tidak butuh maafmu! Papa hanya butuh pembuktian kamu untuk memajukan perusahaan," ujar Ben dengan tegas.
"Ada apa ini, Mas? Kenapa suara kamu terdengar begitu keras sampai ke lantai atas?" tanya Agni yang menghampiri suami dan anaknya.
"Tanyakan saja pada anakmu mengapa saya bisa seperti ini!" ujar Ben dengan dingin.
"Rio ada apa? Kenapa Papa bisa marah sama kamu? Kamu membuat kesalahan di kantor?" tanya Agni kepada anaknya.
"Maaf, Ma. Rio benar-benar capek. Rio mau ke atas dulu," ujar Rio dengan pelan.
Rio berjalan ke arah kamarnya yang membuat Agni kembali menatap suaminya. "Ada apa sih, Mas?"
"Rio bolos bekerja hari ini! Kinerja Rio benar-benar menurun di perusahaan! Katakan padanya jika masih mau posisi direktur ada padanya, dia harus membuat kinerjanya kembali ke semula atau lebih baik dari sebelumnya," ujar Ben dengan dingin dan meninggalkan Agni begitu saja yang membuat Agni kembali kesal.
Agni segera menghubungi Clara. [Halo, Sayang. Cepat lakukan rencana yang kedua, Mama ingin melihat Ben kembali terpuruk karena kehilangan Rania dan juga calon cucunya, kita sudah tidak bisa membiarkan mereka berlama-lama hidup di dunia ini] ujar Agni dengan ekspresi wajah yang begitu menyeramkan, hatinya benar-benar busuk karena sudah di gelapkan dengan harta milik orang lain.
[Tenang, Ma. Aku sudah merencakan semuanya dengan mas Roby. Mama tinggal menyaksikan saja hahaha]
[Kamu yang terbaik, Sayang. Tidak seperti kakakmu yang selalu membuat kesalahan, dia terlalu lemah menjadi seorang pria] ujar Agni dengan menyeringai.
[Hanya aku, anak Mama yang bisa Mama banggakan. Kak Rio benar-benar tidak bisa di ajak bekerjasama, Ma]
[Benar. Tadi saja papa marah karena kakak kamu tidak masuk kantor. Biarkan saja dia asal tidak merugikan kita itu tidak masalah. Karena bagaimanapun Rio adalah anak Mama]
[Iya, Ma. Aku tutup dulu karena aku ingin bersenang-senang dengan mas Roby]
[Huh... Mama juga ingin tapi milik papamu tidak lagi bisa berdiri. Menyebalkan sekali]
Agni tampak kesal karena Clara menertawakan dirinya yang sudah lama tidak merasakan surga dunia bersama dengan Ben. Sempat ada niat licik untuk membayar lelaki tetapi niat itu Agni urungkan karena ia memikirkan resiko yang akan ia dapat ke depannya.
****
Anjani membuka matanya dengan perlahan, matanya benar-benar terasa perih. Ia melihat sekelilingnya ternyata dirinya masih berada di dalam kamar mandi. Anjani tidak tahu dirinya pingsan atau memang ketiduran tetapi keadaan Anjani benar-benar sangat kacau hingga ia berpikir untuk bunuh diri, tetapi lagi dan lagi ia masih memikirkan mamanya yang sendirian di dunia ini.
Anjani melihat ke celah jendela kamar mandi miliknya, ternyata hari sudah gelap kembali. Segelap hidupnya saat ini, Anjani tidak tahu bagaimana menjalani hidup untuk hari esok. Jiwanya sudah mati hari ini namun raganya dipaksa untuk bertahan hidup. Menyedihkan sekali bukan? Wajah Anjani begitu sangat pucat, bahkan air matanya sudah tidak dapat lagi menetes seperti tadi. Anjani lelah, bahkan setiap mengingat wajah Rio yang seakan tak bersalah kepada dirinya membuat Anjani benar-benar benci kepada Rio dan dirinya sendiri.
"ARRGHHHH.... PA, ANJANI MAU IKUT PAPA SAJA! BOLEH YA, PA?! ANJANI SUDAH HANCUR, PA!