
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Ben menatap istrinya yang masih tertidur setelah mereka melakukan perjalanan yang cukup menguras tenaga karena Ben mengajak Ana untuk babymoon sekaligus untuk menebus kesalahannya selama ini hingga menyakiti hati istrinya.
Ben mengusap pipi Ana dengan lembut, ia masih tak menyangka jika Tuhan mengirimkan wanita berhati malaikat seperti Ana.
"Kamu memang wanita berhati malaikat, Sayang. Mas beruntung bisa menikah dengan kamu, Sayang. Terima kasih sudah mau menerima Mas untuk menjadi suami kamu," gumam Ben dengan tersenyum bahagia.
Karena Ana, Ben sadar jika kebahagiaan Rania ada pada Ferdians. Hampir saja ia merusak kebahagiaan anaknya sendiri karena keegoisannya.
Ana merasa ada yang mengelus pipinya dengan perlahan ia membuka matanya dan yang ia lihat pertama kali adalah wajah suaminya yang sedang menatapnya begitu dekat.
Ana menatap suaminya dengan bingung lalu ia menatap sekelilingnya. "Kita sudah sampai Mas?" tanya Ana dengan bingung pasalnya ia tidur sejak tadi dan tak tahu jika mereka sudah sampai di tempat tujuan suaminya.
"Sudah, Sayang. Bagaimana kamarnya? Nyaman?" tanya Ben dengan mengelus pipi Ana dengan lembut.
Ana menatap sekelilingnya, villa keluarga Danuarta sepertinya sangat nyaman. Dan Ana sepertinya betah di tempat ini.
"Nyaman, Mas! Sepertinya aku betah di sini," ujar Ana dengan tersenyum.
"Dedek juga nyaman nih, Mas!" ujar Ana dengan mengelus perutnya dengan lembut.
Ben terkekeh, ia mengecup bibir Ana dengan gemas. Ternyata membuat Ana bahagia sangat mudah sekali.
Tangan Ben masuk ke baju Ana dan mengelus perut istrinya dengan lembut. "Dedek sepertinya kangen deh sama Papa. Papa jenguk ya!" ujar Ben dengan tersenyum.
Ana gemas, ia mencubit perut Ben. "Itu sih mau kamu, Mas!" ujar Ana dengan sewot.
Ben tergelak senang. Ia langsung menindih tibuh Heera dengan pelan agar tidak menyakiti anaknya yang ada di dalam kandungan Ana.
Ben memainkan rambut Ana dengan lembut. "Sebentar saja, Sayang. Aku sudah sangat merindukan kamu," ujar Ben dengan memohon yang membuat Ana tidak tega dan akhirnya ia mengangguk setuju yang membuat Ben senang bukan main.
Ben menatap Ana dengan dalam yang membuat Ana terbuai, bahkan membalas ciuman suaminya dengan lembut. Tangan Ben sudah berada di kedua dada Ana, dua gunung kembar itu terlihat sangat berisi semenjak Ana hamil.
"Aahhh..." Ana tidak bisa menahan desah*nya lagi, ia sudah terangsang dengan sentuhan suaminya.
Tubuh Ana menggeliat tak karuan kala ciuman Ben berpindah ke leher Ana hingga menimbulkan warna kemarahan di leher Ana. Ana tak lagi bisa menahan suaranya, suara Ana membuat gairah Ben semakin meningkat.
Ben melepaskan pakaian Ana. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh Ana semakin seksi di matanya dengan perut yang membesar seperti ini.
Wajah Ben semakin turun ke bawah yang membuat Ana semakin menggeliat tak karuan.
"Aaahh... Maasss!" Ana menjambak rambut Ben dengan kuat kala wajah Ana masuk ke sela-sela pahanya.
"Nikmati saja, Sayang. Kali ini Mas yang akan memuaskan kamu," ujar Ben dengan menyeringai m*sum.
Wajah Ana sudah memerah, tubuhnya sudah panas karena gejolak gairah hingga tubuhnya gemetar dengan hebat saat Ana mendapatkan pelepasan yang pertama.
Ben membiarkan istrinya menikmati pelepasannya, ia membuka bajunya dengan cepat. Dengan penuh gairah dan perlahan karena tak mau menyakiti anaknya, Ben meminta izin kepada Ana untuk menyatu dengan milik Ana.
"Mas masuk ya?!" izin Ben dengan serak.
Ana mengangguk, karena ia juga sangat ingin merasakan sentuhan Ben sekarang.
"Ahhh..." Ana dan Ben mendes*h bersama saat mereka sudah menyatu dengan sempurna.
"Mas ayo! Masa diam saja sih!" rengek Ana yang membuat Ben terkekeh.
Akhirnya keduanya bercinta dengan penuh gairah. Keduanya juga berhati-hati karena mengingat anak mereka yang masih berada di dalam perut Ana. Gairah Ben seperti anak muda yang baru saja merasakan surga dunia, tak henti-hentinya Ben mengungkapkan rasa cintanya untuk Ana. Bagi Ben, Ana adalah malaikat tak bersayap yang di kirim Tuhan untuk menyadarkan dirinya agar mengutamakan kebahagiaan Rania walaupun sampai sekarang ia masih membenci Eric.
***
Setelah bercinta entah mengapa Ana merasa lapar tetapi Ben masih tertidur di sampingnya. Ana menjadi tidak tega membangunkan suaminya karena pasti Ben juga merasa lelah.
Akhirnya Ana memutuskan untuk keluar kamar, ia memakai pakaiannya terlebih dahulu. Ana juga ingin melihat keadaan Villa di sini. Ana berjalan keluar kamar, ternyata Villa ini begitu sangat indah.
Ana mencari keberadaan dapur di Villa ini, karena perutnya sudah sangat lapar. Setelah berjalan akhirnya Ana menemukan keberadaan dapur dengan jendela kaca yang terang dan memperlihatkan keindahan luar Villa.
"Nyaman sekali dapurnya. Apa ada makanan ya?" monolog Ana.
Dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya Ana membuka kulkas besar yang berada di dapur. Matanya langsung berbinar senang karena banyak bahan masakan ada di kulkas. Dan Ana yakin suaminya lah yang sudah menyiapkan semuanya.
Tetapi Ana hanya ingin makan dengan telur dadar yang tebal tanpa nasi. Ana mengambil 6 butir telur sekaligus, ia juga ingin membuatkan suaminya. Siapa tahu Ben juga lapar nantinya.
Ana mulai memecahkan telur satu persatu di dalam mangkuk. Ia juga memberikan daun bawang di sana, setelah semua bahan dan bumbu tercampur dengan rata. Ana mulai memanaskan wajan dengan minyak.
"Sabar ya Sayang sebentar lagi kita makan," ujar Ana dengan mengeluas perutnya.
Setelah minyak panas Ana memasukkan telur ke dalam wajan, wangi telur dadar yang di goreng membuat perut Ana berbunyi nyaring.
"Laper banget anak Mama ya?!" ujar Ana dengan terkekeh.
"Ya Tuhan, Sayang. Mas cariin ternyata kamu di sini!" ujar Ben dengan lega karena ia sudah sangat khawatir Ana pergi entah kemana.
"Aku lapar, Mas! Kamu sih menguras semua tenagaku," ujar Ana tanpa melihat suaminya karena ia masih membalik telur dadar miliknya agar tidak gosong.
Setelah matang Ana meletakkan telur dadar tersebut ke dalam piring. Ia membalikkan tubuhnya, Ana melotot bukan main saat ternyata Ben belum memakai celananya.
"Astaga Mas... Itu burung di tutup dulu sana," ujar Ana dengan mengelus dada.
"Untung cuma ada kita berdua. Kalau ada orang lain bagaimana, Mas?" tanya Ana menggelengkan kepalanya. Ia juga merasa malu sendiri melihat kelakuan suaminya yang tak tahu malu.
Ben meringis. Sangking paniknya ia lupa memakai pakaiannya sendiri. "Tunggu Mas pakai celana dulu," ujar Ben berjalan ke kamar kembali.
Ana duduk di kursi dan meletakkan piring tersebut di meja bar. Ia sudah sangat lapar. Dan langsung menyantap telur tersebut tanpa Ben.
"Enaknya!" gumam Ana dengan tersenyum.
"Tidak mau mencoba makan nasi, Sayang?" tanya Ben yang tiba-tiba saja sudah datang kembali dan duduk di hadapan istrinya.
Ana menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Rasanya mual. Kalau Mas mau makan nasi masak sendiri ya!" ujar Ana yang sampai sekarang tak mau makan nasi.
Ben tidak mau memaksa, melihat telur dadar yang sangat tebal membuat Ben juga lapar. "Kayaknya enak. Mau dong, Sayang!" ujar Ben.
Ana dengan senang hati menyuapi suaminya. "Telur di santap hangat-hangat seperti ini ternyata enak sekali ya. Ini juga sudah kenyang tidak perlu nasi lagi!" ujar Ben terkekeh melihat ketebalan telur dadar yang dibuat istrinya.
"Hehehe... Aku sengaja buat yang tebal karena pengen banget, Mas! Habis ini kita jalan-jalan ya, Mas?" sahut Ana dengan tersenyum.
"Iya, Sayang. Setelah mandi wajib tentunya haha!" ujar Ben dengan tertawa, Ana juga ikut tertawa.
Dan lihatlah betapa bahagianya mereka berdua sekarang setelah semua permasalahan mereka selesaikan dengan saling memaafkan.