
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Seperti yang sudah Gavin janjikan, ia benar-benar datang tepat waktu bahkan ia datang lebih awal untuk menjalankan hukuman dari Frisa yaitu push up 100 kali. Tetapi walaupun begitu hati Gavin belum mereda, ia masih merasa marah dan kesal karena Frisa meminta Melvin untuk menjadi kekasih gadis itu. Wajah datar Gavin kini beetambah datar, ia bahkan tak berbicara sekata pun dengan Frisa. Bahkan saat perjalanan ke bandara pun Gavin tetap diam.
Cakra yang menyetir pun merasa heran dengan Gavin pagi ini. "Lo kenapa sih? Aneh banget?" tanya Cakra dengan pelan agar tidak menganggu Frisa yang ada di belakang gadis itu juga masih merasa kesal dengan Gavin alhasil keduanya hanya diam seribu bahasa.
"Lo lagi marahan ya sama Nona Frisa? Kalian berdua tuh aneh dari tadi," bisik Cakra dengan Gavin.
"Tidak ada yang aneh. Ini masih pagi dan gue masih ngantuk," sahut Gavin seadanya dan itu di dengar oleh Frisa.
Frisa semakin mencibikkan bibirnya. Ia tidak percaya dengan jawaban Gavin kepada Cakra saat ini. Bahkan Frisa tidak tahu mengapa Gavin seakan bersikap dingin kepada dirinya, memang Gavin biasanya terlihat dingin tetapi entah mengapa kali ini Frisa merasa berbeda dengan Gavin mulai dari semalam. Seingat dirinya ia tidak ada berkata yang menyakiti hati Gavin. Tapi entahlah, perjalanan panjang hari ini benar-benar tidak membuat Frisa bersemangat sama sekali.
Ketiganya sudah sampai di bandara. Ada waktu 30 menit lagi sebelum pesawat berangkat. Tetapi Frisa masih mengantuk, ia ingin bersandar pada Gavin tetapi ia gengsi karena sejak tadi Gavin hanya diam sedangkan Cakra, tak mungkin ia bersandar dengan Cakra karena keduanya tak pernah sedekat ia dengan Gavin dan akhirnya Frisa menahan dirinya untuk tidak mengatuk. Namun, pada akhirnya kepala Frisa terjatuh di lengan Gavin yang membuat Gavin terkejut.
Ada perasaan tak tega saat ia melihat wajah Frisa yang damai dalam tidurnya dan akhirnya Gavin meletakkan kepala Frisa di pangkuannya.
Gavin melepaskan jaket miliknya dan ia pakaian untuk selimut Frisa saat ini. Cakra yang melihatnya tersenyum karena jika dilihat keduanya sangat cocok sekali.
"Vin, Melvin kemarin cerita kalau nona Frisa meminta dia untuk jadi pacarnya. Tapi menurut gue nona jangan sampai jadian sama Melvin karena lo tahu sendiri Melvin bagaimana di luar," ujar Cakra.
"Gue tahu!" jawab Gavin dengan pelan.
Cakra sedikit terkejut namun akhirnya pikiran tertuju pada sikap Gavin yang terlihat berbeda.
"Apa ini penyebab lo diam aja sejak tadi?" tanya Cakra menebak tetapi tebakannya sangat tepat sekali.
"Entahlah. Tapi yang jelas gue tidak akan membiarkan Melvin menyakiti nona Frisa. Mungkin setelah nona tahu Melvin di luar bagaimana, dia akan berubah pikiran," ujar Gavin dengan datar.
"Sebaiknya kasih tahu nona Frisa saja karena Melvin pun juga sangat bimbang sekarang tak mungkin dia menyakiti nona Frisa," ujar Cakra dengan tegas.
"Bukan gue tidak mendukung Melvin tapi hanya saja Melvin tidak cocok dengan nona Frisa. Sebelum itu terjadi lebih baik kita mencegahnya dari sekarang," ujar Cakra.
"Sepulang dari Taiwan nanti gue akan memperlihatkan bagaimana Melvin di hadapan nona Frisa langsung," ujar Gavin menatap Frisa yang terlihat damai tidur dalam pangkuannya.
Gavin memeluk tubuh Frisa dari samping, posisi yang seperti ini memudahkan Gavin melihat wajah Frisa. Gavin menyingkirkan rambut Frisa yang menutupi wajah cantik gadis itu. Entahlah Gavin merasa damai ketika melihat wahah Frisa dan rasa kesalnya langsung menguap entah kemana, yang jelas untuk sekarang ia ingin menikmati kecantikan Frisa sebelum gadis itu bangun.
30 menit sudah berlalu pesawat yang akan ia tumpangi dengan Frisa sudah mau berangkat, tak tega membangunkan Frisa akhirnya Gavin menggendong Frisa menuju pesawat.
"Lo pulang saja. Tempat ini sudah aman," ujar Gavin yang di angguki oleh Cakra.
"Gue pulang!" ucap Cakra.
"Cakra, tetap awasi lelaki kemarin! Gue benar-benar curiga dengan lelaki itu," ujar Gavin dengan serius.
"Tentu saja. Tidak ada yang bisa menyakiti keluarga nona selama kita masih ada," ujar Cakra dengan tersenyum yang di balas oleh Gavin.
Gavin masuk ke dalam pesawat dengan Frisa yang berada di gendongannya. Cakra menatap kepergian pesawat yang di tumpangi Gavin dan Frisa barulah setelah itu ia benar-benar pergi dari bandara ini dan kembali bertugas di rumah Ferdians dan juga Rania.
*****
"Mas!" panggil Olivia saat melihat Faiz sedang memakai jas kerjanya.
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya Faiz dengan menatap Olivia.
"A-aku mau pulang!" gumam Olivia dengan lirih.
Olivia menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Yakin, Mas. Pernikahan kita tinggal sebulan lagi tidak mungkin aku di sini terus," sahut Olivia dengan lirih. "Aku juga merindukan bunda dan ayah, aku menjadi merasa bersalah dengan bunda dan ayah. Aku sudah bisa menerima kenyataan kalau aku ini anak yang lahir di luar nikah dan tidak bisa dinikahkan oleh ayah," gumam Olivia dengan lirih.
Faiz mengusap rambut Olivia dengan lembut. "Ya sudah kalau keputusan kamu seperti itu, Sayang. Mau Mas antar sekarang atau nanti sepulang kerja?" tanya Faiz dengan lembut.
"Mas pulang kerja saja dulu. Tapi setelah pulang aku boleh kerja kan, Mas?" tanya Olivia menatap Faiz dengan serius.
"No! Kamu sudah cuti, Sayang. Calon pengantin tidak boleh capek-capek," ujar Faiz dengan tersenyum.
"Kok gitu sih, Mas. Mas saja masih kerja," protes Olivia.
"Beda, Sayang. Aku ini harus memberikan yang terbaik untuk kamu," ujar Faiz dengan tersenyum. "Sebentar Mas mau memberitahu sesuatu," ucap Faiz mencari sesuatu.
"Apa itu, Mas?" tanya Olivia dengan bingung.
"Ini ada beberapa rumah yang sudah Mas pilih untuk tempat tinggal kita. Kamu tinggal pilih yang mana, Sayang. Jika kamu suka Mas akan suka juga setelah itu kita langsung datang ke rumah ini untuk melihat lokasi, setelah benar-benar cocok Mas akan membelinya untuk tempat tinggal kita berdua dan anak-anak kita nanti," ujar Faiz yang membuat Olivia terenyuh.
Faiz begitu mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna sedangkan dirinya tidak memberikan apapun untuk pernikahannya nanti dengan Faiz. Olivia merasa bersalah dengan Faiz.
"Kamu pilih-pilih dulu, Sayang. Ini masih satu komplek dengan rumah mama, rumah bunda, atau rumah kakek. Kamu pilih saja yang menurut kamu bagus ya," ujar Faiz dengan tersenyum.
"Iya, Mas! Nanti aku lihat ya," ujar Olivia dengan tersenyum.
"Mas berangkat dulu, Sayang! Muach..." ujar Faiz dengan di akhiri mencium bibir Olivia dengan lembut.
Olivia memejamkan matanya, ia begitu menikmati setiap perlakuan lembut Faiz kepada dirinya. Lalu dirinya dihempaskan oleh kenyataan yang mungkin akan membuat Faiz kecewa dengan dirinya. Olivia takut itu terjadi, dan Olivia berharap itu tidak akan terjadi nantinya.
***
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh hingga sampai ke taiwan benar-benar terbayar lunas seharusnya tetapi mengingat sikap Gavin selama di pesawat yang tak mempedulikan keberadaannya membuat Frisa benar-benar sangat kesal bahkan ia selalu mencari perhatian Gavin agar Gavin mau melihat ke arahnya. Ya, Gavin melakukan tugasnya dengan baik tapi tanpa suara sama sekali yang membuat Frisa semakin kesal.
"Aduh!" Frisa mengaduh kesakitan lebih tepatnya ia menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai demi Gavin yang memperhatikannya.
"Astaghfirullah, Nona!" ucap Gavin dengan khawatir dan tentu saja membuat Frisa sangat senang di dalam hati karena akhirnya Gavin msu berbicara kepada dirinya.
"Hiks...hiks... Sakit!" ujar Frisa dengan menangis.
Gavin langsung menggendong Frisa menuju kamar hotel mereka setelah chek-in. Untung setia mereka berpergian sudah ada orang yang standby di mana pun mereka berada untuk menjaga keamanan keduanya, mereka juga yang akan membawakan koper keduanya.
Gavin mendudukkan Frisa di kasur. "Mana yang sakit, Nona?" tanya Gavin dengan cemas. Ia mengalahkan egonya saat ini karena keselamatan Frisa adalah hal yang utama daripada kemarahan dirinya sendiri.
"Pergelangan kaki!" jawab Frisa dengan pelan.
Akhirnya Gavin memijat pergelangan kaki Frisa dengan pelan. Keduanya saling terdiam dengan perasaan yang berkecamuk.
"Masih sakit?" tanya Gavin menatap Frisa.
Frisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Tidak sakit lagi," jawab Frisa dengan pelan.
"Ya sudah Nona istirahat saja. Saya juga mau ke kamar untuk istirahat," ujar Gavin dengan tegas.
Gavin menyelimuti Frisa sebatas dada. "Kalau butuh apa-apa panggil saya saja, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.
"Iya!"
Gavin melangkah keluar dari kamar Frisa. Ia menutup pintu dengan pelan, sedangkan Frisa moodnya sudah kembali hanya karena Gavin mau berbicara lagi kepada dirinya. Bahkan Frisa tersenyum sendiri karena Gavin, ini aneh dan sangat aneh. Ada apa sebenarnya dengan dirinya sendiri? Kenapa ia seperti tidak bisa lepas dari Gavin? Seakan ia ingin egois, ia ingin Gavin selalu melindungi dirinya sampai kapanpun.