Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 28 (Makan Siang Bersama)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya. Dukung terus cerita terbaru author biar tambah semangat updatenya!...


...Happy reading...


****


Ben dan Doni mengunjungi Ferdians yang berada di perusahaan sekaligus ingin melihat bagaimana kinerja Ferdians di kantor, sedangkan Rio yang menjadi wakil direktur hanya bisa menahan kekesalannya saat papa dan kakeknya selalu memuji Ferdians.


"Seminggu bekerja di perusahaan ini kamu sudah membawa perubahan Ferdians! Benar-benar sangat mengagumkan," ujar Ben kepada Ferdians dengan bertepuk tangan.


"Kakek akan memberikan reward kepada kamu jika selama sebulan kamu berhasil memajukan perusahaan ini lagi, Ferdians!" ujar Doni dengan tegas.


Ferdians tersenyum tipis. "Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini Pa, Kek. Ada adik ipar saya yang juga ikut andil dalam membantu saya," ujar Ferdians menatap Rio yang sejak tadi diam dengan pandangan tajam menatap sepatunya sendiri.


Rio langsung menatap Ferdians, ia akhirnya tersenyum paksa. "Iya, Pa. Kak Ferdians perlu bantuan karena ini pertama kalinya dia bekerja di perusahaan," ujar Rio dengan malas.


"Bagus, Rio. Bantu terus kakak iparmu! Kalian bisa menjadi partner yang baik di perusahaan ini," ujar Ben dengan tegas.


"Iya, Pa!"jawab Rio dan Ferdians secara bersamaan.


"Cih... Bagaimana bisa aku bekerjasama dengan suami dari wanita yang aku cintai?! Aku harus menyelidiki Ferdians dan Rania karena tak mungkin Rania menikah dengan Ferdians begitu cepat dari waktu yang ditentukan papa Sepertinya ada yang tidak beres dengan keduanya karena aku tahu persis bagaimana Rania," gumam Rio di dalam hati.


Ferdians menatap Rio dengan tajam. "Aku rasa hubungan Rio dengan Rania tidak sesederhana yang aku lihat. Sepertinya lebih dari itu, aku harus menyelidiki ini semua atau mungkin Sastra mengetahuinya? Aku bisa bertanya dengannya nanti," gumam Ferdians di dalam hati.


Keduanya saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain, Ferdians tak suka dengan Rio. Ia merasa Rio tak sebaik yang ia kira, terutama hubungan Rio dengan Rania masih menjadi misteri untuknya.


"Ferdians coba telepon istrimu. Makan siang kali ini dia bisa hadir tidak, sepertinya kita perlu makan siang bersama untuk membahas bisnis keluarga Danuarta," ujar Ben dengan tegas.


"Tentu, Pa. Sebentar saya telepon Rania dulu ya," ujar Ferdians mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerja miliknya. Ferdians mencari nama kontak Rania yang berada di ponselnya dan bahkan Rania sendiri juga tidak tahu nama dirinya di kontak Ferdians yang ternyata sangat bagus.


My wife❤️


[Halo, Sayang!] sapa Ferdians dengan lembut saat teleponnya sudah diangkat oleh Rania.


[Ada apa] tanya Rania dengan suara datarnya.


Ferdians melirik ke arah papa dan kakek mertuanya dengan sekilas. [Papa dan kakek ada di kantor, mereka mengajak kita untuk makan bersama. Bagaimana? Apa kamu bisa makan bersama dengan mereka hmm?] tanya Ferdians.


Ferdians menunggu jawaban dari Rania yang tampak diam setelah ia menjelaskan maksud ketika ia menelepon Rania.


[Oke...] jawab Rania dengan singkat.


[Ya sudah kalau begitu aku jemput ya. Tunggu aku di sana!]


[Hmmm...]


Telepon sudah dimatikan oleh Rania yang membuat Ferdians tersenyum tipis ke arah Ben dan juga Doni yang sangat menunggu jawaban dari Rania.


"Bagaimana? Rania tidak sibukkan?" tanya Ben.


"Tidak, Pa. Dia bisa makan siang bersama dengan kita, Ferdians akan menjemput Rania ke kantornya. Sekalian juga untuk menghilangkan penat bukan? Sebab selama beberapa hari ini Rania sedang sakit perut karena tamu bulanannya datang dia tidak berselara makan mungkin hari ini dia sudah berselara makan karena tamu bulanannya sudah pergi," jawab Ferdians dengan terkekeh karena membayangkan jika semalam suntuk ia berc*inta dengan Rania. Efek selama 6 hari ia harus berpuasa yang membuat Ferdians sangat kelaparan semalam.


Ben tercenung. Ia kembali mengingat Rania sewaktu remaja, bagaimana ia mendapatkan tamu bulanannya hingga menangis kesakitan tetapi sekarang seakan Ben abai dengan kesakitan anaknya seorang diri.


"Ahhh iya. Apakah dia masih menangis kesakitan meringkuk di kasur?" tanya Ben sirat akan kekhawatiran dengan Rania karena bagaimanapun mereka pernah sedekat itu dulu. Namun, sekarang semuanya sudah berubah.


"Jika kesakitan iya, Pa. Namun, kalau menangis Ferdians belum pernah melihatnya," ujar Ferdians dengan jujur.


"Dia lebih kuat sekarang," gumam Ben dengan lirih.


"Apa, Pa?"


"Ahhh tidak apa-apa ayo sekarang kita berangkat. Rio kamu mau berangkat sendiri atau bareng dengan Papa dan Kakek?" tanya Ben kepada anak tirinya.


"Sendiri saja, Pa!" jawab Rio dengan singkat.


"Oke ayo berangkat kalau begitu. Kita akan makan di restoran Danuarta saja," ujar Ben dengan tegas.


"Ayo!"


****


"Saya lapar!" ujar Rania dengan jujur bahkan perutnya sudah berbunyi sejak tadi tapi rasa malas untuk makan membuat Rania hanya diam di kantornya apalagi rasa lelah yang mendera tubuhnya membuat Rania seakan malas untuk melakukan apapun.


"Sebentar ya. Kita akan ke restoran untuk makan bersama dengan papa, kakek, dan Rio," ujar Ferdians dengan lembut.


Mendengar kata Rio membuat wajah Rania semakin datar. "Kenapa ada Rio juga?" tanya Rania dengan datar.


Ferdians mengernyit kedua alisnya dan semakin yakin jika Rania dan Rio sangat dekat di masa lalu.


"Kenapa? Dia juga adik kamu, kan? Apa hubungan kamu dengan Rio di masa lalu?" tanya Ferdians dengan penasaran.


"Tidak ada!" jawab Rania dengan dingin.


"Masih belum mau cerita?" tanya Ferdians.


"Jika aku mencarinya sendiri bagaimana?" tanya Ferdians dengan tegas.


Rania langsung melihat kevarah Ferdians dengan tajam. "Tidak usah ikut campur apa yang terjadi dengan saya maupun Rio di masa lalu!" ujar Rania dengan tajam.


"Oke... Berarti aku simpulkan jika hubungan kalian memang dekat sebelum tante Agni dan papa menikah," ujar Ferdians dengan santai walaupun di dalam hatinya ia sedang menahan rasa cemburunya.


"Jangan menjadi pria yang sok tahu!" ujar Rania dengan dingin.


"Aku tidak sok tahu hanya saja aku melihat Rio seperti tidak suka dengan kehadiranku. Wajar saja jika aku ingin mengetahui hubungan kalian di masa lalu," sahut Ferdians dengan tegas.


"Turunkan saya di sini!" ujar Rania yang sudah tidak mood.


"Tidak akan, Rania. Sudah jangan marah lagi, jika memang kalian tidak memiliki hubungan seharusnya kamu tidak perlu marah," ujar Ferdians yang akhirnya mengalah.


"Hmmm..."


"Kamu masih kurang dengan jatah semalam hmm?" tanya Ferdians dengan jahil.


"Tidak! Dan jangan macam-macam di mobil," ujar Rania memperingati.


Ferdians terkekeh. "Tidak, Sayang. Karena kita harus segera sampai ke restoran tetapi setelah pulang dari restoran aku tidak janji," sahut Ferdians dengan mencuri ciuman di pipi Rania.


****


Ferdians dan Rania sudah sampai di restoran Danuarta. Mereka berjalan beriringan menuju meja VVIP yang memang sudah disiapkan untuk pemilik restoran ini.


"Selamat siang!" ujar Rania dengan datar.


"Selamat siang, Rania!" ujar Ben dan Doni secara bersamaan.


Rio yang sedang sibuk dengan ponselnya akhirnya menatap Rania. Rio memasukkan ponselnya di saku jasnya saat Rania dan Ferdians mulai duduk.


"Rania, kenapa kamu sangat gampang menikah dengan Ferdians. Padahal dengan aku dulu kamu selalu mengulur waktu," gumam Rio di dalam hati dengan dada yang teramat sesak melihat Rania begitu perhatian dengan Ferdians.


"Suatu kebahagiaan melihat kamu bisa makan siang bersama dengan kami Rania. Kakek sudah lama tidak merasakan ini, Kakek lihat kamu semakin cantik dan berisi ketika sudah menikah. Pandai sekali Ferdians membawa perubahan untuk kamu," ujar Doni dengan tenang.


"Karena saya bahagia hidup bersama dengan Ferdians," jawab Rania dengan tegas.


Entah benar ataupun tidak tetapi perkataan Rania berhasil membuat jantung Ferdians berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Ahhh singa betina ini ternyata mampu membuat hatiku meleleh. Sayangnya ucapannya hanya sandiwara, tapi persetan dengan itu semua karena aku yakin perkataan yang dikeluarkan oleh Rania itu tak sepenuhnya berbohong," gumam Ferdians di dalam hati.


"Benar kamu bahagia bersama Ferdians? Hmm maksudku kamu sedang tidak bersandiwara, kan?" tanya Rio dengan serius.


Rania menatap sinis ke arah Rio. "Apakah saya terlihat sedang bersandiwara?" tanya Rania dengan penuh penekanan.


"Rio apa maksudmu? Kakakmu tentu saja sudah bahagia dengan suaminya, walaupun Ferdians dari kalangan sederhana tapi dia mampu membuat Rania bahagia," ujar Ben.


"Aku hanya bertanya saja, Pa!" sahut Rio dengan hati yang sangat kesal. Lagi dan lagi ia kalah dengan Ferdians.


"Tidak seharusnya kalian bersama! Seharusnya aku yang menjadi suaminya Rania bukan Ferdians!" gumam Rio di dalam hati.


Makan siang kali ini terkesan dingin karena Rania terlanjur kesal dengan kehadiran Rio. Tetapi sikapnya berusaha biasa saja karena Ferdians mampu membuat hatinya sedikit tenang.