
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Gavin bangun terlebih dahulu dibandingkan istrinya, ia tersenyum menatap istrinya yang masih tertidur dengan nyenyaknya, mungkin Frisa masih merasa lelah dengan aktivitas mereka yang terjadi dari sore hingga malam.
Gavin masuk ke dalam kamar mandi setelah mencium wajah istrinya bertubi-tubi dan mencium perut istrinya dengan lembut, tak lupa juga membenarkan letak selimut istrinya.
Gavin mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan tersenyum sendiri mengingat percintaan panas mereka yang di pimpin oleh Frisa semalam karena Frisa seakan memiliki kepribadian yang sangat berbeda semalam ketika bercinta dengan dirinya.
"Sayang jika kamu hamil dan ngidam bercinta seperti semalam Mas ingin kamu tiap tahun hamil anak Mas!" gumam Gavin dengan terkekeh dengan perasaan yang sangat bahagia.
Tak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi bergegas Gavin menyelesaikan mandinya. Gavin menarik handuknya dan melilitkan handuk di pinggang dan setelah itu Gavin keluar dari kamar mandi.
Gavin tersenyum karena ternyata Frisa sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang dengan tubuh yang masih tertutup selimut.
"Pagi bumil cantiknya Gavin!" sapa Gavin dengan tersenyum dan mencium kening istrinya dengan lembut.
Frisa terkekeh. "Pagi suami tampannya Frisa!" sahut Frisa dengan manja.
"Mas kenapa tidak membangunkan aku sih?" tanya Frisa dengan cemberut.
"Kamu terlihat sangat lelah, Sayang. Mas tidak tega membangunkan kamu," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Tapi Mas sudah tampan aku masih bau iler tahu!" ujar Frisa dengan cemberut.
Gavin terkekeh. "Kamu tetap cantik di mata Mas, Sayang! Sekarang mandi biar Mas siapkan air hangat ya," ujar Gavin dengan perhatian.
"Iya, Mas. Tubuhku sudah sangat lelah dan lengket sekali," ujar Frisa dengan manja.
"Sebentar ya Mas siapkan air hangatnya. Sini gendong biar sekalian ke kamar mandi," ujar Gavin dengan begitu sangat memanjakan bumil cantiknya tersebut.
Gavin menggendong Frisa ke dalam kamar mandi dan dengan senang hati Frisa menerima segala perhatian suaminya. Dan Frisa begitu sangat bahagia sekarang dengan segala perhatian suaminya pagi ini.
****
Pelayan melihat keromantisan kedua majikan mereka hanya bisa tersenyum malu apalagi melihat Frisa yang dengan manjanya duduk di pangkuan Gavin, melihat Gavin yang selalu memberikan perhatian kepada Frisa membuat semua pelayan ikut bahagia dan iri dengan keromantisan keduanya.
"Mas, mau paha ayam itu!" ujar Frisa merengek manja.
"Iya, Sayang!" ucap Gavin dengan tersenyum dan mengambilkan paha ayam yang diinginkan Frisa.
Frisa menerima paha ayam goreng yang diberikan suaminya dengan senang hati, ia memakannya dengan sangat lahap yang membuat Gavin tersenyum bahagia melihat Frisa sangat lahap makan dan tidak memilih-milih makanan setelah kandungannya sudah melewati usia 3 bulan.
"Kalau kamu mau apa-apa langsung bilang sama Mas ya! Mas akan berusaha mewujudkan semua keinginan kamu, Sayang!" ujar Gavin dengan lembut dan tentu saja membuat Frisa terharu.
"Iya, Mas. Aku sudah tidak memilih-milih makanan kok sekarang cuma terkadang aku sangat menginginkan sesuatu seperti paha ayam goreng ini. Aku tidak seperti mama kok," ujar Frisa dengan terkekeh yang mengingat ngidam mamanya yang sangat menyiksa papanya.
"Yang paling kasihan itu kak Faiz, Mas. Aku bisa merasakan penyesalan dan kesedihannya saat ini. Dia sangat menyesal telah memperlakukan kak Olivia seperti itu hingga kak Olivia koma dalam keadaan hamil sekarang. Aku juga takut kehilangan kak Olivia dan kedua keponakanku, Mas!" gumam Frisa dengan lirih merasa sedih karena Frisa ikut merasakan apa yang kembarannya rasakan saat ini.
Ada rasa sesak ketika mengingat bagaimana Faiz begitu menyesal sekarang. Bahkan apa yang Faiz rasakan seakan ikut dirinya rasakan, mungkin ikatan batin di antara keduanya cukup kuat, jika tidak sederhana mengingat ia tengah hamil, Frisa tak ingin pulang dari rumah sakit, ia ingin terus menemani kembarannya itu.
Gavin yang paham dengan apa yang istrinya rasakan mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus perut Frisa dengan lembut.
"Mas tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Sayang. Tapi kamu sedang hamil kita harus lebih fokus dengan kehamilan kamu ya. Mas tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita," ujar Gavin yang di angguki oleh Frisa.
Kali ini Frisa mendengarkan ucapan suaminya agar lebih fokus ke kandungannya sendiri walaupun ia tetap saja memikirkan kondisi kakak iparnya dan penyesalan kembarannya itu.
"Aku harap apa yang terjadi kemarin adalah cobaan yang bisa dilewati oleh kak Faiz dengan baik. Dan aku berharap kak Faiz bisa bersama dengan kak Olivia kembali," gumam Frisa di dalam hati.
"Selamat pagi!" ucap Citra dengan tersenyum menatap keromantisan anak dan menantunya itu.
"Mamaa!! Pagi Mama! Kok tidak bilang mau datang ke sini sih? Kan aku bisa menyuruh bibi untuk menyiapkan makanan kesukaan Mama dan papa," ujar Frisa dengan malu-malu karena kedua mertuanya melihat ia masih berada di dalam pangkuan Gavin saat ini.
Gavin menahan Frisa saat istrinya itu ingin berpindah duduk. "Tidak apa-apa, Sayang. Suami kamu yang menyuruh Mama untuk datang menemani kamu di rumah karena Gavin mau berangkat kerja," ujar Citra dengan tersenyum.
"Ini Mama bawakan makanan kesukaan kamu juga loh. Di makan ya, Sayang! Biar kamu dan cucu Mama sehat," ujar Citra dengan perhatian yang membuat Frisa kembali tersenyum lebar.
"Makasih Mama!" ujar Frisa dengan bahagia.
"Oke, Sayang. Jadi, karena mama dan papa sudah datang. Mas bersama dengan papa pergi ke kantor dulu ya. Jangan nakal selama di rumah sama mama ya, ingat apapun yang kamu kerjakan selama Mas di kantor Mas bisa tahu semuanya," ujar Gavin dengan tegas.
"Ma awasi istri Gavin ya, Ma. Dia suka bandel kalau aku tidak ada di rumah. Frisa sering kali mengerjakan sesuatu yang membuat dirinya sendiri lelah," ujar Gavin kepada mamanya yang membuat Frisa cemberut.
"Kamu apa-apaan sih, Mas! Malu tahu!" ujar Frisa dengan kesal
"Suami kamu itu perhatian, Frisa! Apapun yang dia lakukan itu semua demi kebaikan kamu. Yang terpenting kamu jaga diri baik-baik di rumah ya! Jangan keluar dari rumah tanpa Gavin atau penjaga. Kalian di rumah saja ya," ujar Sastra dengan tegas yang di angguki oleh Frisa.
"Iya, Pa. Awasi juga mas Gavin ya, Pa. Awas saja kalau dia melirik cewek lain akan aku potong masa depannya," ujar Frisa dengan mencontohkan gerakan memotong dengan tangannya yang membuat Gavin bergidik ngeri.
"Kalau masa depan Mas kamu potong. Kamu tidak bisa merasakan kenikmatan lagi, Sayang!" ujar Gavin yang membuat Frisa mendelik.
"Tinggal cari yang lain!" jawab Frisa dengan terkekeh hingga Gavin menatap tajam ke arahnya.
"Awas saja kalau berani. Sebelum pria itu menyentuh kamu, dia sudah mati di tangan Mas!" ujar Gavin dengan dingin.
Frisa menelan ludahnya dengan kasar, sepertinya ia mengundang kemarahan singa jantan sekarang.
"Iya, iya, aku tidak akan macam-macam, Mas. Jangan pulang lama-lama ya nanti aku kangen," ujar Frisa dengan tersenyum.
Raut kemarahan di mata Faiz langsung menghilang, ia memeluk Frisa dan mencium kening Frisa dengan lembut.
"Iya, Sayang. Mas berangkat dulu ya!" ujar Gavin berpamitan.
Frisa mengangguk. Setelah suami dan papa mertuanya berpamitan. Frisa kembali mengajar mama mertuanya untuk makan dan berbincang ringan sesekali Frisa merasakan kehangatan elusan tangan Citra di perutnya yang membuat Frisa tersenyum.