Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 248 (Penyesalan Faiz)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...📌Maaf belum update normal seperti biasanya karena jum'at kemarin baru saja selesai 7 hari ibuku....


...Happy reading...


****


Faiz masuk ke ruang ICU dengan perasaan yang begitu sangat menyesal, dadanya begitu sangat sesak melihat keadaan istrinya sekarang yang tak membuka mata dan hanya suara napas Olivia lah yang terdengar pelan. Faiz memandang alat pendeteksi jantung Olivia, ia takut garis itu berubah menjadi lurus.


Faiz mendekat ke arah Olivia, ia menggenggam tangan Olivia dengan lembut. "Sayang bangun Mas mohon! Mas salah! Mas menyesal telah mendiami kamu selama ini," gumam Faiz dengan lirih bahkan air matanya keluar dari sudut matanya karena ia begitu sangat takut kehilangan Olivia.


Faiz mencium tangan Olivia dengan lembut, berharap Olivia akan segera sadar sekarang. Namun, melihat Olivia hanya diam membuat dada Faiz begitu sangat sesak. Faiz melihat air mata Olivia keluar dari sudut mata istrinya, ia mengambil tisu dan menyeka air mata Olivia dengan pelan.


"Kamu dengarkan apa yang Mas ucapkan, Sayang? Bangun ya, Sayang! Mas menyesal! Mas janji apa yang kamu mau selama kamu mengidam Mas akan menuruti semua kemauan kamu! Kamu mau apa? Kamu mau mangga muda? atau apa sayang Mas akan membeli atau mengambilnya untuk kamu," ujar Faiz dengan lirih yang membuat Rio menghela napasnya dengan sesak.


Rio berdiri di depan pintu menyaksikan betapa hancurnya seorang Faiz sekarang. Rio tak menyalahkan Faiz atas musibah ini karena ia tahu, ia juga salah di sini. Maka dari itu Rio hanya bisa diam menatap menantunya yang menangis di samping tubuh tak sadarkan diri anaknya dengan perut yang sudah membesar.


Sama dengan Faiz, Rio juga sangat takut kehilangan anak semata wayangnya. Anak yang menurutnya tidak mendapatkan kasih sayang yang sempurna sejak kecil bahkan sampai sedewasa ini anaknya masih menderita, ia merasa gagal menjadi orang tua untuk Olivia karena ia tidak memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk anaknya sendiri.


Tepukan tangan di pundaknya membuat Faiz menegakkan tubuhnya dan menghapus air matanya dengan cepat.


"Yah, maaf aku telah membuat Olivia menderita," gumam Faiz dengan lirih.


Rio tersenyum pedih. "Tidak hanya kamu, Faiz. Tapi Ayah juga yang telah membuat Olivia menderita sampai separah ini," gumam Rio menanggapi ucapan menantunya dengan suara yang amat lirih.


"Rasanya begitu sangat sesak karena mengingat Ayah lah sumber utama penderitaan Olivia. Andai saja Ayah tidak merawat Cassandra dulu pasti Olivia tak akan se-menderita ini, pasti Olivia akan sangat bahagia bersama dengan kamu," gumam Rio dengan menghela napas beratnya karena dadanya begitu sangat sesak sekarang.


Rio berdiri di samping kiri anaknya dan mengecup kening anaknya dengan lembut. "Sayang, bangun ya! Ayah pengen lihat kamu bahagia bersama dengan keluarga kecil kamu nanti," gumam Rio berbisik di telinga Olivia tetapi sama halnya dengan Faiz, Rio sama sekali tak mendapatkan respon apapun dari Olivia hanya helaan napas Olivia lah yang terdengar pelan.


Keduanya hanya bisa terdiam memandang Olivia berharap ada keajaiban yang akan membuat Olivia sadar sekarang. Kedua lelaki itu hanya bisa merasakan penyesalan yang teramat mendalam atas apa yang terjadi.


"Maafkan Mas, Sayang. Mas sungguh menyesal!" gumam Faiz di dalam hati sambil memandang wajah Olivia yang terlihat pucat.


*****


Gavin menatap istrinya yang semakin terlihat sangat menggemaskan, setelah menjenguk Olivia di rumah sakit keduanya memutuskan untuk pulang karena Frisa sangat mudah kelelahan sekali.


Sesampainya di rumah keduanya langsung masuk ke dalam kamar karena Frisa sudah ingin beristirahat. Napas Frisa tampak terengah-engah walaupun ia hanya berjalan dari garasi sampai ke dalam kamar karena ia menolak Gavin yang ingin menggendongnya.


"Tuh kan apa Mas bilang. Mas gendong saja kamu tidak mau," ujar Gavin yang mengelap keringat Frisa dengan tisu.


Frisa nyengir menatap suaminya. "Sekalian olahraga, Mas!" sahut Frisa dengan manja.


Frisa memperhatikan Gavin yang merebahkan diri di samping tubuhnya, ia langsung tersenyum dan meletakkan kepalanya di lengan Gavin.


"Enaknya!" gumam Frisa dengan pelan yang membuat Gavin terkekeh.


"Mas maunya laki apa perempuan?" tanya Frisa mendongak menatap suaminya.


"Apapun jenis kelaminnya Mas akan menerimanya, Sayang. Yang terpenting kamu dan anak kita sehat," ujar Gavin mencium bibir Frisa dengan gemas.


Frisa menelan ludahnya dengan kasar, ia menjadi sangat ingin bercinta sekarang dengan suaminya, tangan Frisa menyentuh tonjolan di leher suaminya dengan lembut yang membuat Gavin menelan ludahnya dengan kasar.


"Sayang jangan mancing-mancing!" ujar Gavin memegang tangan Frisa agar berhenti memegang jakun miliknya karena itu bisa meningkatkan hasratnya saat ini.


"Aku mau Mas! Pengen!" rengek Frisa yang membuat Gavin tersenyum bahagia.


"Beneran?" tanya Gavin yang belum percaya jika istrinya meminta duluan saat ini.


Frisa mengangguk dengan wajah yang begitu sangat menggemaskan. Gavin langsung menindih tubuh Frisa dengan perlahan agar tidak menyakiti anaknya yang berada di dalam perut Frisa.


"Mas tidak akan berhenti, Sayang!" ujar Gavin dengan tersenyum mesum.


"Iya jangan berhenti aku mau, Mas!" rengek Frisa yang membuat Gavin bertambah semangat untuk bercinta dengan istrinya.


Mungkin ini adalah hormon kehamilan Frisa yang berubah-ubah. Karena tadi saat di rumah sakit Frisa terus menangisi keadaan Olivia yang tidak sadarkan diri dan menangisi keadaan Faiz yang terlihat begitu sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi. Bahkan Gavin tidak bisa menghentikan tangisan istrinya yang membuat Gavin hanya bisa memeluk dan menenangkan istrinya saat di rumah sakit tadi.


Suara ******* Frisa sudah terdengar saat Gavin mencumbu istrinya dengan sangat mesra. Gavin tambah semangat untuk terus membuat istrinya tak berdays di bawah kuasanya saat ini.


"Mas Gavin aahhh...." gumam Frisa dengan memejamkan mata merasakan kenikmatan yang begitu membuat dirinya seperti terbang ke atas awan.


"Iya, Sayang! Gimana enak?" tanya Gavin dengan menggeram tertahan saat miliknya sudah masuk sepenuhnya setelah Frisa mendapatkan pelepasan pertamanya tentunya.


"Eeummm enakk bangett, Mass!" jawab Frisa dengan lirih dan tubuh yang sudah bergerak gelisah sekarang.


Keringat sudah membasahi tubuh keduanya saat ini. Frisa sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri bahkan, ia terus meracau karena merasa begitu nikmat sekarang. Hingga pelepasan menghampiri mereka berdua.


Gavin dan Frisa tersenyum bersama saat menikmati pelepasan yang mereka rasakan saat ini.


Cup...


Gavin mengecup kening Frisa dengan perlahan. Setelah itu ia mencabut miliknya dan mengelap sisa percintaan mereka dengan tisu.


"Sayang Mas lupa mengeluarkannya di dalam. Apa tidak apa-apa?" tanya Gavin yang baru sadar dan terlihat sangat panik sekarang.


Frisa tersenyum menenangkan suaminya. "Tidak apa-apa, Mas. Anak kita juga kangen ingin di kunjungi papanya," ujar Frisa yang membuat Gavin tersenyum lega.


"Syukurlah jika tidak apa-apa, Sayang. Mas sudah sangat takut tadi," ujar Gavin dengan menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Gavin merebahkan dirinya di samping Frisa dan menutupi tubuh mereka dengan selimut, setelah itu Frisa masuk ke dalam pelukan suaminya. Tak lama mereka memejamkan matanya karena merasa begitu lelah sekali. Gavin begitu teramat senang sekali melihat Frisa begitu sangat manja kepada dirinya. Dan itu sungguh membuat Gavin merasa menjadi suami yang begitu sangat diinginkan oleh Frisa.