Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 47 (Mirip Dengan Seseorang?)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


"Kamu yakin?" tanya Ferdians dengan menelan ludahnya dengan kasar karena ia masih tidak percaya jika istrinya yang akan meminta duluan kepada dirinya.


"Yakin!" jawab Rania dengan tenang.


"Kalau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita bagaimana? Aku tidak mau mengambil resiko, Sayang! Walaupun sebenarnya aku juga ingin," ujar Ferdians dengan pelan.


"Jadi, kamu tidak mau? Ya sudah malam ini jangan tidur di kamar!" ujar Rania dengan tajam yang membuat Ferdians mendelik tak percaya dengan apa yang baru saja Rania ucapkan. Rania mengancam dirinya untuk tidak tidur di kamar hanya karena ia menolak berc*nta dengan Rania karena ia takut terjadi sesuatu dengan Rania dan kandungannya.


"Eh jangan gitu dong, Sayang. Kamu tega sama suami kamu?" ujar Ferdians dengan pelan.


"Awas! Turun dari tubuh saya!" ujar Rania dengan ketus.


Ferdians mengukung tubuh Rania, ia menatap Rania dengan sangat dalam. Sikap Rania akhir-akhir ini membuat Ferdians bingung. Rania sudah mencintainya atau ini hanya bawaan bayi?


"Iya kita berc*nta, Sayang. Tapi aku keluarin di luar ya! Kalau kandungan kamu sudah kuat baru kita akan berc*nta seperti biasanya," ujar Ferdians dengan tersenyum.


Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut dan kemudian turun ke bawah hingga ke bibir Rania. Rania membalas ciuman Ferdians tak kalah bergairahnya karena Rania memang sangat menginginkan Ferdians hari ini, ia tidak tahu apa,yang terjadi lada dirinya yang jelas saat ini egonya kalah dengan keinginannya untuk berc*nta dengan Ferdians.


"Aahhh..." Rania mend*sah dengan sangat merdu di telinga Ferdians yang membuat Ferdians bersemangat untuk menc*mbu Rania bahkan meninggalkan jejak keunguan di leher Rania.


Ferdians melepaskan pakaian Rania dengan perlahan dan saat ini Rania sudah polos tanpa sehelai benang pun. Ferdians menelan ludahnya dengan kasar, gairahnya sudah memuncak saat melihat tubuh polos Rania.


Rania dengan tak sabarannya melepaskan pakaian Ferdians yang membuat Ferdians terkekeh. Baru kali ini ia melihat Rania seperti ini dan itu sangat menguntungkan untuk Ferdians.


"Cepat, Mas!" ujar Rania dengan tak sabaran.


Merasa Ferdians sangat lama Rania membalikkan keadaan, ia yang memimpin permainan yang membuat Ferdians mend*sah dengan pelan.


"Tidak sabaran banget sih hmm? Tapi aku suka! Pelan-pelan, Sayang!" ujar Ferdians dengan menggeram. Rania benar-benar membuat gairahnya memuncak sekarang.


Keduanya berolahraga seperti yang Rania inginkan, keringat Rania maupun Ferdians sudah bercucuran. Suara mereka saling bersahutan dengan sangat indah. Saat Ferdians sudah ingin mencapai puncaknya Ferdians ingat jika ia harus menjaga kandungan istrinya.


Wajah Rania sedikit kecewa saat Ferdians mengeluarkannya di luar. Tapi ia memaklumi karena memang dirinya sedang hamil muda. Setelah membersihkan tubuh Rania Ferdians memeluk Rania dengan erat.


"Kamu sudah tidak memikirkan ucapan Papa, kan?" tanya Ferdians dengan lembut.


"Hmmm..."


"Jangan cemberut terus, Sayang. Senyum dong nanti kita jalan-jalan ya," ujar Ferdians dengan lembut.


Rania memeluk Ferdians. Ia tersenyum tipis saat mendengar ucapan Ferdians yang berusaha membujuk dirinya.


"Rania kamu ini kenapa sih? Ingat perjanjian awal pernikahan kamu dengan Ferdians. Jangan baper!" ujar Rania di dalam hati.


****


Alex menatap televisi miliknya dengan memainkan dagunya, ia masih fokus dengan penayangan televisi saat ini.


"Jadi, Rania Danuarta sudah menikah?!" gumam Alex dengan pelan.


"Menarik," gumam Alex dengan menyeringai tetapi ketika ia melihat wajah Ferdians Alex menjadi terdiam.


Wajah itu? Kenapa sangat mirip sekali dengan om-nya? Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Tetapi bedanya Ferdians lebih muda. Tetapi rasanya ini bukan sebuah kebetulan yang terjadi karena Ferdians dan om-nya bak pinang di belah dua. Apa jangan-jangan...


"Tidak mungkin!" gumam Alex dengan lirih.


***


"Maafkan aku, Sayang. Tapi sebentar lsgi setelah semuanya sudah berhasil aku kumpulkan semua akan terungkap," ujar Ben dengan lirih.


Melihat senyuman Dewi di balik foto tersebut membuat dada Ben terasa sesak. "Kamu pasti membenciku karena aku sudah menelantarkan anak kita sendiri, Sayang. Tapi dia perempuan yang kuat bahkan ia bisa mendirikan perusahaannya sendiri tanpa campur tanganku. Darah kita benar-benar mengalir di dalam dirinya," gumam Ben dengan lirih.


"Jangan menyesali apa ya sudah terjadi, Ben. Papa tidak suka kamu menjadi lemah seperti ini," ujar Doni masuk ke ruang kerja anaknya.


"Ben belum tenang jika pembunuh Dewi belum benar-benar tertangkap, Pa!" ujar Ben dengan menghela napasnya dengan berat.


"Rencana kita sudah di susun dengan begitu epik, Ben. Dan jangan sampai kamu yang membuat rencana kita ini gagal. Kamu pikir Papa akan tinggal diam saja jika kematian menantu kesayangan Papa benar-benar di sengaja oleh seseorang," ujar Doni dengan tegas.


"Jangan sampai kelemahan kamu ini akan membuat Rania juga pergi menyusul Dewi," ujar Doni dengan tegas.


Raut wajah Ben langsung berubah mendengar ucapan papanya. "Sastra dan yang lainnya bisa menjaga Rania, Pa! Apalagi sekarang ada Ferdians," ujar Ben dengan tegas.


"Ya. Tapi kita tidak bisa lengah sedikitpun!" ujar Doni dengan tajam.


"Pa!" panggil Ben dengan menatap Doni.


"Hmmm..."


"Melihat Ferdians mengingatkan aku dengan seseorang. Apa pikiranku dengan Papa sama?" tanya Ben dengan serius.


"Ya, Ben. Dan kita harus mencari tahu hal ini. Jangan sampai Rania kenapa-napa," ujar Doni dengan tajam.


"Jika benar dugaan Papa selama ini berarti mereka memang mencari mati!" ujar Doni dengan suara yang amat dingin dan dengan tangan terkepal kuat begitu pun dengan Ben, keduanya tidak suka di usik dan jika ada yang mengusik keduanya siap-siap dengan kehancuran mereka.


Ben maupun Doni sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Banyak hal yang mereka pikirkan hingga dengan terpaksa melepaskan Rania di luar sana untuk mengungkapkan kematian Dewi. Kebungkaman mereka selama ini bukan berarti tidak peduli dengan Rania maupun Dewi tetapi apa yang mereka lakukan saat ini adalah untuk melindungi Rania karena jika Rania masih berada di dalam rumah ini maka sangat membahayakan bagi Rania. Biarlah Rania saat ini membenci mereka asal nyawa Rania tidak dalam bahaya.


****


Rania membantu ibu mertuanya untuk mencukur semua rambut ibu mertuanya. Rambut Heera sudah rontok dengan sangat banyak dan lebih baik di cukur habis yang membuat Rania merasakan sesak yang begitu dalam. Saat Rania mencukur rambut mertuanya Ferdians, suster Ana, dan Sastra melihatnya.


Heera menatap Rania dari balik cermin. "Ibu tidak apa-apa, Nak! Nanti kalau Ibu sudah sembuh rambut Ibu akan tumbuh lagi," ujar Heera berusaha tersenyum di hadapan Rania karena tak ingin membuat Rania bersedih.


Hati Rania terasa teriris saat melihat rambut mertuanya berjatuhan. "Ibu harus berjanji dengan Rania kalau Ibu pasti akan sembuh!" ujar Rania dengan tegas.


"Ibu tidak bisa berjanji, Nak. Tapi Ibu akan berusaha untuk sembuh demi kamu, Ferdians, dan juga kedua cucu Ibu," ujar Heera dengan tersenyum.


Heera juga merasa sedih karena harus kehilangan rambut kesayangannya tetapi ini jauh lebih baik daripada melihat rambutnya rontok begitu banyak.


Rania meletakkan alat cukur rambut itu di meja setelah selesai mencukur semua rambut mertuanya. Sekarang mertuanya sudah botak tanpa ada rambut yang tumbuh di kepalanya tetapi bagi Rania ibu mertuanya tetap cantik di matanya.


"Ibu masih cantik kok!" ujar Rania dengan tersenyum yang membuat Heera juga tersenyum.


Senyuman mereka menular pada Ferdians, Sastra dan juga suster Ana.


"Ibu harus istirahat lagi ya!" ujar Rania yang di angguki oleh Heera.


Heera merasa semua badannya nyeri tetapi ia tidak ingin memperlihatkan kesakitannys di depan anak san menantunya.


"Sus bawa ibu ke kamarnya!" ujar Rania dengan tegas.


"Baik, Nona!" ujar Suster Ana dengan pelan.


"Ayo, Bu!" ujar Suster Ana dengan tersenyum.


Rania melihat kepergian ibu mertuanya dan Suster Ana dengan menghela napas beratnya. Kenapa ia bisa sangat menyayangi ibu mertuanya? Padahal pernikahannya dengan Ferdians hanyalah sementara dan jika nanti Rania dan Ferdians berpisah apakah Rania sanggup kehilangan ibu mertuanya? Apakah Rania sanggup melihat kesedihan di wajah mertuanya? Padahal Rania tahu ibu mertuanya menginginkan ia dan Ferdians bahagia. Jika ibu mertuanya tahu jika ia membayar Ferdians untuk menjadi suaminya apakah Heera akan membencinya?