
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Ben, Sastra, Liam, dan Rania sudah sampai di rumah utama milik Ben. Di ruangan tersebut sudah ada Doni dan Ana yang sudah menunggu kehadiran mereka. Mendengar keributan dari luar Ana langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, sebenarnya ia sejak tadi khawatir dengan keadaan putri sambungnya, pasti suaminya itu membawa Rania secara paksa pulang ke rumah.
"Papa egois!" ujar Rania dengan sarkas.
Wajahnya sangat tajam memandang Ben seakan kebencian itu kian menggunung di hatinya.
"Ini semua demi kebaikan kamu, Rania. Ferdians adalah anak dari seorang pembunuh, mana mungkin Papa membiarkan kamu hidup dengan anak seorang pembunuh," ujar Ben dengan tegas.
"Yang pembunuh itu om Eric bukan suami saya! Jika suami saya adalah anak seorang pembunuh maka kedua anak saya juga cucu dari seorang pembunuh," ucap Rania dengan tajam.
Ben terdiam mendengar kata-kata Rania saat ini. "Memang benar tapi darah Danuarta lebih kental untuk kedua cucu Papa!" ujar Ben dengan datar.
"Kali ini kamu tidak usah membantah ucapan Papa. Ferdians tidak baik untuk kamu," ujar Ben dengan dingin.
"Rania dan kedua anak Rania butuh mas Ferdians, Pa!" ujar Rania dengan tajam.
"Kamu dan kedua cucu Papa tidak butuh Ferdians, Rania! Papa masih bisa memenuhi kebutuhan apa yang kamu mau. Kalau perlu setelah kamu dan Ferdians bercerai, secepatnya Papa akan mencari pengganti Ferdians!" ujar Ben dengan dingin.
Rania terkekeh dengan sinis. Benar-benar papanya tidak pernah tahu bagaimana perasaan dirinya selama ini.
"Papa tidak mau mendengar kamu membela Ferdians lagi. Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini, Papa tidak akan membiarkan kamu menemui Ferdians lagi!" ujar Ben meninggalkan Rania begitu saja.
"Arghh..." teriak Rania dengan kesal.
Ana mendekati anak sambungnya dengan sendu. "Rania!" panggil Ana dengan lirih.
"Kenapa? Mama mau membela Papa? Bela saja dia! Dia tidak pernah mengerti perasaan saya! Papa adalah orang tua egois! Papa tidak benar-benar memahami bagaimana saya!" ujar Rania dengan menggebu-gebu.
Ana menggelengkan kepalanya. "Mama mengerti perasaan kamu, Mama sudah membujuk papa kamu tapi tetap saja dia keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapan Mama," ujar Ana dengan lirih.
Rania mengusap wajahnya dengan kasar, ia ingin menangis sekarang tetapi tidak mungkin ia memperlihatkan kesedihannya di depan mama sambungnya.
Rania menatap tajam ke arah Sastra dan Liam. "Kalian pengkhianat! Saya pikir kalian benar-benar tulus bekerja dengan saya!" ujar Rania dengan tajam.
"Maafkan kami, Nona!" ujar Sastra dan Liam.
"Maaf kalian tidak bisa membuat saya bertemu dengan suami saya, kan?" tanya Rania dengan tajam.
"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan Ben. Anda tidak bisa keluar dari rumah ini bertemu dengan tuan Ferdians," ujar Liam yang membuat Rania ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang.
"KALIAN BENAR-BENAR BRENGSEK! SAYA INI MAJIKAN KALIAN! AWAS SAJA AKAN SAYA HUKUM KALIAN SETELAH SAYA BERHASIL KELUAR DARI RUMAH INI!" teriak Rania penuh emosi.
"Rania, kamu jangan berteriak seperti itu ya kasihan kedua anak kamu. Sekarang kita ke kamar ya, Mama akan bantu mencari jalan keluar agar kamu tidak bercerai dengan Ferdians," ujar Ana dengan lembut.
Ana membawa Rania ke kamarnya dulu. Kamar yang selalu rapih dan bersih karena Ben tidak mengizinkan siapapun yang menempati kamar ini kecuali Rania sendiri.
Rania menatap kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati, ada perasaan sesak yang memghimpit dadanya ketika sepenggal demi sepenggal memori terlintas di pikirannya.
Rania langsung memeluk Ana dengan erat yang membuat Ana dengan sigap membalas pelukan Rania. Dapat Ana dengar jika Rania sedang menangis saat ini yang membuat Ana ikut menangis karena kehamilannya membuat Ana sangat sensitif.
"Hiks... Papa jahat! Dia tidak benar-benar menyayangi saya!" ujar Rania dengan sesegukan yang baru pertama kali Ana lihat.
"Papa menyayangi kamu, Rania. Hanya caranya saja yang salah, kamu tenang ya. Mama akan berusaha membujuk papa," gumam Ana dengan lirih.
"Saya ingin bertemu dengan mas Ferdians! Saya sebentar lagi melahirkan bagaimana bisa mas Ferdians tidak menemani saya? Saya takut," ujar Rania mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.
"Sstt... Tenang ya. Sekarang kamu istirahat dulu. Mama yakin Ferdians juga akan berusaha untuk membawa kamu pulang bersama dia, kalian akan bersama kembali!" ujar Ana dengan lembut.
Ana membawa Rania kebarah kasur dengan lembut. "Biasanya posisi tidur gimana biar nyaman?" tanya Ana dengan pelan.
"Di peluk mas Ferdians," jawab Rania dengan masih sesegukan.
Ana menatap sendu ke arah Rania. "Kalau Mama yang peluk mau? Saat ini kan Ferdians sedang tidak ada di sini, nanti setelah Ferdians berkumpul kembali dengan kamu dia bisa memeluk kamu lagi," ujar Ana dengan pelan.
"Saya mau mas Ferdians," gumam Rania dengan lirih.
Ana tampak berpikir sejenak lalu ia tersenyum dengan tipis. "Kenapa kamu tidak telepon Ferdians saja? Dengan begitu rasa kangen kamu akan terobati," ujar Ana yang membuat Rania langsung tersenyum.
"Mama benar!" ujar Rania dengan senyum yang terbit di bibirnya.
Rania langsung menelepon suaminya itu. Panggilan pertama langsung tersambung bahkan telepon sudah di terima oleh Ferdians tetapi panggilan tersebut langsung mati yang membuat senyum Rania langsung lenyap.
Rania mencoba menghubungi suaminya lagi tetapi hanya suara operator lah yang ia dengar membuat Rania kesal dan ingin membanting ponselnya tetapi di tahan oleh Ana.
"Kalau ponselnya rusak kamu tidak bisa menghubungi Ferdians lagi. Mama yakin Papa tidak akan mengizinkan kamu untuk menghubungi Ferdians, jadi tahan emosi kamu ya. Sekarang Mama yang menemani kamu tidur dulu," ujar Ana dengan lembut.
Rania menatap berkaca-kaca ke arah Ana. Kenapa sikap Ana seperti mamanya? Rania semakin mengingat mamanya. Andai saja mamanya masih hidup, Rania pasti akan sangat tenang sekarang.
Rania menatap Ana yang berbaring di sampingnya. Air matanya mengalir di kedua matanya.
"Ponsel mas Ferdians mati, Ma. Saya yakin om Eric yang melakukannya," ujar Rania dengan lirih.
"Kamu yang sabar ya! Kita pasti akan bersama dengan Ferdians dan bu Heera lagi," ujar Ana yang di angguki oleh Rania.
Ana mengelus perut Rania dengan perlahan. "Mama yakin anak kamu dan anak Mama akan menjadi keluarga yang saling menyayangi, semua kesakitan yang kita rasakan saat ini Mama pastikan tidak akan terjadi pada anak-anak kita ya," ujar Ana dengan pelan.
"Sekarang kamu tidur Mama tahu kamu lelah!"
Ana memandang wajah Rania dengan sendu. Baru kali ini ia melihat Rania seperti ini dan suaminya benar-benar sangat tega sekali.
"Mas kamu benar-benar sangat tega dengan anak semata wayang kamu dengan mbak Dewi. Seharusnya kalian berdamai saja, kalian tidak hanya menyakiti perasaan Rania dan Ferdians tapi menyakiti perasaan kedua cucu kalian. Seharusnya kamu dan tuan Eric belajar dari pengalaman jika berpisah dengan pasangan itu adalah hal yang sangat menyakitkan," gumam Ana di dalam hati.