
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Hari sudah berlalu dengan begitu cepat kandungan Rania sudah memasuki bulan ke 8 ada rasa senang dan sedih yang kini Rania rasakan karena sebentar lagi mungkin ia akan berpisah dengan Ferdians.
Tidak! Rania tidak ingin berpisah dengan Ferdians, mungkin setelah ini ia akan mengatakan yang sejujurnya kepada Ferdians jika Rania mau pernikahan mereka di perpanjangan sampai seumur hidup. Rania sudah mencintai suaminya sejak lama tetapi ia sangat gengsi untuk mengatakannya.
Rania terbangun dari tidurnya karena ia sudah tidak tidur nyenyak selama kehamilannya sudah membesar.
Rania dengan perlahan bersandar di kepala ranjang. Ia menatap suaminya yang masih tertidur dengan nyenyak. Rania mengelus rambut suaminya dengan lembut, ia tersenyum saat menatap wajah suaminya yang sangat tampan.
Ferdians yang merasa terganggu perlahan membuka matanya, ia tersenyum saat melihat istrinya yang ternyata mengelus kepalanya.
"Kenapa, Sayang? Tidak bisa tidur lagi?" tanya Ferdians dengan serak.
Rania mengangguk dengan pelan. "Sesak, Mas!" rengek Rania mengelus perutnya.
Ferdians juga ikut bersandar di kepala ranjang, ia membawa Rania untuk bersandar di dada bidangnya. Rania sedikit kesusahan untuk bergerak karena perutnya yang sudah membesar bahkan kakinya ikut membengkak sekarang yang membuat Rania tidak percaya diri lagi.
"Posisi ini bagaimana? Nyaman?" tanya Ferdians dengan lembut walaupun ia sangat mengantuk tetapi Ferdians tetap mengutamakan kenyamanan istrinya.
"Sudah, Mas!" jawab Rania dengan pelan.
Ferdians mengelus perut istrinya dengan lembut. "Anak-anak Papa tidur ya ini sudah malam loh! Kasihan mama kalau kalian suruh begadang terus setiap malamnya," ujar Ferdians yang membuat Rania tersenyum tipis merasakan elusan Ferdians yang begitu nyaman dirasakan oleh dirinya.
"Besok kita jalan-jalan ya, Mas. Ada yang mau saya bicarakan," ujar Rania mendongak menatap wajah tampan suaminya.
Ferdians mengerutkan dahinya. "Emang tidak bisa bicara di kamar saja, Sayang?" tanya Ferdians dengan heran.
"Tidak bisa! Kita harus berbicara di suatu tempat," ujar Rania dengan tegas.
"Hmmm baiklah bumil cantiknya, Mas. Ada dinner romantis tidak nih?" tanya Ferdians dengan terkekeh.
"Hmm... Lihat saja nanti," ujar Rania dengan tersenyum yang membuat Ferdians grmas dan menjawil hidung Rania dengan gemas yang membuat Rania tertawa pelan.
"Bikin penasaran saja. Mas jadi tidak sabaran menunggu hari esok," ujar Ferdians dengan terkekeh.
Rania menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Ferdians yang masih menjadi sandaran dirinya.
"Ngantuk!" gumam Rania dengan menguap.
"Tidur, Sayang!" ujar Ferdians mengelus perut istrinya agar Rania semakin nyaman.
Rania memeluk lengan suaminya dan setelah itu ia memejamkan matanya dengan perlahan karena memang ia sudah mengantuk sekali tapi karena kehamilannya Rania sudah tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
****
Pagi harinya...
Rania dan Ferdians keluar dari kamar dan berjalan ke arah ruang makan. Keduanya menghampiri Heera yang semakin hari kesehatannya sudah membaik, Heera sudah jarang sakit karena ia terus melakukan pengobatan apa yang di anjurkan oleh dokter, dan Heera sangat bahagia akan hal itu karena ia bisa melihat kedua cucunya lahir ke dunia nanti itu pun jika Tuhan mengizinkan dirinya untuk hidup lebih lama lagi.
"Pagi, Bu. Ibu tambah cantik saja," puji Rania memeluk mertuanya dengan erat.
"Pagi, Nak. Kamu bisa saja memuji Ibu," ujar Heera dengan tersenyum.
Heera mengelus perut menantunya dengan lembut. "Kamu seperti ibu saat hamil Ferdians dan Ferry," gumam Heera dengan sangat pelan.
"Apa, Bu?" tanya Rania yang memang tidak dengar dengan apa yang ia ucapkan.
"Tidak, Nak. Ibu sangat senang sebentar lagi kamu akan melahirkan, Ibu sudah tidak sabar ingin melihat kedua cucu Ibu lahir," ujar Heera dengan tersenyum.
Sedangkan Ferdians hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya. "Ibu harus sehat dan terus sehat agar bisa melihat kedua cucu ibu beranjak besar setelah lahir ke dunia," ujar Ferdians.
"Do'akan Ibu, Nak!" ujar Heera dengan tersenyum.
"Mas!" panggil Suster Ana kepada suaminya.
Ben terkejut saat suster Ana menyentuh lengannya. "Sayang, Mas terkejut!" ujar Ben mengelus dada.
Suster Ana terkekeh. "Ya habisnya Mas melamun. Aku tahu Mas cemburu dengan kedekatan Rania dan ibu Heera, sabar ya Mas suatu saat pasti hubungan kamu dan Rania akan kembali seperti dulu. Buktinya Rania tidak lagi berbicara dingin kepada Mas, kan? Dia tidak marah saat Mas sering datang ke rumahnya," ujar suster Ana menenangkan suaminya yang sedang di landa kecemburuan.
"Kalau Rania marah bagaimana Mas bisa menemui kamu hmm? Mas sudah tidak betah di rumah sendiri karena ada Agni," ujar Ben dengan tegas.
"Kok gitu? Dulu sebelum menikah dengan aku Mas betah-betah saja tuh," ujar Suster Ana dengan cemberut.
"Cemburu?" tanya Ben dengan terkekeh.
"Tidak!" sahut Suster Ana tidak mengakui.
"Duh istriku cemburu! Sabar ya Sayang kamu akan menjadi istri Mas satu-satunya," ujar Ben dengan tulus.
"Kapan datang, Pa?" tanya Ferdians membantu istrinya untuk duduk.
"Mungkin sudah 15 menit yang lalu, Fer. Rencana Papa mau mengajak Ana pergi sebentar. Kalian mau ikut?" tanya Ben menatap anak dan menantunya.
"Mau kemana Mas? Ibu Heera tidak ada yang menemani," ujar Suster Ana menolak dengan halus.
"Saya tidak apa-apa di rumah sendiri, Ana. Lagi pula banyak pelayan, Liam dan yang lainnya di rumah ini. Saya tidak sendirian juga," ujar Heera dengan tersenyum.
"Tapi..."
"Pergi saja, Ma!" ujar Rania dengan tegas.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Suster Ana tak enak hati.
"Tidak, Ma. Papa dan Mama butuh waktu untuk berdua. Nanti ada Sastra juga yang akan menemani Ibu. Saya dan Mas Ferdians juga mau pergi tapi itu nanti," ujar Rania dengan tegas.
"Kamu tahu sekali jika Papa butuh waktu berdua dengan mama kamu Rania. Kalian tahu sendiri Papa dan mama jarang ketemu," ujar Ben dengan tersenyum.
"Ya saya mengerti itu. Kapan Papa mau menceraikan Agni?" tanya Rania dengan tegas.
"Secepatnya, Sayang. Dan Papa sudah berhasil mengumpulkan bukti jika Agni juga terlibat dalam kecelakaan yang di alami mama kamu. Agni dan Eric adalah dua manusia yang tidak punya hati."
" Uhuk...uhuk...."
Heera langsung terbatuk saat Ben menyebutkan nama Eric.
"Ibu kenapa? Minum, Bu!" ujar Ferdians dengan cemas.
"T-tidak apa-apa, Nak!" jawab Heera dengan tersenyum.
"Heera kenapa raut wajah kamu seperti itu saat saya menyebutkan nama Eric? Apakah kamu mengenal lelaki itu? Karena dari awal saya melihat Ferdians seperti saya melihat Eric," ujar Ben dengan tegas.
"Apa maksud Papa?" tanya Rania dengan tajam.
"S-saya tidak mengenalnya, Tuan!"
"Benarkah? Jangan coba-coba membohongi saya!" ujar Ben dengan tajam
"Jangan coba-coba mengacam Ibu atau Papa akan berhadapan dengan Rania!" ujar Rania dengan tajam.
"Papa tidak mengancam Heera, Rania. Tapi Papa aneh dengan reaksi Heera yang terlalu berlebihan saat Papa menyebut nama Eric. Jangan sampai di keluarga kita ada yang berhubungan dengan keluarga pembunuh itu," ujar Ben dengan tegas.
"Ibu dan Mas Ferdians sama sekali tidak mengenal om Eric. Jadi, tidak mungkin mereka ada hubungan dengan om Eric. Jika Papa masih ingin leluasa masuk dan keluar dari rumah ini jaga sikap Papa terhadap Ibu. Jangan buat Ibu tidak nyaman karena ucapan Papa," ujar Rania dengan tajam.
Heera tampak terlihat takut dengan ucapan Ben. Wanita itu benar-benar khawatir jika Ben mengetahui jika Ferdians adalah anak dari Eric.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Ternyata tuan Ben sangat membenci Eric sama sepertiku tapi bedanya tuan Ben sama sekali tidak ingin berhubungan dengan keluarga Eric. Bagaimana dengan Ferdians karena Ferdians adalah anak kandung Eric?"