
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...***...
Rajendra tampak terlihat tidak bisa mengontrol senyumannya saat mengingat Bunga yang sudah menjadi kekasihnya beberapa jam yang lalu dan keduanya menghabiskan waktu dengan bercerita di rumah Bunga. Walaupun hanya bercerita tetapi membuat Rajendra bahagia.
Cassandra menyadari senyuman tipis yang terlihat di bibir Rajendra. Cassandra tampak heran dengan Rajendra sekarang, kenapa sepulang dari kantor Rajendra terlihat sangat bahagia sekali? Ada rasa sesak di dadanya melihat senyuman itu bukanlah untuknya, ingin bertanya tetapi Cassandra tak mempunyai keberanian untuk mengeluarkan suara.
Cassandra melihat ke arah jendela ketika Rajendra menyadari dirinya yang sedang menatap Rajendra. Cassandra tersenyum tipis karena akhirnya ia bisa menghirup udara luar sebebas ini karena selama di rumah Cassandra tak pernah keluar, ia tidak mendapatkan izin dari Rajendra sama sekali. Lelah itu pasti karena setiap hari ia membersihkan rumah sebesar itu dan harus memasak untuk dirinya sendiri karena Rajendra sama sekali tak pernah makan di rumah.
Helaan napas berat terdengar di bibir Cassandra, ia ingin sebebas dulu. Bisa melakukan apa saja tanpa ada yang melarang dirinya bahkan kedua orang tua angkatnya juga menyayangi dirinya sedangkan suaminya sendiri membenci dirinya karena kesalahan dan rencana licik yang ia buat. Cassandra mengepalkan kedua tangannya, setelah ini ia tak boleh lemah, ia harus bisa membuat Rajendra mencintainya dan setelah itu ia meninggalkan pria itu. Rencana itu harus berhasil dan Rajendra tak boleh mengetahuinya.
"Jangan pernah berpikir kamu bisa menyingkirkan saya, Cassandra. Saya sudah paham bagaimana otak licik kamu bekerja, jika kamu melakukannya maka saya dengan senang hati mengirimkan kepala Clara ke kamu," ujar Rajendra dengan menyeringai yang membuat Cassandra menatap Rajendra.
"Jangan pernah Mas melakukan itu! Aku sudah dari kecil tidak bersama dengan mama. Biarkan mama hidup!" ujar Cassandra dengan mata berkaca-kaca.
Rajendra menyeringai. "Tergantung sikap kamu dan perbuatan kamu!" ujar Rajendra dengan santai yang membuat tangan Cassandra terkepal dengan erat karena rasanya Cassandra ingin berteriak dan memaki Rajendra sekarang karena bagi Cassandra, Rajendra adalah psikopat yang sangat mengerikan sekarang.
"Aku bahkan sudah menuruti semua perkataan, Mas. Lalu apa lagi yang Mas inginkan?" tanya Cassandra dengan dada yang begitu sesak, napasnya memburu karena lelehan air matanya siap terjun bebas saat ini juga tetapi Cassandra mencoba menahannya.
"Ingin kamu menderita!" jawab Rajendra dengan sarkas yang membuat Cassandra langsung terdiam karena hatinya begitu sakit seakan tertusuk belati yang sangat tajam.
"Seharusnya aku yang membuat kamu menderita karena keluarga kamu telah membuat kedua orang tua aku menderita, mereka berpisah hingga aku tidak mendapatkan kasih sayang keduanya! Ya benar aku ingin balas dendam dengan keluarga kamu karena keluarga kamu itu brengsek!" teriak Cassandra dengan keras.
Plak.....
Rajendra menampar Cassandra dengan kuat hingga Cassandra merasa perih pada pipinya.
"Kamu sadar tidak? Yang membuat kedua orang tua kamu menderita adalah mereka sendiri. Nenek kamu dan mama kamu bersekongkol untuk membunuh istri pertama papa saya yaitu mama tiri saya! Sudah seharusnya mereka mendapatkan hukuman itu!" teriak Rajendra dengan keras.
"Mas bohong!" teriak Cassandra tidak terima dan tidak percaya karena apa yang dikatakan kedua orang tuanya serta Rajendra sangat berbeda dan tentu saja Cassandra sangat mempercayai kedua orang tuanya sendiri.
"Saya tidak butuh kepercayaanmu karena bagi saya, kamu menderita! Dan ingat jika kamu sudah mengetahui fakta yang sebenarnya saya pastikan kamu akan menyesal!" ujar Rajendra dengan dingin.
Cassandra terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang Rajendra ucapkan kepadanya, Rajendra pasti bohong! Tidak mungkin mama dan neneknya membunuh istri pertama papa mertuanya.
Cassandra memijat pelipisnya yang terasa berat, kepalanya benar-benar pusing sekarang. Cassandra hanya bisa diam dan Rajendra sama sekali tidak peduli dengan bitu semua. Yang terpenting ia sudah berkata jujur dan hatinya saat ini sedang bahagia karena Bunga.
****
"Cassandra, ya ampun Nenek pikir kamu datangnya besok," ujar Agni dengan bahagia ketika melihat cucunya dah cucu menantunya datang.
"Iya, Nek. Aku sudah merindukan Nenek, ayah, dan bunda makanya mas Rajendra langsung mengajak menginap sekarang," ujar Cassandra dengan tersenyum.
Ia melirik ke arah Rajendra yang terlihat tersenyum tipis ke arah neneknya. Rajendra memeluknya dari samping, pria itu sangat pandai bersandiwara dan dirinya juga harus ikut berperan walaupun rasanya Cassandra sama sekali tidak ingin.
"Maaf ya, Nek. Saya benar-benar sangat sibuk sekali hingga belum bisa menginap di sini," ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Iya tidak apa-apa Rajendra karena Nenek mengerti kesibukan kamu," ujar Agni dengan tersenyum.
"Siapa yang datang, Ma?" tanya Anjani dengan penasaran.
"Cassandra!" gumam Anjani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bunda juga kangen banget sama kamu. Sudah jangan nangis malu itu di lihatin suami kamu," ujar Anjani dengan terkekeh walaupun dirinya juga menangis.
Cassandra mengurai pelukannya ia menatap ke arah Rio dan memeluk ayah sambung sekaligus omnya tersebut dengan penuh rasa rindu.
Cassandra kembali memeluk neneknya, ia tadi masih takut dengan Rajendra yang mencengkram bahunya begitu kuat. Cassandra terkekeh dengan menangis memeluk neneknya.
"Sudah kenapa jadi menangis seperti ini! Bukankah kita mau bersenang-senang?" ujar Rio dengan tersenyum.
"Rajendra, ayo sini kita mengobrol biarkan para wanita bergosip," ujar Rio merangkul Rajendra dengan hangat yang membuat Rajendra merasa canggung.
"Iya, Yah!" ujar Rajendra dengan memaksakan senyumannya.
Akhirnya mereka mengobrol bersama dengan Cassandra yang banyak bicara walaupun semua ucapannya adalah kebohongan belaka yang Rajendra ciptakan tetapi tak apa untuk saat ini yang terpenting ia bisa mengobrol bersama dan sebentar lagi Olivia dan Faiz akan menyusul juga ke sini, mereka akan menginap juga.
****
Olivia dan Faiz sudah datang. Olivia sudah bergabung dengan Bunda, Cassandra serta neneknya di dapur. Sedangkan Faiz sudah mengobrol di ruang keluarga. Tampak Olivia sangat bahagia di mata Cassandra yang membuat wanita itu iri.
Keduanya saling berhadapan memotong sayuran bersama.
"Bunda sama nenek ke ruang keluarga dulu ya kalian lanjut saja," ujar Anjani yang di angguki oleh Cassandra dan Olivia.
"Iya, Bunda!" jawab keduanya dengan tersenyum.
Setelah Anjani dan Agni pergi ke ruang keluarga Cassandra menatap Olivia. "Kak!" panggil Cassandra dengan pelan sambil memetik kangkung.
"Iya kenapa, Dek?" tanya Olivia dengan tersenyum menatap Cassandra.
"Kakak bahagia tidak menikah dengan kak Faiz?" tanya Cassandra dengan serius.
"Seperti yang kamu lihat Kakak sangat bahagia, Dek. Apalagi mas Faiz sangat menyayangi, Kakak. Dia sangat memanjakan Kakak. Kamu juga sama seperti itu, kan? Karena semua lelaki keluarga Danuarta sangat penyayang," ujar Olivia dengan tersenyum.
Cassandra tersenyum kecut. "Kak Faiz tidak pernah marah, Kak?" tanya Cassandra.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Jika marah pun itu hanya sebentar. Mas Faiz bilang dia tidak tahan berlama-lama marah dengan Kakak. Cassandra terima kasih karena berkat kamu Kakak sudah menemukan cinta sejati Kakak selama ini,* ujar Olivia dengan tersenyum.
"Kakak yakin kamu sama bahagianya seperti Kakak!" ujar Olivia yang lagi dan lagi membuat Cassandra tersenyum kecut.
"Aku sama sekali tidak bahagia, Kak! Aku sangat iri dengan kebahagiaan yang Kakak miliki saat ini!" batin Cassandra di dalam hati, ingin rasanya Cassandra mengungkapkan isi hatinya ini. Namun, rasanya tak mungkin.
Cassandra melihat Olivia yang terlihat sangat ceria bahkan Olivia tak henti-hentinya memuji Faiz di hadapannya yang membuat Cassandra lama-lama panas sendiri.
"Jika aku menderita Kakak harus juga merasakannya! Ini tidak adil!" ujar Cassandra di dalam hati dengan tangan yang terkepal dengan kuat.
Sikap irinya terhadap Olivia benar-benar tidak hilang bahkan Cassandra juga sangat iri dengan kebahagiaan yang Olivia dapatkan sekarang. Seharusnya ia yang bahagia bukan Olivia. Rasa dendam yang tadinya sudah sedikit memudar kini kembali datang, ia ingin Olivia merasakan penderitaan seperti dirinya. Di benci oleh Faiz sama seperti dirinya yang di benci oleh Rajendra. Cassandra tidak suka melihat kemesraan Faiz dan Olivia, hatinya benar-benar panas karena selama ini ia tidak mendapatkan kasih sayang itu oleh suaminya sendiri.
*
*
Ada yang mau menampar Cassandra?ðŸ¤