Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 239 (Kabar Mengejutkan)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Rajendra belum puas membuat Cassandra tersiksa, ia masih memborgol Cassandra bersama dengan dua lelaki yang pernah tidur dengan dirinya. Setelah Rajendra memberikan pakaian untuk Cassandra, Rajendra bergegas keluar bersama dengan para penjaga yang lain. Semua tak berani berkutik kembali, mereka diam tak berani bersuara atau berbuat kesalahan jika tak mau nasibnya sama dengan Cassandra dan kedua teman mereka.


Rajendra juga sudah menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Cassandra. Secepatnya ia ingin terlepas dari Cassandra karena Rajendra tidak mau menjadi Cassandra istrinya dalam waktu yang lama lagi, ia memikirkan Bunga yang pastinya nanti akan cemburu dengan Cassandra walaupun ia tidak berbuat apa-apa dengan Cassandra.


"Jangan ada yang mendekat ke arah ruangan itu tampa saya yang menyuruh! Ingat semua gerak-gerik kalian sudah saya awasi. Bersikaplah sopan dan baik jika tidak mau nasib kalian seperti kedua teman kalian," ujar Rajendra dengan tajam.


"Baik, Tuan! Kami mengerti!" jawab para penjaga dengan tegas karena mereka memang sangat takut dengan Rajendra ketika marah. Namun, ketika sedang baik maka gaji mereka pun akan naik, jadi semua itu tergantung dengan sikap mereka semua.


Setelah memberikan peringatan kepada para penjaga. Rajendra bergegas masuk ke dalam mobilnya dan kembali pergi ke rumah kedua orang tuanya untuk memastikan keadaan sang istri yang tadi sempat di jambak dan di tampar oleh Cassandra. Mengingat itu semua membuat Rajendra geram, ia ingin Cassandra mendapatkan karma lebih daripada apa yang ia bayangkan saat ini. Rajendra menambah kecepatan mobilnya agar ia segera sampai ke rumah kedua orang tuanya karena dari jarak rumahnya ke rumah kedua orang tuanya lumayan jauh berbeda dengan rumahnya dengan Bunga yang sangat dekat dengan kedua orang tuanya.


"Aish... Aku tidak mengizinkan wanita itu mati cepat. Cassandra harus mendapatkan karma yang setimpal atas semua perbuatannya," gumam Rajendra dengan tajam.


Rajendra sudah sangat tak sabaran ingin segera sampai ke rumah kedua orang tuanya, ia harus memastikan jika Bunga baik-baik saja, dan jika ia melihat lecet saja di tubuh istrinya maka Rajendra tidak akan membiarkan Cassandra bernapas dengan tenang.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama menurut Rajendra padahal pria itu sudah mengebut akhirnya sampai juga ia di rumah kedua orang tuanya dan langsung keluar dari mobil. Rajendra berjalan dengan langkah yang sangat lebar seperti orang yang sedang berlari memasuki rumah.


"Bagaimana semuanya sudah beres?" tanya Ben yang sejak tadi menunggu anaknya pulang.


"Sudah, Pa. Cassandra sudah berada di dalam ruangan khusus bersama dengan dua penjaga yang sering tidur dengannya," jawab Rajendra dengan datar karena ia masih emosi dengan mengingat semua yang terjadi di rumah ini.


"Baguslah, wanita seperti itu memang harus mendapatkan balasan atas perbuatannya. Temui istrimu sekarang, dia tidak mau keluar dari kamar sejak kamu pergi tadi," ujar Ben dengan tegas.


"Iya, Pa! Kalau begitu aku ke kamar dulu," ujar Rajendra yang di angguki oleh Ben.


Ben benar-benar belum merasa puas jika Clara dan Roby juga belum mendapatkan kamarnya, tetapi Ben yakin anaknya akan bisa mengatasi semua ini. Ben akui Rajendra lebih unggul daripada dirinya dulu, anaknya mempunyai otak yang sangat cerdas untuk memikirkan taktik melumpuhkan lawan. Apalagi sudah menyangkut keluarga maka Rajendra tidak akan memberikan ampun kepada siapapun yang melukai keluarganya walaupun itu mertuanya sendiri.


Rajendra bergegas ke kamarnya dengan menaiki tangga karena kamar lamanya berada di lantai dua.


"Mama kenapa di depan pintu saja?" tanya Rajendra dengan pelan.


"Pintu di kunci dari dalam dan Mama tidak mempunyai cadangan kuncinya. Kamu yang membawanya Rajendra. Mama khawatir dengan Bunga karena setelah Mama mengantarkan dia ke kamar wajahnya terlihat pucat, tetapi dia menyuruh Mama beristirahat juga setelah kekacauan tadi. Mama tidak bisa istirahat karena memikirkan Bunga, cepatlah buka pintunya Rajendra!" ujar Ana dengan gelisah.


Rajendra juga ikut gelisah dan cemas, ia mengambil kunci yang memang berada di kantong celananya dan membuka pintu kamarnya dengan hati yang sangat gelisah. Setelah pintu terbuka Rajendra langsung menghampiri istrinya yang ternyata tidur di kasur.


"Sayang!" panggil Rajendra dengan lembut.


Sedangkan Ana juga ikut melihat keadaan menantunya.


"Sayang bangun!" ujar Rajendra dengan lembut dan khawatir.


"Ma, kenapa Bunga sama sekali tak merespon?" tanya Rajendra dengan cemas.


"Sayang!" panggil Rajendra dengan sangat khawatir.


"Bunga pingsan Rajendra! Bawa istri kamu ke rumah sakit sekarang!" ujar Ana dengan sangat khawatir.


"Ya Tuhan... Bunga juga demam!" ujar Ana memegang dahi menantunya yang terasa sangat panas.


Rajendra langsung menggendong Bunga dengan cepat yang di ikuti oleh Ana dari belakang. Kemarahan sangat terlihat jelas di wajah Rajendra, ia benar-benar tidak akan melepaskan Cassandra jika istrinya tidak baik-baik saja.


"Kenapa dengan Bunga?" tanya Ben dengan khawatir.


"Bunga pingsan, Pa! Bunga juga demam!" jawab Rajendra dengan khawatir.


"Ayo kita ke rumah sakit, semua tubuh Bunga harus di periksa dengan baik," ujar Ben dengan tegas yang di angguki oleh Rajendra.


Rajendra benar-benar sangat khawatir dengan istrinya. Baru kali ini ia melihat Bunga sakit seperti ini, sebagai suami Rajendra merasa gagal melindungi istrinya sendiri.


****


Sesampainya di rumah sakit Bunga langsung di tangani oleh dokter terbaik, Rajendra sangat begitu cemas menunggu dokter keluar dari IGD begitupun dengan Ana dan Ben, ketiganya sama sekali tak bersuara menunggu dengan hati yang begitu cemas.


"Tuan Rajendra!" panggil dokter dengan pelan karena Rajendra sama sekali tak mendengar pintu ruangan IGD terbuka.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rajendra dengan cemas.


Dokter terlihat bingung dengan Rajendra yang menyebut wanita yang ada di ruangan IGD adalah istri dari Rajendra karena yang ia tahu dari majalah bisnis yang ia baca wajah istri Rajendra tidak seperti itu. Tapi Dokter tak ingin ambil pusing, ia segera menyampaikan keadaan Bunga sekarang.


"Istri anda tidak kenapa-napa, Tuan. Nona hanya syok saja mungkin dia mendapatkan pukulan atau tamparan di wajahnya yang membuat istri anda terlalu syok hingga demam. Dan satu lagi saat ini istri anda sedang mengandung, mungkin itu penyebab istri anda terlihat lemah dengan sesuatu yang terjadi padanya," ujar dokter menjelaskan.


"H-hamil, Dok?" tanya Rajendra dengan terbata.


"Iya, Tuan. Usia kandungannya masih sangat muda dan rentan keguguran. Jadi, anda harus menjaga pola makan istri anda dan membuat istri anda jangan sampai stres yang berlebihan," ujar Dokter dengan tegas.


Sudut bibir Rajendra tertarik menampilkan senyuman kebahagiaan yang jarang sekali di lihat oleh orang lain. "Ma, Pa, aku akan menjadi papa!" ujar Rajendra menatap kedua orang tuanya dengan sangat bahagia.


Kabar ini sangat mengejutkan untuk Rajendra karena ia tidak menyangka jika Bunga hamil sekarang.


"Selamat ya, Nak! Kamu harus jaga baik istri kamu. Ingat pesan dokter tadi!" ujar Ana dengan terharu.


Ana dan Ben memeluk Rajendra dengan bahagia, mereka sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan mendapatkan cucu kembali serta cicit dari Frisa. Rasanya kebahagiaan mereka sekarang tidak bisa tergambarkan oleh apapun.


"Jika begitu istri anda sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan, Tuan. Keadaannya sudah membaik," ujar dokter dengan tersenyum.


"Pindahkan ke ruangan terbaik di rumah sakit ini, Dok. Saya mau agar istri dan anak saya nyaman seperti tidur di rumah sendiri," ujar Rajendra dengan tegas yang di angguki oleh dokter.


Tak tabu lagi bagaimana kekayaan keluarga Danuarta. Semua terasa gampang bagi mereka. Melihat kebahagiaan itu menularkan kebahagiaan juga untuk dokter yang telah memeriksa Bunga saat ini.