Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 31 (Mulai Muak)


...📌 Jangan lupa dukung terus cerita ini dengan like, komen, bintang lima dan hadiah juga ya....


...📌 Berikan bunga 🌹 untuk novel ini biar author semangat updatenya....


...Happy reading...


****


Agni dan Clara baru saja sampai di rumah, keduanya membawa barang yang begitu banyak. Agni maupun Clara habis berbelanja di mall dan tentu saja dengan barang-barang yang harganya tidak murah.


Keduanya tertawa dengan gembira. Agni maupun Clara duduk di sofa dengan senyum yang masih mengembang dengan sempurna.


"Sepatunya cantik banget ya, Ma. Gak nyesel aku beli dengan harga yang sangat mahal," ujar Clara memperlihatkan sepatu yang ia beli di mall tadi.


"Wah iya benar, Sayang. Ini sepatu memang sangat cantik sekali," ujar Agni dengan tersenyum.


Clara dan Agni mengecek semua belanjaan mereka dengan wajah bahagianya. "Duh aku haus, Ma!" ujar Clara memegang lehernya.


"Sebentar, Sayang!" ujar Agni dengan lembut.


"PELAYAN!" teriak Agni dengan kencang.


"Iya, Nyonya!" sahut pelayan di rumah Ben dengan berlari menghampiri Agni dan juga Clara.


"Ambilkan saya dan anak saya minuman dingin serta makanan ringan. Setelah itu kalian harus memijat kami berdua," ujar Agni dengan angkuhnya.


"B-baik, Nyonya!" ujar pelayan tersebut dengan terbata.


Pelayan langsung berjalan ke dapur kembali dengan mengelus dadanya.


"Kenapa, Mbak?" tanya pelayan yang satu lagi.


"Nyonya Agni dan nona Clara baru saja pulang dari berbelanja. Mereka berdua meminta minuman dingin favorit mereka seperti biasa," ujar pelayan yang menghampiri Agni dan juga Clara.


"Nyonya Agni berbeda sekali dengan mendiang nyonya Dewi. Andai saja nyonya Dewi masih ada pasti aku lebih betah bekerja di sini, tetapi aku bertahan karena gaji di rumah ini besar serta membalas jasa tuan Ben dan juga tuan Doni," ujar pelayan berbisik-bisik.


"Sudah kita jangan membicarakan ini kalau nyonya Agni datang dia pasti memarahi kita," ujar pelayan yang lain.


Mereka semua mengangguk dan mulai membuatkan minuman serta membawakan makanan ringan untuk kedua majikan mereka yang sangat berbeda dengan Dewi dan Rania.


****


Ben dan juga Doni sudah kembali ke rumah keduanya menatap belanjaan Agni dan Clara dengan wajah dingin mereka.


"Berapa uang yang kalian habiskan untuk berbelanja barang yang sama sekali tidak penting ini?" tanya Doni dengan tajam.


Doni sangat tidak suka dengan wanita yang boros, membeli barang yang padahal sama sekali tidak diperlukan adalah sesuatu yang sangat membuatnya jengkel. Setelah itu barang-barang yang mereka beli akan terpajang di lemari dan tidak di pakai lagi.


"Kek, ini gak banyak! Aku dan mama sudah lama tidak berbelanja," ujar Clara membela diri.


Ben menatap kedua pelayan yang sedang memijat istri dan anaknya. "Kalian berdua kembalilah ke dapur!" perintah Ben dengan tegas.


"Baik, Tuan!" jawab keduanya dengan pelan. Keduanya menunduk hormat dan setelah itu berlalu kembali ke dapur dengan perasaan lega dan berterima kasih pada Ben.


"200 juta tagihan kartu kredit," ujar Ben melihat ponselnya.


Agni berdiri dari duduknya. "Mas jangan marah ya. Aku hanya ingin menghilangkan penat dengan Clara. Kami berdua kesepian karena kamu sibuk bekerja," ujar Agni dengan wajah memelas.


"Lagi pula uang 200 juta bagi kamu kecil kan, Mas?!" ujar Agni dengan memeluk lengan suaminya.


Ben mengangguk. Setelah kepergian paapanya, Ben menatap istri dan kedua anaknya dengan tajam.


"Sudah saya katakan kalian berdua jangan menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak berguna seperti ini. Saya yakin setelah kalian pakai barang ini pasti barang ini akan bersarang di lemari," ujar Ben dengan kesal.


"Pa, jangan marah ya! Kami tidak akan mengulanginya lagi," ujar Clara dengan memelas.


"Jangan berjanji jika kamu tidak bisa menepatinya Clara! Seharusnya kamu sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri!" ujar Ben dengan dingin.


"M-maaf, Pa!" gumam Clara dengan pelan padahal di dalam hati ia sangat kesal dengan papa tirinya.


"Dasar pria tua menyebalkan! Baru belanja 200 juta saja sudah semarah itu," gumam Clara di dalam hati.


"Saya akan menarik kartu kredit kalian berdua jika kalian berbelanja tidak ingat berapa uang yang kalian keluarkan! Kali ini ancaman saya tidak main-main maka pergunakan secara baik-baik," ujar Ben dengan datar.


Ben sudah muak untuk menasehati istri dan anaknya karena setiap Ben menasehati keduanya maka keduanya akan melakukan hal yang sama kembali. Oleh karena itu, kali ini Ben mengancam Agni dan Clara agar keduanya bisa berubah.


"Pa, jangan ditarik dong! Clara dan mama berjanji akan ingat pesan Papa," ujar Clara dengan memegang tangan papanya.


Ben tidak bersuara, ia melepaskan tangannya dari Agni dan Clara. Ia berjalan meninggalkan keduanya menuju kamar.


"Ma, bagaimana ini?" gumam Clara dengan kesal.


"Tenang. Kamu masuk kamar bawa semua barang ini ke kamar kamu dulu ya. Mama mau berbicara dengan papa," ujar Agni menenangkan anaknya.


"Oke, Ma. Buat papa kembali luluh ya, Ma!" ujar Clara yang di angguki Agni.


"Kamu tenang saja, Sayang!" ujar Agni dengan senyum yang penuh maksud.


Agni berjalan menuju kamar untuk menyusul suaminya. Ia membuka pintu kamarnya dengan Ben. Agni tersenyum saat suaminya sedang melepaskan pakaian kerjanya.


Agni menghampiri Ben dengan perlahan dan membantu Ben untuk melepaskan pakaiannya. Di usia Ben yang sudah 54 tahun tapi kegagahan suaminya membuat Agni tergila-gila, padahal sejak dulu Agni sudah menyukai Ben tetapi Ben lebih menyukai Dewi yang membuat Agni sakit hati. Tetapi sekarang ia sudah memiliki Ben sepenuhnya bahkan harta milik Ben juga sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Agni meraba dada bidang Ben dengan gerakan sensual. "Mas sudah lama kita tidak berc*nta. Aku merindukanmu, Mas!" gumam Agni dengan nada suara yang sengaja dibuat seksi agar Ben terangsang dengannya.


Ben memegang tangan Agni. Ia berjalan ke lemari. "Saya benar-benar lelah dan tidak minat untuk berc*nta, Agni! Lain kali saja!" ujar Ben dengan tegas.


Agni tidak menyerah, ia mendekati suaminya dan menyentuh milik suaminya dengan perlahan. "Ayolah, Mas! Aku akan memuaskanmu seperti biasa," ujar Agni dengan desah*n di akhir ucapannya.


Tetapi Ben yang benar-benar tidak minat hanya menatap Agni dengan datar. Bahkan Agni sampai kesal ketika milik suaminya tidak berdiri saat ia sentuh, padahal biasanya milik Ben akan bereaksi. Ada apa ini? Tidak biasanya Ben seperti ini.


"Kamu sudah bosan sama aku, Mas? Tidak biasanya reaksi milik kamu seperti itu! Biasanya langsung bangun dan kita langsung berc*nta dan saling memuaskan satu sama lain," ujar Agni dengan kesal.


"Sudahlah Agni! Saya memang benar-benar lelah jangan bahas milik saya yang tidak bereaksi apapun saat kamu sentuh, dia memang sedang malas untuk berc*nta," ujar Ben dengan datar.


Ben berjalan ke arah ranjang, ia ingin beristirahat sebentar meninggalkan Agni yang terlihat tampak sangat kesal karena Ben sama sekali tidak terangsang dengan sentuhannya.


"Kenapa milik mas Ben tidak bangun? Apa ini faktor usia atau dia sudah impoten? Jika begitu dia tidak bisa memuaskan aku lagi? Tidak bisa! Itu tidak mungkin terjadi! Mungkin benar mas Ben hanya kelelahan saja," gumam Agni di dalam hati.


Ben memejamkan matanya, padahal yang terjadi ia sudah sangat muak dengan Agni. Ben akui memang Agni cantik tetapi Agni tidak bisa memperlakukan dirinya seperti Dewi memperlakukannya. Mengingat istrinya dada Ben kembali sesak karena di himpit oleh rasa bersalah.


"Sayang maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Percaya padaku semua ini akan berakhir dengan cepat," gumam Ben di dalam hatinya.


Saat ini Ben sangat merindukan sosok mendiang istri pertamanya, saat melihat Rania tadi rasa rindunya semakin membuncah tapi ego dan perasaannya tak berani memeluk anaknya sendiri.


"Rania maafkan papa, Sayang!"