Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 69 (Siapa Ayahnya?)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


"Ibu Anjani sedang hamil muda, Bu!"


"A-APA?"


Bagaikan ke sambar petir tubuh Rio menjadi lemas tidak berdaya.


"T-tidak mungkin!" gumam Rio di dalam hati.


"H-hamil muda? Bagaimana bisa? Anjani belum menikah," ujar Rania dengan syok.


"Apakah ibu Anjani memiliki kekasih?" tanya dokter menatap Rania dan yang lainnya.


Rania menatap Sastra, pria itu menggelengkan kepalanya pertanda ia juga tidak tahu menahu tentang kekasih Anjani karena Sastra dan Anjani hanya dekat di saat bekerja saja.


"Kami tidak tahu, Dok!" ujar Sastra yang membuat dokter menghela napasnya dengan pelan.


Rio terlihat pucat, jangan sampai Rania dan papa tirinya tahu jika Anjani hamil anaknya. Rio tidak ingin menikah dengan Anjani, wanita itu bukan istri idamannya, ia masih memimpikan jika Rania lah yang menjadi istrinya.


"Saya sarankan ibu Rania dan yang lainnya bertanya kepada ibu Anjani dengan hati-hati mungkin ibu Anjani mau jujur soal siapa ayah biologis anak yang di kandungannya," ujar Dokter menyarankan.


"Sial! Aku harus membuat Anjani tutup mulut soal ini, jika tidak tamatlah riwayatku," gumam Rio di dalam hati.


Rio sungguh takut Rania dan yang lainnya tahu jika dirinyalah yang telah memp*rkosa Anjani hingga gadis itu hamil.


"Baiklah kami akan bertanya dengan Anjani setelah keadaannya membaik. Pindahkan dia ke ruang perawatan," ujar Rania yang di angguki oleh dokter yang menangani Anjani.


"Jika begitu saya permisi dulu. Anda dan yang lainnya boleh mengunjungi ibu Anjani setelah ia dipindahkan di ruang perawatan," ujar dokter dengan tegas.


Sepeninggal dokter, Rania mengusap wajahnya dengan kasar. "Jadi ini penyebab kinerja Anjani sangat menurun di perusahaan," gumam Rania dengan pelan.


Ferdians memeluk Rania dari samping dan mengelus perut istrinya dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Mungkin Anjani sudah menikah diam-diam, kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Jadi, kita harus bertanya baik-baik dengan Anjani," ujar Ferdians.


"Iya!" jawab Rania dengan singkat.


"Rio kenapa wajah kamu terlihat pucat?" tanya Ben yang membuat Rania, Ferdians, dan Sastra langsung melihat ke arah Rio.


Rio langsung terlihat gugup tetapi ia mencoba biasa saja agar Rania dan yang lainnya tidak curiga.


"Mungkin hanya kelelahan saja, Pa!" jawab Rio seadanya.


Rania menatap tajam ke arah Rio. "Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu dari kami, kan?" tanya Rania memicingkan matanya dengan curiga.


"Apa yang harus saya sembunyikan dari kalian?" tanya Rio dengan tenang.


"Sayang sudah!" ujar Ferdians dengan tegas karena ia masih sangat cemburu dengan Rio.


Rania yang menyadari jika Ferdians sedang cemburu langsung terdiam. Ia tak mau Ferdians kembali marah kepadanya yang membuat hatinya begitu nyesek.


"Kenapa aku malah curiga dengan Rio? Karena waktu Anjani tidak masuk kantor Rio juga tidak masuk kantor," gumam Rania di dalam hati.


****


Anjani membuka matanya dengan perlahan, ia melihat sekeliling dengan bingung tetapi Anjani langsung tersadar jika dirinya sedang berada di rumah sakit, ia ingat dirinya pingsan setelah memohon kepada Rania agar tidak memecatnya.


Anjani memegang kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut sakit. Sebenarnya ia kenapa? Kenapa tiba-tiba saja dirinya bisa pingsan?


Suara pintu terbuka membuat Anjani langsung menatap ke arah pintu. Ia melihat Rania, Ferdians, Sastra, Ben yang masuk ke ruangannya hingga tubuhnya menegang saat ia melihat Rio berada di belakang Ben.


"Kenapa Rio ada di sini?" tanya Anjani di dalam hati.


"Anjani!" panggil Rania dengan tegas.


Anjani tersenyum melihat ke arah Rania dengan wajah pucatnya yang entah mengapa membuat Rania iba.


"Iya, Bu. Bu maafkan saya! Saya janji tidak mengulangi kesalahan lagi! Tolong jangan pecat saya, Bu!" ujar Anjani dengan lirih karena ia tidak punya tenaga untuk bangun.


"Saya tidak mau bahas itu dulu! Ada hal penting yang harus saya tanyakan kepada kamu," ujar Rania dengan tegas yang membuat Anjani menjadi was-was, entah karena apa tetapi Anjani merasa takut sekali. Seakan ada sesuatu yang menghantam dasar hatinya hingga Anjani merasa begitu sedih dan sesak dalam bersamaan tetapi Anjani tidak tahu penyebabnya apa.


"A-apa, Bu?" tanya Anjani dengan terbata.


"Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Rania dengan serius.


"M-menikah? S-saya belum menikah, Bu. Jangankan suami, kekasih saja saya tidak ada," ujar Anjani dengan pelan karena sejujurnya Anjani bingung dengan pertanyaan Rania yang menanyakan dirinya sudah menikah.


Rania menghela napasnya dengan pelan. "Jika kamu belum menikah maka siapa ayah biologis anak yang di dalam kandungan kamu?" tanya Rania.


Tubuh Anjani tampak mematung dengan sangat hebat, wajahnya yang sudah pucat bertambah pucat.


"H-hamil, Bu? S-saya hamil?" tanya Anjani dengan syok.


Anjani melihat ke arah Rio tetapi pria itu sama sekali tidak mau menatapnya. Apakah Rio benar-benar tidak mau bertangungjawab kepada dirinya? Kenapa rasanya sangat menyakitkan sekali?


"Anjani jujur dengan saya siapa pria yang telah menghamili kamu?" tanya Rania dengan tegas.


"Katakan saja Anjani!" ujar Ferdians yang membuat Anjani menelan ludahnya dengan kasar.


"Kenapa kamu diam? Siapa pria yang telah membuat kamu seperti ini? Dia harus bertanggungjawab dengan kehamilan kamu," ujar Ben dengan tegas.


"Benar Anjani! Siapa lelaki itu?" tanya Sastra yang semakin membuat Anjani merasa sesak.


Air mata Anjani menetes membasahi kedua pipi Anjani. Lidahnya keluh hanya untuk sekedar mengeluarkan suara, ia benar-benar bingung untuk berkata jujur atau tidak.


Ia menatap Rio dengan pandangan terlukanya karena Rio terlihat santai dan menatapnya dengan tajam seakan mengatakan jika dirinya tak boleh berkata jujur jika Rio lah yang sebenarnya menghamili Anjani. Anjani harus apa sekarang?


"Jawab Anjani! Jangan menutupi kesalahan pria itu karena kamu yang akan rugi," ujar Rania dengan tegas.


Bukannya menjawab Anjani malah terisak dengan keras sambil memukul perutnya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan?!" ujar Sastra memegang tangan Anjani dengan kuat agar Anjani tidak menyakiti perutnya yang bisa saja berakibat fatal bagi kandungan Anjani nantinya.


"Saya tidak mau dia hadir di dalam perut saya! Dia adalah kesalahan terbesar di dalam hidup saya!" ujar Anjani dengan tajam.


Anjani berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Sastra.


"Dia harus mati hiks...hiks...!" ujar Anjani dengan menangis.


"Tenanglah Anjani!" ujar Rania dengan iba.


"Gara-gara dia hidup saya hancur, Bu! Dia harus mati!" ujar Anjani dengan histeris yang membuat Rania dan yang lainnya iba tetapi tidak dengan Rio karena sebenarnya Rio juga menginginkan anak yang berada di dalam kandungannya Anjani mati karena dengan begitu Rio tak perlu repot-repot menyingkirkan anak itu nantinya.


"Dokter!" teriak Rania agar dokter segera datang dan memenangkan Anjani dengan sebuah suntikan.


Dokter datang dengan cepat, tetapi Anjani terus histeris memukul perutnya dengan kencang. Ia tak peduli jika anak itu mati, karena bagi Anjani untuk apa anaknya hidup jika tidak dapat pengakuan dari Rio.


"Anak ini harus mati hiks..hikss!"


Dokter segera menyuntikkan obat penenang untuk Anjani agar wanita itu segera tenang. Rania tidak tahu siapa ayah biologis anak yang di kandung Anjani karena wanita itu sampai sekarang tak mau jujur dengannya. Bagaimana ia akan mencari tahu kalau Anjani saja tidak mau jujur dengan dirinya?


Perlahan tubuh Anjani mulai terlihat tenang setelah dokter menyuntikkan obat penenang yang tidak membahayakan kandungannya Anjani.


"Sebaiknya jangan terlalu memaksa ibu Anjani untuk jujur karena ibu Anjani juga terlihat sangat syok dan tidak menginginkan anak yang di dalam kandungannya dan itu bisa berakibat fatal untuk kesehatan mental ibu Anjani," jelas Dokter yang membuat Rania dan yang lainnya mengerti.


Mereka akan bertanya setelah keadaan Anjani benar-benar tenang nantinya.


****


Hari ini sangat melelahkan bagi Rania, setelah pulang ke rumah dan melihat keadaan mertuanya Rania langsung mengajak Ferdians ke kamar mereka.


Ferdians mengusap rambut Rania dengan lembut. "Apa yang terjadi pada Anjani jangan terlalu kamu pikirkan, Sayang! Ingat kamu juga sedang hamil," ujar Ferdians dengan lembut karena ia juga tidak mau terjadi apa-apa dengan istrinya.


Rania melihat ke arah Ferdians. "Siapa ayah bayi itu ya?" tanya Rania dengan pelan.


"Mas juga tidak tahu, Sayang. Kita do'akan saja lelaki itu mau bertanggung dengan kehamilan Anjani," jawab Ferdians yang di angguki oleh Rania.


Ferdians menatap manik mata Rania dengan dalam. "Mas kangen, Sayang!" ucap Ferdians dengan jujur.


Ferdians mendekatkan wajahnya ke wajah Rania hingga bibir mereka menyatu, Ferdians mulai membuka kancing baju Rania dengan tak sabaran, ia memainkan gunung kembar Rania yang sudah terlihat sangat berisi saat hamil dan itu membuat Ferdians benar-benar gemas.


"Aahhh..."


Rania begitu menikmati sentuhan suaminya hingga ia tidak sadar jika pakaiannya sudah di lepaskan oleh Ferdians. Ferdians beralih ke gunung kembar milik Rania, bak bayi yang kehausan Ferdians mengh*sap puncak gunung tersebut dengan tak sabaran yang membuat tubuh Rania bergerak dengan gelisah.


"M-mas...." lirih Rania yang sudah bergairah, ia ingin lebih dari sekedar sebuah sentuhan tangan Ferdians.


Ferdians menatap Rania dengan sayu. "Katakan kamu mau apa, Sayang?" tanya Ferdians dengan serak.


"M-masukin!" ujar Rania dengan lirih.


Ferdians terkekeh, ia mengecup kening Rania dengan lembut yang membuat Rania memejamkan mata menikmati ciuman Ferdians.


"Eughh..." Rania dan Ferdians melenguh saat keduanya menyatu dengan perlahan karena Ferdians tidak ingin menyakiti kedua anaknya.


Akhirnya keduanya bercinta dengan lembut yang membuat Rania melayang karena sentuhan Ferdians. Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya, suara des*han Rania membuat Ferdians semakin bersemangat untuk menyentuh Rania. Ferdians paling suka melihat Rania tak berdaya di bawah kuasanya seperti ini dan Ferdians ingin mereka akan seperti ini terus sampai tua nanti.