Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 134 (Sang Pewaris)


...📌Selamat malam semuanya ini adalah kelanjutan dari cerita anaknya Rania dan Ferdians ya. Semoga kalian suka....


...📌Besok aku spil para pemeran di season 2 ini ya....


...Happy reading...


*****


22 tahun kemudian...


Faiz Danuarta Abraham pria berusia 24 tahun itu mewarisi ketampanan sang ayah. Di usianya yang masih muda Faiz bahkan di gilai banyak para wanita di luar sana tetapi Faiz sama sekali tidak tertarik untuk mendekati wanita yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana membuat maju perusahaan kakek dan orang tuanya, beban yang ia pikul dengan memegang dua perusahaan besar membuat Faiz belum memikirkan tentang wanita.


Faiz menuruni tangga di rumah kedua orang tuanya, pakaiannya sudah rapih dan terlihat sangat tampan sekali. Faiz menyapa mama dan papanya tidak lupa sang kembaran yang selalu menempel kepadanya.


"Pagi Ma, Pa, Dek!" sapa Faiz dengan tersenyum manis dan memiliki satu lesung pipi di sebelah kanan yang menambah kadar ketampanannya.


"Pagi, Kak!" sahut Rania, Ferdians dan juga Frisa.


"Kakak tampan sekali. Aku ikut Kakak!" ujar Frisa memeluk lengan Faiz.


"Kakak ada meeting, Dek. Kamu berangkat dengan Gavin ya hari ini Kakak buru-buru," ujar Faiz dengan mengelus kepala adiknya dengan sayang.


Frisa cemberut semenjak sang kakak dilimpahkan untuk memegang perusahaan mamanya sang kakak terlihat sangat sibuk sekali. Apalagi nanti juga akan memegang perusahaan kakek Eric karena papanya sama sekali tidak mau memegang perusahaan besar itu walaupun papanya sudah mau memaafkan kakeknya. Sedikit banyaknya Frisa dan Faiz tahu jika papanya dan kakeknya terlibat masalah yang sangat besar hingga sang papa tidak mau memaafkan kakek Eric.


"Sibuk terus!" gumam Frisa dengan kesal.


Rania dan Ferdians menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu kamu pegang perusahaan mama dan papa biar kakak kamu tidak terlalu sibuk, Sayang!" ujar Rania dengan lembut.


"Tidak mau! Kenapa tidak suruh Gavin dan yang lainnya saja? Gavin kan anak om Sastra, dia pasti paham dengan perusahaan," ujar Frisa dengan cemberut.


"Atau suruh Cakra anaknya om Liam dan Melvin anaknya om Ricard atau tidak anaknya Om Nicho, Agam suruh pegang perusahaan," ujar Frisa protes kepada kedua orang tuanya.


"Kamu ini. Mereka semua sudah menjaga kamu, Sayang. Mereka sudah memiliki tugas lain," ujar Ferdians dengan tegas.


Frisa tampak cemberut yang membuat Faiz tak tega dengan adiknya. "Kakak janji setelah meeting selesai kita akan pergi jalan-jalan kamu boleh beli apapun sepuasnya yang kamu mau, Dek!" ujar Faiz merayu sang adik.


terdengar helaan napas dari Frisa, ia tidak boleh egois. Kakaknya bekerja juga untuk memajukan perusahaan mamanya dan juga kakek Eric walaupun belum dilimpahkan sepenuhnya kepada Faiz tetapi tanggungjawab kakaknya sudah sangat besar. Untuk saja perusahaan kakek Ben sudah di pegang oleh omnya sendiri yang tak kalah tampan kalau tidak pasti kakaknya akan sangat pusing sekali. Kakek buyutnya sudah meninggal saat usianya 6 tahun dan pastinya perusahaan Danuarta akan di pegang oleh Rajendra Danuarta, anak dari Ben Danuarta dan Ana.


"Iya deh. Tapi hari ini aku boleh tidak bertemu dengan kakek Eric? Emmm bersama Gavin," ujar Frisa menatap papanya.


"Boleh ya, Pa!" pinta Frisa memohon kepada papanya.


"Pergilah! Dan harus bersama Gavin!" ujar Ferdians dengan tegas.


"Yes... Iya, Pa!"


Ferdians tidak tahu semenjak Frisa bertemu dengan ayahnya, Frisa bisa sedekat itu dengan Eric bahkan Frisa bisa menyayangi mama tirinya seperti menyayangi mama mertuanya juga. Sebagai orang tua Ferdians tidak bisa menahan anaknya untuk dekat dengan kakeknya walaupun sampai sekarang rasa kecewanya untuk sang ayah masih ada setelah ia mampu memaafkan ayahnya sendiri.


"Sarapan dulu baru kalian boleh pergi!" ujar Rania dengan perhatian.


"Iya, Ma!"


****


"Duh bibit dari Tuan Ferdians dan ibu Rania benar-benar sangat sempurna," bisik karyawan tersebut dengan menatap Faiz yang sudah berjalan menjauh.


"Benar sekali. Sangat tampan dan gagah, semakin semangat aku bekerja di sini hihi," ujar karyawan yang satunya.


Tetapi mereka tahu ketegasan Faiz dalam bekerja bagaimana. Tak mau dipecat para karyawan tersebut kembali bekerja sebelum Faiz benar-benar marah.


Kembali ke Faiz, ia sudah berada di lantai paling atas di mana ruangannya berada.


"Olivia!" panggil Faiz saat melihat Olivia sudah duduk di kursinya.


Olivia langsung melihat ke arah Faiz, dengan sopan Olivia langsung berdiri. "Selamat pagi, Tuan. Maaf saya tidak menyadari kehadiran Tuan," ujar Olivia merasa tak enak hati karena dia baru saja bekerja beberapa tahun ini menggantikan bundanya yang sudah tidak diperbolehkan bekerja lagi oleh ayahnya.


"Tidak apa. Mana berkas yang akan kita bawa untuk meeting?" tanya Faiz dengan tegas.


"Sudah ada, Tuan. Sudah saya siapkan semalam. Dan kita langsung bisa pergi 15 menit lagi," jawab Olivia dengan tegas.


Faiz mengangguk. "Siapkan semuanya. Saya tidak mau ada yang kurang sedikitpun dalam meeting kali ini," ujar Faiz dengan tegas.


"Baik, Tuan!" jawab Olivia tak kalah tegasnya.


Faiz berjalan masuk ke ruangannya dan Olivia mulai menyiapkan semua berkas yang Faiz butuhkan dalam meeting nanti.


****


Frisa masuk ke dalam rumah mewah milik kakek dan neneknya bersama dengan Gavin. Gavin memang lebih mudah satu tahun dari dirinya tetapi fostur tubuh Gavin terlihat seperti pria dewasa dibandingkan dengan dirinya. Namun, sayangnya Gavin tak banyak bicara sama seperti Sastra yang terkadang membuat Frisa kesal.


Gavin hanya berbicara seperlunya saja. Hal yang membuat Frisa malas sebenarnya pergi bersama dengan Gavin karena ia merasa pergi sendirian walaupun setiap hari ia di kawal oleh Gavin kemanapun ia pergi.


"Kakek, Nenek!" teriak Frisa dengan senang.


Frisa langsung berhambur kepelukan Eric yang membuat Eric bahagia karena cucunya sangat sayang dengan dirinya.


"Cucu kesayangan Kakek. Sama siapa ke sini, Sayang? Sama Kakak?" tanya Eric dengan mengelus rambut Frisa dengan sayang, melihat Frisa yang sedikit mirip dengan Heera membuat Eric masih merasa bersalah.


"Kakak lagi meeting, Kek. Frisa sama manusia tembok," ujar Frisa yang membuat Eric terkekeh karena ia sangat tahu manusia tembok yang di maksud oleh Frisa.


"Selamat pagi Tuan Eric dan nyonya Gista," sapa Gavin dengan datar.


"Selamat pagi Gavin. Silahkan duduk," jawab Eric dan Gista berbarengan.


"Tidak perlu Kek, Nek! Dia sudah terbiasa berdiri seperti itu," ujar Frisa dengan kesal.


"Tidak boleh seperti itu, Frisa!" tegur Gista yang membuat Frisa memaksakan senyumannya.


Bukannya tersinggung, Gavin tetap pada posisinya yaitu berdiri di dekat Frisa.


"Tidak perlu se-formal itu, Gavin. Duduk dulu, kamu tetap bisa menjaga Frisa dengan duduk. Emangnya tidak pegel berdiri terus?" ucap Eric.


Sedangkan Frisa sudah tidak mempedulikan keberadaan Gavin, ia sudah bermanja-manja dengan kakek dan neneknya seperti anak kecil.


Tanpa Frisa sadari Gavin tersenyum tipis melihat kelakuan nonanya. "Umur boleh tua kelakuan seperti anak kecil. Pantas saja nyonya Rania menyuruhku untuk berada terus di samping anak manjanya," gumam Gavin di dalam hati dan tentu saja ia tidak berani berterus terang di hadapan Frisa karena jika Frisa marah terlihat sangat menyeramkan sekali seperti mamanya yang Gavin dengar dari cerita papanya sendiri sewaktu masih bekerja di rumah ibu dari Frisa tersebut.