
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Clara, Roby, dan Agni tampak tak sabar ingin melihat kehancuran Rania. Ketiganya sedang duduk bersama di ruang keluarga. Agni mengundang anak dan menantunya itu untuk bersenang-senang sedangkan ia tidak menelepon Rio dan Anjani karena bisa-bisa Anjani mengatakan ini semua ke Rania karena Anjani adalah sekretaris Rania. Agni tidak peduli dengan rumah tangga Rio dan Anjani saat ini yang terpenting menurutnya adalah kehancuran Rania terlebih dahulu.
"Sebentar lagi kita akan melihat kehancuran Rania karena suaminya meniduri perempuan lain," ujar Agni dengan terkekeh.
"Kamu sudah menghubungi wanita yang menggoda Ferdians? Bagaimana apakah dia berhasil?" tanya Agni dengan mata berbinar.
"Sebentar, Ma. Aku hubungi dia dulu," ujar Clara dengan tersenyum.
Mereka sudah sangat yakin jika rencana mereka akan berhasil tetapi kenyataannya tidak. Obat perangsang itu malah di minum oleh Ben.
[Halo, Siren] sapa Clara dengan wajah yang sangat bahagia.
[H-halo, Nona] sahut Siren dengan terbata.
[Bagaimana rencana kita berhasil, kan? Kamu berhasil membuat Ferdians tidur dengan kamu, kan?] tanya Clara begitu berharap.
Agni dan Roby menunggu dengan wajah yang begitu senang bahkan Clara meloudspeaker teleponnya.
[Kenapa kamu diam saja? Kamu sudah berhasil membuat Ferdians tidur dengan kamu, kan?] tanya Agni dengan begitu penasaran.
[M-maaf, Nona. S-saya tidak berhasil melakukannya karena istri dari Ferdians tahu keberadaan saya bahkan sekarang tangan saya patah karena Rania mendorong saya]
[Apa? Gagal? Kamu mengatasi Rania saja tidak bisa! Brengsek!]
Clara langsung mematikan sambungan teleponnnya, ia membanting ponselnya dengan kesal.
"Brengsek!" umpat Clara dengan kesal.
"Rencana ini boleh gagal tapi rencana berikutnya jangan sampai gagal!" ujar Roby yang tampak kesal.
"Biar kali ini aku yang turun tangan kalian lihat apa yang aku lakukan!" ujar Roby dengan dingin yang membuat Agni dan Clara saling pandang satu sama lain lalu mereka tersenyum mengangguk, mereka mempercayakan semuanya kepada Roby.
***
Esok harinya pernikahan Ben dan suster Ana benar-benar terjadi. Walaupun pernikahan ini sangat sederhana karena sesuai dengan permintaan suster Ana tak membuat Ben tidak semangat, malah ia semakin semangat dan bahagia.
Baru beberapa menit yang lalu Ben berhasil menjadikan suster Ana istrinya. Karena keluarga suster Ana jauh maka pernikahan mereka di ahlikan kepada wali hakim saja. Keluarga suster Ana tak menyangka jika suster Ana menjadi istri dari pengusaha kaya raya dan wajahnya selalu tampil di televisi, tetapi mereka mengikuti aturan yang diberikan Ben dan suster Ana jika pernikahan mereka harus di privat sampai waktunya tiba mereka mengumumkan semuanya karena masih ada Agni yang menjadi istri dari Ben Danuarta.
Sastra melihat Ben dan suster Ana. Ada rasa iri di hatinya saat Ben dengan cepat bisa menikahi suster Ana. Sedangkan dirinya, setelah kejadian malam panjang yang ia lewati bersama dengan Citra, wanita itu langsung tak ada si kamarnya saat ia terbangun bahkan saat Sastra temui di rumah Citra, rumah Citra tampak sepi. Sastra khawatir dengan keadaan Citra, kali ini ia harus berhasil menemui Citra. Dan mempertanggungjawabkan atas perbuatannya waktu itu.
Sedangkan Rania, entah apa yang dirasakan wanita hamil itu. Walaupun ia merestui pernikahan papanya dan suster Ana tetap saja masih ada rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Satelah pernikahan papanya dan suster Ana selesai. Rania langsung bangun dari duduknya dan pergi ke kamarnya yang membuat Ferdians dengan sigap menyusul istrinya, sedangkan suster Ana merasa bersalah dengan Rania saat ini.
Rania masuk ke kamarnya dan duduk di pinggir kasur ia mencari foto mamanya, Rania mengelus foto itu dengan lembut.
"Sayang!" panggil Ferdians dengan lembut.
Ferdians berjongkok di hadapan istrinya. Baru kali ini Ferdians melihat tatapan penuh rindu, kecewa di mata Rania berkumpul menjadi satu.
"Papa mengkhianati mama lagi!" gumam Rania tanpa melihat ke arah Ferdians melainkan melihat ke foto mamanya.
"Benar kata suami kamu, Rania. Papa masih mencintai mama kamu tapi Papa juga mencintai Ana. Maafkan Papa yang selama ini selalu mengabaikan kamu. Boleh ya Papa bahagia bersama dengan Ana? Kalau kamu memperbolehkan juga Ana akan tetap tinggal di sini untuk menjaga Heera. Papa tidak mungkin membawa Ana ke rumah utama bisa-bisa Agni mencelakai Ana," ujar Ben menimpali.
Ferdians sedikit menyingkir, ia memberikan waktu untuk papa dan anak itu saling berbicara setelah sekian lama hubungan mereka merenggang.
"Papa yakin Ana adalah wanita baik. Dia bisa menjadi istri yang baik untuk papa dan juga ibu yang baik untuk kamu. Papa yakin dia bisa menjadi pengganti mama kamu untuk kamu melepaskan rindu selama ini," ujar Ben memeluk anaknya dengan erat.
Cup....
Ben mencium kening Rania dengan lembut. "Maafkan, Papa!" gumam Ben dengan lirih.
Rania memejamkan matanya. Mulai sekarang ia harus bisa menerima kehadiran suster Ana sebagai ibu tirinya, selama ini ia juga sudah mengenal suster Ana dan wanita itu juga sangat baik. Suster Ana pasti bisa menjadi ibu tiri yang baik untuk dirinya.
"Iya! Tapi jika suster Ana ternyata sama saja seperti Agni. Saya mau Papa menceraikan langsung!" ujar Rania dengan tegas.
"Papa pastikan itu tidak terjadi, Nak!" ujar Bwn dengan tegas.
"N-nona..."
Ben menatap istrinya. "Kemarilah Ana! Dan jangan memanggil Rania dengan sebutan nona lagi karena sejak kamu sudah menjadi istri saya, Rania adalah anak kamu dan kamu adalah mama Rania!" ujar Ben dengan tegas.
Suster Ana mengangguk dengan pelan. Ia menghampiri Rania dan memeluk wanita. "Maafkan saya, Nona! S-saya tidak bermaksud membuat anda bersedih. S-saya tidak tahu harus bagaimana kalau Nona membenci saya," ujar suster Ana dengan lirih.
"Panggil saja saya Rania. Benar kata papa kita sekarang adalah ibu dan anak! Tetap tinggal di sini dan jaga ibu," ujar Rania yang membuat suster Ana tersenyum.
"Baik, Non..a.. Emm maksud saya Rania! Terima kasih!" ujar Suster Ana bahagia.
"Aku ingin beristirahat!" ujar Rania.
"Kami akan keluar. Istirahatlah!" ujar Ben memeluk suster Ana dari samping dan mengajak istrinya keluar dari kamar Rania
***
Suster Ana dan Ben sudah ada di kamar mereka di rumah Rania. Suster Ana tampak canggung saat ini, ia tidak tahu harus berkata apa. Suster Ana masih tak menyangka jika papa dari majikannya sendiri sekarang menjadi suaminya.
"Ana!"
"Tuan!"
Ben terkekeh saat ia dan istrinya saling memanggil dengan kompak. "Jangan panggil saya tuan! Mengerti?! Kamu istri saya, Ana!" ujar Ben dengan tegas.
"L-lalu saya harus memanggil Tuan Ben dengan sebutan apa? S-saya tidak tahu!" ujar Suster Ana dengan deg-degan.
Ben mendekat ke suster Ana. Ia menarik dagu suster Ana dengan perlahan hingga tatapan mereka saling bertemu yang membuat kinerja jantung suster Ana kembali menggila.
"Panggil saya Mas Ben! Paham kan, Ana?" ujar Ben dengan tegas menatap dalam ke manik mata suster Ana.
"P-paham Tu... emmm maksud saya m-mas B-ben," ujar suster Ana dengan gugup.
Ben tersenyum. Ia mengusap kepala suster Ana dengan pelan. "Saya ini suami kamu sekarang. Kamu jangan gugup dan takut kepada saya. Sekarang temani saya tidur, sebelum malam saya ingin kita seperti waktu itu," ujar Ben dengan menarik suster Ana ke kasur.
"Aakhh..." Suster Ana berteriak dengan refleks saat dirinya terjatuh di kasur dengan menindih dada bidang Ben.
"Ya Tuhan... Apakah aku tidak mimpi? Lelaki tampan di hadapanku ini adalah suamiku sekarang? Jantungku, semoga saja mas Ben tidak mendengarnya!" gumam Suster Ana dengan mata yang terus memandang ke arah Ben.
"Dia cantik sekali! Sepertinya aku selalu tidak bisa mengontrol diriku saat dekat dengannya. Ana, apa yang kamu lakukan terhadapku sehingga aku tergila-gila padamu?"