
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya!...
...Happy reading...
****
Uwekk....
Uwekk...
Uwekk...
Liam, Ricard, dan Nico memuntahkan jus yang baru saja mereka minum di halaman belakang yang jauh dari Rania dan juga Ferdians agar keduanya tidak melihat mereka memuntahkan jus dengan rasa yang sangat aneh tersebut.
"Baru kali ini aku meminum jus dengan rasa yang sangat aneh seperti ini. Sungguh perutku mual sekali," ujar Liam dengan memegang perutnya yang terasa mual.
"Benar Bos! Ampun aku dekat dengan nona Rania, calon anaknya sudah pandai mengerjai kita," ujar Ricard dengan lemas.
"Sudah aku katakan tadi jika perasaanku kembali tidak enak. Baru saja sembuh dari diare dan ini sudah diberikan minuman beracun," ujar Nico dengan lirih.
"Tuan kecil sangat membahayakan sekali," gumam Liam yang di angguki oleh Ricard dan juga Nico.
"Aku yakin setelah kelahirannya dan tuan kecil sudah besar dia akan sangat membahayakan semua orang," ujar Ricard.
"Sebaiknya kita berjaga di depan saja! Jangan sampai kita melihat nona Rania," ujar Nico dengan lirih.
"Ayo!"
Akhirnya Liam, Ricard dan juga Nico berjalan ke arah depan di mana yang lainnya berada. Dari beberapa penjaga kenapa harus mereka yang merasakan pahitnya ketika nona mereka mengidam? Sungguh ini tidak adil sekali.
****
Suster Ana mendorong kursi roda Heera dengan perlahan. Heera dan suster Ana menatap Ferdians dan juga Rania dengan penasaran.
"Apa yang kalian lakukan di dapur, Nak?" tanya Heera dengan pelan.
"Ooo Ibu sudah bangun! Ini Bu aku meminta mas Ferdians untuk membuatkan nasi goreng dan jus. Liam, Ricard, dan Nico juga menyukai jus itu, Bu. Mas Ferdians juga," ujar Rania dengan tersebut kecil.
Heera menatap Ferdians yang sangat tertekan sekali pasti ada yang salah dengan jus yang diinginkan oleh Rania.
"Emang jus apa, Nak?" tanya Heera dengan penasaran.
"Jus brokoli dan wortel yang dicampurkan menjadi satu, Bu. Aku tadi sangat menginginkan jus itu dan ternyata emang rasanya enak," ujar Rania dengan tegas.
"Suster Ana mau?" tanya Rania.
"Tidak, Nona. Terima kasih!" ujar suster Ana dengan cepat. Ia tidak mungkin dan tidak akan mau meminum jus yang sangat aneh itu.
"Oke!" ujar Rania dengan enteng dan kembali meminum jus brokoli dan wortel itu dengan tenangnya.
"Sayang aku ke kamar dulu ya. Perut aku tiba-tiba mulas," ujar Ferdians dengan lirih.
Rania menatap suaminya dengan pandangan yang sangat datar. Ia tidak suka di tinggalkan begitu saja oleh Ferdians, tetapi melihat wajah memelas Ferdians membuat Rania mengangguk dengan pelan.
"Sebentar ya aku mau mandi sekalian dan berangkat ke kantor," ujar Ferdians dengan pelan.
"Bu, temani Rania dulu ya!" ujar Ferdians dengan wajah yang amat terlihat kasihan di mata Heera, mungkin anaknya juga meminum jus sayuran tersebut.
"Iya, Nak. Cepat mandi jangan buat mertuamu kecewa karena kamu terlambat," ujar Heera dengan pelan.
"Iya, Bu!"
Cup...
"Sebentar ya, Sayang!" ujar Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut dan berlalu meninggalkan Rania, Heera, dan juga Suster Ana.
Heera menatap menantunya setelah kepergian Ferdians. "Kenapa wajah kamu seperti itu, Nak?" tanya Heera dengan bingung.
"Tidak apa-apa, Bu!" jawab Rania dengan pelan.
Rania kembali meminum jus-nya dengan tenang. "Ibu mau makan?" tanya Rania dengan lembut.
"Sebentar lagi saja, Nak. Suster Ana mau membawa Ibu ke halaman sebentar untuk mencari udara segar," ujar Heera dengan lembut.
"Kalau begitu Rania ke kamar dulu ya, Bu. Rania mau mandi juga dan mau ke kantor," ujar Rania dengan tersenyum.
"Ya sudah. Kalau masih lemas jangan ke kantor ya kamu tidak boleh lelah, Sayang!" ujar Heera dengan perhatian.
"Iya, Bu!"
"Sus, jaga ibu ya. Jangan sampai ibu kenapa-napa," ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!"
"Bu, tuan Ferdians sepertinya menjadi korban mengidamnya nona Rania. Terlihat sekali wajahnya sangat tertekan tadi," ujar Suster Ana dengan pelan.
"Iya benar, Sus. Ferdians terkena kejahilan kedua anaknya lagi. Tapi biarlah asal Rania bahagia dan tidak stres," ujar Heera dengan tersenyum.
"Iya, Bu. Bersyukur sekali mereka ya, Bu!" ujar Suster Ana dengan tersenyum.
"Alhamdulillah. Ibu juga bersyukur mendapatkan menantu sebaik Rania. Ibu berharap kamu juga mendapatkan lelaki yang baik daripada mantan suami kamu itu ya," ujar Heera dengan tulus.
"Iya, Bu. Aamiin!" jawab Suster Ana dengan sangat berharap sekali.
****
Rania menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Ketika suara pintu terbuka membuat Rania langsung menatap Ferdians yang sudah keluar dari kamar mandi mengenakan handuk saja.
Rania menelan ludahnya dengan kasar karena ia terpesona dengan tubuh suaminya. Entah mengapa melihat Ferdians selesai mandi membuat Rania ingin menyentuh Ferdians. Tetapi ia mengingat pesan dokter jika keduanya tidak boleh berc*nta dulu karena usia kandungan Rania masih sangat muda.
Ferdians yang sadar akan kehadiran istrinya langsung tersenyum ke arah Rania. "Kenapa hmm? Terpesona dengan ketampanan suami kamu?" tanya Ferdians dengan terkekeh.
"T-tidak! A-aku juga mau mandi mau ke kantor," ujar Rania dengan terbata.
Ferdians langsung memegang tangan Rania dengan erat. "Sayang jangan ke kantor dulu ya. Kamu tadi habis muntah-muntah aku takut kamu sakit," ujar Ferdians dengan tulus, matanya menatap mata Rania dengan dalam.
"Saya sudah baik-baik saja! Saya tidak bisa mengabaikan pekerjaan kantor begitu saja lagipula ada Sastra yang menemani saya," ujar Rania dengan tegas.
"T-tapi..."
"Jangan halangi saya, Mas! Dan satu lagi saya memanggil kamu dengan sebutan mas karena saya mual ketika memanggil nama kamu. Jadi, jangan kepedean soal panggilan itu," ujar Rania dengan dingin karena ia tak mau Ferdians besar kepala dengan panggilan tersebut.
"Ternyata istriku masih terlihat galak walaupun sedang hamil. Ya sudah kalau kamu memang merasa sudah baikan aku izinkan kamu bekerja tapi dengan satu syarat kamu jangan sampai kelelahan ya," ujar Ferdians dengan lembut.
"Iya!" jawab Rania dengan singkat.
"Ya sudah sana mandi. Biar aku yang menyiapkan keperluan kamu hari ini," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Hmmm..."
Rania berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Ferdians yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang jaga mama dengan baik ya. Kalian harus tetap sehat sampai terlahir di dunia," gumam Ferdians dengan lirih.
Ferdians segera berganti pakaian kantornya dan setelah itu menyiapkan semua keperluan istrinya. Demi istrinya yang sedang hamil Ferdians rela melakukan apa saja walaupun perutnya harus sakit setelah meminum jus aneh buatannya sendiri.
****
Saat ini Ferdians maupun Rania sudah berada di kantor Rania. Keduanya masih berada di dalam mobil karena Ferdians sedang berpamitan kepada kedua anaknya.
"Papa kerja dulu ya, Sayang. Jangan buat mama sakit dan kelelahan kali ini kalian harus bekerja sama dengan Papa," ujar Ferdians mengelus perut Rania dengan lembut.
Cup...
Setelah mengecup perut istrinya Ferdians beralih menatap Rania, ia menyentuh pipi Rania dengan lembut dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Rania.
Ciuman Ferdians sangat terasa lembut bagi Rania hingga ia memejamkan matanya, Rania begitu menikmati ciuman Ferdians hingga Ferdians melepaskan ciuman mereka dan membuat Rania kecewa.
Ferdians yang mengerti kekecewaan istrinya yang bisa tersenyum. "Untuk kali ini aku menahan hasratku untuk menyentuhmu, Sayang. Aku tahu kamu juga menginginkannya, nanti malam aku akan membuat kamu puas tapi kita belum bisa berc*nta, hanya saling menyentuh saja," ujar Ferdians dengan menyentuh bibir Rania.
Ferdians melihat kedatangan Sastra dari dalam kantor. "Itu Sastra sudah menunggu. Ingat jangan sampai kelelahan ya," ujar Ferdians.
"Iya!" jawab Rania dengan pelan.
Rania menatap Ferdians. Ia ingin sekali memeluk Ferdians tetapi gengsinya sangat besar hingga Ferdians sendiri lah yang memeluk dirinya.
"Semangat kerja bumilku!" ujar Ferdians dengan tersenyum. Lalu ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Rania.
Sebelum pergi Ferdians mendekat ke arah Sastra. "Hari ini saya, Liam, Ricard, dan Nico terkena kejahilan bumil yang sedang mengidam. Kami meminum jus brokoli dan wortel hingga perut kami sakit. Untuk kamu sekarang waspadalah Sastra," bisik Ferdians di telinga Sastra.
Sastra menelan ludahnya dengan kasar mendengar ucapan Ferdians. Ia menjadi was-was dengan Rania.
"Kalian berbisik tentang apa?" tanya Rania dengan tajam.
"Bukan apa-apa, Sayang. Aku menyuruh Sastra menjaga kamu selama aku bekerja dan menuruti kemauan kamu," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Aku berangkat dulu ya!"
"Jaga istri saya!"
"B-baik, Tuan!"
"Kenapa setelah hamil nona Rania lebih menyeramkan? Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia meminta aku memakan sesuatu yang aneh? Ya Tuhan tolong aku!" batin Sastra menjerit.