SISTEM SURGAWI TERTINGGI

SISTEM SURGAWI TERTINGGI
Chapter 206 - Masalah Selesai


“Oh, kalau kamu tidak mau menyerahkannya, aku akan menghancurkan Penginapan ini dan juga aku akan menaikkan pajak khusus untuk penginapan ini!” Kakek tua itu mengancam.


“Tuan Besar tolong jangan lakukan itu, kami semua disini sudah membayar pajak yang cukup tinggi, kami disini hanya orang kecil, jika anda menaikkan pajak lagi, kami tidak akan bisa membuka penginapan ini lagi, saya mohon,” rintih Pelayan itu sambil memeluk kaki Kakek Tua yang mengancamnya.


Bai Chen yang awalnya masih makan dengan tenang ikut tersulut emosi ketika melihat si pelayan sampai bersimpuh kepada Kakek Tua itu.


“Sayang ternyata umpanmu kemarin berhasil, sekarang ikan yang lebih besar itu sudah mendatangi kita dengan sendirinya, enaknya langsung kita bunuh atau bagaimana ya?” Bai Feng juga ikut emosi karena kasihan kepada si pelayan.


“Bagaimana jika kita langsung membuatnya berbeda alam, bagaimana ? Menarik bukan?” Bai Chen membalas perkataan Bai Feng.


“Boleh juga…” Bai Chen dan Bai Feng kemudian berjalan dengan santai mendekati Kakek Tua itu.


Bai Chen tanpa banyak bicara lagi langsung menggunakan kekuatan terkecilnya untuk menyerang kakek tua itu.


“Elemen Api Emas, bakar orang itu!” Bai Chen.


“Peluru Energi, tembus kepala orang itu!” Bai Feng.


Kakek tua itu ternyata cukup kuat karena bisa merasakan kedua serangan Bai Chen dan Bai Feng itu serta menghindarinya.


“Boom…”


“Ooo bisa menghindari serangan kami berdua, boleh juga kamu kakek tua, ngomong-ngomong orang yang kamu cari itu adalah kami,” ujar Bai Chen sambil tersenyum penuh arti.


“Oh jadi kamu yang telah membuat cucuku ketakutan seperti itu, kalau begitu aku akan menuntut balas sekarang, aku akan membunuhmu anak muda,” balas Kakek Tua itu.


“Boleh saja, tapi bagaimana jika kita mencari tempat yang lebih luas? Aku tidak bisa menggunakan kekuatan penuhku jika berada di ruangan tertutup seperti ini,” ajak Bai Chen.


“Terserahmu saja, setelah ini kamu juga akan mati, hahaha,” tawa Kakek Tua itu.


Kemudian Kakek Tua, Bai Chen serta ketiga istrinya keluar dari penginapan menuju ke sebuah lapangan yang cukup luas.


Tapi Bai Chen merasa pertarungan ini tidak cukup seimbang, jadi dia menyuruh Bai Feng saja yang menghadapi kakek tua itu.


"Baik sayang, aku akan membuat Kakek Tua itu mati mengenaskan di hadapan semua orang ini," ucap Bai Feng dengan percaya diri.


Bai Feng dan Kakek Tua itu sudah memulai pertarungannya, mereka berdua jual beli serangan dan membuat beberapa suara dentuman akibat tabrakan jurus masing-masing.


Pertarungan itu sudah memiliki pemenang, beberapa detik yang lalu Bai Feng berhasil melilit tubuh kakek tua itu dan menghancurkan tubuh kakek tua itu berkeping-keping dengan Rantai Dao Kematiannya.


"Bagus sekali, kamu sudah semakin mahir dalam menggunakan Dao Kematian mu, sekarang bagaimana jika mendatangi Kediaman Keluarga Ang sambil membawa jasad Kakek Tua ini," ajak Bai Chen.


Bai Chen dan ketiga istrinya bertanya kepada beberapa orang yang melihat pertandingan tadi.


Tanpa memperdulikan tatapan ngeri dari tiap orang itu, Bai Chen dan ketiga istrinya langsung bergegas menuju Kediaman Keluarga Ang.


"Braak…"


"Siapa itu! Berani sekali membuat keributan di Kediaman Keluarga Ang ku, aku akan membunuh orang itu dengan kedua tanganku," marah Patriark Ang sambil berjalan menuju asal suara bersama dengan semua tetua keluarga ang.


“Siapa kamu anak muda? Kenapa kamu membuat keributan di Kediamanku? Bungkusan apa ini…” Patriark Ang melihat jasad ayahnya yang sudah hancur hanya menyisakan sedikit ciri-ciri wajahnya saja.


Wajah Patriark Ang itu sudah merah padam, dia tidak kuasa lagi menahan amarahnya dan langsung menyerang keempat orang itu.


“Bunuh mereka berempat, jangan biarkan mereka kembali hidup-hidup, bunuh… mereka…” Belum sempat Patriark itu menyerang, salah satu tetua keluarga ang malah menusuk punggung patriark itu.


“A… apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah membunuhku? Kenapa?” Patriark itu kesakitan dan hanya bisa memegang pedang yang sudah menembus punggung sampai dadanya itu.


“Maafkan aku patriark, kamu harus mati agar keluarga ang tidak jadi dihapuskan oleh pemerintah pusat, biarkan aku menggantikanmu untuk memimpin keluarga ang ini,” ucap tetua itu.


Tetua itu kemudian mendekati Bai Chen dan kemudian berlutut seraya berkata, “Maafkan keterlambatan saya menyambut Pemimpin Tertinggi Dinasti Han,” ucap tetua itu.


“Oh, kamu mengenalku, ngomong-ngomong kenapa kamu mengkhianati Patriarkmu sendiri? Bukankah itu tindakan pengecut?”


“Bukan seperti itu Pemimpin Tertinggi, saya hanya menjalankan tugas dari Gubernur Provinsi ini, kalau tidak salah adalah salah satu dari pasukan anda yang disebut sebagai Cahaya Dewa,” jawab tetua itu masih sambil berlutut.


“Oh, coba jelaskan lebih lanjut,” pinta Bai Chen.


“Saya diperintahkan untuk mengambil alih Keluarga Ang ini sebelum Gubernur bertindak dan menghapuskan Keluarga Ang ini, jadi selama ini saya menunggu waktu yang tepat agar bisa membunuh Patriark Ang, kebetulan barusan adalah waktu yang paling tepat,” jawab tetua itu.


“Saya juga sudah bekerja sama dengan semua tetua, jadi Patriark Ang sudah tidak memiliki kekuatan nyata di Keluarga ini,” sambung tetua itu.


“Dasar pengkhianat, kalian semua sudah aku anggap sebagai orang-orang terpercayaku, tapi ini adalah balasan yang kalian berikan kepadaku? Pengkhianat busuk!” Patriark Ang itu menyumpahi semua tetua yang telah berkhianat itu.


“Diamlah Patriark, kamu dan anakmu yang telah menjerumuskan kami semua, kami sudah lama tidak menyukai kalian berdua,” ucap tetua lainnya.


“Dan perlu kamu tahu bahwa anakmu sudah kami bunuh beberapa jam yang lalu, jadi kamu memang sudah kalah sejak lama Patriark, kamu harus menerima takdirmu ini,” ucap tetua lainnya.


“Baguslah kalau memang seperti itu, kalau begitu aku tidak jadi untuk menghancurkan Keluarga ini, kalau begitu aku harap kalian semua masih tunduk ke pemerintahan pusat, jika tidak maka kehancuran keluarga ini akan menjadi kenyataan,” ancam Bai Chen.


“Tentu saja, kami akan selalu setia kepada pemerintah pusat Pemimpin Tertinggi,” jawab tetua masih berlutut di hadapan Bai Chen.


“Sebelum aku pergi, aku akan memberikan kalian sedikit hadiah karena telah melakukan pekerjaan dengan biak, terimalah…” Bai Chen memberikan beberapa botol pil dan beberapa senjata yang cukup kuat.


“Terima kasih Pemimpin Tertinggi, semoga kejayaan selalu menyertai anda dan ketiga istri anda,” jawab tetua itu.


“Baiklah kalau begitu urusanku disini sudah selesai, aku pergi dulu, jangan lupa untuk menguburkan patriark kalian itu…” Bai Chen dan ketiga istrinya kemudian meninggalkan kediaman keluarga ang dan lanjut untuk pergi ke Pulau Misterius.


Bai Chen dan ketiga istrinya resmi memulai perjalanan menuju ke Pulau Misterius yang selama ini menjadi tujuan utama mereka, entah keseruan apalagi yang menunggu mereka di Pulau Misterius itu.