
“Jgeeer…”
“Kesini kalian 100 ribu Prajurit Petir Hitam sialan, aku akan melawan kalian semua hanya dengan menggunakan tubuhku saja, aku tidak akan menggunakan senjata.” Bai Chen sudah bersiap menerima semua sambaran petir hitam itu hanya dengan tubuhnya saja.
Selama tiga bulan terakhir, dia tersadar bahwa keistimewaan tubuhnya jarang digunakan, akhirnya dia memutuskan untuk terus melatih tubuh fisiknya, dia tidak ingin selalu mengandalkan Pedang Pelahap Semesta.
[Peraturan masih sama Master, satu prajurit itu akan bernilai 10 juta PP dan 1 juta PS]
[Jadi, selamat mengalahkan mereka semua Master, semangat 😉]
Sistem sudah menyelesaikan peningkatannya, kali ini dia sudah membantu Bai Chen lagi untuk mengalahkan 100 ribu Prajurit Petir Hitam itu.
Pertarungan Solo vs Squad terjadi, awal pertarungan Bai Chen masih mengimbangi dengan langsung mengalahkan 3 Prajurit Petir sekaligus dengan tinjunya.
Selama beberapa jam kemudian Bai Chen sudah mulai kehilangan momentumnya, tapi dia masih tetap bertahan untuk mengalahkan semua Prajurit Petir itu.
Beberapa jam kemudian berlalu dan belum ada tanda Prajurit Petir itu untuk beristirahat dengan tidak memukuli Bai Chen.
‘Sialan, ternyata diserang oleh satu juta pasukan yang sama-sama memiliki kultivasi Dewa Sejati tidak semudah itu.’ Gumam Bai Chen.
‘Mungkin memang benar jika aku memiliki keistimewaan dengan Absolute Body dan Pedang Pelahap Semesta yang setara dengan 10 ribu orang dengan tingkatan yang sama.’ Gumam Bai Chen.
‘Tapi mereka semua masih memiliki elemen Petir Hitam, hal itu sungguh merepotkan, karena aku sudah memenuhi tubuhku dengan menyerap Petir itu tapi kilatan di langit tidak mereda sama sekali.’
“Jgeeer…”
Prajurit Petir itu seperti mengerti bahwa musuh mereka sekarang sedikit tidak fokus dan memanfaatkan momen ini dengan menyerah tubuh Bai Chen yang terlihat tidak dijaga sama sekali.
“Buuuuk…”
Pada akhirnya Bai Chen terkena pukulan Tombak dari Prajurit Petir Hitam itu, dia terpental puluhan kilometer ke belakang.
‘Aku sudah terlanjur berjanji untuk tidak menggunakan senjata lagi, tunggu dulu, bukankah aku juga memiliki Skill yang sangat tidak masuk akal lainnya, baiklah kita akan mencobanya kepada Prajurit Petir ini, maafkan aku yang semuanya, hehe.’ Bai Chen tersenyum dan mulai mendekat ke Prajurit Petir itu lagi.
“God Law : Hancurkan semua musuh yang sudah diseleksi dalam radius 1000 km, Aktif…” Bai Chen.
“Blurrp…”
“Blurrp…”
“Blurrp…”
[Selamat…]
[Selamat…]
[Selamat…]
Puluhan ribu Prajurit Petir Hitam itu satu persatu menghilang seperti ditelan bumi, wajah para prajurit itu seperti kebingungan mengenai jurus apa yang sedang menyerang mereka ini.
Tapi, ketika God Law milik Bai Chen yang sudah ditingkatkan menjadi Skill tingkat Dewa, maka semua makhluk yang terkena seleksi oleh Bai Chen pasti akan meninggal dunia dengan syarat musuh memiliki kultivasi di bawah ranah Jenderal Dewa.
Memang akhirnya Bai Chen bisa mengalahkan semua prajurit dewa, tapi efeknya adalah dia sekarang pingsan dan jatuh dari ketinggian beberapa ribu meter di atas tanah karena kehabisan energi qi yang sangat besar.
Fei Yuan tidak menyaksikan kesengsaraan petir itu karena dia harus menjadi penanggung jawab atas penggulingan benua tengah, jadi dia pergi kesana bersama dengan beberapa petinggi federasi lainnya untuk memastikan rencana itu berhasil.
Kebetulan Tiga Pencakar juga sedang bertugas untuk mengamankan Portal Menuju Dunia Immortal yang ada di benua utara, mereka bertugas untuk mengamankan kalau-kalau ada orang dari dunia atas ingin menginvasi dunia fana ini.
Mei Jiao membersihkan baju suaminya itu, kemudian dia mengecup kening suaminya dan meninggalkannya agar suaminya bisa beristirahat dengan tenang.
Keesokan hari setelah penggulingan itu berhasil dan Bai Chen sudah siuman dari pingsannya, Bai Chen dkk kemudian berkumpul di Aula Rapat, mereka semua melaporkan semua hasil dari penggulingan itu.
“Baguslah kalau begitu, aku bisa tenang untuk meninggalkan dunia fana ini jika yang mengelola Federasi Dua Benua ini adalah tiga orang terpercayaku, biarkan mereka kokoh dulu dalam berpolitik dan bernegara, kita akan menikmati hidup kita semua sebelum menuju Dunia Immortal.” Bai Chen.
“Siap tuan muda…”
Setelah itu mereka semua mengobrol hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul enam sore, semua orang pamit undur diri untuk melakukan pekerjaan lainnya atau hanya sekedar untuk beristirahat setelah melakukan tugas.
Bai Chen mempersilahkan mereka semua, setelah itu Bai Chen mengganti pakaiannya untuk melakukan kebiasaan yang selama ini sudah ditinggalkan karena kepentingan Kultivasi Tertutup.
Kebiasaan Bai Chen kali ini adalah menyamar menjadi penduduk biasa kemudian dia berjalan menyusuri semua kota dan provinsi yang ada di Federasi Dua Benua ini, dia ingin melihat secara langsung bagaimana kehidupan semua rakyat yang ada dalam kepemimpinannya.
“Sayang, kamu mau keliling lagi?” Tanya Fang Chen.
“Benar sekali, sudah beberapa bulan ini aku tidak melakukannya, aku ingin tahu apakah masih ada masalah dengan rakyatku sendiri, jadi nantinya aku bisa memperbaiki suatu hal yang salah dalam sistem pemerintahan ini.” Jawab Bai Chen sambil tersenyum.
“Andaikan semua orang tahu bagaimana perjuanganmu menjadi seorang pemimpin seperti ini, apakah masih ada orang yang berani menghinamu?” Fei Yuan.
“Biarkanlah mereka melakukan itu, toh pada akhirnya aku melakukan ini karena kau senang saja, lagipula aku sedang kebanyakan uang, jadi bingung mau dipakai untuk apa, lebih baik aku memberikan kepada mereka yang membutuhkan.” Bai Chen.
“Ditambah lagi aku juga sudah memenuhi semua kebutuhanmu dan Mei Jiao, seluruh bawahan kita juga sudah sangat kaya, semua teman dan orang-orang kita juga sudah sangat di atas rata-rata, jadi bukankah ini hal yang wajar dan kecil.” Bai Chen.
“Baiklah sayang, tapi apakah kamu aku boleh ikut?” Fei Yuan memohon.
“Boleh, tapi jangan memakai pakaian mewah itu, gantilah pakaianmu.” Bai Chen.
“Sa…sayang apakah aku juga boleh ikut?” Mei Jiao yang dari tadi malu-malu juga menawarkan diri untuk ikut.
“Boleh, apa yang tidak untuk istriku tercinta, kamu juga harus berganti pakaian, akan aku tunggu disini.” Bai Chen.
“Baiklah kami berdua tidak akan lama.” Fei Yuan dan Mei Jiao masuk ke kamar.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah siap.
Kemudian Bai Chen dan kedua istrinya mulai untuk berkeliling melihat keadaan sebenarnya dari negara yang katanya merupakan negara paling makmur.
Mereka bertiga berkeliling ke daerah yang kurang elit tapi belum bisa dikatakan sebagai daerah kumuh, karena biasanya disinilah letak ketidakadilan itu terjadi.
Baru saja mereka bertiga memasuki gerbang kecil masuk ke desa kecil yang ada di pinggiran ibukota, mereka langsung disambut dengan teriakan.
“Maling…”
“Maling…”
Banyak penduduk desa yang terlihat mengejar seorang bocah kecil yang berlarian membawa beberapa buah segar dan roti di tangannya.