SISTEM SURGAWI TERTINGGI

SISTEM SURGAWI TERTINGGI
​​Chapter 194 - Kebusukan Tetua Phoenix


“Bruk…”


Tetua Phoenix melemparkan mayat Tetua Harimau itu setelah dia memastikan tidak terkena peluru satupun.


“Kamu memang sangat kejam Tetua Phoenix, kami bahkan menggunakan kolegamu sendiri menjadi tameng hidup, dasar orang biadab,” ucap Bai Feng.


“Hahaha, tidak masalah kamu memandangku dengan apapun, tapi sekarang mengucapkan terima kasih karena telah mewujudkan keinginanku menjadi penguasa tunggal Dinasti Han ini,” tawa keras Tetua Phoenix.


“Sampai akhir pun kamu tidak mempercayai siapapun, ternyata kamu lebih hina dari yang aku bayangkan Tetua Phoenix atau sekarang bisa kupanggil paman,” ledek Bai Feng.


“Kamu tidak mengerti keponakan busuk, aku sudah mengincar posisi ini sejak dulu, tapi semua orang malah memandang ayahmu yang tidak berbakat itu dan menjadikannya pemimpin Dinasti ini, apakah kamu pernah memikirkan perasaan pamanmu ini?” Tetua Phoenix membela diri.


“Itu semua hanya obsesimu yang berlebihan tetua, dengan melihat hal ini saja, bisa dipastikan bahwa ayahku, ratusan kali lipat lebih pantas menjadi pemimpin Dinasti ini dari pada kamu,” bentak Bai Feng.


“Dulu ayahku hanya memperhatikan Dinasti ini dan kelangsungan hidup 4 Ras Penjaga Maat Angin, sampai-sampai aku yang sebagai anaknya merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah,” sambung Bai Feng.


“Ayahku sangat egois karena mementingkan kepentingan orang-orang busuk dan tidak tahu terima kasih seperti kalian daripada putrinya sendiri,” lanjut Bai Feng.


“Tapi sekarang aku mengerti, bahwa memang ayahku adalah Pemimpin Sejati yang benar-benar layak dikagumi, tidak seperti adiknya yang sangat berambisi yang jika menjadi pemimpin akan menghancurkan Dinasti ini cepat atau lambat,” ledek Bai Feng.


“Keponakan tidak tahu diri, apakah kamu tahu bahwa ayahmu dulu lah yang tidak berani menyerang Dinasti Manusia,” balas Tetua Phoenix.


“Tapi lihat sekarang, aku bahkan hampir menguasai Dinasti Manusia dan dengan rencanaku, semua Dinasti Manusia yang dulu terus menyerang kita malah sekarang mati terbunuh semuanya, apakah yang aku lakukan salah?” Tetua Phoenix membela diri.


“Tidak paman, tapi kamu sangat salah, kamu kali ini benar-benar salah perhitungan, apakah kamu tahu bahwa yang kamu manfaatkan sekarang adalah seseorang yang istimewa dan sangat kuat?” Bai Feng.


“Kamu telah membuat kakak Chen membunuh Rasnya sendiri, kamu akan meneriman semua ganjarannya sekarang, sudahi omong kosong ini dan 1000 Peluru serang pak tua jelek ini!” Bai Feng.


“Hahaha, kamu pikir dari tadi aku tidak memperhatikan gerakan tanganmu, kamu juga harus menerima serangan dari Senjata Kuno yang sudah aku aktifkan semenjak matinya Tetua Harimau, Meriam Esensi tembak keponakan kurang ajar ini,” perintah Tetua Phoniex.


Meriam yang sudah berada di bagian atas aula itu bergerak cepat dan kemudian menembakkan sebuah sebuah bola meriam warna-warni yang memiliki tekanan yang sangat kuat.


“Hanya meriam butut, aku akan menahannya, kita lihat siapa yang bisa bertahan dari serangan masing-masing, Peluru Energi Dao Kematian maju!” Bai Feng.


“Dor… dor… dor…”


Kemudian ribuan peluru itu langsung melesat ke depan dengan cepat.


Bersamaan dengan itu Meriam Kuno itu juga menembakkan bola meriam warna-warni yang langsung mengincar jantung Bai Feng.


“Slurb…”


Bola meriam itu sudah ditembakkan, tapi tiba-tiba saja bola meriam warna-warni itu menghilang dan keberadaannya tidak bisa dirasakan sama sekali.


“Kamu bisa mati dengan terhormat, karena bola meriam ini sangat spesial, dalam beberapa detik lagi jantungmu akan langsung hancur dari dalam, hahaha,” tawa Tetua Phoenix.


Sebuah suara tiba-tiba muncul, “Berbahaya sekali serangan meriam itu, Pedang Pelahap Semesta Bentuk 8 : Law, gabungkan dengan Dao Ruang, tebas bola meriam warna-warni itu!”


Kemudian pemilik suara itu menebaskan pedangnya dan ruang dalam beberapa meter seperti terbelah dan tergeser, bola meriam warna-warni itu sudah terbelah tepat beberapa meter sebelum mengenai Bai Feng.


Peluru milik Bai Feng juga ikut runtuh karena serangan mengerikan dari Pedang Pelahap Semesta itu.


Tapi Bai Chen muncul di detik-detik terakhir dan menghilangkan mimpi-mimpi yang sudah Tetue Phoenix gumamkan.


“Sial, sial, sial, aku tidak menyangka bahwa kamu memang sangat kuat anak muda,” kagum Tetua Phoenix.


“Halo tetua busuk, tidak usah banyak bicara lagi, aku sudah menyaksikan pertarungan kalian dari tadi, aku harus mengakui bahwa kamu orang yang sangat buruk pak tua, jadi matilah dengan tenang,” ucap Bai Chen.


“Pedang Pelahap Semesta Bentuk 8 : Law, gabungkan dengan Dao Waktu!” Bai Chen kemudian menebaskan pedangnya sekali lagi.


Dalam sepersekian detik, tubuh Tetua Phoenix sudah terbelah menjadi dua, tapi karena efek dari Dao Waktu, tubuhnya kembali lagi seperti semula dan tertebas berulang kali.


Bai Chen juga sudah mengatur agar Tetua Phoenix merasakan rasa sakit terus menerus dari setiap perulangan tebasan itu.


“Aku tidak membiarkanmu mati dengan mudah, kamu harus menanggung rasa sakit ini terus menerus sampai jiwamu sendiri ikut terbelah dan menghilang dari dunia ini,” ucap Bai Chen.


Kemudian Bai Chen membiarkan kejadian itu terus berulang, dia kemudian mendekati Bai Feng yang cukup terkejut dengan kedatangan Bai Chen.


“Halo, kenapa kamu bengong? Apakah aku ini hantu yang harus kamu perhatikan sampai melotot seperti itu?” Bai Chen.


“Eh, Kak Chen, terima kasih telah menolongku, aku tadi tidak bisa bergerak karena serangan meriam itu, jika tidak ada kakak, aku sudah…” Bai Feng.


Bai Chen menutup mulut Bai Feng itu dengan satu jari telunjuknya, dia tidak ingin mendengar Bai Feng meneruskan kata-katanya.


“Sudahlah, memang serangan tadi sangat berbahaya, mungkin kamu harus meningkatkan pemahaman Dao Ruang mu untuk bisa merasakan serangan tadi,” senyum Bai Chen.


“Tapi kenapa Meriam Kuno itu bisa dimiliki oleh Dinasti ini? Apakah memang selama ini sudah ada dan aku saja yang tidak memperhatikannya saja ya?” Bai Feng.


“Kita akan menyelidikinya nanti dan mungkin pamanmu ini memiliki beberapa petunjuk, lihatlah wajahnya sekarang,” ucap Bai Chen dengan ringan.


Wajah Tetua Phoenix sudah tidak karuan, dia sangat kesakitan karena menerima berulang kali serangan yang sangat mematikan, karena sudah tidak kuat, dia kemudian mengeluarkan kata-kata yang dimaksud oleh Bai Chen.


“Wahai yang agung, berilah berkahmu, aku sekarang dalam keadaan terpojok, aku juga sudah memberikan persembahan kepadamu setiap tahun, tolonglah hambamu ini,” ucap Tetua Phoenix sambil melihat langit-langit aula ini.


“Kakak Chen, ini…” Bai Feng.


“Biarkanlah dulu, aku penasaran dengan apa yang dia panggil, sepertinya makhluk itu juga yang memberikan Meriam Kuno itu kepada pamanmu,” potong Bai Chen.


Segera setelah itu, sosok hitam besar muncul dari dalam jiwa Tetua Phoenix.


“Ternyata kamu hanya sampah biasa seperti yang lainnya, tidak layak menjadi wadahku, lebih baik kamu mati saja, tidak ada gunanya aku menolongmu lagi, masih banyak kandidat lain yang pantas,” ucap Sosok itu.


Sosok itu kemudian keluar dari tubuh Tetua Phoenix secara keseluruhan dan mendekati Bai Chen.


“Awas bahaya, berdiri di belakangku!” Bai Chen mengarahkan Bai Feng menuju belakang badannya.


“Hahaha, tidak aku sangka ada seorang Ras Dewa di Dunia Immortal ini, kamu sangat istimewa anak muda, mungkin kita akan bertemu nanti jika memang sudah takdir,” ucap sosok itu kepada Bai Chen.


“Pedang Pelahap Semesta Bentuk 9 : Soul, tebas sosok menjijikan ini!” Bai Chen menebas sosok itu.


“Kamu tidak akan bisa menyerangku… argh…” Sosok itu kesakitan.