
Kediaman Nelson
Dengan senyum merekah dan keyakinan yang begitu tinggi. Nelson duduk di kursinya dengan stelan jas hitam yang sudah rapi. Tampan dan menawan tentunya. Semua makanan telah tersaji di atas meja, tentunya dengan olahan chef terhandal, dan ia jamin masakannya tak mengecewakan. Malam ini ia tengah menunggu kedatangan Dave dan Alana. Sedari tadi ia tak hentinya tersenyum dan kadang menyanyi gembira, bak seorang remaja yang baru jatuh cinta.
“Agram, bagaimana penampilan saya malam ini? Menurutmu apakah ada yang kurang?” tanyanya pada sang asisten.
“Sempurna, Tuan.”
“Ya, aku harus terlihat sempurna. Agar Alana semakin jatuh cinta padaku,” ucapnya senang.
Agram hanya membalasnya dengan senyum tipis. Hingga terdengar bell pintu dan ia yakin jika itu tamu yang ditunggu-tunggu majikannya.
Seorang pelayan menyambut kedatangan Dave dan Alana. Keduanya digiring masuk, Alana meremas lengan Dave. Entah kenapa firasatnya sama sekali tidak enak. Dave yang tahu pun segera mengusap lengan perempuan itu.
Langkah keduanya terhenti begitu melihat Nelson menghampirinya. “Terima kasih sudah memenuhi undangan saya, Tuan Dave dan Nona Alana?” sambutnya.
Dave mengangguk. “Sama-sama Tuan.”
Alana meringsut entah kenapa semakin merasa tak nyaman dengan tatapan Nelson padanya. Dan Dave mengikuti arah pandang lelaki itu, ia mendesah kesal. Namun, Dave selalu berusaha bersikap berwibawa. Bukan Dave namanya jika menghadapi sesuatu masalah dengan emosi.
Nelson segera memutus kontak pandangannya, menggiring mereka menuju ruang makan. Karena ia sendiri sudah tak sabar untuk mendengarkan keputusan Dave, yang sangat yakin jika lelaki itu pasti akan setuju. Mengingat lelaki itu begitu berambisi dengan sebuah bisnis.
Hening, makan malam pun berlangsung. Nelson tak menutupi ketertarikannya, ia lebih banyak menatap ke arah Alana, yang malam itu terlihat semakin cantik dengan gaun berwarna biru langit, wajah cantiknya semakin bersinar, ditambah dengan pantulan lampu kristal di atas meja, rambutnya di cepol lalu diberi mahkota kecil. Cantik? Tentu saja Alana terlihat sangat cantik, bak seorang tuan putri malam itu.
“Dave, apakah masih lama?” bisik Alana setelah makanannya tandas.
“Sebentar lagi sayang. Aku harus membicarakan sesuatu dengan Tuan Nelson.”
Alana mengangguk lemah, ia terdiam pasrah. Selama menemani rekan bisnis suaminya, baru kali ia merasa tidak nyaman. Bahkan berkali-kali ia mengetukkan kakinya di bawah meja, semua untuk mengurangi rasa gelisahnya.
“Agram, ambilkan dokumen kontrak kerjasamanya!” titah Nelson pada sang asisten.
Agram yang sejak tadi berdiri di sisi lelaki itu pun beranjak. Hingga lima menit kemudian ia sudah kembali, membawa dokumen dan memberikannya pada Nelson.
“Ini berkasnya Tuan, berikut dengan surat perjanjiannya.” Nelson mengulurkan dokumen itu pada Dave.
“Untuk sesuatu yang berharga, saya rasa uang segitu tidak ada artinya,” jawab Nelson seraya menatap ke arah Alana yang terlihat gelisah.
“Wah, anda benar sekali Tuan Nelson!”
“Kalau begitu, anda setuju kan pada poin perjanjian kita?” desak Nelson dengan percaya diri. Dia sudah tidak sabar untuk menarik Alana ke dalam pelukannya, lalu akan ia katakan betapa ia sangat mencintainya dan menginginkannya.
Dave menatap ke arah Alana sejenak, lalu kembali ke arah lelaki itu. “Gimana ya?”
Nelson menatap Dave dengan rasa penasaran.
Dave tersenyum simpul, lalu mengambil lembaran dokumen itu. Mengangkatnya sedikit. “Maaf Tuan....”
Srekkk!! Srekk!!
Dia merobek kertas-kertas itu berkali-kali. Membuat semua orang yang di sana menatapnya dengan tak percaya.
“Dave?” desis Alana terkejut.
“Tuan Dave. Kenapa anda malah merobek dokumen itu. Bukankah anda–”
“Jawabannya hanya satu. Saya tidak menerima tawaran kerja sama ini,” tegas Dave. Alana masih tak mengerti apa yang terjadi dengan suami dan tekan bisnisnya.
Kedua tangan Nelson mengepal. “Lancang. Bagaimana bisa anda menolak tawaran kerja sama dengan saya!!”
Seketika ruangan yang semula terasa senyap, itu pun kini terasa panas. Wajah Nelson menjadi marah, rahangnya tampak mengeras. Dan sisi lain dari sifatnya mulai keluar, “Bang sat!” satu kata yang mampu membuat Alana terkejut, tak mengira jika lelaki yang beberapa hari lalu ia kenal ramah, memiliki sisi yang kasar.
Dava tersenyum menyeringai, karena berhasil mengeluarkan sifat asli lelaki itu. Ia menggenggam tangan Alana. “Kita pulang Alana. Semua sudah selesai,” ajaknya.
Keduanya berbalik hendak melangkah keluar dari ruangan itu.
“Satu langkah lagi anda melangkah keluar membawa Alana. Saya pastikan nama baik anda akan hancur!” ancam Nelson yang berhasil membuat langkah keduanya terhenti. Alana membeku di tempat masih tak mengerti mengapa lelaki itu membawa namanya dalam urusan bisnis.
“Apa maksudnya?” pekik Alana tak mengerti.