
Di penghujung bulan adalah hari yang sibuk bagi para admin. Banyak laporan yang harus dikerjakan. Alana tetap tinggal di kantor meski karyawan lainnya sudah pulang. Ia menyelesaikan pekerjaannya malam itu juga. Bahkan ia sampai membatalkan niatnya untuk menjenguk ibunya. Keadaan bahunya yang sakit membuat ia berpikir ulang untuk kesana. Belum lagi ketika nanti harus bertemu Silvi. Sahabatnya itu pasti akan curiga, dan marah bila mengetahui ia sampai terluka, demi Dave. Karena Alana tahu, ketika Alana memutuskan pernikahan itu terjadi. Silvi adalah orang yang satu-satunya menentang, gadis itu begitu takut bila Alana kembali terluka. Ya, Alana cukup paham ketakutan sahabatnya itu mengingat bagaimana keadaan dirinya saat putus dengan Edo.
Pukul sembilan malam, keadaan kantor benar-benar sudah sepi. Usai merapikan meja. Alana berlalu menuju parkiran motor. Ia memandang heran sebuah mobil mercy yang masih terparkir di tempat VIP, itu artinya Dave pun belum pulang.
“Orang kaya, punya kedudukan tinggi, dan pintar itu memang beda. Mereka semua suka bekerja. Tapi, aku juga sih suka kerja. Kok gak kaya-kaya,” gumamnya pada diri sendiri. Tangannya terangkat untuk meraba mobil milik Dave. “Aku juga pengen sih bawa mobil, tapi aku tidak bisa menyetirnya,” sambungnya mengingat mobil yang diberikan Dave masih terparkir rapi di garasi rumah Dave. Ia masih belum ada waktu untuk belajar menyetir. Lagian jika di pikir dirinya masih terlalu nyaman dengan motornya.
Terdengar teriakan yang membuatnya berjengit. Secepat kilat Alana mencari arah datangnya suara. Matanya terbelalak ketika melihat laki-laki tua tengah dipukuli bertubi-tubi, oleh seorang laki-laki yang tangannya dipenuhi tato. Dengan geram Alana berlari ke arahnya.
“Woi, ada apa ini?” teriaknya melengking.
Laki-laki yang semula tangannya terangkat untuk memukul, kini menatap Alana dengan geram. “Ehh cewek! Jauh-jauh dari sini kalau enggak mau kena masalah!”
“Pak Herman ada apa ini?” tanya Alana pada pegawai OB tua yang terlihat ketakutan. Ia bahkan tak memperdulikan tatapan preman yang melotot marah kepadanya.
“Nona Alana, pulang saja sana. Jangan pedulikan Bapak. Nanti Nona bisa kena bahaya,” rintih Pak Herman sambil menutupi wajah.
“Mana bisa begitu Pak. Ini tuh udah melanggar hukum, mereka memukuli bapak. Lagian di mana dua penjaga gerbang? Kenapa mereka bisa teledor memberi jalan masuk untuk preman ini?" tuding Alana pada preman di depannya.
“Heh, ku kasih tahu ya. Pak tua ini meminjam uang pada bos kami, dan sudah berbulan-bulan menunggak setoran!” sahut Preman itu dengan bengis. “Kalau kamu tanya penjaga. Mereka berdua tengah mengatasi keributan yang telah kami buat di depan!” sambungnya. Seketika Alana menjadi paham, jadi Pak Herman itu mempunyai hutang pada rentenir.
“Berapa utangnya?” tanya Alana dengan nada menantang.
“Kenapa kamu mau bayar?” tanya preman itu seraya mengarahkan pandangannya, menyusuri tubuh Alana dengan tatapan kurang ajar, bahkan lidahnya bergerak secara sen su al, hingga membuat Alana bergidik jijik, ingin lari pun sudah kepalang tanggung. “Boleh aja sih? Kalau kamu kamu mau jadi santapan kami malam ini. Tubuhmu lumayan juga untuk memuaskan kami!” imbuhnya semakin kurang ajar.
Dengan geram, Alana menginjakkan kaki si preman itu dengan sekuat tenaga. Membuat preman itu menjerit kesakitan, di saat itu ia kembali menggunakan kesempatan. Alana mengayunkan kaki dan menendang ***********, hingga membuat preman itu tersungkur.
“Hei ku kasih tahu di dalam sana, masih ada atasan ku yang belu keluar. Kalau sampai dia mengetahui kalian membuat keributan, ku jamin kamu tidak pernah lolos dari tahanan polisi!” teriakan Alana terdengar melengking di parkiran yang sepi.
“Sebutkan saja utang Pak Herman, dan aku akan membayarnya!”
“Jangan Nona!” rintih Pak Herman tak enak hati.
“Tidak masalah Pak. Mereka semua harus diberi pelajaran, dan aku ikhlas membantunya,” tukas Alana. Ia pikir tidak masalah ia membantu Pak Herman membayar hutangnya, uang yang diberikan Dave tidak akan habis kan.
Sang preman kembali berdiri dengan sempoyongan, menatap Alana dengan sengit, memasang kuda-kuda untuk menyerang Alana, wajahnya penuh dengan dendam. Alana menelan ludahnya, ia pun melakukan hal yang sama memasang kuda-kuda untuk membela diri, meski dalam hati ia sudah ketar-ketir merasa takut bilamana ia kembali terluka.
“Dasar perempuan sialan!” teriak sang preman memaki Alana, bergerak menyerang Alana.
Bugh!
.
.
.
.
Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya ya guys.
Thank you.