
Motor yang dikendarai oleh Alana tiba di parkiran. Usai memarkirkan motornya dengan benar, ia turun melepaskan helm miliknya. Alana juga merapikan penampilannya.
Alana merasa heran sepanjang jalan dari loby hingga hampir tiba di ruangannya. Para karyawan sibuk menatap ke arahnya dengan tatapan yang sama sekali tak ia mengerti. Bahkan mereka semua juga berbisik-bisik yang tak bisa Alana dengar.
Dirinya pun terdiam mencoba mengingat sikapnya selama bekerja di sana. Apakah ada yang salah? Tapi Alana merasa tidak ada yang salah. Ia masihlah Alana yang sama, yang tidak suka mencari masalah, namun tetap suka membantu.
“Alana, ya ampun,” pekik Risa berlari ke arahnya. Saat itu Alana baru keluar dari lift. “Ku kira kamu udah gak masuk kerja," sambungnya.
“Kenapa?" tanya Alana heran.
“Ya ampun Alana. Apa kau tidak tahu jika gosip tentang dirimu dan Tuan Direktur itu sudah tersebar luas,” jelas Risa.
Alana menggaruk tengkuknya tak mengerti. “Gosip apa?”
“Foto-foto kamu dan Pak Direktur itu viral. Di internet sudah tersebar dengan luas. Bagaimana kau bergandengan tangan, berada dalam satu mobil dengan Tuan Dave.”
Alana melongo mendengarnya. Ingatannya kembali mengingat rangkaian beberapa kejadian kemarin. Di mulai dia yang membantu Pak Herman yang ditodong preman, pulangnya ia bersama Dave. Lalu saat ia berniat bertemu temannya di restoran bintang lima, di sana pun berakhir dengan pengakuan Dave yang sudah menikahinya. Dan terakhir soal kejadian semalam. Hal ini pasti yang membuat keadaan semakin heboh.
“I–itu....”
“Alana katakan padaku. Apakah berita itu benar?” desak Risa.
“Yang mana?” Alana berusaha untuk bersikap tak peduli.
Risa merogoh mencari ponsel dalam sakunya, berniat untuk memperlihatkan berita itu. Namun, tak ia temukan. “Sepertinya ponselku ketinggalan di mejaku. Sebentar, akan ku ambilkan lebih dulu,” seru Risa berlalu, sedikit berlari dengan heboh menuju mejanya.
Alana masih berjalan dengan santai, tidak memperdulikan tatapan karyawan lain. Hingga tiba-tiba ia terkejut saat seseorang mendorong tubuhnya hingga membuat terjerembab ke lantai. Bahkan wajahnya hampir saja mencium dinginnya lantai.
“Apa yang kau lakukan?” sentak Alana saat dirinya kembali berdiri. Ia menatap nyalang perempuan yang berada di depannya ini.
Moni memandang ke arah Alana dengan sinis.
“Kenapa kau mendorongku?” tanya Alana lagi, karena Moni tak kunjung memberi jawaban hanya memberikan tatapan nyalang permusuhan.
“Kenapa? Kau bertanya kenapa Alana?!” sergah Moni jari telunjuknya mengarah pada Alana yang hanya bergeming. “Harusnya doronganku tadi, itu membuatmu sadar. Kalau tempatmu memang pantasnya di situ? Kau itu lebih pantas menjadi seorang babu,” sambungnya.
Alana mengepalkan kedua tangannya, masih mencoba menahan diri untuk tidak mendaratkan tangannya di pipi mulus rekan kerjanya itu. “Apa maksudmu?”
“Perempuan murahan, yang begitu lihai menggoda seorang lelaki kaya raya,” desisnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Moni, kala Alana tak lagi bis menahan amarahnya. “Jaga mulutmu? Ku pikir kau itu rekan kerja yang baik, tak ku sangka mulutmu bahkan lebih kotor.”
Mengusap pipinya yang sedikit membengkak, Moni menatap ke arah Alana dengan tajam. Kini kerumunan orang-orang tampak melingkupi keduanya. Seakan-akan itu adalah tontonan yang menarik.
“Hei, apa yang harus ku jaga. Jika memang faktanya seperti itu. Kau itu hanya karyawan biasa, bagaimana bisa kau Direktur begitu mudahnya luluh denganmu. Kalau bukan soal iming-iming tubuhmu. Kau sengaja pasti menjeratnya, semua kau lakukan demi uang. Perempuan murahan, tak sadar diri. Harusnya kau bisa berkaca, kau itu hanya merusak citra baik direktur. Pelacur... Dasar murahan. Perempuan seperti dirimu itu memang harus diberi pelajaran.”
Moni mengangkat tangannya, berniat menampar Alana. Namun, Alana sigap menahan tangan Moni, lalu menghempaskannya secara kasar. Kini ia mengerti ucapan Dave yang memintanya untuk menyiapkan mental dan tenaga untuk pagi ini. Karena baru datang saja ia sudah disambut dengan drama menjengkelkan dari karyawan suaminya itu.
“Urusanku dengan Direktur itu tidak ada hubungannya denganmu!” tandas Alana.
Moni menatap micing Alana. “Tentu saja ada. Kau itu hanya karyawan baru di sini, dan kau sudah melampaui batasmu. Dan kau tahu benar betapa aku sangat menginginkan Direktur. Karena kehadiranmu itu telah merusak segala rencana ku. Lima tahun aku berusaha menjerat Direktur, namun selalu gagal. Dan kau yang hanya baru dalam hitungan hari di sini, seenaknya saja mengalahkan ku. Aku tidak terima!”
Alana tertawa kecil. “Oh jadi masalahnya kau sedang cemburu! Baguslah orang seperti dirimu memang tidak pantas berada di dekat Direktur. Kalau begitu nikmati saja kekalahan ku, jangan berdrama dengan membuat masalah denganku,” tukas Alana lalu memutar tubuhnya berniat hendak berlalu pergi, ia malas ribut.
Namun, tak ia sangka Moni justru menarik kembali tubuhnya, mencengkeram kedua tangannya dengan kuat, bak seseorang yang kesurupan. Bahkan Alana sampai tak bisa tak bisa berkutik. Ketika Moni memutar-mutar tubuhnya, kemudian mendorongnya dengan kuat. Alana merasa pusing dan lumbung. Hingga beberapa saat ia merasakan kepalanya pusing, kesadarannya meredup, tiba-tiba sebuah tangan kekar menangkap tubuhnya.